Seimbang

out-of-balance

 

bismillah.

Menemukan keseimbangan setelah terjadi beban yang berat sebelah adalah serupa hujan menderasi padang tandus, yang mulai nyaman dengan fatamorgananya. Beradu pandang mata kita pada oase yang dingin di tengah panas yang membakar, tetapi nyatanya ia tiada. Selanjutnya ilusi demi ilusi mengorganisir dirinya di dalam sinaps, untuk selanjutnya mengacaukan realitas, yang mungkin menyenangkan, tetapi sesungguhnya kosong belaka.

Mengangkat beban untuk bisa kembali ke posisinya semula, mungkin tidak ringan. Tapi lihatlah betapa bersyukurnya dirimu. Dan nuranimu yang jujur memantulkan cahaya-Nya, tidaklah dapat didustakan.  Ingatkah bagaimana kesyukuran terbit pertama kali ketika segalanya harus dianggap ‘selesai’? Dan ingatkah bahwa Allah menurunkan ketenangan tanpa rasa sedih ataupun gundah sedikitpun, bersamaan dengan keridhoanmu melepas semua?

Maka mengapa harus kembali resah di kala sesungguhnya kita tengah kembali pulang? Mengapa kegelisahan mulai menghantui ketika jalan yang terang benar-benar telah dibukakan? Apapun caranya, dan demikianlah Allah menghendaki, hanyalah kebaikan. Dan percayalah, jika perjalanan itu tidak berakhir, niscaya keburukan yang lain akan mengakumulasi dan menghadirkan gerumulan resah yang lain.

Sabar itu ada pada benturan pertama. Sabar itu ada pada seberapa kuat engkau tetap bertahan dan tak goyah. Memegang imanmu kuat-kuat mungkin memunculkan perih atas kehilangan. Atas berbagai budi baik yang tertanam. Dan segala rindu yang kaukatakan tak bisa tertahan, menyayatkan luka dalam berbagai ingatan. Tapi bersabarlah, bersabarlah, bersabarlah. Bukankah telah lama kaulantunkan doa, agar Ia tak serahkan jiwa ini pada diri kita, meski hanya sekejap mata?

Penciptaan bumi dan seisinya membutuhkan waktu. Sebagaimana pula pulihnya hatimu juga membutuhkan waktu. Berjalanlah terus dalam kearifan. Dalam istighfar. Dalam keteguhan menjaga apa yang semestinya terjaga. Dalam kekuatan yang kian berlipat, dan jangan lagi goyah untuk sedikit godaan kesenangan, rasa aman, atau apapun yang menurutmu dapat menghadirkan ketenangan. Disini, dalam perjalanan cahaya, telah sempurna penjagaan-Nya untukmu. Telah lengkap keberadaan-Nya untuk memenuhi segala ruang kosong nan hampa yang pernah ada. Cukuplah Allah bagi kita. Cukuplah kemahaannya memenuhi segala celah. Dan ingatlah bahwa sesungguhnya, “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.”. Dan yakinkanlah hatimu bahwa “…sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”. Hingga kelak di suatu masa, “kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.”.

Maka apakah masih ada lagi yang perlu dikhawatirkan?

Terulah menuju keseimbangan. Bersabar. Kuatkan sabarmu. Dan bersiap-siagalah atas berbagai lenaan. Semoga Allah menjagamu dalam keabadian kasih-sayang yang tak lekang-lekang…

***

“Yaa Tuhanku, perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.” 

Ahad, 16.10.2016, 06:58 wib.

 

Advertisements