Awkward Moment

Bismillah.

It’s been my.. another awkward moment in my life, i think.

Hari itu Sabtu di awal September 2016. Hari yang cerah, secerah semangat menimba ilmu dan bertemu teman-teman sejawat. Rencana yang awalnya ke Istanbul akhirnya berbelok ke negeri jiran. Yes, Malaysia. Kami -aku dan akhirnya hanya 3 rekan saja dari Indonesia- akan mengikuti training pembekalan berikutnya untuk mendampingi program community leaders yang sudah berjalan sejak Maret lalu. How excited. Yah walau sedikit kecewa karena mendadak diubah ke Malaysia, tapi it’s okaylah, diundang training saja (aku rasa) kami semua senang.

Diantar pak suami dan my lovely girl, kami tiba di bandara pukul 10 pagi. Jumpa teman-teman yang sudah tiba lebih dahulu dan bersiap check in segera. Lalu seorang rekan bertanya, “Paspor mana Mbak?”.

Whatt?? Oh my God…

Sambil berusaha mengendalikan diri, aku menjawab, “eh…kayaknya ketinggalan Be. Lupa..” plus nyengir supaya gak tegang. “Serius ketinggalan??”. “he-eh, aku inget gak masukin ke tas..”. “Periksa dulu coba..” kata yang lain. “Engga, memang akunya belum masukin ke tas.”. Dan masih saja ditimpali, “ibuk ini, timnya diurusin, dirinya sendiri kelupaan :D”. Rrrr…itu kan tanda aku care dan bertanggung jawab sebagai project manager yang baik.

Pak suami segera bertindak cepat, “hubungi uber, suruh ambil paspormu di rumah.”.

Dan… drama itu pun terjadi.

Supir uber bolak-balik kutelpon, macet lah di Lenteng Agung, baru sampai tol, okay sekian puluh menit lagi, sampai dia sedikit emosi bilang, “saya bawa mobil udah gemeteran ini buu saking ngebutnyaa!”.

Ok ok, baiklah.

Tidak lupa mengirim mesej pada supervisor yang entah bagaimana ekspresinya disana *tutup muka takut dimarahin. Dan disini hanya bisa istighfar sambil tak terhindarkan merutuki diri. Komentar balasannya, “Siapa yang marah? Pelajaran untuk next time agar periksa dokumen sebelum berangkat.”. Heu.. dia banget.

Mampir ke loket utk check in dan melapor, lalu melobi, dan berusaha, berusaha, berusaha. There must be a way, inda.. stay calm, stay calm..

Pesawat take off pukul 11.40. Dan 11.30 supir uber belum kelihatan penampakannya. Rekan lain pake komen gak menghibur segala, pingin aku kunyah rasanya. Pak suami cuma bisa menghibur “Sudah gak papa, kalau ikut next flight kan berarti kamu bisa lebih lama lagi sama aku, ya kan :)”. Dan adegan berikutnya adalah terisak sambil memeluk tubuhnya. Hik hik…

Tak lama paspor datang, dan safe flight pesawat! Tak bisa lagi terkejar.

bag-alone

Iya sesak. Tapi berusaha meyakini dalam hati bahwa segala kehendak Allah pastilah penuh kebaikan. Dan kami pun menunggu hingga penerbangan berikutnya di jam 21. Masih ada sekitar 9 jam untuk duduk menyempurnakan bahan presentasi saat training nanti.

Drama berikutnya adalah sedikit mencemaskan safety karena akan tiba di tempat tujuan lewat tengah malam, lalu bertengkar dengan mr. spv yang sulit sekali dihubungi, lalu dia muntab dan blablabla… *hurt* Oh, why should communication become the biggest issue between us 😦

Akhirnya terpaksa shortcut ke brother yang in charge urusan akomodasi. Bukan salah aku donk kalau aku gak tau bahwa mr. Spv juga mengusahakan penjemputan, dia kan gak cerita-cerita sama sekali. Ya kalau memang gak bisa dijemput tinggal bilang aja, aku bisa kok jalan sendiri (sok yakiiiin..), gak usah pake marah2. Tapi untungnya brother yang lain bisa membantu. “Dont worry sister, you’re the only sister in this training, so we have to serve you special :)”. Kalimat yang jauh menenangkan ketimbang babang spv tadi. Fiuuuh….

Laluu berangkatlah aku sendirian (it’s okay then!) dan tiba di bandara KL dengan perasaan asing. Salah masuk jalur imigrasi selama beberapa menit, berjalan dengan bingung, batere hp tiris dan sooo perfect when didn’t find any colokan untuk ngecharge. Akhirnya berjumpa dengan penjemput yang membawa papan nama dan, oh syukurlah, dia wanita ditemani 1 driver lainnya. Karena kalau dia seorang laki-laki sendirian saja, kelihatannya akan sukses bikin cemas sepanjang perjalanan selama 1 jam, melewati perkebunan kelapa sawit yang gelap dan sepi pukul 1.30 dinihari.

Sampai hotel langsung check in, mengetok-ketok kamar kawan untuk minta ringgit malaysia buat pesan dinner yang rasanya lebih pantas disebut sahur, lalu bebersih dan memesan makanan. Begitu pesanan tiba, wuaww… porsinya cukup untuk 2 orang. Baiklah, aku lapar.

Tidur pukul 3 dinihari, terbangun pukul 5 untuk pray fajr, dan prepare for first day training. Sepanjang hari itu cukup lelah dan mengantuk, meski seisi kelas kelihatannya memaklumi. I am sorry, brothers…but i am still sleepy… ~_~

Yah begitulah perjalanan kemarin. Diingat-ingat sedikit menyebalkan, dan terkadang membangkitkan rasa sedih ketika ingat kemarahan seseorang.
Tulisan yang tak lebih dari sekadar menginventarisasi ingatan. Mungkin suatu hari akan terasa konyolnya (well, udah habis sih diledekin bocah2 sepanjang training kemarin), mungkin juga bisa diambil pelajaran.

Setidaknya dalam perjalanan ke Malaysia itu.. aku berpikir kemudian. Terkadang kita perlu dipaksa untuk melakukan hal yang pertama sendirian. It’s not easy for me doing something new alone (seperti kejadian kemarin, misalnya). Dan sebelumnya cukup terkejut karena rencana berubah, 1 orang berangkat lebih dulu tanpa mengabari sebelumnya, dan kemarin tertinggal dari rombongan. Buat aku, tentu saja didampingi itu akan terasa lebih menyenangkan. Setidaknya kebutuhan rasa secure terpenuhi, dan aku akan merasa lebih tenang.

Tapi ya… barangkali memang keadaan perlu memaksa kita. Dan kemudian kita akan belajar. Mengamati situasi, mengendalikan diri, bersandar hanya pada Yang Maha. Selebihnya butuh pembiasaan. Seperti pak suami bilang, “kalau kamu bisa ke Malaysia sendirian, berarti next ke Eropa juga bisa sendirian ;)”. Hm.. we’ll see yaa.. Bersamamu pasti lebih baik laah.. #eaak

Udah ah.
-end

malming 08.10.2016, 21:25 wib.

 

 

 

Travelling?

Bismillah.sand footprint

Bulan depan saya akan melakukan perjalanan jauh. Travelling!

Biasanya saya akan berteriak “yeayy!” dengan gembira. Bagaimana tidak, berjalan ke lintas kota atau negara, bagi saya yang sesungguhnya anak rumahan ini sangat menyenangkan. Yap, menjeda sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas tentulah menjadi momen beristirahat yang bisa menyegarkan jiwa.

Tapi kali ini entah mengapa rasanya justru lebih banyak cemasnya. Semacam undescribeable feeling yang campur aduk tak jelas rupa. Kalau dulu jaman single, berpetualang ke luar kota bakalan bikin excited banget, sekarang jadi melow sentimentil ditambah cemas bin khawatir. Apakah karena ini perjalanan seorang diri ya?

Kalau dibilang seorang diri banget, sebenarnya tidak juga. Karena rencananya saya akan pergi bersama sekitar 6 orang kawan untuk mengikuti training di Istanbul sana. Dan semuanya adalah para pria. Heu… bagaikan putri di sarang penyamun ya. Udah bujuk-bujuk pak suami padahal, tapi dia bilang baru akan pergi bulan November nanti. So duitnya disimpen dulu buat kepergian berikutnya dan keperluan lainnya. *lobi gagal >_<*

Apakah saya  juga resah karena meninggalkan anak-anak? Hm… bisa jadi. Apalah saya ini, sama sekali bukan ibu karier yang bisa tenang meninggalkan anak berjam-jam meski di tangan Ayahnya sekalipun. Dannn.. baru kemarin pergi seharian dari jam 9 pagi sampai 8 malam, si sulung sudah kirim mesej via whatsapp ayahnya. “Bundaaa kenapa lama bangetttt… kakak udah kangeeen…” *melting*. Dan begitu sampai di rumah, si mungil Mima menghambur memeluk erat dengan rautnya yang berbinar-binar jenaka. Olala… how can i leave you, my dearr… itu baru beberapa jam doang, nanti kalo seminggu lebih gimana.. *mewek*

Pemicu perasaan sentimentil lainnya adalah.. ini perjalanan pertama saya ke luar negeri. Ya baiklah saya sedikit norak dan cemas berlebihan. Tapi kemudian semakin feel bad waktu supervisor kami yang sudah pengalaman bulak-balik Eropa Asia Turki blablabla, menyatakan belum tentu ikut menemani. Heu.. jangan-jangan kami kayak anak ayam ilang nanti.. yang lainnya juga pada baru pertama ke Turkey soalnya *insecure*.

Ah sudahlah. Let it be. Belum juga kejadian udah banyak banget yang dipikirin wkwk.. kebiasaan. Liat aja entar kali ya. Yah meski ga bikin tenang juga karena ini belum solved, at least energinya bisa kita pakai untuk mikirin hal lain. Mulai searching daerah wisata yang menarik misalnya? Hihi..

See you soon, Istanbul! Semoga tak ada halangan. Aamiin..

 

Kerjaan oh Kerjaan…

Bismillahh…





Again.

Pikiran ini tidak henti-hentinya berputar di benak saya. Soal kerjaan! Lagi!



Jadi masih kerja aja, Ndra?



Blah…

Kerisauan ini muncul lagi setelah permasalahan sebelumnya memang belum tuntas.

Pelajaran satu : tuntaskan masalahmu agar ia tidak berbuntut panjang!

Tak lain tak bukan, masih juga soal pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan saya tentu saja. Yahh… salah sendiri juga sih. Masak kerja di lembaga sosial ngarepin banyak. Mbok ya ngono… kerja di perusahaan… *huk*

Apalah yang bisa diharap dari yang selama ini saya jalani. Ini bukan soal bersyukur atau tidak, saya tegaskan. Tapi kita bicara kebutuhan yang ternyata melebihi pendapatan. Ya memang wajar, kerja dengan waktu yang relatif ‘semaunya’ (baca: fleksibel), dan bobot kerja yang tak terlampau berat, amatlah sepadan dengan apa yang saya terima.



Nah. Masalah muncul ketika harapan tak bersesuaian dengan kenyataan, bukan?



Itu dia.

Dengan menyambi berbisnis, pengeluaran saya untuk operasional tentu saja tak hanya seputar makan siang, sumbangan kebutuhan dapur dan rumah tangga, keperluan bulanan perempuan serta berangkat-pulang kantor semata-mata. Tetapi juga biaya tetek bengek ongkos unpredictable kesana-kemari bertemu partner/klien yang membengkak, pulsa yang cepat habisnya (karena memang sering banget dipakai), plus, biaya makan (selain lunch) kalau terpaksa makan sore atau malam di luar rumah. Maklum… awal-awal berbisnis kan butuh modal.

Bisa ditebaklah…

Besar pasak daripada tiangnya.



Saya kemudian berpikir untuk mencari sumber penghasilan selain kantor tempat saya mengabdi saat ini. Pindah kerjalah, intinya. Tapi saya masih menganalisa ini-itu.



Ternyata, lowongan di el-es-em tidak sebanyak yang saya duga. Mengingat saya masih merasa “gak gue banget” untuk bekerja di company -khususnya bidang HR dimana lulusan psikologi banyak berkecimpung disana- maka saya berfokus pada lembaga-lembaga sos-masy dulu, sesuai dengan minat saya.



Begitu ketemu yang sepertinya menarik…

Oalah… tempatnya jauh bener yak… bisa-bisa tua di jalan sayah kalau beginih caranyah… minimal 2,5 jam perjalanan, maannn… Itu kalau tidak macet. Kalau macet tentu saja bisa lebih lama lagi.

Dan berdasarkan informasi beberapa rekan yang lebih paham, pekerjaannya ternyata jauh tak sebanding dengan penghasilan yang diterima. Ya eyyalaahh… el-es-em gitu lokh…

Tapi saya juga butuh duit, Tuan… bukan sekedar aktualisasi diri *mengenaskan banget kesannya*



Well… saya pun melupakan lowongan di tempat tersebut. Gimanapun saya mencari yang lebih baik. Soal memberi, dimana aja juga bisalah, tidak harus disana…



Kemudian lowongan di company mulai berdatangan.

BUMN. Recruiter.

Saya abaikan email itu. Tapi masih kepikiran juga.

Ambil gak ya… coba-enggak….coba-enggak…

Dan hari-hari berlalu begitu saja tanpa keputusan.

Please, tolong, boleh kan saya merasa tidak klik untuk bekerja di company?

Dengan jam kerjanya, kulturnya, basic keilmuannya, bener-bener bukan jiwa saya untuk ituuu…

“Tapi gak ada salahnya dicoba lagi, Mbak…” ujar salah seorang rekan kantor.

“Begitu ya?”

Dan keraguan saya masih saja mengawang-ngawang dengan mata menerawang bimbang.



Dan…

Malam ini saya membaca ulang Laskar Pelangi.

Menelusur ulang kisah seorang guru sejati bernama Bu Mus yang terlampau langit bagi saya yang palung ini. Sejumlah orang dengan background psikologi memang menjadi guru (BK, pada umumnya. Atau dikenal dengan bimbingan konseling).



Tapi saya berkaca. Rasa-rasanya saya tidak punya cukup kepiawaian untuk menghadapi siswa-siswa. Dan cermin saya itu adalah Bu Mus, seorang guru muslimah langitan dengan trilyunan kesabaran menghadapi tingkah-polah 10 murid-muridnya yang ‘aneh tapi nyata’; dan juga seorang rekan saya yang lebih dulu menjadi guru BK tingkat SMA.



Kalau bercermin dengan Bu Mus, tewaslah saya. Betul-betul palung dan langit!

Maka cermin yang satunya masih cukup membuat saya sadar dari bahan apa dia diciptakan *peace, Mir! :D*.

Maksudnya, dulu saya dan rekan saya ini sama-sama belajar psikologi di kampus yang sama, angkatan yang sama, dan, kantor yang sama pula. Jadi saya rasa, bekal saya dan dia gak beda jauhlahh… Yang mungkin lumayan berbeda adalah pembawaan dan sifatnya.

Dari dia ini saya acap mendengar keseharian seorang guru BK yang cukup membuat saya berpikir, “kayaknya gua gak bisa kayak elu deh Mir kalo jadi guru…”.



Tau dong… tugas guru itu bukan sekedar menyampaikan materi, tapi juga mendidik.

Tau apa arti mendidik? Transfer nilai. Dan transfer nilai itu bicara soal bagaimana menjadi teladan. Menjadi teladan haruslah menampilkan sosok yang lebih mature (menurut saya), dalam berbagai hal. Dan dalam hemat saya, selain integritas, kesabaran dan ketulusan adalah dua hal yang mutlak harus dimiliki seorang guru yang ingin sukses, disamping poin-poin sekunder lainnya. Mau jadi guru macam apa kalau tidak mengajar dengan hati, coba???

Maka, blasss…. Hilanglah kepercayaan diri saya seketika.



Ditambah satu hal lagi, saya masih merasa… gimanaa gitu, dengan keharusan jadwal yang fullday bagi seorang guru, apalagi guru BK yang idealnya musti stand by setiap saat di sekolah.

Udah dibilang saya gak bakat kali ya, jadi karyawan office hour… rasanya gak merdeka aja gitu… dan tentu saja, yang paling fundamental adalah ini persoalan mengajar dengan hati, yang masih harus dipertanyakan dari seorang saya 😦

Barangkali, kalaupun mengajar, mungkin saya lebih memilih menjadi dosen, yang jam kerjanya relatif tidak penuh seharian.

Dan weelll, sodara-sodara…

Menjadi dosen di Jakarta dan entah mungkin daerah lainnya, mensyaratkan pendidikan minimal strata 2!

Selamat! Anda tidak qualified!



Lalu sedikit cahaya atau entah godaan selanjutnya, muncul dari Bandung.

Lintasan pikiran ini bermula ketika saya berkunjung ke satu sekolah di Bandung dalam rangka pekerjaan kantor, dan saya bekerjasama dengan sejumlah orang dari satu perusahaan penerbitan terkenal berinisial G.

Pertama, ketemu sama Mbak N, sang editor sekaligus wartawan yang dinamis sekali kerjanya.

Kedua, ketemu sama Kang D dan Kang R, manager dan staf marketing yang subhanallah welcome dan baik hati sekali.

Ketiga, ketemu sama Pak G sang bos area penerbitan Jabar dan Jateng, yang begitu humble dan berbaur dengan para bawahannya.

Otak saya langsung nguing-nguing (kalau saya jadi lebah, pasti antenanya udah kelip-kelip deh).

Sepertinya menarik juga kerja di penerbitan, terutama marketingnya. Target sudah pasti ada, tapi yang saya amati dalam dunia marketing adalah dimana proses learning by doing menjadi salah satu hal terbesar yang menjadikan mereka semakin menyempurna.



Jadi, dalam pandangan saya yang awam tapi sotoy ini, orang-orang marketing itu tidak cukup hanya dengan membaca buku, ilmu atau teorinya berjilid-jilid, untuk menjadi pintar. Tapi harus action, action dan action. Dan dalam action itulah seringkali ilmu atau teori kalah benarnya. Atau dengan kata lain, pembelajaran/hikmah yang didapatkan ketika action, melebihi sekedar teori belaka. Menantang, bukan?



Ditambah lagi, waktu kerjanya relatif bisa dikendalikan. Mau sambil makan-makan, libur sekarang atau nanti, asalkan target tercapai, bereslah pekerjaan kita, ujar Kang D, si bos marketing penerbit G area Jabar.

Dan buat saya, pekerjaan ini punya nilai tambah tersendiri. Sebagai orang yang belajar ilmu perilaku manusia, marketing menjadi lahan belajar yang subhaanalloh luaaaaaaas… sekali, untuk mempelajari setiap saat, bagaimana memahami manusia sebagai subyek, dimana hablumminannas berlaku dengan segala rambu dan ketentuan-Nya. Otomatis, kualitas diri dalam berinteraksi dengan sesama manusia pasti ter-upgrade karena banyak learning by action tadi.



Lalu apakah kemudian saya mengajukan diri untuk bekerja sebagai staf marketing dari penerbit G?

Hehe. Belum, ternyata.



Pertama, saya masih menimbang-nimbang apakah cukup menenangkan bekerja di perusahaan yang punya stereotip kurang baik dalam konteks aqidah. Saya belum menemukan kebenarannya (karena yang namanya stereotip belum tentu benar, kan?). Walaupun banyak orang menjadi karyawan perusahaan ini-itu yang jelas-jelas menikam ummat, itu urusan mereka lah. Kalo sekarang kan saya sedang bicara tentang saya thok, bukan orang lain. Yang jelas ini PR buat saya cari tahu faktanya seperti apa, dan merupakan hal yang berkaitan dengan nurani. So, tidak usah ditanya seperti apa mendasar/tidaknya.



Kedua, jika saya ingin bekerja di tempat mereka, maka saya harus menimbang untuk hidup di Bandung, meninggalkan Jakarta. Dan ini berarti saya harus berhadapan dengan keluarga yang dari dulu selalu memberatkan jarak dan waktu bagi saya dalam bekerja. Okelah kalau hanya beberapa lama keluar kota. Tapi kalau sampai bekerja tetap di kota lain, dalam waktu berbulan-bulan, sepertinya saya pesimis akan mendapatkan ijin.

“Emang di Jakarta gak ada kerjaan bagus apa, sampe harus ke luar kota segala???”

Kira-kira demikianlah potensi ‘nyap-nyap’ dari 3 significant person di rumah.

Kecuali… ya, kecuali, ada mahram yang mendampingi disana.



Ketiga, ini juga tak kalah penting. Memangnya mereka sedang buka lowongan?

Hehe… gubrak deh.



Tapi entah kenapa saya seperti punya dorongan kuat untuk menindaklanjuti ladang terakhir ini. Pasalnya saya di-support sekali oleh sahabat saya yang tahu benar bagaimana linglungnya saya akhir-akhir ini untuk soal pendapatan.

Katanya, “Ya udah coba aja. Kamu kan minat. Kerja di penerbitan asyik lho, bisa kenal penulis-penulis ternama. Relasimu juga jadi lebih luas. Bisa kembangkan bisnismu juga. Selain itu kamu juga suka menulis. Siapa tahu bisa jadi editor J

Walau dia sama sekali belum berpengalaman di dunia penerbitan, hati kecil saya bersorak memberi dorongan yang sama positifnya. Entah kenapa.



Wellhh…

Panjang kaaali cerita kali ini ya?!?

Yah, pastinya saya masih harus mencari informasi kesana-kemari.

Ini memang bukan soal keyakinan bahwa rizqi sudah ada yang mengatur. Tapi ini soal kerja keras mencari pintu rizqi itu, dan soal pilihan-pilihan yang akan menentukan lukisan takdir macam apa yang akan saya jelang kedepannya.

Kalau begitu saya mohon doa (dan info2nya) ya, teman-teman… Semoga saya ditunjukkan yang terbaik 🙂



Kebayang deh, kalau aja saya curhat sama partner bisnis saya yang satu itu, pasti dia akan bilang….“Perasaan dari dulu udah gua bilang untuk cari yang lebih baik. Sampe sekarang belum dilaksanain juga solusinya? Yang kayak gini aja dipusingin, Iiiin… In! Fokuslah sama hal besar!”

Hahahaa… ampun dah, Bu Ap!!! ^_^





~ampeInsomniaGinihEuy..

Saturday, 04.10.08; 03.56 am





gambar2nya dari sini niiihh…

www.parentalk.co.uk/atwork/default.asp

http://homework.syosset.k12.ny.us/teachers/swrigley/extra-help.htm

http://www.istockphoto.com/file_closeup/business/business_concepts/banking/1973631_money_bag_the_cartoon_toolbox_series.php?id=1973631

http://www.school-clipart.com/_pages/0511-0710-1112-0653.html

Resign?!

Bismillah…


Baru kali ini aku merasakan gundah-gulananya menjadi pegawai yang ingin pindah kerja. Mengingat seorang teman sudah cabut tanpa sinyal sedikitpun, dan iklim yang tidak terlihat berubah siginifikan dengan ‘kedewaan’ sang pimpinan, plus, sejumlah rekan yang pada saat bersamaan ingin fokus di tempat lainnya…
Hufff….
Bagaimana ya?

Tawaran sudah digulirkan.
Tapi aku masih mencoba mengingat-ingat bagaimana aku match dengan suasana kerja tertentu. Disini, aku bisa ‘sesuka hati’ datang; jika ada pekerjaan besar, lakukan. Jika tidak, ya jadi pengangguran. Paling-paling hanya datang mengisi absen dan duduk di depan komputer, mengetik modul pelatihan sembari browsing kesana-kemari. Dengan waktu kerja yang relatif bisa ‘kukendalikan’, maka aku bisa melakukan fokusku yang lain di luar sana sewaktu-waktu, kapanpun aku mau. Yang penting pekerjaanku di kantor selesai. Kalaupun pekerjaan di kantor jauh lebih banyak dan menuntut untuk lembur, itu merupakan salah satu konsekuensi dari ketiadaan jam kerja yang saklek.

Bagaimana ya?

Ini bukan persoalan bersyukur atau tidak bersyukur. Tetapi, jika kita tidak bisa mengubah keadaan setelah mengerahkan segenap kemampuan, apalagi yang mau diharap?
Bersabar?
Sounds pasrah ya… padahal itu satu hal yang ingin aku enyahkan kuat-kuat. Lagipula, adalah hal yang wajar bukan, jika seorang karyawan mencari tempat kerja yang lebih baik?
Oh yeah… karyawan…. *duuh…kuadran kiri yang menyebbbbalkan!!!*

Apakah aku bisa mengatur waktu dengan sama fleksibelnya ketika di tempat baru itu? Jika tidak, itu berarti aku harus berjuang lebih keras dengan pulang lebih larut dan tentu saja, harus memastikan tenaga dan stamina terjaga.

Sebenarnya waktu kemarin gabung sama di forumnya S Foundation, berharap punya banyak link sambil manfaatin barangkali ada info ‘tempat untuk memberi’ yang lebih baik. Dan sejauh ini baru datang tawaran di tempat yang sepertinya menantang…

Duh, gimana ya….
(udah 3 kali ‘gimana ya’..kalo 4 kali dapet piring deh) *garing*

Wellhh…
Sepertinya harus banyak cari masukan nih. Dan yang utama, masukan dari Allah pastinya. Dari kalian, ada yang mau berkomentar?

~kapanYaResignSelamanya..?
Friday 18.07.08, 10:09pm

pic from
www.treehugger.com/2007/09/30-week/
without permission. so sorry…

Jenuh

Bismillah…


Sepertinya ini sudah masuk masa-masa jengah.
Baru terasa sekarang ya? 1 tahun lebih berjalan, pastinya. Pantas, sejumlah orang serentak mundur begitu merasa tidak ada lagi jalan keluar selain benar-benar permisi dan keluar. Satu-satunya alasan dibalik semua ini akhirnya baru kami mengerti kemudian. Dan kabar yang sempat kami ragukan itu malah kami rasakan sendiri sekarang. Sebagai new comers yang baik saat itu, tentu saja yang kami lakukan hanyalah mendengar, diam, menganalisa, dan mengerjakan apa yang memang harus kami kerjakan. Tidak lebih.

Tadinya kami tidak ingin mempercayai alasan itu.
“Ah, masa sih, beliau…?” tanya kami lugu di awal dulu.
“Yah… setiap orang punya kekurangan…” jawab golongan lama, masih berusaha menetralisir suasana.
Maka kami jalani saja hari demi harinya. Berharap lembaran baru akan kami mulai dengan lebih baik, tentu saja.

Tapi lama-kelamaan, satu-persatu kami mulai gelisah. Sedikit banyak kemudian membenarkan argumentasi kawan-kawan lama. Dan sulit sekali mulut ini terbuka. Hingga yang terjadi selanjutnya adalah mencari solusi di belakang yang sama sekali tidak menyentuh sasaran. Bagaimana bisa, sebab mungkin sang fokus perhatian tidak merasakan itu sebagai masalah ataupun kesalahan yang melukai kita.

Dua hari ini aku semakin berempati pada sejawat yang ada. Dan pastinya, juga semakin memahami alasan dibalik hengkangnya kawan-kawan lama. Semua, semua merasakan hal yang sama! Maka bagaimana tidak, kami bersepakat bahwa memang begitulah, dan benar-benar itulah penyebabnya!

Aku ingin sekali terus mencoba positif saja. Dan syukurnya, kita semua selalu berusaha belajar untuk mengais hikmah yang ada.

Dari mulai…
“Bersabar, ya…”,
“Positif… Ayo positiff…”,
Sampai…
“Gue mah cukup tau aja…”
“Capek deh…”

Dan bahkan…
“Tahun depan mungkin sudah di tempat yang lainnya…”
Menghiasi hari-hari kita.

Sayangnya, tak satupun dari kami punya keberanian untuk mengatakan apa adanya. Apakah aku, kita, bisa bertahan menghadapi integritas yang tak tertegakkan?

1-2 hari, mungkin bisa.
4-6 bulan, hmm…dipertimbangkan.
1 tahun kemudian? Ah ya, kami rasa sudah waktunya kita berpisah!

Maka, setelah kualami peristiwa itu, kukatakan kepada seorang rekan, “Sekarang aku memilih untuk skeptis saja,” sambil tertawa menanggapi segala kata-kata yang meluncur dari lisannya.
Yang benar saja, teori tanpa aplikasi membuat telingaku mual seketika!

Salah satu cara membuat sadar dirinya adalah dengan memberikan masukan. Tapi sulitnya, masukan itu akan ia anggap sebagai penyerangan, seperti yang terjadi 2 tahun lalu ketika teman-teman lama melakukannya.

Aku berpikir keras.

Jika semua orang menilai orang lain dan memberi penekanan di titik mana masing-masing individu harus melakukan perbaikan, aku rasa itu akan jauh lebih halus, tak mematikan, namun juga sekaligus tepat sasaran.

Ya! Kami belum melakukan itu, memang. Tapi sayang bukan kepalang, sebelum kami semua sempat meluangkan waktu untuk membuat instrumennya, segunung agenda segera mempersempit ruang gerak dan pikir kami, bahkan sekedar untuk menyelonjorkan kaki!

Arggh…

Harus bagaimana???

***

Berbicara tentang bekerja dengan status karyawan, maka bersiaplah dengan berbagai konsekuensinya. Kali ini aku tengah membincangkan kami –aku dan teman-temanku- serta beliau; kalian tahulah beliau siapa.

1 tahun berjalan adalah waktu yang cukup untuk mengetahui pola dan gaya kerja masing-masing orang. Lucunya, kami menemukan benang merah yang sama pada beliau, satu individu yang menjadi fokus perhatian kami saat ini, yaitu sikapnya yang suka menyalahkan.

Si A sudah pernah mengalami sekian banyak kejadian. Si B pontang-panting bekerja tetapi masih harus bersitegang untuk hal-hal teknis di lapangan. Si C, menerima sms berisi teguran, yang seharusnya tak datang kepadanya. Si D, E, F, G, juga sama saja. Masing-masing menggerundel tanpa tahu harus berbuat apa untuk mengatasinya.

Aku sendiri?

Haha… awal tahun ini ceramahnya terpaksa kutelan bulat-bulat. Terlepas dari evaluasi yang harus segera diperbaiki, kesimpulanku setelah itu adalah: mbok ya kalau ndak tau bagaimana isi, jangan sembarangan menilai dari kulitnya… Kekurangan informasi membuat salah persepsi. Dan sudah kurang info, masih sok tahu lagi. Ck…ck…ck… kacaunya…

Jelas, setelah itu aku menjaga jarak aman agar benar-benar merasa nyaman. Dan demikian pula yang dilakukan para rekan. Bukan karena feedback yang beliau berikan ya, tetapi sikap beliau yang gak sesuai sama perkataannya aja…

Ah iya. Aku tidak hendak ngrasani orang disini. Yang jelas, aku hanya sedang mencari cara menumbuhkan semangat untuk memberi dengan optimal, bekerja dengan maksimal.
Menghadapi atasan yang sulit sepertinya sudah basi ya?
Siapa suruh jadi karyawan dan bekerja pada orang lain… -_-‘

Ya. Aku hanya sedang memompa energi yang semakin berkurang. Memfokuskan perhatian dan perasaan pada hal itu hanya akan membuat produktivitas kerja justru menurun. Proaktif salah, tidak inisiatif juga salah. Susah kan?

So……..

Yang bisa kulakukan sekarang adalah benar-benar meresapi arti keikhlasan; untuk siapa aku bekerja, demi apa aku berusaha.

Untuk gaji semata-mata kah?
Untuk menyenangkan dan mengambil hati si bos-kah?
Untuk kemanusiaan dan kepedulianku pada sesama-kah?
Atau goal yang lebih besar dari itu: untuk Allah dan Allah semata?

Jika memang yang terakhir menjadi alasan, niscaya tak akan peduli kita pada penilaian manusia. Dan tentu saja, tak semestinya semangat bekerja turun-naik cuma gara-gara manusia!

Well…
Sepertinya tekadku semakin menguat saja. Aku rasa aku harus segera pensiun dari kerja secepatnya!

-LagiBosenDiTempatKerja…

gbrnya dari http://cio.com/special-reports/boss-and-you/index
dan dari sini jg, dg editan: www.losanjealous.com

Aku Malu…


Bismillah…

Bekerja di sebuah lembaga yang mengusung suatu issue universal, agaknya menarik beberapa kalangan untuk bekerjasama dengan kami; aku dan teman2ku di kantor. Kali ini kami berkesempatan bekerjasama dengan (salah satunya) orang2 dari dunia entertainment, dengan segala keunikannya.

Kali pertama bertemu dalam ramah-tamah perkenalan (dimana aku berhalangan hadir), seorang temanku langsung mengeluarkan keluh-kesahnya begitu aku bertanya.

“Lu kebayang donk, Ndra… gw, dengan jilbab panjang gw, masih ‘nongkrong’ di kafe jam 11 malem! Mana amit-amit bau asep rokoknya… bener2 tersiksa…”

Aku mendengarkan ceritanya dengan muka prihatin, walau sebenarnya agak geli membayangkan dia disana ketika itu (hehe…jahat banget ya. Maap ya Mirce… ^_^).

Dan sore itu, kami berkumpul di rumah bosku untuk membincangkan kerjasama kami selanjutnya. Tak banyak orang. Hanya ada aku, bosku, 3 temanku, dan 3 orang dari mereka. Just like usual, tak ada formalitas dalam acara bincang-bincang kami. 2 dari mereka, laki-laki, mengenakan baju kasual, t-shirt dan celana jeans. Sementara satu lagi, si Mbak yang cantik, mengenakan kaus dan (ehm…) celana pendek setinggi ± 25 cm dari atas lututnya. Begitu ia duduk, tangannya langsung meraih bantal dan refleks menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu.

Kami membincangkan banyak hal.
Namun ketika tengah asyik ngobrol kesana-kemari, adzan maghrib dari musholla dekat rumah berkumandang. Bosku yang sedang mengungkapkan pikirannya terus saja berbicara dan kami mendengarkannya dengan seksama. Sampai akhirnya, di bait kedua adzan itu, si Mbak yang cantik memotong…

“Eh, lagi adzan. Gimana kalau kita dengerin dulu?”

Dan semua yang ada di ruangan itu langsung terdiam khusyuk. Hening, dan hanya terdengar adzan yang syahdu memanggil-manggil.

Tiba-tiba aku merasa malu. Maluuu sekali.

note: dulu waktu masih di kampus, dalam rapat2 organisasi yang aku ikuti, tiap kali adzan berkumandang di tengah rapat kami yang belum selesai, selalu saja kami berhenti untuk mendengarkan panggilan itu. tapi sekarang…kenapa gak pernah coba mengusahakan dan membiasakan, malah merasa gak enak sama makhluk bernama manusia… hiks…astaghfirullah…
tapi ini baru soal adzan. seringkali di rapat2 para petinggi yang aku amati, sholat menjadi urusan yang dinomorsekiankan. naudzubillahh…

Tentang Bekerja

Bismillah…

Pekan lalu, dalam sebuah pertemuan dengan beberapa teman, kami berbincang.
Seorang rekan kami yang kebetulan PNS di sebuah lembaga pemerintah, kebetulan tengah hamil 6 bulan. Ia, yang baru saja pulih dari sakitnya berbulan-bulan, alhamdulillah kini sudah bisa bekerja seperti biasa.

Sayangnya, karena pengaruh kehamilannya, ia kerap kali muntah di kantor. Akibatnya,
Aku kerja seringnya cuma sampai jam 10. Jam 10 udah pulang…,” ujar E, temanku itu.
Dan tentu saja kami semua terbelalak.
Ha? Kerja apaan kamu, E?”
Wahh… makan gaji buta kau, E
”Merugikan negara nih!”

Si E hanya bisa tersenyum simpul.
Ya abis gimana… di kantor kalau muntah ya akan muntah di ruangan. Ga sempat lari ke toilet… Daripada bikin satu ruangan gak nyaman…”
”Tapi tetep nerima gaji utuh?”
”Ya namanya juga PNS… Alhamdulillah, sih…”

Lain lagi kisah temanku, M, yang bekerja sebagai guru di sebuah SMA swasta. Awalnya, ia memang menerima gaji honorer; kalau masuk dapet honor, kalau gak masuk gak dapet honor. Belakangan ia sudah menerima gaji tetap; masuk-gak masuk gajinya gak berubah. Ketika berhari-hari tidak masuk karena suatu urusan, ia berkata pada petugas pembayar gaji karyawan.

”Pak, kayaknya gaji saya kebanyakan nih. Saya kan cuma masuk sekian hari bulan ini…”
Tapi tentu saja petugas itu tidak mau ambil pusing.
Terserah Mbak deh mau diapakan…”

Ketika M bercerita padaku, aku berkata,
Ya toh kamu juga mengerjakan tugas-tugas sekolah di luar jam sekolah, bukan? Kamu bahkan menerima konsultasi anak-anak. Mudah-mudahan itu sebanding dengan honor kamu…”
Nah, aku juga berpendapat begitu sih… Selain itu, aku pikir aku optimalkan aja semaksimal mungkin ketika aku masuk,” kata M.
”Atau bisa juga kamu itung honormu berapa yang sesuai dengan jumlah hari kamu masuk. Sisanya infak-kan aja…”
”Tapi itu banyak banget, Ndra… ratusan ribu…”
”Ya… kalau bicara siapa yang butuh infak, pasti banyak banget kok, M…”

Tapi ternyata kisah M itu belum apa-apa. Ada yang lebih mengejutkan lagi.
Rekan
guru yang masih satu bidang pelajaran dengan M malah tidak mau menerima sama sekali honornya yang ”kebanyakan” itu. Prinsipnya, ”Saya hanya memakan apa yang memang menjadi hak saya,”.

Kalau membandingkan dua kasus di atas, aku jadi bersyukur hingga saat ini. Sebagai pekerja sosial di LSM, aku memang berstatus honorer. Kalau masuk kantor dapet honor, kalau gak masuk ya gak dapet honor (itu di luar training fee yang lumayan besar sih…). Sangat kecil, memang. Tetapi dengan begitu, segala sesuatu memang menjadi jelas : Aku menerima sesuai dengan apa yang aku kerjakan. Sehingga, amannya, aku tidak ”makan gaji buta” yang memang bukan hak-ku sepenuhnya.

Sejujurnya aku tidak ingin memicingkan sebelah mata terhadap profesi PNS. Sebab jangan-jangan, kalau aku ada di posisi mereka, aku juga akan berlaku demikian.
Nyaman sekali bukan, mene
rima gaji utuh walau kita tidak bekerja dengan optimal?

Sayangnya, sepengetahuanku, masih banyak orang beranggapan profesi PNS sangat menyenangkan justru karena hal itu : gaji utuh walau kerjaan gak beres, plus tunjangan, plus uang pensiun di hari tua (padahal uang pensiun juga sangat kecil jumlahnya – aku tau itu karena ayahku juga pensiunan PNS). Bahkan seorang senior yang kuyakin pemahaman agamanya cukup baik, juga punya paradigma seperti itu. Ia bisa pulang 2 jam lebih awal dari jadwal, dengan alasan anak di rumah butuh perhatian!

Gak heran deh kalau banyak orang memanfaatkan posisi ini. Judulnya semua ditanggung instansi tempat kita bekerja, walau kita memberikan kinerja yang gak sebanding! >_<

Berbeda dengan cerita Anis Bunnies, temanku yang bekerja di perusahaan swasta. Dengan gaji yang memang sebanding dengan jerih-payahnya, ia sangat dituntut untuk bekerja profesional. ”Ya kan kita dibayar untuk bekerja, Ndra…” ujarnya.

Aku gak bilang bahwa jadi PNS itu suatu keburukan, ya. Salut untuk mereka yang bertekad menegakkan budaya kerja profesional dan bersih di instansi pemerintah (semoga istiqomah!). Setiap orang punya pilihan kok… dan setiap orang berhak menikmati apa yang sudah mereka perjuangkan.

Tapi jadi miris aja, kalau kebanyakan orang masih berpikiran bahwa menjadi PNS berarti bisa bekerja sesuka hati (baca: tidak profesional) dan ”asalkan mendapat gaji utuh”. Berapa banyak negara terugikan kalau begini caranya…

Boro-boro deh bicara tentang ”memakan apa yang bukan hak-nya”…
Apalagi tentang keberkahan rizki… pertanggungjawaban di hadapan Allah…
dan seterusnya… dan seterusnya…

Fuhhh…
Mengerikan sekali…
Semoga kita semua dihindarkan dari hal-hal semacam itu ya 😦

~ditengah2KeprihatinanYangMendalam…
Wed, 15.11.07; 10:25 am.

gbr dr http://pt.inmagine.com/business-personalities-photos/photodisc-pdil050
dan http://www.grinningplanet.com/2003/workaholics/joke-1704.htm

maap ga ijin….