Mencari Cahaya

light

“Where there is a will, there is a way…”

Bismillah.

Desperate-nya saya, ketika dalam kebingungan, kemudian tidak menemukan cahaya yang diharapkan. Mungkin belum. Mungkin akan.

Mungkin men-‘syukuri saja dulu’ prosesnya akan meringankan hati. Menyemangati langkah. Menjawab gelisah. Dan,  well.. meski tak mudah, nyatanya –segala puji hanya bagi Allah-, Ia melapangkan hati yang gundah. Menjernihkan akal untuk mencari solusinya. Menemukan jawabnya.

Dan bukankah memang tugas kita hanyalah berjalan, sembari berharap langkah ini dinaungi oleh bimbingan? Mahabesar Engkau Ya Allah, sungguh tiada yang sia-sia dalam setiap jengkal takdir dan peristiwa.

***

Menjalani proses menjadi orangtua, yang mensyaratkan menjadi pribadi yang lebih baik tentunya, memaksa saya haus mencari panduan. Alhamdulillah Allah takdirkan saya belajar psikologi. Kemudian gelisah. Kemudian panik. Dan terengah-engah mencari ‘jalan pulang’.

“Syukuri gelisahmu”, ujar seorang guru. “sebab gelisah tanda berpikir”.

Dan Allah-lah sebaik-baik pembimbing, pemberi hidayah.

Allah pertemukan saya dengan guru-guru, juga teman-teman yang membantu sekali proses pulang ini. Saya sebut ‘pulang’ karena sepertinya kemarin-kemarin saya sedikit-banyak tersesat. Kehilangan peta. Kehilangan arah. Fatalnya, saya sebut si lampu kota seperti matahari. Padahal jelas-jelas ia tak miliki cahayanya sendiri.

Maka saya pun mencari cahaya yang lebih abadi. Menentramkan, tentu saja. Karena kita tahu, kebenaran –yang tiada lagi keraguan sedikitpun di dalamnya- menjadi landasannya. Keteladanan Rasul sudah membuktikannya. Apalagi yang mesti diragukan jika Sang Maha-Expert sendiri yang menurunkan teorinya, lalu ada manusia terbaik yang mengujinya lewat pengalaman nyata? Riset dan uji validitas lain –secanggih apapun ia- saya rasa belum bisa menjadi pembandingnya.

Sayang-disayang, mencari cahaya abadi memerlukan alatnya sendiri.

“Dari mana saya harus belajar, ustadz?”

“Qur’an. Hadits. Siroh Nabi. Siroh sahabat.”

“dan…?”

“Fulan. Fulan. Fulan. Ada kajian dan literaturnya”

“Bahasa pengantarnya?”

“Arab.”

Argh… Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Kamu tersesat di padang sahara. Lalu mencari jalan. Kehausan. Menemukan mata air. Tapi airnya belum terjangkau.

Sementara waktu terus berjalan. Hari menggelap. Tak bisa dihentikan! Tak bisa ditahan!

Solusi solusi solusi.

Ia terkadang datang dari orang lain saat kita stuck dalam kondisi. Dan benar.

Di tengah perjalanan seorang sahabat lewat. Ia fasih. Dan ia mau membantu!

Meski belum terlihat benar gelas dengan air di genggaman, tapi setidaknya, keyakinan menguat bersama ikhtiar yang dibukakan jalan. Sesiapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan.

Tinggal kemudian..
Menguatkan hati. Melapangkan dada. Menjalani prosesnya bersama pahit-getir belajar. Belajar adabnya. Belajar ilmunya. Belajar amalnya. Belajar membagikannya.

“…barangsiapa yang tidak bersabar atas pahit dan kerasnya menuntut ilmu, maka bersiaplah untuk menyandang kebodohan seumur hidup.” (Imam Syafi’i)

Hey, cahaya! Aku menujumu!

 

Ya Allah, terus bimbing kami.
Cimanggis, 24.03.2017, 01:18 wib

***

Note : To do : Belajar bahasa arab. Tafsir Qur’an. Siroh nabi dan sahabat. Ilmu jiwa islam. Cari ahli, talaqqi,  korespondensi, minta ilmu. Yeayy semangatt!

gambar dari sini

Mutaba’ah Yaumiyah



Bismillah.

Saya menatap lembar berisi kolom-kolom yang selalu diedarkan tiap pekan itu dengan tatapan tak bergairah. Ada sederet ibadah dengan kolom kosong yang harus diisi angka. Sholat berjamaah, sholat sunnah rawatib, shalat Dhuha, tilawah Qur’an, puasa sunnah, qiyamullail, berolahraga, membaca buku, dsb.

Kami, saya dan sejumlah rekan satu pengajian diharuskan mengisi “Mutaba’ah Yaumiyah” itu, suatu form evaluasi ibadah harian yang akan dipantau oleh ustadzah kami. Tujuannya tentu baik, agar kami melakukan ibadah-ibadah harian sesuai standar yang ditetapkan, yang mengacu pada bagaimana Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya melakukan. Sebut saja, tilawah Al Qur’an sebaiknya bisa khatam dalam waktu sebulan, atau secepat-cepatnya 3 hari. Kalau targetnya sebulan khatam, berarti 1 hari minimal menamatkan 1 juz.

Begitu juga ibadah lainnya. Shalat Dhuha, Qiyamullail, Sunnah Rawatib, kalau bisa tidak ditinggalkan. Bukan bermakna mewajibkan yang sunah, tetapi mengingat betapa banyak keistimewaan yang terkandung dalam ibadah-ibadah tersebut, yang amatlah sayang jika dilewatkan. Apatah lagi dalam kamus seorang “aktivis da’wah”. Jika yang ia sampaikan adalah da’wah, dan yang mengubah hati manusia adalah hanya Rabb mereka, maka bagaimanalah mungkin kita tak berdekat-dekat pada-Nya?

Hati saya masih netral sampai disitu.

Tetapi menjadi agak lemas, kalau tidak boleh dibilang ingin memberontak, saat mengetahui prestasi ibadah saya diperbandingkan dengan yang lain.

Dalam kelas-kelas belajar di sekolah-sekolah, sistem ranking lambat-laun menjadi basi karena dinilai kontraproduktif. Setiap anak dipacu untuk saling bersaing satu sama lain. Dalam persaingannya,  ada saja anak yang iri, “Mengapa harus dia yang jadi juara?”. Dan lalu muncullah keberanian untuk berbuat curang, bahkan ada pula yang diimami sang guru atau dilakukan berjamaah. Lenyap sudah esensi belajar, yang penting angka dikejar, peringkat dikedepankan. Semangat yang terwujud kemudian adalah mengungguli orang lain, dan jika kita telisik selanjutnya akan memunculkan pertanyaan “untuk apa?”. Disorientasi tujuan semakin jelas, saat kita bangga telah melampaui kemampuan orang lain, bukan mengungguli diri sendiri.

Saya tidak tahu apakah sistem seperti ini juga perlu diterapkan dalam Mutaba’ah Yaumiyah yang banyak orang lakukan bersama kelompok pengajian mereka. Yang saya tahu, urusan ibadah amatlah personal, antara ia dengan Tuhannya. Kepada manusia, perannya hanyalah sebatas pengingat, mengingati dalam kebenaran, mengingati untuk menetapi kesabaran.

Jika memang dalam soal ibadah juga perlu “buka-bukaan”, saya yakin diperlukan usaha yang lebih keras untuk menjaga keikhlasan dalam melakukan ibadah tersebut. Mengerikan sekali membayangkan syaitan membisiki kita saat melakukan sholat Tahajjud, “ayo lakukan supaya kolom sholat Tahajjud di lembar evaluasi ibadahmu tidak kosong! Dan kamu tidak perlu malu lagi pada ustadzah dan teman-temanmu karena ibadahmu sedikit…”. Na’udzubillah… Na’udzubillah…

Padahal, bukankah telah jelas haditsnya, “peperangan terbesar adalah melawan hawa nafsumu sendiri”, bukan “melawan (hawa nafsu) orang lain?”. Maka mengapa sesuatu yang sangat personal ini kemudian dibawa ke ranah perbandingan antarindividu? Bukankah seharusnya pembanding diri kita sejatinya adalah diri sendiri yang dikonteks-i waktu? “Saya kemarin, saya hari ini, dan saya esok” seyogyanya menjadi ukuran yang nyata jelasnya, apakah dalam lompatan-lompatan waktu itu kita menjadi lebih baik, stagnan atau bahkan lebih buruk.

Maka rekomendasi saya, jikalah sistem pengawasan dari orang lain masih diperlukan untuk membantu capaian-capaian ibadah kita, simpan saja baik-baik formulir itu antara diri kita dengan si evaluator. Cukup. Tak perlu beredar dan kemudian dibuat resume grafiknya, siapa paling tinggi, siapa paling rendah. Karena si paling tinggi mungkin juga berjuang keras mengendalikan potensi rasa ujub atau bangga hatinya pada amal yang telah ia kerjakan.

Itu yang pertama.

Yang kedua, sejauh ini dalam 10 tahun terakhir dievaluasi secara rutin, saya belum pernah mendapatkan pertanyaan yang lebih mendalam dari sekedar torehan angka. Angka membuat saya terpasung, jika saya sudah mencapainya maka Alhamdulillah, tercapai juga standar yang harus dipenuhi. Jika tidak, ya berarti saya harus berusaha lebih giat lagi. Sebatas itu saja. Bagi saya ini memancing perasaan “cukup” dalam beribadah. Padahal orang-orang shalih terdahulu tidak pernah merasa cukup dengan ibadah yang mereka lakukan, dan amat sangat khawatir amalan mereka diterima atau tertolak.

Jadi apa kabar dengan kualitas kekhusyu’an sholat kita?

Apakah sholat Dhuha dan Tahajjud kita masih dilakukan karena tergiur fadhilah-fadhilahnya saja? Lebih parah lagi, sekedar menggugurkan target demi target?

Bagaimana tilawah Qur’an kita? Cukupkah dikejar dengan membaca berlembar-lembarnya, ataukah dengan sejauh mana kita pahami makna ayat-ayatnya?

Bagaimana olahraga kita? Sekedar menyehatkan raga atau menjaga amanah Allah agar lebih optimal mengabdi
pada-Nya?

Sekali lagi, alangkah mengerikannya jika kita terjebak pada kuantitas dan tidak terlalu memperhatikan kualitas amal ibadah. Betapa meruginya saat kita merasa “cukup” dengan target yang ditetapkan, tapi luput memperhatikan seberapa  baik kadar kekhusyu’an, kadar keikhlasan, atau kadar ketinggian orientasi pada amalan yang dilakukan.

Maka biarlah kolom-kolom mutaba’ah beredar 4 mata. Kontrol berjamaah yang saya tak pungkiri masih diperlukan, tak perlu menjadi sarana yang berbalik memfasilitasi para syaitan dalam mempermainkan keikhlasan hati, karena disanalah salah satunya, terletak syarat diterimanya amal itu sendiri.

Sesungguhnya telah jelas menjadi teladan, bahwa Ali bin Abi Thalib serta Malik bin Dinar yang kadar shalihnya melebihi kita, begitu khawatir jika amalnya tidak diterima daripada banyak beramal. Karena kita tidak pernah ingin segala rupa ibadah yang kita lakukan, menguap tak berbekas hanya karena selintas perasaan riya’ atau ujub yang berhembus, yang mungkin tanpa sadar kita perbesar peluang kemunculannya..

Wallahua’lam.

Jagakarsa, 15/8/2013, 00:59wib

Lagi, Encouragement vs Discouragement


Bismillah.

Membaca tulisan Rhenald Kasali, “Encouragement”, membuat saya teringat pada pengalaman beberapa tahun silam.

Jelang akhir perkuliahan, selayaknya para calon sarjana, saya mengikuti sidang skripsi. Tak tanggung-tanggung, 2 kali! Bagi mahasiswa pada umumnya, barangkali tak pernah terbayang jika mereka harus menjalani ujian akhir yang menjadi syarat kelulusan itu, lebih dari 1 kali. Once is more than enough. Yap, pengalaman saya memang un-usual. Aneh mungkin. Atau yaa… sedikit nyeleneh barangkali.

Jangankan mereka, saya pun tak menyangka harus sidang sampai 2 kali begitu. Skripsi saya yang pertama, hubungan persepsi dan stereotip peran gender pria terhadap kecenderungan melakukan pelecehan seksual, dianggap tak valid alat tesnya. Bab 1-nya saja dianggap ‘emosional’: bahwa saya tampak bertekad membuktikan kalau pria adalah tersangka utama pelaku pelecehan seksual yang pantas diwaspadai (lihat fakta lah, kebanyakan pelaku pelecehan memang pria, bukan?). Jadi ketika itu penguji saya menganggap saya terlalu berprasangka buruk pada para pria, dan lalu menganggap dasar pemikiran saya yang merembet hingga ke alat ukurnya kurang memenuhi standar untuk disebut sebagai penelitian yang benar-benar memenuhi kaidah keilmiahan.

Lalu para penguji memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki konstruk, alat tes, data dan kesimpulan agar bisa dianggap lebih layak. Dengan waktu 1 pekan yang sama sekali tak realistis untuk memperbaiki, akhirnya saya putuskan untuk merombak ulang variable yang ingin saya teliti. 1 semester lagi terpaksa saya ambil demi kepuasan batin (alias balas dendam?) untuk karya yang lebih baik.
Kejadian ini menguras banyak hal, tentu saja. Bahwa saya sempat down, sedih, kecewa, adalah hal yang tak dapat dihindari. Bayangkan! Skripsi yang saya susun berbulan-bulan dengan penuh perjuangan itu luluh lantak dalam beberapa jam saja. Dan salah satu penguji saya adalah dosen yang terkenal sangat metodologic, ilmiah, serta taat asas penelitian. Pertemuan “karya tak ideal” dan “penguji sangat ideal” yang maanisss luar biasa.

Saya mulai berpikiran macam-macam ketika dosen saya yang satu itu menyatakan bahwa saya harus memperbaiki penelitian supaya bisa mengejar target lulus semester itu. Prasangka mulai berkecamuk, dan yang lebih parah saya berpikir jangan-jangan ada sentimen tertentu di balik sikap dosen tersebut. Maklum, saya memang terinspirasi dari rancangan UU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi) yang sedang panas-panasnya diperdebatkan ketika itu. Dan 3 jam di ruang sidang membuat saya tak nyaman. Auranya under pressure. Mirip seperti yang dikatakan Pak Rhenald dalam tulisannya. Dosen-dosen lebih terlihat menguliti para mahasiswa daripada membuat mereka banyak belajar dari proses uji argumen tugas akhirnya. What a discouragement.

Tapi jangan percaya saya dulu sampai disini.

Hari-hari berikutnya adalah perubahan sosok ‘monster’ dosen saya menjadi guru yang cukup suportif. Agaknya mereka kasihan jika saya bertahan lebih lama di kampus, meski seorang dosen lainnya juga kerap bergurau, “masuk UI susah-susah, keluarnya jangan cepat-cepatlah…”.

Maka selanjutnya saya jumpai email-email bimbingan mereka dengan komentar yang cukup membangun. Kalimat motivasi mereka saat itu juga saya rasakan lebih indah daripada kata mutiara manapun (sampai sekarang email-email out of topic juga masih sering saya dapati dari beliau). Begitu juga dengan dosen lain yang kebetulan menjabat sebagai manajer pendidikan fakultas. Dalam stres yang kerap, senyum dan kalimat ramahnya saja saya rasa sudah lebih dari cukup untuk membuat negativity saya berkurang.

Waktu berjalan dan saya berjibaku dengan perombakan beberapa konsep dalam skripsi, yang dalam prosesnya masih juga menantang ketangguhan. Kali ini saya beruntung, bisa bertemu dengan beberapa dosen yang memandang tema penelitian saya sangat menarik bagi mereka, dan mereka cukup antusias meluangkan waktu menjadi teman diskusi. Dalam sidang, kebetulan mereka pula yang menjadi penguji saya.

Sampai kemudian sidang kedua pun digelarlah. Terlepas dari kesiapan saya, hari itu ruang sidang berubah menjadi arena diskusi yang cukup menyenangkan, setidaknya begitu yang saya rasakan. Para penguji membahas dengan penguasaan mereka atas bidang yang saya ambil (psikologi sosial), dan mereka bersikap begitu terbuka serta mengevaluasi lalu memberi tahu mana yang salah dan bagaimana arah jawaban yang sebenarnya. Terasa benar encouragement-nya. “Jika yang kamu maksud begini, maka sebaiknya kamu seperti ini. Dan kamu bisa kembangkan lagi ke arah ini, sehingga penelitian kamu yang menarik ini akan semakin berkualitas dan bermanfaat”. Begitu kira-kira.

Tanpa bermaksud membandingkan dengan proses sidang pertama, dalam perkuliahan, secara subyektif saya melihat adanya korelasi antara sikap dosen terhadap performance mahasiswa. Coba rasakan bedanya antara dosen yang tampak “membantai” mahasiswa, dengan dosen yang berparadigma ‘proses belajar adalah pencapaian pemahaman atas ilmu, pembentukan karakter dalam perjalanan menempuhnya, juga tanggung jawab untuk bisa menerapkan ilmu itu dalam kerangka manfaat’. Meski tujuannya mungkin sama, tetapi cara seringkali turut menentukan bagaimana hasilnya.

Bisa jadi dampak pola/sikap didik pertama dan kedua itu positif, tergantung pada bagaimana subyek peserta didik menyikapi. Namun proses yang terjadi secara tidak langsung memberi efek yang berbeda terhadap perkembangan karakter para pembelajar. Masih perlukah mencela anak agar mereka melesat lebih tinggi setelah ditekan, atau sesungguhnya kita bisa menggunakan cara yang lebih ramah namun juga melejitkan?

Dalam hemat saya, mengembangkan konsep diri dan self-efficacy (perasaan mampu) para peserta didik jauh lebih penting dibandingkan berfokus pada bagaimana mereka bisa memperoleh nilai A, lulus cumlaude, dan semacamnya. Ada penerimaan terhadap apa adanya diri mereka. Ada penghargaan yang lebih menumbuhkan. Dan pasti, ada kepercayaan bahwa mereka “bisa!”, sehingga terus menggugah perbaikan.

Maka saya kagum benar dengan sikap para pendidik yang menghargai sekecil apapun usaha para siswanya, meski itu tak memenuhi standar prestasi, IPK, nilai, kaidah ilmu, dan seterusnya. Berkebalikan dengan itu, saya juga begitu herannya mengamati sekian juta perusahaan yang menjadikan angka IPK sebagai standar screening layak-tidaknya seorang fresh graduate bergabung untuk bekerja bersama mereka. Well, bisa jadi ini sakit hati saya karena IPK saya yang tak cukup memenuhi standar. Tapi sense keadilan yang terusik itu jauh lebih dominan, mengingat kecerdasan rasanya terlalu sempit untuk didefinisikan dalam 2-3 digit angka.

Sebagai penutup, ijinkan saya membayangkan anak-anak dan generasi yang tak hanya cerdas otaknya, tetapi juga matang kepribadiannya, di Indonesia kita. Sudah cukup mimpi-mimpi dan kekaguman saya pada sikap para pengajar di belahan negeri seberang yang tampak lebih ideal dan memanusiakan. Sebelum menuntut orang lain, tugas saya kini adalah berusaha menjadi bagian dari mereka yang mendidik (minimal putra-putri saya kelak) dengan perpaduan ilmu, teladan, juga sikap positif yang menggugah-memberdayakan. Semoga dimampukan.

Dengan Anda, dapatkah kita bergandengan tangan juga? 🙂

Senin, 19 Juli 2010

Serambi Kami

Bismillah



Tanah kami, sudah lama disini
Kami junjung asma-Nya tinggi, dan mereka memberi janji-janji
Tapi kami bergeming saja, tak ingin tampak mengemis iba
Walau tentu sambil berharap-harap juga


Tapi tak lama kami benar celaka
Tuan besar si pemimpin negara itu memang besar mulutnya
Mana pembangunan, mana bagi hasil bumi yang dikeruk suka-suka
Kami menjerit ingin pisah
Tapi sungguh, demikian besar cinta kami pada tanah yang kami bela
Rencong kami patah-patah menolak penjajah 
Karena melawan kezhaliman adalah jihad kami untuk-Nya

Tanah kami, memang sudah lama ada disini
Kami pegang teguh syariat dan nilai para nabi
Surau kami berdiri di setiap pelosok
Dan lantunan ayat suci terdengar dari tiap pojok

Lalu tahun demi tahun berganti
Tanah kami memang masih subur dan layak ditanami
Tapi kefakiran juga masih senang menemani
Apa yang salah pada kami?
Surau-surau juga masih kokoh berdiri
Tapi sungguh sepi dari isi
Anak muda lebih senang pergi ke kedai kopi
Menghabiskan berbungkus-bungkus tembakau laknat yang merusak jasad

Tak beda pula para putrinya
Meski kerudung membalut kepala mereka
Rambut masih saja terjuntai bak ekor kuda, berbaju tipis atau mungkin tak punya ruang untuk daging tubuhnya
Ah ah ah…


Malu kami duduk di depan Allah Yang Maha Tinggi
Apa balas budi kami atas segala anugerah di tanah ini?
Maka lalu terjadi gempa dan tsunami
Barangkali Ia marah karena tak ditaati
Tapi tsunami sudah lewat 5 tahun lebih
Dan surau-surau masih saja berteman sunyi
Sementara anak muda kami sibuk saja di kedai kopi

Malu kami mengangkat wajah ini, Rabbi…
Tadinya kami bangga bergelar serambi tanah suci
Tapi kelakuan sungguh jauh dari islami
Masih adakah ampunan-Mu bagi kami yang bodoh ini?

Tanah ini, sudah lama kami tinggali
Semoga gempa-tsunami tak datang kembali
Atau azab apapun yang lebih lagi
Karena di tanah ini kami ingin terus mengabdi
Karena kami ingin syariat tegak disini dengan penuh kesadaran tinggi

Dan saksikanlah Wahai Tuhan kami, 
Ummat-ummat-Mu khususnya di tanah ini
Lebih-lebih kami cintai
Daripada diri kami sendiri.



-Daud Beureueh in my imagination- 
Calang, 18.11.2009, 15:16 wib.

Kalau Beda, Terus Kenapa?

Bismillah…

Jarang-jarang saya menulis tentang sesuatu yang berbau politik. Walau sempat menyicipi politik kampus, tapi enough-lah… hehe. Daripada saya sotoy-marutoy kan…
Tapi tulisan ini sebenarnya tidak berbau politik sama sekali sih, hanya saja sedikit menyerempet tentang sikap, salah satunya bersinggungan dengan ranah itu.

Saya hanya tak habis pikir dengan salah seorang saudara yang… kebetulan ia punya preferensi berbeda dalam memilih wadah untuk lebih memahami Diin ini. Perkumpulan atau organisasi keislaman, katakanlah seperti itu.

Saya sudah lama tahu bahwa saya dan dia mempelajari Islam di tempat yang berbeda. Dan saya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Kita sudah sama-sama dewasa, bisa memilih mana yang menurut kita baik atau tidak, tentu dengan berbagai konsekuensinya.

Yang saya sering tak mengerti adalah sikapnya. Ketika organisasi saya bersikap A, dia mempertanyakan. Ya saya jawab sesuai dengan apa yang secara resmi dikemukakan oleh struktur organisasi saya. Tapi pertanyaannya bukan sekedar bertanya, ternyata. Saya merasa dia sedang menguji saya. Lebih tepatnya mungkin menguji kesabaran saya. Sudah jelas-jelas ada pernyataan resmi dari struktur, tetapi dia masih saja mendebat, “harusnya kan begini, begini… kok malah seperti itu,”.
Karena saya paling malas berdebat, saya sarankan dia membuka situs resmi organisasi saya dan bertanya langsung kepada orang-orang yang duduk di strukturnya.

Itu satu kasus.
Kasus lainnya adalah tahun 2004 ketika Pemilu. Sebagai kumpulan yang memandang Islam sebagai ajaran yang komprehensif, maka politik juga termasuk hal yang diberi perhatian. “Islam adalah sistem yang komprehensif yang berkaitan dengan seluruh kehidupan. Ia adalah negara dan kampung halaman. Ia adalah moral dan kekuasaan. Kebudayaan dan hukum. Juga jihad dan panggilan berjuang. Serta tentu saja ia adalah kepercayaan dan ibadah…”
Maka kami, perkumpulan kami, memilih untuk terjun ke dalam pemerintahan untuk –salah satunya- mewarnai dinamikanya dengan ajaran Islam yang lurus dan rahmatan lil ‘alamin.

Tapi di 2004 itu, kebijakan yang dibuat pemerintah –dimana kami turut mendukung si presiden naik ketika itu- ternyata dianggap kurang berpihak pada rakyat. Well, saya memang tidak tahu bagaimana kebijakan itu bisa keluar begitu saja. Apakah kurang kuat lobi kami? Apakah tidak ada mekanisme kontrol yang cukup? Apakah kami tidak diajak bermusyarawah?
Entahlah…

Dan hati saya panasss sekali ketika membaca spanduk besar dari organisasi rekan saya yang terpasang di jalan protokol ibukota itu.
Bunyinya lebih kurang, “Siapa suruh ikut Pemilu. Siapa suruh memilih si X. Akibatnya jadi begini…”.

Memang tidak jelas tersurat siapa yang disindir dalam spanduk itu. Tapi saya merasa memang organisasi kamilah yang dibidik. Wong kami satu-satunya yang mau rembukan masuk ke dunia abu-abu itu. Tapi apakah begini yang namanya ukhuwah islamiyah itu? Apakah ketika ada saudaranya yang melakukan kesalahan, kemudian boleh semakin disudutkan? Atau ketika ada saudaranya yang jatuh, lantas boleh “dilewek-lewek” alias “disukur-sukurin”?

Di dunia maya jauh lebih parah. Dan saya paaaaling malas membaca apapun yang berbau negatif, berasa nyedot energi. Yang jelas-jelas mencaci-maki mungkin sudah tak terhitung. Ada juga yang membuat postingan mempertanyakan kebijakan tertentu, menganalisa ini dan itu, lalu ujung-ujungnya menjelek-jelekkan.

Jadi bingung sayah…
Mbok ya kerja yang efektif gitu lho. Kalau mau nanya itu ya ke orangnya langsung, bukan ke publik. Kecuali kalau memang tujuannya mau melakukan character assassination (pembunuhan karakter), atau ghibah (ngomongin orang), atau namimah (mengadu domba). Gak usahlah mengatasnamakan “mengingatkan saudara”.
Kalau mengingatkan itu kan ada ADAB-nya. Salah satunya adalah tidak di muka umum.
Salah lainnya disampaikan dengan santun, tidak mengungkit kesalahan di masa lalu, tidak mengaitkan dengan kesalahan2 yang lain, dan yang paling penting NIAT-nya. Beneran mau ngingetin atau mau cari kesalahan? Beneran mau negur atau merasa paling benar? Beneran tulus karena sayang sama saudaranya atau cuma gatel pengen nuding-nuding kesalahan orang lain?
Bahkan seorang Umar bin Khaththab ra. saja beristighfar ketika pendapatnya yang dianggap benar.

Lalu saya jadi teringat pada sahabat saya di kampus dulu. Al-akh ini kebetulan juga berbeda organisasi sama saya. Tapi beliau cukup bisa diajak berdiskusi. Meski kami sama-sama kekeuh pada pendapat masing-masing, tapi kami tetap dapat saling menghargai.

Menjelang pilpres ini, eskalasi serangan semakin meningkat pasti. Saya sudah bosan dengan berbagai macam polah ini, “Pilihan kalian terjun ke dunia politik itu salah! Harusnya langkah kalian seperti ini. Harusnya kalian tidak melakukan itu. Kami menyesalkan blablabla…Harusnya kalian begini dan begitu…”.

Duh, lakukan saja lah, Bung.
Kami sedang melakukan dengan cara yang kami yakini. So, kita berbuat saja bersama-sama tanpa harus saling mencela. Biarkan dunia melihat siapa yang bekerja, siapa yang banyak bicara. Lagipula kalau kita berbeda, terus kenapa?

Dan sikap saya masih saja sama ketika bertemu orang-orang macam mereka.
“Inna sa’yakum lasyatta.”.
Menyungging senyum di pipi, dan meninggalkan mereka pergi.
Maafff sekali, kami tidak punya banyak waktu untuk membuang-buang energi.

Friday, June 26, 2009. 08:01 pm.

I’m Wearing Hijab, Don’t You…?

Bismillah…

2 tahun silam, seorang sahabat lama tiba-tiba muncul di jejaring sosial saya. Dan seperti lazimnya tertera dalam jejaring itu, testimoni-testimoni tentang diri orang lain seperti menjadi wajib untuk kita berikan. Pun saya, tak pelak menerima testimoni sahabat lama saya yang walaupun satu kampus itu, jarang sekali bersua.

Yang membuat saya terbelalak bukan segambreng pujian ini dan itu. Tetapi saya baru saja ngeh ketika ia mengatakan,
“Indra ini orang yang pertama kali nanyain gue, “Mau pake jilbab gak, F?”. Dan besoknya gw mutusin untuk ngikutin dia pake jilbab juga.”

Oh… Did I?
I almost forget, dan bahkan tak ingat sama sekali andai ia tak menuliskannya di kolom testimoni itu.

Kali lain, iseng saya bertanya pada wanita paruh baya rekan satu pekerjaan.
“Don’t you want to wear hijab, Miss?”

Dan memang tak selalu gayung bersambut. Ujar wanita itu,
“Haha… sepertinya tidak. Aku merasa lebih bisa berdiri untuk banyak kalangan ketika aku tak mengenakan jilbab. Aku bisa mudah bergaul dengan siapapun (dengan aku tidak memakai jilbab -red)… Yeah, aku lebih menikmati diriku seperti ini saja.” tukasnya dengan pendirian teguh.

Serta-merta pembicaraan pun ditutup.
Tapi akhirnya saya berpikir, ”Ah, bukankah jika kita memenangkan-Nya, Dia pasti akan beri jalan terbaik bagi kita untuk berinteraksi dengan sesama?”. Dan saya pun teringat seorang Ira Puspa Dewi yang mampu didengar sekian orang dalam forum internasional dimana ia menjadi pembicara, lengkap dengan jilbabnya.
Tapi ya sudahlah. That’s your choice, Mam 🙂

Ada hal menarik dalam pengenaan hijab ini. Jika kita berjalan-jalan di tempat umum di Jakarta, sebut saja mall, pasar, atau tempat rekreasi, niscaya tak kan sulit kita temukan lima-enam-dan mungkin belasan- wanita yang menutup kepala mereka dengan jilbab. Mau yang menutup dada kah, sampai leher saja kah, ataupun yang menjuntai lebar, atau bahkan yang berbelit-belit dengan berbagai modelnya. (huffh…sejujurnya saya bingung memikirkan bagaimana si jilbab berbelit-belit membongkar pasang jilbabnya ketika mau berwudhu…).

Just like a trend (well, i don’t hope so), jilbab menjadi booming dan tampak semakin biasa sekarang.
Seorang om saya yang hidup di Belanda sampai tak habis pikir, “Should Indonesia be an islamic country?” karena sedemikian paranoidnya ia pada “negara islam”, hanya karena melihat perubahan signifikan dimana jilbab amat langka di dekade 80-90-an dan menjadi sangat lumrah di tahun 2000-an ini.
Kasihan, hanya karena seringnya ia mendapati oknum negara arab yang menjadi kriminal di negaranya, tanpa berpikir kritis ia memandang sinis perkembangan drastis itu, dan menolak mentah-mentah diberlakukannya sistem islam di negeri kelahirannya ini.

Saya yang mendengarnya hanya tersenyum. Memaklumi pola pikirnya yang agak mengherankan, menurut saya. Bagaimana bisa ia hidup di negara yang (katanya) bebas, menghargai perbedaan, tetapi sedemikian phobi terhadap agama ini, agama yang juga masih dia anut. Apakah ia juga akan sama curiganya ketika simbol palang misalnya, bertebaran dimana-mana? Apakah akan beda penerimaannya?
Anda berpikir terlalu jauh, Tuan. Kami hanya menjalankan kewajiban individual kami. Itu saja.

Dulu, di era 98-an ketika saya ingin mengenakan jilbab dengan lebih rapi, masih berkeliaran paranoism yang tak jelas asalnya.
“Kalau pakai jilbab nanti susah cari kerja..”
“Susah jodoh lho… dikiranya gak mau bergaul..”
“Kenapa musti menutup diri seperti itu…biarkan saja dunia melihat kemolekan tubuh kita..”
Dan mungkin kalimat terakhir itu masih tak sungkan digaungkan oleh -katanya- para pejuang perempuan. (hehe..perempuan yang mana? Bagaimanapun berlian tak pernah diobral, bukan?).

Sepertinya sekarang tak separah dulu, meski masih ada sekian kasus pelarangan jilbab di sejumlah instansi *masih tak mengerti mengapa isi otak harus dikebiri hanya karena bungkus luar semacam jilbab-rok mini-dan busana-busana itu -_-’

Tapi meski demikian, kemauan tetap tak dapat dipaksakan. Mengenakan jilbab saat ini bisa jadi masih sebatas pada ”suka-suka”, atau ”biar nge-trend”, atau ”ikutan temen”, atau ”malu…abis yang lain pada pake… masa aku gak pake”, dsb, dsb.
Dan jika alasan mereka seperti itu, kamu bisa apa?

Rindu sekali saya pada masa dimana sekian anak muda itu memasangkan kain lebar di atas kepalanya dengan berujar mantap, ”Inilah aku. Ini jalanku. Ini aku dengan segenap pribadi kukuh yang tak mampu dibeli oleh komentar dan cibiran atas hijab yang kupakai.”
Belia-belia yang tumbuh dalam atmosfer kebaikan, yang memberontak tatkala perintah-Nya dipertentangkan, yang mampu berujar tegar, ”Jikalah aku menjalankan apa yang Ia pinta, tentu pertolongan akan jua turut serta!”.
Keyakinan yang terpatri dan tumbuh kuat dalam lurusnya niat, insya Allah.

Namun walau masih juga saya temukan sekian banyak pemudi yang tersentuh hatinya karena cahaya iman, setidaknya saya tak bisa sama sekali menggerakkan. Upaya saya, Anda, atau kalian yang mencoba mengajak hijab itu dikenakan, hanyalah sedikit pintu pembuka. Total, sepenuhnya hanya Dia yang memiliki hak menurunkan hidayah atau tidak. Memberi petunjuk atau membiarkan sesat. Menunjukkan cahaya dan ketentraman batin sejati, atau menyemaikan kilau semu yang menyisakan kekosongan jiwa.

Seperti yang saya hadapi baru-baru ini.
Satu adik di SMA almamater saya, masih juga kekeuh dalam ’baju adek’nya, meski sempat ia utarakan keinginannya mengenakan jilbab. Keluarganya mendukung, lho. Abang pertamanya bahkan berujar, ”Kalo lo make jilbab hari ini juga, gw ajak lo ke toko R (toko muslimah –red), dan lo boleh pilih apapun yang lo mau, gw bayarin!”.

Nyaris habis akal teman-temannya satu lingkar pengajian menyerunya memakai hijab, mengajaknya ke pertokoan muslimah ini dan itu, memberikannya ciput (daleman jilbab yang dikenakan di kepala agar jilbab tak licin di rambut -red), mengusahakan meminjam seragam batik lengan panjang dari kakak alumni, dan sekian banyak ajakan lisan yang tak terhitung jumlahnya.

Dan dia masih saja bergeming. Lalu kami, tentu saja terus meyakini bahwa hidayah Allah mungkin belum turun padanya. Jika Rasulullah saw saja tak mampu mengislamkan Abu Thalib, sang paman tersayang, untuk masuk Islam, apalagi kami, yang barangkali sentuhan da’wahnya terhalang maksiat sehari-hari.

So, tak heran ketika beberapa waktu lalu seorang India yang duduk di sebelah saya dalam pesawat ke Solo masih saja bertanya.
”Does your scarf related to your religion?” ujarnya sambil menunjuk jilbab yang saya pakai. Lalu saya mengangguk dengan kuat. ”Yes. Why?”.
”No…Just wondering…. Jika memang berkaitan dengan agama, mengapa kebanyakan wanita Indonesia tidak memakai scarf sepertimu?”.
Menghela nafas, saya menjawab. “Well… actually it’s an obligation. But when they are not obey, it’s all about choices.”.

Ya. Pilihan sadar yang juga terengkuh karena usaha memahami Diri-Nya, memahami bahwa segala konsekuensi yang mungkin terjadi adalah dengan sepengetahuan-Nya, dan dengan keyakinan sungguh, bahwa Ia tak abai.
Ia menjaga mereka yang berusaha mematuhi-Nya.
Di saat itu, dunia, atau pandangan dan penilaian manusia, menjadi tak lagi pantas tuk diperbandingkan dengan karunia mahal bernama hidayah.
Priceless. Tak terbayarkan.
Persoalannya sekarang semata hanya : mau atau tidak.
Itu saja.


Friday, 29.05.09, 01:46 pm.

Pahlawan (2)

Para pahlawan punya cara tersendiri untuk menoreh sejarah dirinya.
Ia sadar, dan tahu kapan harus menyusun kekuatan, kapan pula harus mengkontribusikan.

Tetapi pahlawan tak pernah rela kehilangan momen2 pembuktian amal,
bahkan ia menyesal ketika melewatkan episode perjuangan tanpa sengaja.

Karena mereka tahu, tak selamanya usia berdampingan dengan dunia.
Karena mereka sadar, seringkali takdir jauh dari cita-cita.

Dan itulah sebabnya, mereka tak punya kamus selain berjuang dan mengkontribusikan apapun yang ada, agar kelak waktu mencatat sosoknya sebagai sejarah,
ada atau tiada manusia lain yang mengenang jerih payahnya.

***

ditulis 2 tahun lalu kalo gak salah…
gambarnya diambil dari google, udah lama jg, jadi gak tau sumbernya…