Mencari Cahaya

light

“Where there is a will, there is a way…”

Bismillah.

Desperate-nya saya, ketika dalam kebingungan, kemudian tidak menemukan cahaya yang diharapkan. Mungkin belum. Mungkin akan.

Mungkin men-‘syukuri saja dulu’ prosesnya akan meringankan hati. Menyemangati langkah. Menjawab gelisah. Dan,  well.. meski tak mudah, nyatanya –segala puji hanya bagi Allah-, Ia melapangkan hati yang gundah. Menjernihkan akal untuk mencari solusinya. Menemukan jawabnya.

Dan bukankah memang tugas kita hanyalah berjalan, sembari berharap langkah ini dinaungi oleh bimbingan? Mahabesar Engkau Ya Allah, sungguh tiada yang sia-sia dalam setiap jengkal takdir dan peristiwa.

***

Menjalani proses menjadi orangtua, yang mensyaratkan menjadi pribadi yang lebih baik tentunya, memaksa saya haus mencari panduan. Alhamdulillah Allah takdirkan saya belajar psikologi. Kemudian gelisah. Kemudian panik. Dan terengah-engah mencari ‘jalan pulang’.

“Syukuri gelisahmu”, ujar seorang guru. “sebab gelisah tanda berpikir”.

Dan Allah-lah sebaik-baik pembimbing, pemberi hidayah.

Allah pertemukan saya dengan guru-guru, juga teman-teman yang membantu sekali proses pulang ini. Saya sebut ‘pulang’ karena sepertinya kemarin-kemarin saya sedikit-banyak tersesat. Kehilangan peta. Kehilangan arah. Fatalnya, saya sebut si lampu kota seperti matahari. Padahal jelas-jelas ia tak miliki cahayanya sendiri.

Maka saya pun mencari cahaya yang lebih abadi. Menentramkan, tentu saja. Karena kita tahu, kebenaran –yang tiada lagi keraguan sedikitpun di dalamnya- menjadi landasannya. Keteladanan Rasul sudah membuktikannya. Apalagi yang mesti diragukan jika Sang Maha-Expert sendiri yang menurunkan teorinya, lalu ada manusia terbaik yang mengujinya lewat pengalaman nyata? Riset dan uji validitas lain –secanggih apapun ia- saya rasa belum bisa menjadi pembandingnya.

Sayang-disayang, mencari cahaya abadi memerlukan alatnya sendiri.

“Dari mana saya harus belajar, ustadz?”

“Qur’an. Hadits. Siroh Nabi. Siroh sahabat.”

“dan…?”

“Fulan. Fulan. Fulan. Ada kajian dan literaturnya”

“Bahasa pengantarnya?”

“Arab.”

Argh… Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Kamu tersesat di padang sahara. Lalu mencari jalan. Kehausan. Menemukan mata air. Tapi airnya belum terjangkau.

Sementara waktu terus berjalan. Hari menggelap. Tak bisa dihentikan! Tak bisa ditahan!

Solusi solusi solusi.

Ia terkadang datang dari orang lain saat kita stuck dalam kondisi. Dan benar.

Di tengah perjalanan seorang sahabat lewat. Ia fasih. Dan ia mau membantu!

Meski belum terlihat benar gelas dengan air di genggaman, tapi setidaknya, keyakinan menguat bersama ikhtiar yang dibukakan jalan. Sesiapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan.

Tinggal kemudian..
Menguatkan hati. Melapangkan dada. Menjalani prosesnya bersama pahit-getir belajar. Belajar adabnya. Belajar ilmunya. Belajar amalnya. Belajar membagikannya.

“…barangsiapa yang tidak bersabar atas pahit dan kerasnya menuntut ilmu, maka bersiaplah untuk menyandang kebodohan seumur hidup.” (Imam Syafi’i)

Hey, cahaya! Aku menujumu!

 

Ya Allah, terus bimbing kami.
Cimanggis, 24.03.2017, 01:18 wib

***

Note : To do : Belajar bahasa arab. Tafsir Qur’an. Siroh nabi dan sahabat. Ilmu jiwa islam. Cari ahli, talaqqi,  korespondensi, minta ilmu. Yeayy semangatt!

gambar dari sini

Advertisements