Tentang Kuliah S2 (lagi-lagi…)

Bismillah.


Perbincangan saya dengan seorang teman di seberang sana yang tengah melanjutkan studi S2-nya, lagi-lagi menggelitik saya untuk memikirkan kembali isu ini. Niat saya yang timbul-tenggelam sementara waktu karena kesibukan bekerja, kembali tersulut. Kerinduan saya akan bangku kuliah dan dunia akademis memang tak pernah padam, hanya saja mungkin sedikit meredup mengingat ada hal lain yang tengah saya prioritaskan saat ini.

Saya belum tahu kapan akan kembali menekuri kampus dan segala dinamikanya. Yang pasti, begitu saya teringat akan rencana ini, satu-satunya yang memancing kehati-hatian saya adalah alasan di balik itu semua. Bagi saya, jika melanjutkan S2/profesi ‘hanya sekedar’ agar bisa diterima bekerja di perusahaan bonafit dengan posisi lumayan bagus, kok sayang sekali ya. Walau sepengamatan saya, cukup banyak orang dengan niatan seperti itu –yang tentu saja tidak bisa saya salahkan-. Pencarian ilmu dalam pandangan saya bukanlah sekedar untuk mengejar posisi, gaji tinggi, pekerjaan bonafid dan seterusnya. Tetapi lebih daripada itu, saya sudah jauh-jauh hari semenjak kelulusan S1, memikirkan hal mendasar yang mendorong saya jika di kemudian hari saya meneruskan kuliah ke jenjang S2. Benar, ini soal visi dan misi apa yang akan saya bawa ketika saya bergelar “psikolog” nantinya.

Tak lama setelah saya lulus S1, saya mengobrol ringan dengan 5 orang teman yang kebetulan sedang menjalani studi S2-profesinya. Pertanyaan saya singkat sekali.
“Punya visi apa setelah nanti jadi psikolog?”
Atau, “Habis lulus profesi mau ngapain?”
Dan mengejutkannya, 3 dari 5 rekan saya ini menjawab dengan begitu ‘ngawang-ngawang’-nya.
“Mmm…belum tau,”
“Apa ya, Ndra? Jujur gw belum kepikiran tuh, ngejalanin aja sih…”
“Duh, gak tau deh. Mikirin yang di depan mata aja sekarang. Tugas-tugas nih numpuk banget!”

Selebihnya, 2 orang yang lain, lumayan memiliki pandangan jauh ke depan.
“Mau bikin lembaga pendidikan, atau sekolah yang bagus,”
“Mmmm… belum tau juga. Tapi mungkin akan seperti Mba “X” (psikolog di kampus –red), jadi family-terapist,”

Mungkin saya sedikit perfeksionis. Menjalani sesuatu tanpa menyadari hakikat “buat apa saya melakukan hal tertentu”, adalah hal yang cukup mengganggu. Implikasinya jelas, jika tidak ada niat sungguh-sungguh di balik itu, ketika kebosanan atau kesulitan menghadang, pasti kita akan mudah jatuh. Lebih dari itu, adalah kesia-siaan ketika kita menjalani sesuatu tanpa ruh, tanpa hal yang menjiwai mengapa kita harus melakukan itu, mengapa kita harus berada disana, dst.

Mungkin ada juga beberapa orang yang menemukan hakikat sembari menjalaninya. Well, tidak salah juga. Tapi sekali lagi, saya hanya ingin memastikan bahwa saya menjalani semua dengan penuh kesungguhan, dengan penuh visi yang akan membuat saya yakin bahwa apa yang saya lakukan akan bermanfaat sebesar-besarnya. Bukankah para pemain bola selalu berusaha mengarahkan bola mereka ke gawang?

Sehingga, pertanyaan-pertanyaan inilah yang barangkali harus saya buat jawabnya se-SMART* mungkin. Buat apa saya menjadi psikolog? Apa yang akan saya lakukan jika saya sudah bergelar psikolog? Sekedar prestise sajakah? Tampak keren dan wah di mata orang? Atau apa?

Benturan saya rasakan ketika saya suatu hari secara tidak sengaja bertemu dengan dua orang ibu rumah tangga bermasalah. Yang satu, rumah tangganya kurang harmonis, sementara yang satu lagi, anaknya bermasalah. Apa yang bisa saya jawab ketika si wanita paruh baya itu mencurahkan isi hatinya tentang sang suami yang dingin dan tak pernah menjalin komunikasi yang baik? Apa yang bisa saya sarankan ketika ibu yang satu lagi membutuhkan saran mengenai anaknya yang depresi karena suatu hal?

Kening saya pun berkerut, mengindikasikan kognisi yang sibuk mencari jalan. Minimal ada hal yang bisa saya berikan terhadap mereka; entah saran, masukan, apapun itu. Tapi saya gagap, dan menjawab dengan asumsi-asumsi ditambah bumbu pengalaman yang minim sekali. Dan saya merasa bersalah sekali tidak bisa membantu dengan optimal karena bekal yang kurang.

Disitulah gap itu terasa.
Ada ekspektasi yang besar ketika orang tahu bahwa saya sudah belajar psikologi, walau baru bergelar S.Psi alias sarjana psikologi. Padahal harapan itu tak sebanding dengan kapasitas yang saya punya. Tapi lagi-lagi, apa iya harus dengan menempuh profesi dan menjadi psikolog dulu?

Untuk pertanyaan terakhir, saya berkaca pada rekan senior saya. Berlatar belakang sarjana pendidikan dan master di bidang sastra inggris (catat : bukan psikologi), beliau sering sekali ‘menerima klien’ untuk dimintai nasihat dan saran. Sejumlah pasangan nyaris cerai datang kepada beliau dan berkonsultasi, dan hasilnya, alhamdulillah mereka rukun kembali dan mengurungkan niat untuk berpisah.

Rahasia beliau, ‘hanya’ rajin membaca literatur psikologi populer, mengikuti sekian banyak seminar pengembangan diri di dalam dan luar negeri, dan dengan sendirinya menjadi manfaat begitu banyak.
Jadi, apakah harus menjadi psikolog? 🙂

Dunia nyata pasca kampus menggiring saya bertemu dengan begitu banyak fragmen kehidupan. Dan semakin saya berhadapan dengannya, semakin saya merasa begitu minim bekal yang saya punya. Bagaimana bisa kita berhadapan dengan seorang anak depresi sementara kita tidak tahu cara menanganinya? Bagaimana bisa kita menjiwai permasalahan rumah tangga, sementara pengalaman belum ada, dan secara keilmuan juga tak seberapa? Bagaimana kita dapat menangani korban-korban pasca trauma, entah karena musibah bencana, atau kekerasan yang menimpa, dengan ilmu yang alakadarnya dan hanya sekedar mencoba-coba tanpa metodologi yang baik dan kemampuan analisa-saran rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan?

Kesenjangan itu, yang saya harap bisa saya reduksi ketika saya sudah diberi anugerah mencicip pembelaran di jenjang S-2 profesi psikologi. Menjadi manfaat adalah kenikmatan tak terhingga yang bukan lagi sekedar pemuasan kebahagiaan batiniah semata, tetapi juga asset untuk berjumpa dengan-Nya di akhir masa. Mungkin belum saatnya saja kesempatan itu datang sekarang. Dan seperti keajaiban, Mario Teguh menanggapi perasaan saya di televisi semalam. Ujar beliau, tidak mungkin kita naik tangga dan sekaligus juga maju ke depan. Meraih posisi tinggi dan berjalan maju adalah hal yang aneh, kecuali melakukan salah satunya saja.
Mungkin saja yang harus saya lakukan sekarang ini adalah melakukan gerak horizontal –bukan vertikal- yaitu dengan memperkaya pengalaman, memperbanyak kenalan serta memperluas relasi dan jaringan. Dan syukurnya, di LSM tempat saya bekerja sekarang, pengalaman dan jaringan merupakan suatu keniscayaan 🙂

Saya percaya, akan ada waktu yang tepat nantinya jika saya harus belajar lagi di S2. Sebagaimana hal lainnya, selalu ada waktu terbaik dimana kita layak berada disana.
Lagi-lagi Allah memberi saya hikmah itu : saya mendapat apa yang saat ini saya butuhkan, dan bukan apa yang saya inginkan 🙂

By the way, doakan saja semoga rizqinya dimudahkan ya 🙂

Friday, July 04, 2008. 2:23pm.
~belumSaatnyaMenikmatiZonaNyaman…

*SMART = specific, measurable, attainable, realistic, time limit. Ini adalah panduan membuat goal/target yang biasa dipakai dalam ilmu manajemen/psikologi.

gbr dari taufik79.wordpress.com/2008/05/
dan
http://zulfikri.wordpress.com/2007/06/11/peran-atap-dalam-arsitektur-sebagai-simbol-martabat-bangunan/
sudah ijiin! makasih banyak..

Advertisements