Serambi Kami

Bismillah



Tanah kami, sudah lama disini
Kami junjung asma-Nya tinggi, dan mereka memberi janji-janji
Tapi kami bergeming saja, tak ingin tampak mengemis iba
Walau tentu sambil berharap-harap juga


Tapi tak lama kami benar celaka
Tuan besar si pemimpin negara itu memang besar mulutnya
Mana pembangunan, mana bagi hasil bumi yang dikeruk suka-suka
Kami menjerit ingin pisah
Tapi sungguh, demikian besar cinta kami pada tanah yang kami bela
Rencong kami patah-patah menolak penjajah 
Karena melawan kezhaliman adalah jihad kami untuk-Nya

Tanah kami, memang sudah lama ada disini
Kami pegang teguh syariat dan nilai para nabi
Surau kami berdiri di setiap pelosok
Dan lantunan ayat suci terdengar dari tiap pojok

Lalu tahun demi tahun berganti
Tanah kami memang masih subur dan layak ditanami
Tapi kefakiran juga masih senang menemani
Apa yang salah pada kami?
Surau-surau juga masih kokoh berdiri
Tapi sungguh sepi dari isi
Anak muda lebih senang pergi ke kedai kopi
Menghabiskan berbungkus-bungkus tembakau laknat yang merusak jasad

Tak beda pula para putrinya
Meski kerudung membalut kepala mereka
Rambut masih saja terjuntai bak ekor kuda, berbaju tipis atau mungkin tak punya ruang untuk daging tubuhnya
Ah ah ah…


Malu kami duduk di depan Allah Yang Maha Tinggi
Apa balas budi kami atas segala anugerah di tanah ini?
Maka lalu terjadi gempa dan tsunami
Barangkali Ia marah karena tak ditaati
Tapi tsunami sudah lewat 5 tahun lebih
Dan surau-surau masih saja berteman sunyi
Sementara anak muda kami sibuk saja di kedai kopi

Malu kami mengangkat wajah ini, Rabbi…
Tadinya kami bangga bergelar serambi tanah suci
Tapi kelakuan sungguh jauh dari islami
Masih adakah ampunan-Mu bagi kami yang bodoh ini?

Tanah ini, sudah lama kami tinggali
Semoga gempa-tsunami tak datang kembali
Atau azab apapun yang lebih lagi
Karena di tanah ini kami ingin terus mengabdi
Karena kami ingin syariat tegak disini dengan penuh kesadaran tinggi

Dan saksikanlah Wahai Tuhan kami, 
Ummat-ummat-Mu khususnya di tanah ini
Lebih-lebih kami cintai
Daripada diri kami sendiri.



-Daud Beureueh in my imagination- 
Calang, 18.11.2009, 15:16 wib.

Advertisements

Di Pintu Kereta


Baru kali ini aku berdiri di tepi pintu kereta

Memandang peron berjalan
Juga orang yang duduk hendak menumpang
Hilir mudik datang-pulang

Menjalani hidup yang tak pernah selesai.

Baru sekarang ini aku melongok pintu kereta
Menatap langit membentang

Menghirup udara nan menyejukkan
Bebaskan mata bagi cakrawala
Luas,
Seluas mahakarya Sang Pencipta

Baru kali ini kuberdiri di pintu kereta
Meresapi perjalanan
Memaknai kehidupan

Di suatu masa

Akan jua berpulang.

13.10.2008
10.10 wib

note : diketik di hp waktu bnr2 berdiri di pinggir pintu kereta. ternyata asyik banget bediri di deket pintu kereta…adem dan bisa liat pemandangan. pantesan byk yg seneng gelantungan ya…

pic from : http://www.flickr.com/photos/jsampsonak/2752173296/
makasih dan maaf ga ijin..

Sajadah Panjang


Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya

(Sajadah Panjang, Taufik Ismail)

~H-6ramadhan…

gbr dari http://www.islamuncovered.com/info/themuslimsprayer.htm,
maaf gak ijin..