Rindu #1

images-48

Di dalam ruang jiwa kita, ada bilik bersekat-sekat. Aku berikan ruang besar itu untukmu : seseorang yang dalam diamnya, lebih sering berbuat. Dalam lelahnya, tak banyak kesah terungkap. Dalam getirnya hidup, tak banyak keluh terangkat. Dan karenanya, mungkin, luka batinmu sibuk kaupendam sendiri. Dan karenanya, mungkin, setiap rasa kau cecap sendiri.

Aku tak pandai mengeja rindu. Karena bagiku, rindu adalah terjemah cinta. Kagum. Sayang. Yang terrangkai begitu saja tanpa kata. Mungkin juga tak memerlukan beragam eja.

Terkadang ia meluap. Mungkin juga menyurut. Tapi tak pernah sedikitpun padam.

Terkadang ia badai. Kadang pula angin sepoi. Tapi tak pernah ia kerontang.

Katakan padaku bagaimana rindu harus mendapat tempat. Pada gejolak jiwa ringkih yang acap mencari sandar. Pada langkah kaki yang kerap mencari pijak. Pada kemelut jiwa, yang seringkali terjebak taufan.

Adakah yang bisa kita lakukan
Untuk menyampaikan rindu
Di saat doa tak lagi mampu
Menjadi obat yang ampuh?

Yaa Allah, jaga ayahku selalu..

***

Wed, 21th Sept 2016, 7:15 pm

Di Persimpangan

 

autumn
Langit pekat. Dan gemintang tak terlihat. Cukup sunyi dan kian menyenyap di kala tak sedikitpun terdengar bebunyi jangkrik ataupun para ngengat. Dan, hatimu…, adakah ia masih meriuh-menggelombang bersama langkah yang mungkin goyang?

Di persimpangan, apakah hatimu yang bimbang, ataukah kakimu yang mulai keliru menapakkan perjalanan?

Sejatinya jiwa kita memang selalu membutuhkan harapan. Atas berbagai hal yang ideal. Atau mimpi yang begitu indah untuk diwujudkan. Atau, cita-cita yang sangat tinggi untuk digapai. Atau pula, keinginan sederhana yang dimulai dari langkah-langkah kecil, ringan, namun menjadi landasan yang kokoh untuk kehidupan.

Jika kini, telah tersadar bahwa pandangmu selalu dan pasti mutlak berbataskan cakrawala, maka apalagi yang sepatutnya engkau usahakan untuk melampauinya? Apa yang sesungguhnya jiwamu butuhkan untuk ia hadir di sini, membersamai?
Jiwa kita yang kerdil tidak pernah puas. Dan memberinya makanan lain hanya akan merusaknya. Pasti. Meski perlahan.

Cepat atau lambat kaki kecilmu akan melangkah. Terus berjalan. Tapi jalan mana yang kaususuri, sudahkah kaupastikan? Melakukan hal benar mungkin masih saja membukakan kesalahan, terlebih, melakukan hal yang tak dapat dibenarkan. Sudahkah, sudahkah, setitik cahaya di dalam hatimu kaubiarkan memekar berpendaran?

Di persimpangan, cahayamu tentu saja tertiup angin. Terlempar badai. Tertutup debu dan pasir. Tapi sejauh mana jemarimu menggenggamnya kokoh, akan membuat ia bertahan, hanya jika engkau ingin. Sudahkah, sudahkah, engkau ijinkan pijarnya menyala merah, ataukah belenggu jiwamu membuatmu menyerah dan terkapar kalah?

Di persimpangan, hatimu akan terus bertanya. Dan kakimu akan berjalan. Untuk keabadian. Untuk perjumpaan. Entah keselamatan. Atau keburukan.

 

Rabu 2.08.2016

“Bukan ia-nya yang salah. Hanya, pastikan saja tak mendurhakai-Nya saat kelopaknya merekah.”

 

Di Sepertiga Terakhir


Bismillah…

Senarai angin malam berhembus basah.

Dingin yang menyapa lembut lapisan-lapisan epidermis mengguratkan beku sesekali, meniupkan aroma gigil di penghujung malam yang mistis. Sapuan lembut awan putih yang berderak, menghias kelam langit yang kian memucat.
Selalu sepi. Dan tanpa suara.

Diam tersungkur adalah pelengkap.
Tidak ada satupun fragmen pengganti yang menandingi tunduknya angkuh hati di saat semua makhluk merapati mimpi-mimpi. Terpasung dalam untaian tangis merintih, dan terjerembab dalam bentangan sajadah beraromakan kesturi.
Pada lusuh yang mengalas, bercermin pula khouf dan roja’ dalam kucuran bulir-bulir yang memanas.

Sudah datang masa berpulang di ambang putaran waktu ini.
Tak perlu berlama-lama menunggu titik balik, karena Cahaya memantulkan selisiknya pada tiap-tiap rongga yang masih sadar, atas tujuan apa ia diciptakan.

Maka terpuruknya, tersungkurnya, dan tergugunya ia adalah keadaan yang dipahami sebagai keterbalikan: karena ada masa dimana penawar baru terasa saat sudah mengalami kesakitan. Ada saat dimana segar baru terpulihkan ketika panas dirasakan sebagai bara yang membakar.


Duduk mematung kini.

Membiarkan semilir angin menyibukkan dirinya dalam satu-dua tiupan, menerbangkan sejumlah galau yang semakin ringan teruapkan. Meski sengguk-sengguk itu membuat sesak di dalam sini, dan berat dirasa punuk yang terus saja merunduk sedari tadi, rasanya belumlah lebur bergumpal-gumpal nista yang harus dipanggul ketika pengadilan menanti. Sesal terus saja menari di pelupuk retina, tak sanggup melawan imaji betapa beratnya, betapa sulitnya, jika kelak harus menanggung segala konsekuensi.

Ketika percik-percik bara sudah membuat lepuh urat-urat di setiap inci daging merah, bagaimanakah bisa, membayangkan seluruh tubuh bergenang-genang di lapis demi lapis kedalaman api panasnya? Saat Saqar pun Jahannam menyiapkan dirinya, tak lagi cukup takut dan khawatir mewakili segala makna.

Parah. Rasuk dosa selalu terlihat indah dalam pandangan para pemuja nafsu jiwa.

Serupa air di padang pasir yang tandus lagi gersang, begitulah tampak fatamorgana di mata para pemabuk yang tak lagi ingat mana logika, mana rasa, mana pula nurani yang bersuara.
Dan menumpuklah khamr-nya di setiap mili pembuluh darah, menagih adiksi yang harus terpuas, harus tersalur hingga terkapar sudah sang teraniaya: menyerah pada para durjana…

Beruntung, senantiasa masih ada kasih di setiap gelegar murka.

Ada kemurahan di antara amarah pada jiwa-jiwa yang lengah lagi berbalut pongah. Maka rapuh saat ini semoga menjadi kunci pembuka leburnya.
Sekedar memastikan bahwa masih ada cercah-cercah yang mampu membuat asa kembali terajut, meski dengan benang-benang yang tak lagi utuh berwujud. Sekedar meyakinkan bahwa selangit-bumi keliru masih dapat terobati dan menyembuh, dengan ketakterhinggaan ampunan dan kasih sayang di setiap waktu.

Semoga, tunduk hari ini bukan ia yang terakhir kalinya.
Tersungkur detik ini bukan lagi angkuh keesokan harinya. Karena kesempatan mendekat senantiasa ada jika memang kemauan itu jua mengada. Sebelum maut merapat, sebelum jejak-jejak Izrail mendekat, dan sebelum diangkat lembar-lembar amal yang tadinya tercatat, maka sebaik-baik penutup adalah taubat.

Beranjak, senyap kemudian mulai pergi dan fajar berganti mengawali hari. Desir angin yang bertiup tenang, membalut jiwa ringkih yang tertatih menyusun diri. Adakah yang lebih damai dari menyendiri bersama Sang Maha Kasih seperti ini? Niscaya kenikmatan manapun takkan mampu menggantikan kedudukannya di kesat hati yang selalu haus memulih…

WroteOnLastNiteOfRamadhan1428H,
Fri, 12.10.07; 00:41am; backsounded by Gloria, OST H2.
Masih relevan diposting skarang.
~KetikaBersamaMuSelaluSegalanya… 😥

“Wahai Allah, sesungguhnya aku telah berbuat zhalim kepada diriku
dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah daku dengan ampunan dariMU, dan kasihilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi ampunan dan Maha Penyayang…”

pics from:

Sajadah Panjang


Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya

(Sajadah Panjang, Taufik Ismail)

~H-6ramadhan…

gbr dari http://www.islamuncovered.com/info/themuslimsprayer.htm,
maaf gak ijin..

Semusim Berlalu, Seperti Setahun Lalu

Semusim berlalu, dan penghujan telah tiba rupanya. Trilyunan partikel CO2 beterbangan dihempas banyu yang mengguyur serta-merta, menari di tengah riuh dan berjejalnya mesin-mesin pemadat jalan raya.

Seperti jua setahun lalu di masa yang sama, awan kelabu seketika menggantung di cakrawala dan menerbitkan gundah pada degup-degup ketidakpastian yang masih saja melanda.

Seperti jua setahun lalu di masa yang sama, pada rinai hujan yang sama, pada rintik gerimis yang sama, pada saat itu, kepasrahan bermuara pada satu penyerahan total: bahwa segala hal tak lagi dapat diputuskan dengan semena jiwa.

Pada gurat abu awan yang sama, langit hitam yang sama, pada masa itu pula, kesudahan adalah ketika keinginan tiada lagi diperturutkan: karena kuasa tak pernah dapat dikendalikan seenaknya.

Tahun ini, di musim yang sama, juga pada penghujan yang sama, gulana tak jua beranjak menemukan tempat berlabuhnya. Pada pelayaran melalui karang-karang kemarau, juga buih-buih air bah yang membanjirbandangi bulan demi bulan, belum juga terlihat dimana, atau kapan jangkar itu perlu dilemparkan hingga terkait di dasar samudera.

Haruskah karam menjadi jawaban ketika sekian banyak gelombang waktu justru semakin mendekatkan pada kepastian yang selama ini dikembarakan?

Betapa angkuhnya, ketika persinggahan menjadi begitu melenakan hingga tak lagi ingat mana fatamorgana, mana pula realita. Ketika bahtera berhenti sejenak di atas ketenangan ombak kehijauan, luput sudah kesadaran bahwa palung menjorok di kedalaman telah bersiap menenggelamkan. Dan pada akhirnya, di saat bersamaan, gelombang menggulung dan badai bersahutan meluluhlantakkan semua perbekalan.

Sia-sia sudah haru-biru pasrah dan kerinduan dalam tunduk yang meleburkan segala hasrat ketika itu, hingga pertahanan demi pertahanan terkoyak-moyak dalam rasa sakit yang terus menderu.

Rapuh…

Perlu sekian waktu rupanya, menjegal dan memenjarakan semangat yang salah tempat.
Jika memang hujan membuat sayap-sayap teguh itu patah, patutkah kepayahan
ini membela diri hingga jatuhnya ke jurang tampak sebagai hal yang biasa?
Pula, belum sem
pat pulih itu kembali sedia kala, binar cahaya di dasar bumi membuat silau dan lagi-lagi, lagi-lagi!, menggeret sejuta luka yang merah darahnya menghangat tersiram cuka!
Tidakkah degil itu dapat terhenti jika memang belum tiba waktunya meregang nyawa?
Tidakkah jera mencuat saat pecut itu mengena dan meninggalkan gores-gores yang tak bisa luntur bekas sayatannya?

Pada hujan dan dingin deru angin yang sama,
Pada pergantian cuac
a yang tak pernah terkira,
Juga pada pancaroba yang menerbangk
an harap bercampur cemas luar biasa,
Disinilah kiranya karam sang bahtera.

Jikalau matahari tak menembus lapis demi lapis samudra,
Atau nafas sesak itu tak tergesa-gesa meminta haknya,

Adakah sadar itu hidup untuk kesekian kali, mencari dimana sesungguhnya tempat berpijak hakiki?

Ruang demi ruang adalah medan tak berkepastian.
Pula masa demi masa yang masih nyata dalam penglihatan.
Seandainya batas itu diproklamirkan, tentu tak lagi ada kesungguhan tuk merajut keterbaikkan. Saat garis cakrawala membaur dengan sapuan angkasa, tak akan sanggup tertebak kapan saat akan be
rhenti, kapan pula saat akan menepi.

Maka yang terus terlihat adalah biru, abu-abu, serta gelap gelombang yang menerjang kuatnya cengkeraman. Atau kelebat angin yang menampar hebat di tiap kayuhan.
Atau juga godaan karena kelelahan, hingga muncul kemenyerahan : inilah masa dimana sang pecundang menjemput kematian.

Kalah.
Jatuh.
Hina.
Dan tentu saja,

mati sebelum waktunya.


**

Semusim berlalu, seperti juga setahun yang lalu.
Hanya saja harus ada beda antara gerak kayuh hari ini dan hari itu.
Seperti juga kesadaran bahwa berhenti sama dengan menjadi rugi, begitu pula halnya bila berjalan tertatih
-tatih.

Jika faham sudah bahwa perjalanan trilyunan kilo tak dapat ditempuh dengan jiwa nan rapuh, maka sudah sepantasnya tegak itu disandang dengan terus mengukuh. Tenggelamlah jika memang menginginkan pasir-pasir hitam menjadi bangunan kehidupan yang goyah. Pada saat satu-persatu maju memberikan persembahan, ucapkan selamat tinggal pada sekian kali dungu yang tak mau belajar dari kesalahan.

Sehingga selanjutnya,
Jika terik surya harus menjadi teman, dan gelombang pasang menjalin persahabatan, lalu gulita semesta serta amukan badai merapat menjadi bagian perjalanan, haruskah karam menjadi pilihan?

Terus kayuh bahteramu meski musim demi musim juga acap berlalu. Dua kemarau dan dua penghujan seharusnya cukup menjadi kesempatan.

Walau perih kepalmu menggenggam kemudinya,
penat jiwamu menanti akhirnya,
dan nyaris pecah batinmu mengemis sejatinya cahaya,
Pada akhirnya, perjumpaan akan menjawab segala tanya.
Persuaan akan mengubur segala luka.
Dan percaya, ribuan kali ujian masih tak sebanding membayar harga mahalnya.
Ratusan badai masih tak setara dengan nikmat tak terkira.
Karena memang, kesucian tak pernah meminta kecuali teb
usan yang sama.


Semusim berlalu, seperti juga setahun yang lalu.

Masih ada gerimis yang sama.
Juga binar mentari yang tak kunjung berubah pula.
Maka tetap tegakkan kepala, dan melangkahlah lebih baik dari sekian putaran masa.
Kelak gugur dedaunan, hembusan angin kencang, serta kemarau penantian, surut menghempas gigih bangkitmu dari ketenggelaman, berganti semi yang menyemaikan kesyukuran: Dan perjalanan bahteramu menjadi usai.



August2007,diiringDentingPianoKevinKernDalamAnotherRealm-EnchantedGarden-nya.
~Allahumma,tsabbitQolbi’Aladdiinik,shorrifQolbi’alaththo’atik…

gbr dari
http://www.squirrelldesigns.co.uk/another%20rainy%20day.html
http://www.hickerphoto.com/pacific-ocean-picture-8773-pictures.htm
lifesymphony.blogfa.com/
http://www.pocketpcmag.com/SuperCD/CFreeThemesVGA.aspx
http://www.fortoldningsafdelingen.dk/fortoldninger.htm

maaf ga ijin…