Recovery

daisy-wheel-under-the-snow-wallpaper-14635

 

Bismillah.

Meninggalkan kenyamanan memang tak mudah. Mengenang kebaikan di masa lalu memang tidaklah ringan di saat kita menghadapi apa yang sebaliknya di masa sekarang.

Tapi bukankah kita telah memilih apa yang nurani sukai? Dan tidaklah cahaya itu datang kecuali dengan sekehendak-Nya.

Bersabarlah, Jiwa. Mintalah agar hatimu pulih segera. Dan sibukkanlah dirimu dengan segala yang disukai-Nya. Karena ketenangan tak pernah hadir kecuali dengan taat. Dan ketentraman tak akan hadir kecuali dengan menghampiri-Nya berdekat-dekat.

Karena yang seperti ini, insya Allah akan segera lewat.

🙂

 

Sunday 23.10.2016 / 03:05 am

Advertisements

Sebelah Sayap

 

Bismillah.

Dunia ini kecil. Akhirat itu besar.
Waktu kita singkat. Begitu sebentar. Dan apa-apa yang sudah lewat tinggal menjadi kenangan. Tidak dapat dikembalikan. Tidak bisa diputar balik. Tidak pula bisa ditebus dengan apapun juga, dengan berbagai cara.

Anak-anakmu bertumbuh. Dan hidup terus berjalan. Dan kau, dimana kakimu berpijak sekarang? Serta, untuk apa? Untuk siapa? Kepada apa dan siapa kautujukan?

Kekurangan harta, kemiskinan, atau kekayaan dan keberlimpahan, menjadi episode yang semestinya tidak lebih besar dari konsentrasimu pada apa yang menjadi amanah utama. Bahwa kehidupan menggilas sesiapa yang tidak berpunya, bahwa kemiskinan mungkin saja menggerogoti cuil-cuil iman kita, mungkin saja… mungkin saja. Tapi kebergantunganmu pada Yang Mahakaya sesungguhnya tengah diuji. Keyakinanmu pada kebaikan-Nya tengah dibentur untuk kemudian keluar sebagai pemenang, ataukah pecundang yang menyerah pada kebendaan yang tak berpihak.

Jiwa-jiwa rapuh kita hidup di dalam roda yang terus berlari kencang. Sekencang usaha, akal, jiwa, raga sebagian kita untuk terus bertahan. Menutup yang berlubang. Mencari lagi demi apa yang kita katakan sebagai masa depan.

Tapi, masa depan yang mana?

Yang bahkan tak lebih banyak dari tetesan air di ujung kuku saat ia tercelup di luas samudra?

Atau kehidupan abadi yang batasnya tak lagi berangka?

space

Jiwa-jiwa ringkih kita tergeletak di jaman yang tak lagi bisa menata dirinya sendiri, untuk melihat gambaran kini atau nanti. Betapa terpukaunya kita pada kemapanan, kenyamanan, keterjaminan…
Lalu apa yang bisa menjaminmu selamat, meski selesai sudah segala mimpi, tercapai sudah segala ambisi, padahal bertrilyun angka yang kau kagumi itu tak satu sen pun kaubawa mati?

Kita dipaksa menyerahkan pilihan untuk kemudian terbawa arus kencang-kencang. Sesuatu yang kita sebut solusi, tetapi sesungguhnya memunculkan bibit penyakit baru yang jumlahnya jauh lebih masif daripada virus manapun yang pernah ada di muka bumi. Betapa ironis. Betapa mengiris. Sementara retina kita terjebak pada hedonisme dan materialisme yang tak mampu memuaskan nafsu, di saat yang sama, nuranimu menggigil, menjeritkan derita akan kesadaran yang tak pernah terpanggil.

Akan sampai kapan ini bergulir?

Sementara maut mendesak-desakmu di batas waktu, dan penjaganya tak pernah lengah mengawasi, menunggu titah untuk bergerak tanpa nanti-nanti. Kita berada di permukaan bumi yang telah tua usianya, dan sungguh sayang, langkah kita bukanlah membuat hidup ini kian panjang.

Bangunlah rumah. Kediaman. Apapun yang menurutmu memuaskan.
Bangunlah istana. Bisnis. Usaha. Atau apapun yang menghasilkan tumpukan harta.

Namun akan ada titik dimana dirimu sadar, mereka tak dapat membeli kebahagiaan di dunia, apalagi kelak di surga. Jadi apa yang tengah kauperjuangkan sesungguhnya? Sementara hidup hanyalah kilatan waktu bagaikan pedang, dan kita hanyalah pejalan yang singgah sebentar di bawah pohon rindang.

Maka seharusnya jiwamu terinsyaf bersegera. Menimbang-nimbang apa yang layak dan tak layak dilakukan. Karena waktu tak dapat ditukar. Masa anak-anakmu yang riuh berceloteh tak bisa kembali. Usiamu tak bisa berhenti. Karena sejauh apapun kesungguhanmu berdaya, akan selalu ada penyesalan meminta, “…dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”

Pegang teguh yang kauyakini, Jiwa. Teruslah menjaga apa yang sepatutnya engkau jaga. Dunia ini sebentar. Kehidupan ini tak lama. Dan akhirat itu abadi. Sebagaimana keabadian akan meminta kesungguhanmu untuk mengabdi sedari sini. Tidak ada yang bisa menggantikan peranmu sedikitpun. Tidak pula bisa kaudelegasikan pada siapapun. Bahagia di sini hanyalah sementara. Dan derita itu tidak selamanya.  Maka genggam erat idealismemu sepenuh sungguh, sepenuh jiwa.  Agar kelak bisa kautuai kenikmatan agung, yang tak pernah bisa tergantikan dengan bilangan apapun. Dan jangan pernah menukar mahalnya kehidupan di sana dengan sepotong sayap nyamuk yang hina, teramat kecil lagi tak berharga.
***

Selasa, 17.10.2016, 03:41 wib

 

Seimbang

out-of-balance

 

bismillah.

Menemukan keseimbangan setelah terjadi beban yang berat sebelah adalah serupa hujan menderasi padang tandus, yang mulai nyaman dengan fatamorgananya. Beradu pandang mata kita pada oase yang dingin di tengah panas yang membakar, tetapi nyatanya ia tiada. Selanjutnya ilusi demi ilusi mengorganisir dirinya di dalam sinaps, untuk selanjutnya mengacaukan realitas, yang mungkin menyenangkan, tetapi sesungguhnya kosong belaka.

Mengangkat beban untuk bisa kembali ke posisinya semula, mungkin tidak ringan. Tapi lihatlah betapa bersyukurnya dirimu. Dan nuranimu yang jujur memantulkan cahaya-Nya, tidaklah dapat didustakan.  Ingatkah bagaimana kesyukuran terbit pertama kali ketika segalanya harus dianggap ‘selesai’? Dan ingatkah bahwa Allah menurunkan ketenangan tanpa rasa sedih ataupun gundah sedikitpun, bersamaan dengan keridhoanmu melepas semua?

Maka mengapa harus kembali resah di kala sesungguhnya kita tengah kembali pulang? Mengapa kegelisahan mulai menghantui ketika jalan yang terang benar-benar telah dibukakan? Apapun caranya, dan demikianlah Allah menghendaki, hanyalah kebaikan. Dan percayalah, jika perjalanan itu tidak berakhir, niscaya keburukan yang lain akan mengakumulasi dan menghadirkan gerumulan resah yang lain.

Sabar itu ada pada benturan pertama. Sabar itu ada pada seberapa kuat engkau tetap bertahan dan tak goyah. Memegang imanmu kuat-kuat mungkin memunculkan perih atas kehilangan. Atas berbagai budi baik yang tertanam. Dan segala rindu yang kaukatakan tak bisa tertahan, menyayatkan luka dalam berbagai ingatan. Tapi bersabarlah, bersabarlah, bersabarlah. Bukankah telah lama kaulantunkan doa, agar Ia tak serahkan jiwa ini pada diri kita, meski hanya sekejap mata?

Penciptaan bumi dan seisinya membutuhkan waktu. Sebagaimana pula pulihnya hatimu juga membutuhkan waktu. Berjalanlah terus dalam kearifan. Dalam istighfar. Dalam keteguhan menjaga apa yang semestinya terjaga. Dalam kekuatan yang kian berlipat, dan jangan lagi goyah untuk sedikit godaan kesenangan, rasa aman, atau apapun yang menurutmu dapat menghadirkan ketenangan. Disini, dalam perjalanan cahaya, telah sempurna penjagaan-Nya untukmu. Telah lengkap keberadaan-Nya untuk memenuhi segala ruang kosong nan hampa yang pernah ada. Cukuplah Allah bagi kita. Cukuplah kemahaannya memenuhi segala celah. Dan ingatlah bahwa sesungguhnya, “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.”. Dan yakinkanlah hatimu bahwa “…sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”. Hingga kelak di suatu masa, “kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.”.

Maka apakah masih ada lagi yang perlu dikhawatirkan?

Terulah menuju keseimbangan. Bersabar. Kuatkan sabarmu. Dan bersiap-siagalah atas berbagai lenaan. Semoga Allah menjagamu dalam keabadian kasih-sayang yang tak lekang-lekang…

***

“Yaa Tuhanku, perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.” 

Ahad, 16.10.2016, 06:58 wib.