NEUROPARENTING (Pengasuhan Berbasis Otak) Part 2

NEUROPARENTING (Pengasuhan Berbasis Otak) Part 2

Amazing brain part 2 😉

bundaeuis

Setelah menuliskan neuroparenting (pengasuhan berbasis otak) part 1, kali ini saya coba akan meneruskan catatan saat mengikuti training bersama dr. Amir Zuhdi yang belasan tahun fokus belajar tentang otak manusia termasuk di bawah bimbingan seorang dokter dari California. Bagi teman2 yang belum baca part 1, ada baiknya untuk baca terlebih dahulu agar suhunya sama, framenya juga sama. Syukur2 apa yang ada di sana sudah mulai dipraktekkan.

Serupa dengan tulisan sebelumnya, karena ini adalah hal pertama bagi saya, emak – emak yang lebih sering rempong dg anak serta tidak punya background medis maupun psikologi, ada bbrp hal yg bisa jadi tdk saya pahami secara utuh. Oleh karenanya, di catatan ini saya hanya akan menuliskan apa yg sekiranya saya paham dan bisa segera diaplikasikan untuk kita dan ananda di rumah. Saya coba tuliskan dalam bentuk point2 serta menggunakan gaya bahasa saya agar mudah dipahami, setidaknya oleh saya pribadi.

Tidak sampai 2×24 jam…

View original post 2,563 more words

Neuroparenting (Pengasuhan Berbasis Otak) – Part 1

Neuroparenting (Pengasuhan Berbasis Otak) – Part 1

Amazing brain part 1 😉

bundaeuis

Bismillah, mulai menuliskan kembali apa yang saya dapat dari mengikuti training neuroparenting bersama dr.Amir Zuhdi. Beliau adalah Dokter Neuroscience dan founder Neuronesia Community. Belasan tahun fokus belajar tentang otak manusia termasuk di bawah bimbingan seorang dokter dari California. Karena ini adalah hal pertama bagi saya, emak – emak yg biasa riweuh di dapur, ada bbrp hal yg bisa jadi tdk saya pahami secara utuh. Karenanya, di catatan ini saya hanya menuliskan apa yg sekiranya saya paham dan bisa segera diaplikasikan untuk kita dan ananda di rumah. Saya coba tuliskan dalam bentuk point2 dan dengan gaya bahasa saya agar mudah dipahami, setidaknya oleh saya pribadi. Karena bagi saya, dengan menuliskan kembali seperti ini sama saja seperti belajar kembali. Sekalian saya posting di medsos krn sayang kalau training pagi sampai sore dengan investasi 7 digit ini hanya kami yang tahu dan memanfaatkan. Insya allah resume materi trainingnya akan saya bagi dalam 2…

View original post 2,354 more words

Teman Pengganti Bunda

 

 

muslim-mom2

Sudah 4 hari ini sulung saya sakit. Perutnya mulas, sedikit pusing, dan rintihannya bisa berlangsung setiap saat. Di saat bersamaan saya harus menunaikan amanah sebagai panitia event Sekolah Mommee, komunitas ibu muslimah yang menjadi ruang aktualisasi.

Kami sedang tak ada khadimat. Dan di hari itu pula suami yang biasanya menjadi partner terbaik dalam merawat anak-anak, harus mengisi training di lain tempat. Alternatif yang memungkinkan adalah membawa kakak yang tengah sakit karena ia butuh perhatian khusus, sementara adik bermain di daycare. Maka saya pun membawa kakak di tengah keribetan menjadi panitia event ini.

Kondisinya belum baik, tapi kami tak punya banyak pilihan. Beruntung, tersedia kids corner yang memang kami rancang untuk memfasilitasi orangtua yang ingin belajar namun tidak bisa meninggalkan anaknya. Maka begitu tiba di lokasi, sayapun segera menyiapkan sarapannya dan memintanya makan sendiri seperti biasa. Perjanjian sudah dibuat dari rumah : hari ini Bunda bekerja menuntaskan amanah, kakak bicara dengan nada yang baik atau tidak merengek dan tidak rewel. Hal ini perlu saya tegaskan karena rengekan bagi saya cukup mengganggu mood dan konsentrasi.

Setelah makan hanya beberapa suap, saya segera mengantarnya ke ruang kids corner karena harus segera wira-wiri. Disana sudah tersedia balok-balok, bola, buku cerita, dan kasur untuk berbaring. Lalu saya segera kembali ke ruang event dan melakukan banyak hal.

Beberapa waktu kemudian sulung saya datang lagi meminta minum, diantar kakak pendampingnya. Cemilan dan air pun segera berpindah tangan. Saya pun membujuknya lagi agar ia kembali ke kids corner sehingga saya bisa kembali mengurusi teknis acara. Setelah memastikan ia tenang menyimak buku yang dibacakan kakak pendamping, saya segera menunaikan yang tertunda.

Tetapi tak berapa lama, ia kembali lagi. “Mau sama bunda,” ujarnya. Oke, tidak apa. Tapi lalu mulailah episode itu : sebentar-sebentar ia mengeluh sakit perut. Merengek. Mengintil  sambil mengaduh. Tak terfikir bahwa saya bisa menitipkan pada teman-teman panitia lainnya karena semua sedang bertugas. Tak terlintas kepada siapa amanah ini bisa didelegasikan. Yang terjadi kemudian adalah dia semakin merengek, rewel dan tidur-tiduran di lantai bagian depan, dekat saya bertugas di meja operator. Pemandangan yang tidak cukup indah untuk dilihat. Pertama, karena itu bukan area tidur. Kedua, sikapnya kurang baik. Ketiga, terlalu terekspos fisiknya di depan umum dengan posisi kurang cantik.

Maka saya pun memintanya pindah ke area ibu dan anak di belakang. Mencoba mencarikan buku bacaan, makanan, apapun yang bisa mengalihkannya dalam kesibukan. Tapi hanya berhasil sekian menit. Lalu ia datang lagi dan lagi dengan rintihan berulang-ulang, “sakit perut, Bundaa…”

Klimaksnya terjadi saat saya hendak berwudhu. Ia tak mau ditinggal, mengaduh kesakitan dan mulai menangis. Begitu saya sholat pun ia merintih dalam rewel. Hati saya teriris. Antara bingung harus bagaimana karena semua cara tidak efektif, dan berusaha mengendalikan diri agar tetap sabar dan tenang. Di saat itulah, beberapa akhawat menawarkan obat lain pada si sulung dan mengobati perutnya.

Di titik itu jiwa saya mulai sentimentil. Alhamdulillah ada sahabat yang siap menggantikan peran saya di saat saya tak bisa mendampingi anak. Sahabat yang saya kenali pemikirannya, hatinya, juga akhlaqnya pada anak-anak. Seketika saya berpikir beginilah yang perlu saya siapkan jika suatu saat saya tak ada. Tak lagi ada dalam keseharian mereka. Berpulang. Dipanggil. Dan kepada merekalah kelak saya akan menitipkan buah hati saya. Dengan pendidikan yang saya tahu bahwa kami telah memahaminya bersama-sama. Dengan ilmu yang telah kami dapat dan diskusikan berulang kali, dan kemudian menyamakan frekwensi. Dengan pemahaman yang insya Allah terus berkembang di jalan yang baik. Dengan nilai yang mungkin pada praktiknya tak selalu sama, tapi dasar-dasarnya kami paham harus melakukan yang seperti apa.

Maasyaa Allah. Perkara ini kemudian menjadi penting tatkala kita memang tidak lagi bisa membersamai anak-anak di dunia. Perlu ada sosok ibu yang bisa menggantikan posisi saya. Perlu ada sosok bunda yang hangat, yang dapat saya percaya. Dan saya menaruh kepercayaan pada sahabat-sahabat terbaik yang saya kenali pikiran, ilmu dan pengasuhannya, yang selama ini menjadi bagian dalam pembelajaran parenting bersama-sama. Apakah suami saya bisa mencari istri lainnya agar menjadi ibu bagi anak-anak kami ketika saya mendahului?  Tentu saja. Tapi boleh jadi saya tak kenal dengannya. Dengan pemikirannya. Pola asuhnya. Pemahaman dan perlakuannya dalam mendidik anak-anak.

Itu sebabnya saya ingin katakan pada anak-anak saya, “Sayang, jika kamu butuh peluk hangat, datanglah, berceritalah pada Tante X yang penyayang. Jika kamu menghadapi masalah yang rumit, pergilah ke Tante Y yang bijaksana. Jika kamu butuh penyemangat, pergilah ke Tante Z yang bersemangat.”. Dan tentu saja ini menjadi PR bagi saya untuk mendekatkan anak-anak kepada sahabat-sahabat saya agar mereka semakin mengenal untuk kemudian saling mencintai.

Kita tidak bisa terus-menerus memberikan pendampingan, karena tak tahu kapan harus kembali pulang. Tapi kita bisa mempersiapkan lingkungan yang anak butuhkan untuk perkembangan jiwanya. Untuk kematangan emosinya. Untuk keterampilan, teladan, bimbingan, nasihat, arahan, atau apapun, yang menjadi pengokoh kepribadiannya saat kita, ibu kandungnya, tak lagi bisa berbuat apa-apa. Kondisi ini akan berlaku jika kita kelak jatuh sakit dan tak bisa memenuhi aspek tumbuh kembang anak dengan optimal. Memiliki sahabat yang mau menyayangi anak kita seperti ia menyayangi anaknya sendiri, tentu perlu proses. Dan ini perlu kita bangun sedemikian rupa. Dan dengan berbagai kelebihan-kekurangan mereka, kita perlu mentransfernya pada anak-anak, agar mereka menyerap kelebihan yang ada, belajar dari kebaikan-kebaikan yang dipunya.

Ah, di tengah hiruk-pikuk kepanitiaan hari itu,  dan di tengah suara rintihan yang tak henti-henti, saya mengazzamkan diri untuk memikirkan hal ini lebih serius lagi. Mungkin kami –saya dan sahabat-sahabat- perlu membuat perbincangan khusus untuk saling memback up berbagai keterbatasan. Juga untuk terus menyelaraskan pikiran, hati, juga perlakuan. Kita tidak tinggal di dunia ini selamanya. Dan kita perlu meyakinkan diri bahwa anak-anak berada di sosok-sosok yang dapat diandalkan. Lingkungan yang mendukung, sosok pribadi yang dapat menggantikan, adalah keniscayaan untuk anak-anak yang tak selamanya ada dalam dampingan. Dan semoga kita menikmati surga bersama-sama, dengan keluarga yang saling menguatkan, saling menggantikan, saling mengisi kekosongan. Barakallaahu fikum, sahabatku. Semoga kita dapat bersiap bersama-sama. Untuk generasi yang pasti akan kita tinggalkan.

***

Depok di awal Senin 15.9.2016, 01:44 wib.

Special to akhawat MM : Kenang-kenangan Studium General Sekolah Mommee

Travelling?

Bismillah.sand footprint

Bulan depan saya akan melakukan perjalanan jauh. Travelling!

Biasanya saya akan berteriak “yeayy!” dengan gembira. Bagaimana tidak, berjalan ke lintas kota atau negara, bagi saya yang sesungguhnya anak rumahan ini sangat menyenangkan. Yap, menjeda sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas tentulah menjadi momen beristirahat yang bisa menyegarkan jiwa.

Tapi kali ini entah mengapa rasanya justru lebih banyak cemasnya. Semacam undescribeable feeling yang campur aduk tak jelas rupa. Kalau dulu jaman single, berpetualang ke luar kota bakalan bikin excited banget, sekarang jadi melow sentimentil ditambah cemas bin khawatir. Apakah karena ini perjalanan seorang diri ya?

Kalau dibilang seorang diri banget, sebenarnya tidak juga. Karena rencananya saya akan pergi bersama sekitar 6 orang kawan untuk mengikuti training di Istanbul sana. Dan semuanya adalah para pria. Heu… bagaikan putri di sarang penyamun ya. Udah bujuk-bujuk pak suami padahal, tapi dia bilang baru akan pergi bulan November nanti. So duitnya disimpen dulu buat kepergian berikutnya dan keperluan lainnya. *lobi gagal >_<*

Apakah saya  juga resah karena meninggalkan anak-anak? Hm… bisa jadi. Apalah saya ini, sama sekali bukan ibu karier yang bisa tenang meninggalkan anak berjam-jam meski di tangan Ayahnya sekalipun. Dannn.. baru kemarin pergi seharian dari jam 9 pagi sampai 8 malam, si sulung sudah kirim mesej via whatsapp ayahnya. “Bundaaa kenapa lama bangetttt… kakak udah kangeeen…” *melting*. Dan begitu sampai di rumah, si mungil Mima menghambur memeluk erat dengan rautnya yang berbinar-binar jenaka. Olala… how can i leave you, my dearr… itu baru beberapa jam doang, nanti kalo seminggu lebih gimana.. *mewek*

Pemicu perasaan sentimentil lainnya adalah.. ini perjalanan pertama saya ke luar negeri. Ya baiklah saya sedikit norak dan cemas berlebihan. Tapi kemudian semakin feel bad waktu supervisor kami yang sudah pengalaman bulak-balik Eropa Asia Turki blablabla, menyatakan belum tentu ikut menemani. Heu.. jangan-jangan kami kayak anak ayam ilang nanti.. yang lainnya juga pada baru pertama ke Turkey soalnya *insecure*.

Ah sudahlah. Let it be. Belum juga kejadian udah banyak banget yang dipikirin wkwk.. kebiasaan. Liat aja entar kali ya. Yah meski ga bikin tenang juga karena ini belum solved, at least energinya bisa kita pakai untuk mikirin hal lain. Mulai searching daerah wisata yang menarik misalnya? Hihi..

See you soon, Istanbul! Semoga tak ada halangan. Aamiin..

 

Di Persimpangan

 

autumn
Langit pekat. Dan gemintang tak terlihat. Cukup sunyi dan kian menyenyap di kala tak sedikitpun terdengar bebunyi jangkrik ataupun para ngengat. Dan, hatimu…, adakah ia masih meriuh-menggelombang bersama langkah yang mungkin goyang?

Di persimpangan, apakah hatimu yang bimbang, ataukah kakimu yang mulai keliru menapakkan perjalanan?

Sejatinya jiwa kita memang selalu membutuhkan harapan. Atas berbagai hal yang ideal. Atau mimpi yang begitu indah untuk diwujudkan. Atau, cita-cita yang sangat tinggi untuk digapai. Atau pula, keinginan sederhana yang dimulai dari langkah-langkah kecil, ringan, namun menjadi landasan yang kokoh untuk kehidupan.

Jika kini, telah tersadar bahwa pandangmu selalu dan pasti mutlak berbataskan cakrawala, maka apalagi yang sepatutnya engkau usahakan untuk melampauinya? Apa yang sesungguhnya jiwamu butuhkan untuk ia hadir di sini, membersamai?
Jiwa kita yang kerdil tidak pernah puas. Dan memberinya makanan lain hanya akan merusaknya. Pasti. Meski perlahan.

Cepat atau lambat kaki kecilmu akan melangkah. Terus berjalan. Tapi jalan mana yang kaususuri, sudahkah kaupastikan? Melakukan hal benar mungkin masih saja membukakan kesalahan, terlebih, melakukan hal yang tak dapat dibenarkan. Sudahkah, sudahkah, setitik cahaya di dalam hatimu kaubiarkan memekar berpendaran?

Di persimpangan, cahayamu tentu saja tertiup angin. Terlempar badai. Tertutup debu dan pasir. Tapi sejauh mana jemarimu menggenggamnya kokoh, akan membuat ia bertahan, hanya jika engkau ingin. Sudahkah, sudahkah, engkau ijinkan pijarnya menyala merah, ataukah belenggu jiwamu membuatmu menyerah dan terkapar kalah?

Di persimpangan, hatimu akan terus bertanya. Dan kakimu akan berjalan. Untuk keabadian. Untuk perjumpaan. Entah keselamatan. Atau keburukan.

 

Rabu 2.08.2016

“Bukan ia-nya yang salah. Hanya, pastikan saja tak mendurhakai-Nya saat kelopaknya merekah.”

 

Parenting Nabi, Parenting Kekinian

follow muhammad never misguided

 

Dalam berbagai forum, saya mengamati antusiasme orangtua tentang pendidikan anak mereka. Betapa mereka ingin sekali mendidik dengan sebaik-baik pendidikan, dan karenanya mereka tak lelah mencari ilmu, bertanya, berdiskusi, juga bertukar pikiran. Support group berbentuk forum-forum yang bertebaran di dunia maya setidaknya membantu mereka merasa tak sendiri. Minimal begitu. Karena mendidik anak tak melulu beratmosfer rasa happy. Ada kejenuhan disana, mungkin juga kekesalan, kelelahan, dan bertumpuk emosi negatif.

Manusia. Wajarlah jika demikian. Yang menjadi tantangan kemudian adalah bagaimana menjaga emosi positif dan ilmu itu terus ada. Juga bagaimana kita sebagai sesama bisa saling menyemangati satu sama lain.

Kabar baiknya, akses terhadap illmu mendidik anak sekarang kian terbuka lebar. Keran-keran informasi menjadi tanpa batas dengan berkembangnya teknologi. Meski, di sisi lain, kita perlu memiliki saringan yang mumpuni untuk segala macam info tersebut: karena info sampah dan info yang bernas seringkali tertabur bercampur-baur.

Saya termasuk penikmat ilmu parenting dimana-mana. Meski pasti masih sangat terbatas, setidaknya saya jadi terpaksa belajar ketika harus berbagi pada orangtua yang lain dalam forum seminar atau sharing parenting. Berbagi dengan ‘teko’ kosong tentu tak mungkin, maka saya harus mengisinya terlebih dulu agar penuh, dan dengan begitu saya bisa menuangkannya pada gelas-gelas di sekeliling.

Tapi jujur, saya tak pernah menemukan ilmu sepuas setahun terakhir ini, setelah sedikit mendalami bagaimana Nabi mendidik generasi. Belum puas sebenarnya, karena semakin belajar, semakin saya merasa bodoh serta kecil. Dan tentu masih jauh sekali pemahaman saya mengenai ini, dibandingkan orangtua-orangtua lain yang sudah lebih dulu mendalaminya. Atau guru-guru saya -rahimakumullah- yang bersibuk mempelajari sekian banyak literatur demi mendapatkan ilmu yang shahih lagi teruji.

Tidak banyak penelitian. Mungkin juga belum terbukti dalam lab-lab observasi. Tapi sejarah senantiasa bertutur dengan jujur mengenai dirinya, dan ia hanya menunjukkan pembuktian. Kita bisa berkata bahwa zaman pasti berbeda. Tapi sesiapa yang yakin, hanya perlu percaya.

Iman ini -sesuatu yang naudzubillah semakin menipis dalam diri kita- hanya menuntut kita untuk percaya. Bagaimana bisa?

Saya tidak tahu dengan Anda. Tapi saya hanya ingin bilang, saya mencintai Nabi saya. Nabi kita. Muhammad bin Abdullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin belum cukup bukti cinta saya. Mungkin juga hanya sebatas penghias bibir, atau juga retorika dalam tulisan ini. Tapi saya sungguh ingin berjumpa dengan beliau, sekedar menatapnya saja agar ia tahu bahwa disini ada cinta. Bahwa dalam hidup ini, saya berusaha mengikutinya. Bukankah jika kita cinta, kita akan turuti dan berusaha penuhi segala kemauan orang yang kita cinta?

Begitulah. Persinggungan dengan pendidikan anak ala Nabi membimbing saya untuk banyak menggali lagi. Lebih tepatnya menampar saya dan mempertanyakan : kemana saja kamu selama ini? Jangan-jangan ilmu yang saya pernah bagi malah tak tepat, naudzubillah bertolak belakang dengan ajaran Rasulullah.

Ilmu, ilmu dan ilmu.

Sudahkah kita mengilmui bagaimana Nabi berinteraksi dengan anak-anak di usia dini? Juga bagaimana bentuk kurikulum untuk usia sebelum baligh dan sesudahnya? Remaja, mengapa tak ada dalam kamus parenting islam? Hukuman, mengapa ia diijinkan untuk dikenakan pada anak? Pada kesalahan yang bagaimana dan sebesar nan segenting apa?

Kita bisa berkata bahwa jaman telah berubah. Dan perubahan adalah niscaya, keluwesan mengikuti gelombang hidup dan menari di atasnya -bukan terbawa arus olehnya- bisa jadi mutlak pula. Namun poin saya bukan luwes-tidaknya kita mengikuti perkembangan ilmu atau jaman yang kian ganas ini.

Tetapi, lagi-lagi, saya akan bertanya (lebih untuk diri sendiri) : bukankah kita cinta pada Rasulullah yang mulia? Maka mengapa kita tak belajar pertama kali dari diri beliau?

Mengapa yang kita buka bukan lembar-lembar sejarahnya, bukan tentang bagaimana beliau menegur anak, mengapresiasinya, menemani mereka bermain, memerintahkan untuk shalat, mengajaknya berdialog laksana teman sebaya, menegur dengan tepat dll?

Mengapa bukan literatur Islam, bukan literatur Nabi, yang kita jadikan referensi dan rujukan pertama dan utama dalam mengemban tugas mulia mendidik anak-anak kita?

Jangan pernah mengulang kesalahan saya.

Percayalah, yang terjadi di forum-forum adalah pertanyaan serupa meski redaksionalnya tak sama, sejenis meski tampak berbeda. Dan jawaban yang diharapkan adalah “tips-tips”, “trik-trik”, dan lain sebagainya, yang semakin konkrit-operasional akan semakin disukai.

Tahukah Anda bahwa tips yang satu tak selalu bisa cocok untuk kita terapkan di keluarga kita? Dan sadarkah kita bahwa anak-anak adalah manusia -sekelumit makhluk dinamis yang seringkali bersikap dan berperilaku sesuka hati mereka- dan antara anak yang satu dengan anak yang lain demikian unik serta berbeda?

Yap. Treatment A tak selalu membuahkan respon B. Begitu pula trik C tak selalu menghasilkan perilaku D. Sayangnya kita, khususnya saya, lebih suka mendapatkan jawaban instan lagi cepat. Browsing-lah dan cari artikel-artikel parenting kebanyakan. Biasanya yang disukai adalah yang sangat teknis, yang konkrit menggambarkan bagaimana orangtua menghargai anak, bagaimana memuji, bagaimana berkomunikasi dengan mereka agar didengar, agar mereka menurut, patuh dan sebagainya.

Apakah salah?

Tidak. Saya tidak katakan itu semua salah. Saya malah justru terbantu sekali mendapatkan referensi jawaban saat teman-teman bertanya dalam forum diskusi. Juga saat saya mendidik buah hati di rumah yang beragam polahnya.

Tetapi, wahai, orangtua akhir jaman, wahai diriku yang bercita ingin melahirkan anak-anak penghuni surga, surga mana yang ingin engkau capai? Jalan apa yang sedang engkau tempuh? Cara siapa yang engkau ikuti sesungguhnya?

Mempelajari parenting Nabi membuka mata saya bahwa Nabi juga mengajarkan tips dan trik yang sangat operasional. Adab makan adalah duduk dengan tenang, mengucapkan doa, mengambil makanan yang paling dekat, makan dengan tangan kanan, dan bersyukur dengan apa yang tersuguh di meja.

“Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Thabrani)

 

Tetapi jangan pula kecewa jika dalam banyak hal tak kita jumpai sumber-sumber yang merinci bagaimana Nabi bersikap. Keterbatasan dokumen dan juga literatur membuat kita kehilangan jejak sejarah. Setidaknya ada hikmah disini untuk memahami konsep besar dan hal-hal prinsip dari pola pendidikan Nabi pada anak, untuk selanjutnya kita berkreasi tanpa keluar dari koridor prinsip tersebut.

Kita tahu prinsip-prinsip dalam tata cara makan atau table manner ala Islam yang diatur dalam adabnya. Tapi tak ada rincian bagaimana membuat anak betah duduk dalam waktu lama. Maka tugas kitalah berkreativitas tentang itu. Ibu A mungkin akan menemani sambil duduk bercerita menjaga fokus si anak. Ibu B mungkin akan melucu di depan mereka. Ibu C akan mengawasi dengan tegas. Ibu D menjanjikan hadiah. Apa saja, sekreatif kita mencari apa yang paling cocok untuk kita dan anak-anak kita.

Kita paham koridor tentang tata cara mendidik anak dari Nabi. Panduannya yang terekam di hadits adalah mendoakan mereka, berlemah-lembut, membelai kepala, berlari bersama, mendidik dengan keras saat anak memakan yang haram, dan sebagainya. Maka disinilah kita dapat tarik garis merah itu : tidak ada amarah sama sekali kecuali  hanya ketegasan untuk zat halal-haram yang masuk ke tubuh, tidak ada bentakan, tidak ada pengabaian, menikmati kebersamaan dan terlibat bermain bersama anak, dan sebagainya.

Inilah Rasulullah yang kita cinta…

Semakin digali ajarannya, maka sungguh, akan kautemukan bahwa cintanya pada kita, melebihi cinta kita atas segala yang fana, bahkan cinta kita pada beliau. Semakin kita pelajari  bagaimana kesehariannya menjadi suami yang hebat serta ayah yang penyayang, maka akan semakin kita pastikan bahwa hanya dialah yang layak dijadikan rujukan. Family man telah ada sejak masa Lukman Al Hakim, nabiyullah Ibrahim a.s, serta tentu saja Muhammad saw. Fathering telah mereka contohkan sejak ratusan abad lalu, dan sekarang baru saja happening kembali. Cari, ajaran yang mana dan apa saja yang kita ingin gali. Maka akan kautemukan ribuan layer kisah abadi yang selalu tepat diaplikasi di segala tuntutan zaman.

Jadi, seberapa besar cinta di dalam sini untuk sang Nabi?

Seberapa ingin kita mengikuti dan mempelajari kembali apa yang telah diwarisi?

Saya memulainya sekarang, dan mengajak kita semua menjadikan parenting Nabi sebagai rujukan. Yang utama dan pertama.

Temani saya, dan kita bisa berjalan bersisian. Saling mengajari, saling mengingatkan, dan saling berjanjian untuk reuni kembali di surga Ar-Rahman, bersama segenap keluarga yang kita sayang.

Adakah yang ingin ikutan?

 

-o0o-

Rajab/02 Mei 2016
Di tengah gelisah atas fenomena keluarga islam

Nb : saya menjadi murid Akademi Keluarga angk. ke-3 dari Parenting Nabawiyah. Alhamdulillah, disiitu saya banyak belajar bagaimana Nabi mendidik putra-putrinya dan memberikan keteladanan yang tak akan pernah lekang. Selebihnya kita harus menjadi Ayah dan Ibu yang cerdas dengan banyak membaca dan berdiskusi dengan teman sevisi. Selamat belajar 🙂

Di Lorong Sunyi

 

lorong

Di lorong sunyi ini kita berjalan. Ditingkahi ceria tertawanya yang tak paham ada apa. Seceria senyum mereka yang tak mengerti di depan sana bagaimana.  Dan aku tersibuk menghitung waktu yang tidak pernah berhenti. Menghitung langkah kaki yang ingin sekali berselonjor barang sekali.

Sampai kapan kita melangkah?

Gumamku menemukan ujung yang tak pernah berjeda. Sedemikian jauh perjalanan dan aku mengeluh lelah. Bolehkah?

Sementara kakimu terus tegap mengayun, berlari, berderap-derap di lorong sunyi. Sesekali ia mungkin terpeleset. Tergenang air. Tersapu becek. Tapi tidak sedikitpun berhenti. Meninggalkan kesahku yang terus teraduk dalam payah.

Bolehkah? Bolehkah?

Penghujung jalan ini jauh, teramat jauh. Aku bahkan tidak melihat ujungnya ada. Tak mampu meraba dimana akhirnya menyata. Barangkali juga ia hanya fatamorgana.  Semacam harapan yang fana. Hanya bias. Hanya cahaya yang menipu mata.

Aku tersedak dan nafasku menyesak. Oksigen hilang dan aku mulai meraup udara dari mulut yang membuka. Mungkin aku kehilangan yakin. Dan mulai goyah kehilangan angin. Udara menggigil tetapi tak semili kubik pun 02 terbang menembus rongga diafragma yang haus udara.

Tapi engkau terus saja berdiri tegak. Terus melangkah di atas merahnya telapak. Tidak peduli saat kuku-kuku mengelupas. Abai meski engkau tahu ragamu melemas.

Lalu aku sibuk bertanya, “sudah sampai mana? Apakah masih jauh? Sampai kapan? Apakah kita akan berhenti? Dimana?”

Kaubilang kaupun tak tahu sampai kapan kita harus melangkah. Tapi gerakmu tetap terayun. Mungkin kali ini bersama gelepar pasrah. Meski aku tahu tidak ada kata menyerah.

“Jangan berhenti.”

Aku mendengar huruf-hurufmu berbalapan bersama nafas yang tersengal. Mungkin mereka bosan menghela udara dan sama kesal.

“Karena kita tak bisa berhenti. Karena tugas kita hanya berlari.”

Tapi bukankah perjalanan ini sudah begitu jauh? Terlampau jauh? Mengapa harus? Mengapa terus?

“Karena kita tak mungkin mundur. Atau berbalik lagi.”

Lalu kauhirup udara yang tersisa. Mungkin hanya cukup untuk sekali hentak. Tapi larimu kian melesat.

Dan di lorong sunyi ini kita melangkah lagi. Ditingkahi tawa mereka yang lepas; merajuk, berputar, berhamburan, tak paham sama sekali apa yang terjadi. Hanya turut berlari tak henti-henti.

Dan aku, mengikuti saja jalan yang membuka. Menyeret kakiku yang kesulitan mengeja. Mengokohkan hati. Menunggu datang cahaya.

–o–

28042016. 00:33wib
~di penghujung april yang nyaris pecah