Seimbang

out-of-balance

 

bismillah.

Menemukan keseimbangan setelah terjadi beban yang berat sebelah adalah serupa hujan menderasi padang tandus, yang mulai nyaman dengan fatamorgananya. Beradu pandang mata kita pada oase yang dingin di tengah panas yang membakar, tetapi nyatanya ia tiada. Selanjutnya ilusi demi ilusi mengorganisir dirinya di dalam sinaps, untuk selanjutnya mengacaukan realitas, yang mungkin menyenangkan, tetapi sesungguhnya kosong belaka.

Mengangkat beban untuk bisa kembali ke posisinya semula, mungkin tidak ringan. Tapi lihatlah betapa bersyukurnya dirimu. Dan nuranimu yang jujur memantulkan cahaya-Nya, tidaklah dapat didustakan.  Ingatkah bagaimana kesyukuran terbit pertama kali ketika segalanya harus dianggap ‘selesai’? Dan ingatkah bahwa Allah menurunkan ketenangan tanpa rasa sedih ataupun gundah sedikitpun, bersamaan dengan keridhoanmu melepas semua?

Maka mengapa harus kembali resah di kala sesungguhnya kita tengah kembali pulang? Mengapa kegelisahan mulai menghantui ketika jalan yang terang benar-benar telah dibukakan? Apapun caranya, dan demikianlah Allah menghendaki, hanyalah kebaikan. Dan percayalah, jika perjalanan itu tidak berakhir, niscaya keburukan yang lain akan mengakumulasi dan menghadirkan gerumulan resah yang lain.

Sabar itu ada pada benturan pertama. Sabar itu ada pada seberapa kuat engkau tetap bertahan dan tak goyah. Memegang imanmu kuat-kuat mungkin memunculkan perih atas kehilangan. Atas berbagai budi baik yang tertanam. Dan segala rindu yang kaukatakan tak bisa tertahan, menyayatkan luka dalam berbagai ingatan. Tapi bersabarlah, bersabarlah, bersabarlah. Bukankah telah lama kaulantunkan doa, agar Ia tak serahkan jiwa ini pada diri kita, meski hanya sekejap mata?

Penciptaan bumi dan seisinya membutuhkan waktu. Sebagaimana pula pulihnya hatimu juga membutuhkan waktu. Berjalanlah terus dalam kearifan. Dalam istighfar. Dalam keteguhan menjaga apa yang semestinya terjaga. Dalam kekuatan yang kian berlipat, dan jangan lagi goyah untuk sedikit godaan kesenangan, rasa aman, atau apapun yang menurutmu dapat menghadirkan ketenangan. Disini, dalam perjalanan cahaya, telah sempurna penjagaan-Nya untukmu. Telah lengkap keberadaan-Nya untuk memenuhi segala ruang kosong nan hampa yang pernah ada. Cukuplah Allah bagi kita. Cukuplah kemahaannya memenuhi segala celah. Dan ingatlah bahwa sesungguhnya, “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.”. Dan yakinkanlah hatimu bahwa “…sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”. Hingga kelak di suatu masa, “kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.”.

Maka apakah masih ada lagi yang perlu dikhawatirkan?

Terulah menuju keseimbangan. Bersabar. Kuatkan sabarmu. Dan bersiap-siagalah atas berbagai lenaan. Semoga Allah menjagamu dalam keabadian kasih-sayang yang tak lekang-lekang…

***

“Yaa Tuhanku, perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.” 

Ahad, 16.10.2016, 06:58 wib.

 

Advertisements
NEUROPARENTING (Pengasuhan Berbasis Otak) Part 2

NEUROPARENTING (Pengasuhan Berbasis Otak) Part 2

Amazing brain part 2 😉

bundaeuis

Setelah menuliskan neuroparenting (pengasuhan berbasis otak) part 1, kali ini saya coba akan meneruskan catatan saat mengikuti training bersama dr. Amir Zuhdi yang belasan tahun fokus belajar tentang otak manusia termasuk di bawah bimbingan seorang dokter dari California. Bagi teman2 yang belum baca part 1, ada baiknya untuk baca terlebih dahulu agar suhunya sama, framenya juga sama. Syukur2 apa yang ada di sana sudah mulai dipraktekkan.

Serupa dengan tulisan sebelumnya, karena ini adalah hal pertama bagi saya, emak – emak yang lebih sering rempong dg anak serta tidak punya background medis maupun psikologi, ada bbrp hal yg bisa jadi tdk saya pahami secara utuh. Oleh karenanya, di catatan ini saya hanya akan menuliskan apa yg sekiranya saya paham dan bisa segera diaplikasikan untuk kita dan ananda di rumah. Saya coba tuliskan dalam bentuk point2 serta menggunakan gaya bahasa saya agar mudah dipahami, setidaknya oleh saya pribadi.

Tidak sampai 2×24 jam…

View original post 2,563 more words

Neuroparenting (Pengasuhan Berbasis Otak) – Part 1

Neuroparenting (Pengasuhan Berbasis Otak) – Part 1

Amazing brain part 1 😉

bundaeuis

Bismillah, mulai menuliskan kembali apa yang saya dapat dari mengikuti training neuroparenting bersama dr.Amir Zuhdi. Beliau adalah Dokter Neuroscience dan founder Neuronesia Community. Belasan tahun fokus belajar tentang otak manusia termasuk di bawah bimbingan seorang dokter dari California. Karena ini adalah hal pertama bagi saya, emak – emak yg biasa riweuh di dapur, ada bbrp hal yg bisa jadi tdk saya pahami secara utuh. Karenanya, di catatan ini saya hanya menuliskan apa yg sekiranya saya paham dan bisa segera diaplikasikan untuk kita dan ananda di rumah. Saya coba tuliskan dalam bentuk point2 dan dengan gaya bahasa saya agar mudah dipahami, setidaknya oleh saya pribadi. Karena bagi saya, dengan menuliskan kembali seperti ini sama saja seperti belajar kembali. Sekalian saya posting di medsos krn sayang kalau training pagi sampai sore dengan investasi 7 digit ini hanya kami yang tahu dan memanfaatkan. Insya allah resume materi trainingnya akan saya bagi dalam 2…

View original post 2,354 more words

Teman Pengganti Bunda

 

 

muslim-mom2

Sudah 4 hari ini sulung saya sakit. Perutnya mulas, sedikit pusing, dan rintihannya bisa berlangsung setiap saat. Di saat bersamaan saya harus menunaikan amanah sebagai panitia event Sekolah Mommee, komunitas ibu muslimah yang menjadi ruang aktualisasi.

Kami sedang tak ada khadimat. Dan di hari itu pula suami yang biasanya menjadi partner terbaik dalam merawat anak-anak, harus mengisi training di lain tempat. Alternatif yang memungkinkan adalah membawa kakak yang tengah sakit karena ia butuh perhatian khusus, sementara adik bermain di daycare. Maka saya pun membawa kakak di tengah keribetan menjadi panitia event ini.

Kondisinya belum baik, tapi kami tak punya banyak pilihan. Beruntung, tersedia kids corner yang memang kami rancang untuk memfasilitasi orangtua yang ingin belajar namun tidak bisa meninggalkan anaknya. Maka begitu tiba di lokasi, sayapun segera menyiapkan sarapannya dan memintanya makan sendiri seperti biasa. Perjanjian sudah dibuat dari rumah : hari ini Bunda bekerja menuntaskan amanah, kakak bicara dengan nada yang baik atau tidak merengek dan tidak rewel. Hal ini perlu saya tegaskan karena rengekan bagi saya cukup mengganggu mood dan konsentrasi.

Setelah makan hanya beberapa suap, saya segera mengantarnya ke ruang kids corner karena harus segera wira-wiri. Disana sudah tersedia balok-balok, bola, buku cerita, dan kasur untuk berbaring. Lalu saya segera kembali ke ruang event dan melakukan banyak hal.

Beberapa waktu kemudian sulung saya datang lagi meminta minum, diantar kakak pendampingnya. Cemilan dan air pun segera berpindah tangan. Saya pun membujuknya lagi agar ia kembali ke kids corner sehingga saya bisa kembali mengurusi teknis acara. Setelah memastikan ia tenang menyimak buku yang dibacakan kakak pendamping, saya segera menunaikan yang tertunda.

Tetapi tak berapa lama, ia kembali lagi. “Mau sama bunda,” ujarnya. Oke, tidak apa. Tapi lalu mulailah episode itu : sebentar-sebentar ia mengeluh sakit perut. Merengek. Mengintil  sambil mengaduh. Tak terfikir bahwa saya bisa menitipkan pada teman-teman panitia lainnya karena semua sedang bertugas. Tak terlintas kepada siapa amanah ini bisa didelegasikan. Yang terjadi kemudian adalah dia semakin merengek, rewel dan tidur-tiduran di lantai bagian depan, dekat saya bertugas di meja operator. Pemandangan yang tidak cukup indah untuk dilihat. Pertama, karena itu bukan area tidur. Kedua, sikapnya kurang baik. Ketiga, terlalu terekspos fisiknya di depan umum dengan posisi kurang cantik.

Maka saya pun memintanya pindah ke area ibu dan anak di belakang. Mencoba mencarikan buku bacaan, makanan, apapun yang bisa mengalihkannya dalam kesibukan. Tapi hanya berhasil sekian menit. Lalu ia datang lagi dan lagi dengan rintihan berulang-ulang, “sakit perut, Bundaa…”

Klimaksnya terjadi saat saya hendak berwudhu. Ia tak mau ditinggal, mengaduh kesakitan dan mulai menangis. Begitu saya sholat pun ia merintih dalam rewel. Hati saya teriris. Antara bingung harus bagaimana karena semua cara tidak efektif, dan berusaha mengendalikan diri agar tetap sabar dan tenang. Di saat itulah, beberapa akhawat menawarkan obat lain pada si sulung dan mengobati perutnya.

Di titik itu jiwa saya mulai sentimentil. Alhamdulillah ada sahabat yang siap menggantikan peran saya di saat saya tak bisa mendampingi anak. Sahabat yang saya kenali pemikirannya, hatinya, juga akhlaqnya pada anak-anak. Seketika saya berpikir beginilah yang perlu saya siapkan jika suatu saat saya tak ada. Tak lagi ada dalam keseharian mereka. Berpulang. Dipanggil. Dan kepada merekalah kelak saya akan menitipkan buah hati saya. Dengan pendidikan yang saya tahu bahwa kami telah memahaminya bersama-sama. Dengan ilmu yang telah kami dapat dan diskusikan berulang kali, dan kemudian menyamakan frekwensi. Dengan pemahaman yang insya Allah terus berkembang di jalan yang baik. Dengan nilai yang mungkin pada praktiknya tak selalu sama, tapi dasar-dasarnya kami paham harus melakukan yang seperti apa.

Maasyaa Allah. Perkara ini kemudian menjadi penting tatkala kita memang tidak lagi bisa membersamai anak-anak di dunia. Perlu ada sosok ibu yang bisa menggantikan posisi saya. Perlu ada sosok bunda yang hangat, yang dapat saya percaya. Dan saya menaruh kepercayaan pada sahabat-sahabat terbaik yang saya kenali pikiran, ilmu dan pengasuhannya, yang selama ini menjadi bagian dalam pembelajaran parenting bersama-sama. Apakah suami saya bisa mencari istri lainnya agar menjadi ibu bagi anak-anak kami ketika saya mendahului?  Tentu saja. Tapi boleh jadi saya tak kenal dengannya. Dengan pemikirannya. Pola asuhnya. Pemahaman dan perlakuannya dalam mendidik anak-anak.

Itu sebabnya saya ingin katakan pada anak-anak saya, “Sayang, jika kamu butuh peluk hangat, datanglah, berceritalah pada Tante X yang penyayang. Jika kamu menghadapi masalah yang rumit, pergilah ke Tante Y yang bijaksana. Jika kamu butuh penyemangat, pergilah ke Tante Z yang bersemangat.”. Dan tentu saja ini menjadi PR bagi saya untuk mendekatkan anak-anak kepada sahabat-sahabat saya agar mereka semakin mengenal untuk kemudian saling mencintai.

Kita tidak bisa terus-menerus memberikan pendampingan, karena tak tahu kapan harus kembali pulang. Tapi kita bisa mempersiapkan lingkungan yang anak butuhkan untuk perkembangan jiwanya. Untuk kematangan emosinya. Untuk keterampilan, teladan, bimbingan, nasihat, arahan, atau apapun, yang menjadi pengokoh kepribadiannya saat kita, ibu kandungnya, tak lagi bisa berbuat apa-apa. Kondisi ini akan berlaku jika kita kelak jatuh sakit dan tak bisa memenuhi aspek tumbuh kembang anak dengan optimal. Memiliki sahabat yang mau menyayangi anak kita seperti ia menyayangi anaknya sendiri, tentu perlu proses. Dan ini perlu kita bangun sedemikian rupa. Dan dengan berbagai kelebihan-kekurangan mereka, kita perlu mentransfernya pada anak-anak, agar mereka menyerap kelebihan yang ada, belajar dari kebaikan-kebaikan yang dipunya.

Ah, di tengah hiruk-pikuk kepanitiaan hari itu,  dan di tengah suara rintihan yang tak henti-henti, saya mengazzamkan diri untuk memikirkan hal ini lebih serius lagi. Mungkin kami –saya dan sahabat-sahabat- perlu membuat perbincangan khusus untuk saling memback up berbagai keterbatasan. Juga untuk terus menyelaraskan pikiran, hati, juga perlakuan. Kita tidak tinggal di dunia ini selamanya. Dan kita perlu meyakinkan diri bahwa anak-anak berada di sosok-sosok yang dapat diandalkan. Lingkungan yang mendukung, sosok pribadi yang dapat menggantikan, adalah keniscayaan untuk anak-anak yang tak selamanya ada dalam dampingan. Dan semoga kita menikmati surga bersama-sama, dengan keluarga yang saling menguatkan, saling menggantikan, saling mengisi kekosongan. Barakallaahu fikum, sahabatku. Semoga kita dapat bersiap bersama-sama. Untuk generasi yang pasti akan kita tinggalkan.

***

Depok di awal Senin 15.9.2016, 01:44 wib.

Special to akhawat MM : Kenang-kenangan Studium General Sekolah Mommee

Sampah

29686621-Paper-ball-Crumpled-sheet-of-print-text-script-writing-paper-isolated-A-screwed-up-piece-of-paper-in-Stock-Photo

Menyebalkan adalah ketika kamu bisa berbuat sesuatu, dan kenyataannya kamu diam.

Dan ketika kamu bisa melawan, namun kamu dipaksa diam.

Dan di saat kamu bisa membusung dada, tetapi kamu bungkam.

Dan sewaktu kamu bisa berbuat lebih, tapi pada akhirnya kamu hanya berdiri di titik ini, sendiri.

Yang lebih menyakitkan adalah ketika kamu mencoba berteriak tetapi tak satupun dapat mendengar. Mencoba menulis tetapi tak satupun bisa membacanya.

Sejatinya memang tak ada yang pernah bisa paham.

Mengejar Barakah, Mengeja Cinta-Nya

Mengejar Barakah, Mengeja Cinta-Nya

daisy

 

“…Kamu sudah menjadi istri yang sabar. Tetapi barangkali perlu menguatkan ketabahan.”

* * *

Ada jenak hati tercenung ketika tatap mata mentafakkuri untaian nasihat, “menikah bukan untuk bahagia”. Adakah kita mengharapkan duka sewaktu menggenap bersama pasangan jiwa?

Perjalanan bersamamu sejatinya membukakan diri kita; apakah kebaikan yang tampak, ataukah keburukan yang kian terungkap. Amarah, kekesalan, sakit hati, luapan gembira, ekspresi ceria… apa saja. Dan di setiap diorama dunia, kita ditempa untuk menunjukkan adegan yang sebaik-baiknya. Maka pikiran, perasaan, setiap kata demi kata dalam kalimat, dan gerak-gerik tubuh kita perlu mensinkronisasi itu semua, dalam segala setting yang dirancang sesuka-suka Sang Sutradara.

Bersama langkah-langkah kerdil kaki kita, tapaknya kerap terpeleset, terjatuh terjerembab, mungkin pula terperosok dalam gelap. Jiwa kita yang letih mengoyakkan luka memerah. Dan mungkin menanah parah saat hujan mengguyurkan badai, tak sekali-dua, namun berkali musim dalam bilangan masa.

Apa yang kita cari sesungguhnya?

Nyatanya bahagia tak selalu bisa bermunculan sekehendak kita. Sebentar, sesekali, dan nyatanya sesuka-suka mereka. Ia ada dalam kerlip lilin yang kita nyalakan di tengah kelam. Dalam hal remeh-temeh yang kita ada-adakan. Dalam syukur yang susah-payah kita pintal bersama dalam bait-bait kehidupan. Berkali pula kita menanti-nanti fajar muncul ketika malam memekat, begitu pekat, menantang hati untuk tetap terjaga kuat.

Apakah kita bahagia?

Perjalanan bersamamu sejatinya memancangkan jiwa kita untuk berlatih dalam setiap adukan rasa. Sesiapa yang telah membiasai diri dengan derita, ia akan paham benar bagaimana cita-rasa bahagia. Sesiapa yang telah membiasai diri dengan lara, ia sungguh akan semakin mengerti bagaimana menginsyafi bahagia. Begitu juga sebaliknya.

Terkadang aku tertawa saja. Untuk berbagai lompatan peristiwa yang muncul tanpa dinyana. Untuk beragam kejadian yang di luar logika. Setelah itu mereka berlalu, berjalan, mengkristal kemudian atau terlupakan. Tak jarang pula menitikkan guyuran deras yang menerjun bebas. Tapi kemudian mereka lewat begitu saja, laksana kelebatan-kelebatan pandangan yang berganti-ganti setiap detiknya.

Sebeginikah?

Untunglah sabar itu ada pada benturan pertama. Meski kurasa, benturan itu rupanya berlapis, seperti benteng yang harus kita tembus dengan berbagai cara. Jika sudah terlewat satu, maka yang lainnya menanti lagi di depan sana. Jika tertembus yang kedua, maka yang ketiga, keempat, hingga bilangan entah, terus berdiri dengan begitu gagah.

Tapi bukankah jiwa kita yang koyak belajar merajut dirinya dengan pintalan lebih kuat, dan semakin menguat? Meski ia mungkin saja berdarah, dada kita terengah-engah, dan berkali-kali habis sudah perbekalan yang tersedia, ada tangguh membiasa dalam alir darah kita. Meski godaan untuk berhenti dan menyerah terus menyergap, segala kecemasan dan rasa khawatir jua terus membekap, namun segala janji-Nya mematahkan perih-jerih nan memayah. Menantang keyakinan untuk terus memendarkan cahaya, menerabas berbagai kendala. Wahai, Yang Menjadi Tempat Bergantung segala lemah, bukankah pagi yang hangat akan pasti hadir setelah malam dingin-Mu berrotasi dan bergulir di semesta?

Membersamaimu, memaksa jiwaku memaknai susunan abjad bertajuk ‘barakah’. Bukan bahagia yang kita kejar sepenuh jiwa di kefanaan ini. Karena ia memanglah fana, sebagaimana kesedihan juga sementara. Dan barakah bersama-Nya adalah cinta tak terganti, ketenangan yang lebih hakiki. Mungkin saja Ia memeras sabarku sejadi-jadinya, menagih tabahku sebenar-benarnya. Karena bisikmu, di depan sana bisa jadi akan terbentang ujian yang lebih hebat. Yang lebih memayahkan. Yang lebih meletihkan.

Maka, duhai jiwaku dan jiwamu, demi kasih-sayang-Nya, kuatlah.. kuatlah. Karena yang engkau kejar adalah sebenar-benar Cinta, sebenar-benar kelegaan, dalam berlipat-lipat kebaikan. Dan ia, tak mesti mewujud dalam bahagia, tetapi barakah : untaian kebaikan yang tak henti, melampaui dunia, berkekalan di surga.

Ahad 14.03.2016, 00:15 wib
pic from https://www.pinterest.com/pin/423479171181244108/

Menanamkan Tauhid pada Anak

Kuliah Akademi Keluarga Parenting Nabawiyah Angk. 3 Pertemuan ke-3
👨🏻 Ust. Rofiq Hidayat, Lc
✏ Resume : Indra Fathiana

🌾Tema ini sangat penting ketika kita sudah sepakat bahwa standar kebahagiaan hidup yang kekal nan tidak fana adalah menjalani ketetapan dan ridho Allah. Hidup sesuai dengan aturan Allah, tidak peduli dengan celaan dan pujian manusia.

🌾manusia ditempatkan di dunia karena kesalahan, tapi dunia adalah fase penentuan apakah kita akan kembali ke surga atau malah ke neraka karena kita durhaka

🌾Misi hidup seorang muslim adalah BERIBADAH (qs. Adz Dzariyat 56)
Ibadah di sini berbentuk kata kerja, mewakili aktivitas yg hari ini sedang berlangsung dan akan terus berlangsung di masa depan sampai waktu yg tak ditentukan. Ia BERKESINAMBUNGAN sejak manusia ditaklif (saat bersaksi di alam ruh) sampai ia wafat nanti.
So seorang muslim seharusnya tidak menyisakan sedikitpun aktivitas di dunia ini melainkan untuk ibadah. Sehingga apapun yg dilakukan manusia berpotensi menjadi ibadah, jika kita PAHAM ILMUnya. (kecuali maksiat pada Allah). Dan ibadah itu bukan sekedar shalat, mengaji dan hal2 lain yang mengalami penyempitan makna.

🌾Tugas dalam hidup : menjadi KHALIFAH
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Qs. Al Baqarah : 30)
🌾Tugas ini dibagi menjadi 2 :
1) hubungan dengan Allah (hablumminallah)
2) hubungan dengan manusia (hablumminannas)

🌾Jalan Takdir Kehidupan🌾
Qs. Asy Syams 7-10
➡ ayat 7-8 adlh wilayah ketuhanan, dan ayat 9-10 adlh wilayah manusia

Allah hanya memberikan kecenderungan pada manusia untuk memilih, namun manusialah yang memutuskan dan selayaknya tidak menjadikan takdir sebagai legitimasi atas pilihan buruk yang kita ambil.⁠⁠

🌾Dari paparan ini sejatinya kita memahami bahwa konsep hidup seorang muslim telah ada dan tak perlu dirumuskan lagi, yakni yang tertuang dalam syariat. Begitu juga dengan konsep masa depan di akhirat, jalan utk meraih kebahagiaan hidup, serta jalan untuk menuju kehidupan abadi yang diridhoi.

✨ “Hai orang2 yang beriman, bertakwalah pada Allah dengan sebenar2 taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali2 kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” Qs. Ali Imron :102
➡ tetaplah dalam fitrah sejak janji tauhid itu diikrarkan.. Qoolu balaa syahidna

🌾Asas Pendidikan Islam 🌾
Qs. Al Baqarah 1-5
➡ Allah menyebut Al Qur’an sebagai kitab yang tiada keraguan padanya dan menjadi petunjuk.
Jangan pernah sama sekali meragukan apa yang terdapat dalam kitab.
➡ Visi pendidikan adalah menjadi orang yang muttaqin/bertaqwa.  Sedangkan pelajarannya adalah tentang keimanan (al ghoib), syariat, islam, konsep bermuamalah sesama manusia.
➡ Yang diajarkan pertama pada anak adalah keimanan, kemudian syariat (sholat dll). Bangun keimanan anak dan hak-hak yang harus ditunaikan kepada-Nya, atau dengan kata lain, membangun keshalihan pribadi. Setelah itu baru membangun keshalihan sosial dengan menafkahkan sebagian rejeki.⁠⁠

🌾 Konsep Pendidikan Al Qur’an 🌾
🔹Asas : Al Qur’an sebagai referensi utama
🔹Paradigma berpikir : keyakinan tanpa ragu sedikitpun ttg seluruh isi Al Qur’an
🔹Misi : menjadikan Al Qur’an sebagaj petunjuk hidup
🔹Visi : melahirkan generasi yang bertaqwa

🌱Rousseau mengatakan bahwa anak tidak layak dikenalkan dengan ketuhanan kecuali jika telah mencapai usia 18 tahun. Kita mungkin tidak terima. Yang dikhawatirkan adlh kalau kalimat ini dimodif dan dikemas dengan penelitian, kemudian disodorkan dg  sangat logis. Anak2 tidak boleh dikenalkan dengan konsep yang abstrak, yang celakanya sering disamakan dengan hal goib.
Padahal mengimani yang ghoib dalam Islam merupakan hal penting dan berbeda dengan konsep abstrak yang dimaksud Rousseau.

🌱 Penanaman tauhid mrpkn pondasi terpenting di dunia pendidikan Islam, pondasi semua kebesaran Islam dan muslimin. Jangan sampai terbalik, kita sibuk mengajarkan semua permainan edukasi sejak usia dini, dunia IT, baca tulis hitung bahkan bahasa asing, tetapi tidak mengajarkan tauhid.

🌾Urutan Menanamkan Tauhid 🌾
Menurut Al Ghazali, tahapan menanamkan tauhid pd anak adalah:
1. Al Hifdz – dihafal  ➡ 2. Al Fahm – difahami ➡ 3. Al I’tiqod – ikatan ➡ 4. Al Iqon – keyakinan ➡ 5. At Tashdiq – pembenaran

“Jundub bin Junadah –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Kami telah bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari IMAN sebelum belajar AL QUR’AN, kemudian barulah kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” (HR. Ibn Majah dan disahihkan oleh al-Albani)

1⃣Al Hifdz : Menghafal
Yaitu membacakan berulang-ulang hingga anak2 hafal dan bisa mengucapkannya.
“Siapa Tuhanmu? >> “Allah”
📗📗 cek metode tanya-jawab mengajarkan tauhid sejak dini di buku Ta’limush Shibyan at Tauhid⁠⁠ – Muhammad bin Abdul Wahhab

❗Ajari anak menghafal konsep2 keimanan meski mereka belum paham benar arti dan kandungannya, karena akal mereka belum sampai. Di masa ini kita belum perlu memaparkan dalil, nanti akan ada waktunya.
Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Al Ghazali memulainya dengan menjelaskan tentang sifat sempurna Allah. Kemudian dilanjutkan dengan rukun iman; kehidupan setelah kematian, adzab kubur, mizan, shirath, hisab, surga dan neraka, syafaat. Selanjutnya tengang keutamaan para sahabat Nabi, urutan sahabat setelah Nabi secara kemuliaan dll.

✨ Teknis tahap Menghafal (Al Hifdz)
1. Mulai dengan TALQIN (membacakan berulang2 hingga anak hafal dan bisa mengucapkannya)
2. PENGUATAN dengan pemahaman ilmu tauhid dari Qur’an dan Hadits, sibukkan dengan ibadah dan duduk dengan orang2 shalih, takut kepada-Nya, tenang bersama-Nya
3. Jauhi pengajaran tauhid versi filsafat.

Allah melapangkan awal pertumbuhan anak-anak untuk masuknya iman tanpa ada kebutuhan dan bukti. Namun hal ini membutuhkan penguatan dan penetapan dalam jiwa anak dan juga orang awam agar teguh dan tidak guncang.
❓Bagaimana caranya??
➡ dengan tilawah Qur’an dan tafsirnya, membaca hadits dan memahami maknanya, sibuk dengan tugas ibadah.

🌾Agar Anak Berinteraksi Baik dengan Allah 🌾
(Dari tesis DR. Adnan Baharits)
1⃣Menghidupkan Fitrah
🔹yaitu menjaga dan menyirami fitrah anak agar ia terus tumbuh subur.
🔹Fasilitasi anak dengan hal2 yang mendekatkan mereka pada fitrahnya

2⃣ Mengenalkan nikmat-nikmat Allah
🔹ajak anak mengamati/mentadabburi ciptaan2 Allah (lihat, perhatikan, analisa, simpulkan, bersyukur)
“Allah-lah yang menurunkan hujan dan menumbuhkan biji-bijian..”
Ajarkan terlebih dahulu bahwa hujan diturunkan Allah, baru ajarkan proses terjadinya.
🔹 ajak anak mengingat nikmat Allah dan sibuk mensyukurinya. Qs. Fathiir : 3

3⃣ Muraqabatullah ~ merasa diawasi Allah
❓Bagaimana cara mengajarkan pada anak?
➡ dialog iman tentang Allah Maha Melihat >> tidak boleh bohong, nanti Allah marah. Dsb.
🔹Selalu merasa dalam pengawasan Allah
🔹Takut bermaksiat walau sendirian
🔹Semua perbuatan dan perkataan pasti tercatat
🔹Takut akan datangnya hari ketika mulut terkunci dan semua anggota tubuh berbicara
Qs. Luqman : 16
cek kisah Umar bin Khattab yang menguji seorang anak penggembala domba untuk menjual dombanya dan anak ini bertanya, “Dimana Allah?”

4⃣ Membiasakan Ibadah2 Wajib
Dengan beribadah, anak berlatih langsung untuk menanamkan tauhid uluhiyyah.

🔹Iman ibarat batang pohon, ibadah seperti akar dan pondasi yang menopangnya.
➡ iman perlu tegak dengan hal2 yang tak terlihat namun kokoh dan menguatkan. Jadi ajarkan anak beribadah bukan dengan iming-iming dari kita, tapi tanamkan dengan keimanan pada Allah. Tidak apa2 jika reward hanya sekedar stimulus, tapi terus ingatkan bahwa kita beribadah untuk mendapatkan ridho Allah. Karena jika ibadah selalu kita ajarkan secara transaksional, maka imannya mudah rapuh dan hancur hanya karena ujian yang kecil-kecil. (lihat Qs. Al Fajr : 15-16).

🔹Sholat sebagai ibadah wajib
“Perintahkan anak2 kalian sholat pada usia 7 tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkan di antara mereka tempat tidurnya” (HR. Ahmad dan Abu Dawud-hasan)
➡ sebelum 7 tahun sudah dikenalkan/diajak, 7 tahun diperintahkan dan dipolakan seperti orang dewasa (rapi pada rukun, syarat dan khusyu’-nya), dan di usia 10 tahun bisa jadi tak perlu ada pemukulan.
❗Perhatikan, pemukulan hanya untuk pelanggaran syariat, khususnya sholat.
➡ Jika anak terbiasa beribadah sejak kecil, di usia aqil baligh ia akan terbiasa melakukannya. Namun jika saat baligh baru diajarkan, anak akan menganalisa dan mempertanyakan alasan dan orangtua akan sibuk menyiapkan reward (otak kritis anak berkembang di usia baligh -pen). Anak akan beribadah untuk menyenangkan orangtua dan bukan karena Allah.

❗Peran orangtua :
Selalu mencontohkan apa yang benar ➡ Keteladanan ➡ Kewibawaan ➡  Perintah yang selalu ditaati
✨ Beri peringatan dan nasehat ➕beri teladan ➕ serahkan pada Ahlinya (berdoa, tawakkal ‘alallah).

5⃣ Kisahkan Indahnya Keimanan
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (Qs. Yusuf : 111)
➡ sebagian besar isi Al Qur’an yang merupakan petunjuk hidup adalah kisah. Maka kita bisa tiru metode Qur’an ini (berkisah) dalam mendidik anak. Sampaikan kisah yang detil dan jelas targetnya untuk penaaman tauhid.
🔹kisah Qabil-Habil🔹kisah 3 orang yang terjebak di goa🔹kisah Juraij dan ibunya🔹kisah Abu Hurairah dan setan🔹kisah Bilal bin Rabbah 🔹kisah Ashabul Kahfi 🔹kisah kesabaran Nabi Ayyub🔹kisah Nabi Yusuf as.⁠

6⃣ Kisahkan Indahnya Surga
“Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih kenikmatan (tinggi di surga) yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati manusia” (HR. Bukhari).
🔹Sajikan surga dan neraka secara seimbang, yang dimaksudkan untuk memunculkan harapan dan ketakutan/kewaspadaan.
❗Harus diberi ENDING untuk berharap surga dengan berbagai amalannya, dan menghindari neraka dengan berbagai amalannya. Jangan sampai anak ketakutan, tapi harus kita tumbuhkan sikap optimis dan waspada.
❗Jangan beritakan gambaran surga dengan detil yang tidak ada dalilnya.
Misal, apakah di surga ada es krim? Jawab saja dengan, yang penting kita berusaha agar masuk surga dulu, dan… “di dalamnya, kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta.” (QS. Fushilat : 31)

🌴 Nabi mengibaratkan seorang muslim seperti pohon kurma. Akarnya kuat menghujam, gambaran aqidah yang kokoh. Batangnya besar dan kuat, yaitu ibadah. Jika akar tidak kuat, maka batang sekokoh apapun akan guncang dan hancur.
Maka inilah pentingnya menjaga kekokohan aqidah dan keimanan dengan cara :
🔸tahu bagaimana dalilnya
🔸tahu halal-haramnya
🔸responsif melaksanakan perintah-Nya
🔸 tidak transaksional dalam beribadah
🔸bersabar dalam beribadah, termasuk bersabar menunggu terijabahnya doa yang bisa saja ditangguhkan untuk diberikan di akhirat, atau ditunda sampai waktu yang tepat

☀Pertanyaan ☀
❓Bolehkah menjawab pertanyaan anak dengan “tidak tahu” jika kita mmg tdk tahu ilmunya?
✅ Jawaban : Harus.
Jawaban “tidak tahu” termasuk ilmu. Imam Malik bin Anas dan Imam Ahmad pernah menjawab “tidak tahu” saat ditanya hal yang ia tidak tahu.
Pelajaran yang diambil anak2 dari hal ini adalah
(1) jika kita tdk tahu, maka kita menjawab apa adanya, bukan sok tahu.
(2) jika kita tdk tahu, maka kita perlu belajar.

❓Bagaimana mendidik anak agar tidak terlalu menggampangkan sifat maha pengampun Allah, karena bisa saja anak melakukan kesalahan terus-menerus karena ia tahu bahwa Allah Maha Pengampun?
✅ Jawab : tabiat manusia adalah berbuat dosa, dan sebaik2 orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat. Ia salah, mengaku bersalah, dan mensucikan diri kembali.
Anak2 yang menggampangkan sifat maha Pengampun Allah dengan melakukan kesalahan berulang2, jangan2 ada yang salah dengan keimanannya. Cek ayat yang berkaitan dengan orang2 munafik, yg menyebutkan 13 karakter terkait yaitu kejujuran, komitmen, dsb. Nasehati anak agar menjauhi sifat orang munafik tsb.

-end-