Awkward Moment

Bismillah.

It’s been my.. another awkward moment in my life, i think.

Hari itu Sabtu di awal September 2016. Hari yang cerah, secerah semangat menimba ilmu dan bertemu teman-teman sejawat. Rencana yang awalnya ke Istanbul akhirnya berbelok ke negeri jiran. Yes, Malaysia. Kami -aku dan akhirnya hanya 3 rekan saja dari Indonesia- akan mengikuti training pembekalan berikutnya untuk mendampingi program community leaders yang sudah berjalan sejak Maret lalu. How excited. Yah walau sedikit kecewa karena mendadak diubah ke Malaysia, tapi it’s okaylah, diundang training saja (aku rasa) kami semua senang.

Diantar pak suami dan my lovely girl, kami tiba di bandara pukul 10 pagi. Jumpa teman-teman yang sudah tiba lebih dahulu dan bersiap check in segera. Lalu seorang rekan bertanya, “Paspor mana Mbak?”.

Whatt?? Oh my God…

Sambil berusaha mengendalikan diri, aku menjawab, “eh…kayaknya ketinggalan Be. Lupa..” plus nyengir supaya gak tegang. “Serius ketinggalan??”. “he-eh, aku inget gak masukin ke tas..”. “Periksa dulu coba..” kata yang lain. “Engga, memang akunya belum masukin ke tas.”. Dan masih saja ditimpali, “ibuk ini, timnya diurusin, dirinya sendiri kelupaan :D”. Rrrr…itu kan tanda aku care dan bertanggung jawab sebagai project manager yang baik.

Pak suami segera bertindak cepat, “hubungi uber, suruh ambil paspormu di rumah.”.

Dan… drama itu pun terjadi.

Supir uber bolak-balik kutelpon, macet lah di Lenteng Agung, baru sampai tol, okay sekian puluh menit lagi, sampai dia sedikit emosi bilang, “saya bawa mobil udah gemeteran ini buu saking ngebutnyaa!”.

Ok ok, baiklah.

Tidak lupa mengirim mesej pada supervisor yang entah bagaimana ekspresinya disana *tutup muka takut dimarahin. Dan disini hanya bisa istighfar sambil tak terhindarkan merutuki diri. Komentar balasannya, “Siapa yang marah? Pelajaran untuk next time agar periksa dokumen sebelum berangkat.”. Heu.. dia banget.

Mampir ke loket utk check in dan melapor, lalu melobi, dan berusaha, berusaha, berusaha. There must be a way, inda.. stay calm, stay calm..

Pesawat take off pukul 11.40. Dan 11.30 supir uber belum kelihatan penampakannya. Rekan lain pake komen gak menghibur segala, pingin aku kunyah rasanya. Pak suami cuma bisa menghibur “Sudah gak papa, kalau ikut next flight kan berarti kamu bisa lebih lama lagi sama aku, ya kan :)”. Dan adegan berikutnya adalah terisak sambil memeluk tubuhnya. Hik hik…

Tak lama paspor datang, dan safe flight pesawat! Tak bisa lagi terkejar.

bag-alone

Iya sesak. Tapi berusaha meyakini dalam hati bahwa segala kehendak Allah pastilah penuh kebaikan. Dan kami pun menunggu hingga penerbangan berikutnya di jam 21. Masih ada sekitar 9 jam untuk duduk menyempurnakan bahan presentasi saat training nanti.

Drama berikutnya adalah sedikit mencemaskan safety karena akan tiba di tempat tujuan lewat tengah malam, lalu bertengkar dengan mr. spv yang sulit sekali dihubungi, lalu dia muntab dan blablabla… *hurt* Oh, why should communication become the biggest issue between us 😦

Akhirnya terpaksa shortcut ke brother yang in charge urusan akomodasi. Bukan salah aku donk kalau aku gak tau bahwa mr. Spv juga mengusahakan penjemputan, dia kan gak cerita-cerita sama sekali. Ya kalau memang gak bisa dijemput tinggal bilang aja, aku bisa kok jalan sendiri (sok yakiiiin..), gak usah pake marah2. Tapi untungnya brother yang lain bisa membantu. “Dont worry sister, you’re the only sister in this training, so we have to serve you special :)”. Kalimat yang jauh menenangkan ketimbang babang spv tadi. Fiuuuh….

Laluu berangkatlah aku sendirian (it’s okay then!) dan tiba di bandara KL dengan perasaan asing. Salah masuk jalur imigrasi selama beberapa menit, berjalan dengan bingung, batere hp tiris dan sooo perfect when didn’t find any colokan untuk ngecharge. Akhirnya berjumpa dengan penjemput yang membawa papan nama dan, oh syukurlah, dia wanita ditemani 1 driver lainnya. Karena kalau dia seorang laki-laki sendirian saja, kelihatannya akan sukses bikin cemas sepanjang perjalanan selama 1 jam, melewati perkebunan kelapa sawit yang gelap dan sepi pukul 1.30 dinihari.

Sampai hotel langsung check in, mengetok-ketok kamar kawan untuk minta ringgit malaysia buat pesan dinner yang rasanya lebih pantas disebut sahur, lalu bebersih dan memesan makanan. Begitu pesanan tiba, wuaww… porsinya cukup untuk 2 orang. Baiklah, aku lapar.

Tidur pukul 3 dinihari, terbangun pukul 5 untuk pray fajr, dan prepare for first day training. Sepanjang hari itu cukup lelah dan mengantuk, meski seisi kelas kelihatannya memaklumi. I am sorry, brothers…but i am still sleepy… ~_~

Yah begitulah perjalanan kemarin. Diingat-ingat sedikit menyebalkan, dan terkadang membangkitkan rasa sedih ketika ingat kemarahan seseorang.
Tulisan yang tak lebih dari sekadar menginventarisasi ingatan. Mungkin suatu hari akan terasa konyolnya (well, udah habis sih diledekin bocah2 sepanjang training kemarin), mungkin juga bisa diambil pelajaran.

Setidaknya dalam perjalanan ke Malaysia itu.. aku berpikir kemudian. Terkadang kita perlu dipaksa untuk melakukan hal yang pertama sendirian. It’s not easy for me doing something new alone (seperti kejadian kemarin, misalnya). Dan sebelumnya cukup terkejut karena rencana berubah, 1 orang berangkat lebih dulu tanpa mengabari sebelumnya, dan kemarin tertinggal dari rombongan. Buat aku, tentu saja didampingi itu akan terasa lebih menyenangkan. Setidaknya kebutuhan rasa secure terpenuhi, dan aku akan merasa lebih tenang.

Tapi ya… barangkali memang keadaan perlu memaksa kita. Dan kemudian kita akan belajar. Mengamati situasi, mengendalikan diri, bersandar hanya pada Yang Maha. Selebihnya butuh pembiasaan. Seperti pak suami bilang, “kalau kamu bisa ke Malaysia sendirian, berarti next ke Eropa juga bisa sendirian ;)”. Hm.. we’ll see yaa.. Bersamamu pasti lebih baik laah.. #eaak

Udah ah.
-end

malming 08.10.2016, 21:25 wib.

 

 

 

Through The Rain


When you get caught in the rain with no where to run

When you’re distraught and in pain without anyone

When you keep crying out to be saved

But nobody comes and you feel so far away

That you just can’t find your way home

You can get there alone

It’s okay, what you say is



I can make it through the rain

I can stand up once again on my own

And I know that I’m strong enough to mend



And every time I feel afraid I hold tighter to my faith

And I live one more day and I make it through the rain

And if you keep falling down don’t you dare give in

You will arise safe and sound, so keep pressing on steadfastly

And you’ll find what you need to prevail

What you say is

I can make it through the rain

I can stand up once again on my own

And I know that I’m strong enough to mend

And every time I feel afraid I hold tighter to my faith

And I live one more day and I make it through the rain

And when the rain blows, as shadows grow close don’t be afraid

There’s nothing you can’t face

And should they tell you you’ll never pull through

Don’t hesitate, stand tall and say

I can make it through the rain

I can stand up once again on my own

And I know that I’m strong enough to mend

And every time I feel afraid I hold tighter to my faith

And I live one more day and I make it through the rain

I can make it through the rain

And I live once again

And I live one more day

And I can make it through the rain

(Yes you can)

You will make it through the rain

(Through The Rain – Mariah Carey)



—————————————————————————–



Sebenarnya udah lama tau lagu ini… Tapi akhir2 ini dengerin lagi. Dan baru mencerna liriknya, ternyata bagus!

hmmm….





gbr dari http://duajuta.com/category/keajaiban-al-quran/



Syahid



Bismillah…


Anda tahu raket listrik untuk mematikan nyamuk?

Lepas musim kemarau menuju penghujan, biasanya nyamuk-nyamuk bermunculan di rumah. Dulu saya mengusir nyamuk-nyamuk itu dengan sempyok, sebutan untuk sapu lidi yang agak ceper, yang biasa digunakan untuk membersihkan kasur. Belakangan ternyata lebih mantap dengan menggunakan raket listrik. Karena sekali kibas, biasanya nyamuk itu akan menyangkut di raket karena tersetrum.


Malam itu saya memperhatikan si nyamuk tersetrum sedemikian rupa.

Seluruh tubuhnya, dari kaki, sayap hingga badan, lumat dialiri listrik sampai benar-benar gosong. Lalu dengan serta-merta pikiran saya melanglang buana, berempati terhadap si nyamuk yang malang itu.



Bagaimana rasanya jika saya ada di posisi nyamuk tersebut?

Terjerat tak bisa lepas dari jaring raket yang besar, lalu tersetrum berulang kali sampai tubuh ini hangus menjadi rangka. Sempat suatu kali saya tersetrum raket itu sekilas, dan rasanya lumayan sakit.

Dan Anda tahu?

Saya sedang memikirkan daya listrik macam apa yang mungkin disediakan neraka di hari akhir nanti. Saya sedang memikirkan, mungkin seperti itu pula kondisi saya saat disiksa: tak bisa melarikan diri, meronta tapi percuma, dan sisanya hanya tinggal tulang-belulang atau mungkin debu beterbangan.

Di film Volcano, visualisasi saya tentang neraka jauh lebih tergambar. Camouran api dan batu yang dimuntahkan gunung berapi, niscaya mampu membuat rangkaian tubuh kita lumer dalam sekian puluh menit. Itu api dunia. Lalu bagaimana dengan api neraka?



Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi Saw bersabda,

“Sesungguhnya siksa dalam neraka Jahim ialah dituangkan air yang mendidih di atas kepala orang-orang yang durhaka itu, kemudian terus masuk ke dalam sehingga menembus ke dalam perut mereka, kemudian keluar segala isi yang ada dalam perut itu sehingga tampak meleleh dari kedua tapak kakinya. Ini semua cairan yang berasal dari isi perut. Selanjutnya dikembalikan lagi sebagaimana semula”.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan sahih.

Seringkali, dalam keseharian yang nampak sepele, saya membayangkan bagaimana nasib saya di akhirat kelak. Tidak usah jauh-jauh. Saat menuangkan air mendidih dari ketel ke termos, biasanya imajinasi saya langsung berlari kepada bayangan tentang neraka ketika melihat dan merasakan uap dari air di ketel yang sangat panas. Uapnya saja panas, sobat. Apalagi airnya! Dan itu baru dunia, bukan neraka!



Ketika bersinggungan dengan hal sepele macam itu, entah raket nyamuk, ataupun air mendidih, misalnya- hati saya selalu tergetar. Lalu pesimisme menyeruak tiba-tiba dan rasa takut mencuat tanpa diminta. Mengingat dosa saya yang banyaknya masya Allah, saya pesimis bisa langsung ke surga tanpa masuk neraka terlebih dahulu.

Betapa menjijikkannya saya ini…

Betapa tak terhitungnya kesalahan yang sudah saya perbuat… 😥



Saya tak merasa pantas membandingkan dengan titik-titik ekstrim lain, semisal masih ada pembunuh yang mungkin lebih berat daripada saya yang alhamdulillah belum pernah membunuh orang. Ini bukan soal perbandingan siapa yang lebih banyak dosanya. Tetapi saya sedang bicara tentang hukuman apa yang akan saya terima atas kesalahan-kesalahan yang saya anggap cukup besar bagi saya.



Bicara soal amal, benar bahwa kita mungkin juga melakukan kebaikan. Tapi yakinkah kita amal-amal itu dilakukan dengan benar dan ikhlash? Seberapa besar ia akan diterima? Seberapa banyak ia akan menjadi pemberat timbangan ?



Maka saya –selain memohon ampunan dan masih jua berharap pada kemurahan-Nya- berharap pada jalan lain yang bisa meloloskan saya dari siksa akhirat itu.



Jawabannya hanya satu : syahid.

Ya, meninggal dalam keadaan syahid; ridha lagi diridhai.



Hati saya merinding acap teringat kata yang satu itu.

Betapa agungnya. Betapa bahagianya. Betapa mulianya.

Siapa yang tidak ingin menemui Robb-nya dengan jalan yang mulus, dengan lapang dan gembira ria, diliputi sukacita dan haru-biru menyongsong surga?



Tapi… saya… pantaskah?


Untuk menjadi syahid, ada beberapa kemungkinan.

“Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid (anaknya yang akan menariknya dengan tali pusarnya kesurga)” (HR. Ahmad, Darimi, dan ath-Thayalusi).

 
Dari Jabir bin Atik dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda: 
“Syuhada itu ada tujuh selain orang yang gugur berperang fi sabilillah ( di jalan
Allah) yaitu: [1] Orang yang mati ditusuk adalah syahid, [2] mati tenggelam
adalah syahid, [3] mati berkumpul dengan istri adalah syahid, [4] mati
sakit perut adalah syahid, [5] mati terbakar adalah syahid, [6] mati tertimpa
reruntuhan adalah syahid dan [7] wanita yang mati melahirkan anak adalah
syahid”. 
[Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, dan Hakim dalam kitab Mustadraknya dengan
komentar hadits ini sanadnya shahih. Pendapat ini di setujui oleh Adh-Dhahabi]


Tak terbayang di benak saya seperti apa ketika berhadapan dengan musuh Allah, langsung wajah dengan wajah! Indonesia rupanya cukup memberikan zona nyaman yang membuat saya bahkan tak mampu merasakan hawa medan perang yang membuat mata dan hati terjaga senantiasa, insecurity yang mengharuskan kita tegang setiap saat, dan semacamnya. Walau Palestina cukup konkrit menggambarkan situasi perang, tetapi saya masih belum bisa membayangkan berada dalam suasana itu.


Begitu juga dengan wabah penyakit, kolera, dsb. Saya pikir itu musibah, sesuatu yang menimpa. Terlalu naïf rasanya jika meminta musibah. Apalagi disongsong, disambut dengan

riang-gembira. Kesempatan ini bagi saya juga lumayan kecil peluangnya.


Satu hal yang merupakan peluang besar yang bisa saya ambil adalah… meninggal saat bersalin dan melahirkan anak.


Sungguh, saya tidak tahu lagi dengan cara apa bisa terhindar dari amuk dan dahsyatnya siksa neraka atas dosa-dosa saya, jika tidak dengan mati syahid.

Bolehkah saya berharap?


Oh, rindu itu demikian menggelegak di dalam sini!

Untuk Robb-ku, apapun akan kulakukan!


Jadi bolehkah saya bersiap?

Jika benar terjadi, niscaya akan saya dorong suami saya kelak untuk mencari ibu pengganti bagi anak-anak kami.

Didiklah anak itu dengan cinta, Suamiku. Jadikan ia himpunan keshalihan yang akan menghantarkan doa agar aku dan dirimu meninggi derajatnya di hadapan Pencipta kita. Jadikan mereka benih yang akan menyuburkan bumi Allah ini, dan tumbuh-kembangkan mereka sebagai pembela-pembela agama-Nya…


Ya.

Saya tidak tahu lagi dengan jalan apa.

Tapi sungguh…

Saya juga ingin menyongsong kemuliaan sebagai penutup kehidupan saya di dunia yang fana ini… dan mungkin, meninggal saat memperjuangkan kelahiran buah hati adalah momentum serta kesempatan yang bisa saya raih!


Ya Allah, Engkau tahu luapan rindu di dalam sini…

Engkau tahu bagaimana harap dan cemas atas dosa dan amal selama ini…

Maka perkenankanlah… matikanlah kami dalam syahid… dalam keadaan ridha pada-Mu… dan Engkau pun meridhai kami. Aamiin…




Thursday, 09.10.08, 12:16pm

pics from:

en.wikibooks.org/wiki/Wikijunior:Colors/White

blog.licasdigital.com/industry/index.html

www.dreamstime.com/sky-sun-clouds-image150907

http://beautyofhisholiness.homestead.com/JehovahShamma.html

thx a lot. maaf ndak ijin

Sayap Yang Tak Pernah Patah

Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang mem

buat mereka ‘majnun’, lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu di sana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:

O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati.

Mari kita ikut berbela sungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain,” kata Rumi, “sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.” Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu kita pada posisi kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini kita justru melakukan pekerjaan besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang terjadi sesungguhnya hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: “apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi, kita hanyalah patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan.

Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.

(Anis Matta)

~lemahKarenaPosisiJiwaKitaYangSalah…

Friday, 03.10.08; 02:17pm

http://www.bbvancouverisland-bc.com/gallery/photos-ocean-view.html

http://www.artistwithlight.com/files/archive-jan-2008.html

http://www.oreillys.com.au/discovery-program/bird-watching/

Pada-Mu Kubersujud

Ku menatap dalam kelam
Tiada yang bisa ku lihat
Selain hanya nama-Mu Ya Allah

Esok ataukah nanti
Ampuni semua salahku
Lindungi aku dari segala fitnah

Kau tempatku meminta
Kau beriku bahagia
Jadikan aku selamanya
Hamba-Mu yang slalu bertakwa

Ampuniku Ya Allah
Yang sering melupakan-Mu
Saat Kau limpahkan karunia-Mu
Dalam sunyi aku bersujud

(Pada-Mu Kubersujud – Afghan)

-h25ramadhan1429H
“allahumma innaka ‘afuwwun Kariim, tuhibbul ‘afwa fa’fuanni…”

pic from http://www.nwce.gov.uk/bank_images/star_night.jpg

Enjoying the Process


bismillah…

Aku tidak mendapatkan apa-apa malam ini secara riil.
Kondisi fisik justru diharapkan bisa terus fit. Walau jam tidur berkurang, agak lemas seharian, mata hitam berkantung, ongkos entah habis beberapa puluh ribu, pulsa, tenaga, semuanya… tapi alhamdulillah, terasa sekali jiwa ini memiliki energinya sendiri. Energi yang dihasilkan dari ketawakkalan atas takdir Allah: bahwasanya tugas kita hanyalah berusaha. Lalu selesai.

Tiga malam ini sujudku basah. Dan mungkin berhari-hari kedepan.
Deadline! Deadline! Deadline!
Bisakah? Bagaimana?
Entah kekuatan apalagi yang bisa diharapkan dari ringkih dan lemahnya seluruh susunan kemanusiaanku : jasad, jiwa, dan begitu pula hati. Segala ketidakmungkinan sudah terbayang-bayang, melukis sketsa pesimisme dan kegagalan.

Dan memang tidak ada yang bisa diharapkan lagi kecuali harapan itu sendiri.
Setidaknya aku masih bisa berharap, masih bisa meminta.
Fakir, Ya Allah… status apalagi yang lebih hina dari hamba yang benar-benar hina?

Malam ini aku tidak mendapatkan apa-apa secara nyata.
Lelah, kantuk, perasaan ingin berhenti, pasrah, menyerah…
Sesekali terselip cemas, tapi segera teringat bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini jika Ia berkehendak. Uniknya, momentum dengan nuansa seperti ini aku dapatkan dalam ‘proses-proses dunia’, sesuatu yang mungkin menurut kacamata kebanyakan kita terlihat di permukaannya semata. Dan entahlah, belum kutemukan ada peristiwa-peristiwa serupa di tempat lainnya. Bahwa aku merasakan senyata-nyatanya jatuh dan bangun, seburuk-buruknya penghinaan dan keterhinaan, seyakin-yakinnya pada segala firman, disini, baru disini. Bahwa aku berjuang, bersusah-payah, mungkin pula berdarah-darah, agaknya menjadi kecil dalam pandangan manusia. Well, pentingkah?

Hanya saat skripsi dan saat ini, dalam kekhawatiran yang nyaris sama, dalam ketakutan yang mematikan, dan tentu saja, dalam rasa tawakkal yang teramat dalam. Tapi energi itu ada dalam proses, ada dalam pergerakan. Ada azzam yang menghentak-hentak kuat. Ada gelora yang menunggu diluapkan. Menunggu diledakkan.

Dan aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Tidak ada yang lain. Bahwasanya kemudian hasil tak seperti yang dikira, adalah hak prerogatif Sang Maha Berkehendak atas segala kemauan-Nya. Tidak ada sedikitpun ikhtiar yang sia-sia.

Ya. Malam ini aku tidak mendapatkan apa-apa secara nyata.
Tapi kuatku semakin memperoleh ruhnya, karena menjalani proses adalah tugas utama yang cukup dilakukan saja. Apapun tebusannya.

note:
Dear Fit: seperti kata2mu, “cukuplah Allah, Rasul dan para mujahid yang menyaksikan perjuanganmu, In!”
Terima kasih atas segala kesertaan penuhmu dalam jihad kita.
Takkan bosan kupintakan kekuatan, kemudahan dan kemenangan dari-Nya..

~jelang24Agustus,untukIndonesia,untukBerjutaCita
Thursday, 21.08.08, 01:17 am.

pic from http://lisasantiagallery.com/displayimage.php?album=15&pos=42
maaf tidak ijin..

Tentang Kuliah S2 (lagi-lagi…)

Bismillah.


Perbincangan saya dengan seorang teman di seberang sana yang tengah melanjutkan studi S2-nya, lagi-lagi menggelitik saya untuk memikirkan kembali isu ini. Niat saya yang timbul-tenggelam sementara waktu karena kesibukan bekerja, kembali tersulut. Kerinduan saya akan bangku kuliah dan dunia akademis memang tak pernah padam, hanya saja mungkin sedikit meredup mengingat ada hal lain yang tengah saya prioritaskan saat ini.

Saya belum tahu kapan akan kembali menekuri kampus dan segala dinamikanya. Yang pasti, begitu saya teringat akan rencana ini, satu-satunya yang memancing kehati-hatian saya adalah alasan di balik itu semua. Bagi saya, jika melanjutkan S2/profesi ‘hanya sekedar’ agar bisa diterima bekerja di perusahaan bonafit dengan posisi lumayan bagus, kok sayang sekali ya. Walau sepengamatan saya, cukup banyak orang dengan niatan seperti itu –yang tentu saja tidak bisa saya salahkan-. Pencarian ilmu dalam pandangan saya bukanlah sekedar untuk mengejar posisi, gaji tinggi, pekerjaan bonafid dan seterusnya. Tetapi lebih daripada itu, saya sudah jauh-jauh hari semenjak kelulusan S1, memikirkan hal mendasar yang mendorong saya jika di kemudian hari saya meneruskan kuliah ke jenjang S2. Benar, ini soal visi dan misi apa yang akan saya bawa ketika saya bergelar “psikolog” nantinya.

Tak lama setelah saya lulus S1, saya mengobrol ringan dengan 5 orang teman yang kebetulan sedang menjalani studi S2-profesinya. Pertanyaan saya singkat sekali.
“Punya visi apa setelah nanti jadi psikolog?”
Atau, “Habis lulus profesi mau ngapain?”
Dan mengejutkannya, 3 dari 5 rekan saya ini menjawab dengan begitu ‘ngawang-ngawang’-nya.
“Mmm…belum tau,”
“Apa ya, Ndra? Jujur gw belum kepikiran tuh, ngejalanin aja sih…”
“Duh, gak tau deh. Mikirin yang di depan mata aja sekarang. Tugas-tugas nih numpuk banget!”

Selebihnya, 2 orang yang lain, lumayan memiliki pandangan jauh ke depan.
“Mau bikin lembaga pendidikan, atau sekolah yang bagus,”
“Mmmm… belum tau juga. Tapi mungkin akan seperti Mba “X” (psikolog di kampus –red), jadi family-terapist,”

Mungkin saya sedikit perfeksionis. Menjalani sesuatu tanpa menyadari hakikat “buat apa saya melakukan hal tertentu”, adalah hal yang cukup mengganggu. Implikasinya jelas, jika tidak ada niat sungguh-sungguh di balik itu, ketika kebosanan atau kesulitan menghadang, pasti kita akan mudah jatuh. Lebih dari itu, adalah kesia-siaan ketika kita menjalani sesuatu tanpa ruh, tanpa hal yang menjiwai mengapa kita harus melakukan itu, mengapa kita harus berada disana, dst.

Mungkin ada juga beberapa orang yang menemukan hakikat sembari menjalaninya. Well, tidak salah juga. Tapi sekali lagi, saya hanya ingin memastikan bahwa saya menjalani semua dengan penuh kesungguhan, dengan penuh visi yang akan membuat saya yakin bahwa apa yang saya lakukan akan bermanfaat sebesar-besarnya. Bukankah para pemain bola selalu berusaha mengarahkan bola mereka ke gawang?

Sehingga, pertanyaan-pertanyaan inilah yang barangkali harus saya buat jawabnya se-SMART* mungkin. Buat apa saya menjadi psikolog? Apa yang akan saya lakukan jika saya sudah bergelar psikolog? Sekedar prestise sajakah? Tampak keren dan wah di mata orang? Atau apa?

Benturan saya rasakan ketika saya suatu hari secara tidak sengaja bertemu dengan dua orang ibu rumah tangga bermasalah. Yang satu, rumah tangganya kurang harmonis, sementara yang satu lagi, anaknya bermasalah. Apa yang bisa saya jawab ketika si wanita paruh baya itu mencurahkan isi hatinya tentang sang suami yang dingin dan tak pernah menjalin komunikasi yang baik? Apa yang bisa saya sarankan ketika ibu yang satu lagi membutuhkan saran mengenai anaknya yang depresi karena suatu hal?

Kening saya pun berkerut, mengindikasikan kognisi yang sibuk mencari jalan. Minimal ada hal yang bisa saya berikan terhadap mereka; entah saran, masukan, apapun itu. Tapi saya gagap, dan menjawab dengan asumsi-asumsi ditambah bumbu pengalaman yang minim sekali. Dan saya merasa bersalah sekali tidak bisa membantu dengan optimal karena bekal yang kurang.

Disitulah gap itu terasa.
Ada ekspektasi yang besar ketika orang tahu bahwa saya sudah belajar psikologi, walau baru bergelar S.Psi alias sarjana psikologi. Padahal harapan itu tak sebanding dengan kapasitas yang saya punya. Tapi lagi-lagi, apa iya harus dengan menempuh profesi dan menjadi psikolog dulu?

Untuk pertanyaan terakhir, saya berkaca pada rekan senior saya. Berlatar belakang sarjana pendidikan dan master di bidang sastra inggris (catat : bukan psikologi), beliau sering sekali ‘menerima klien’ untuk dimintai nasihat dan saran. Sejumlah pasangan nyaris cerai datang kepada beliau dan berkonsultasi, dan hasilnya, alhamdulillah mereka rukun kembali dan mengurungkan niat untuk berpisah.

Rahasia beliau, ‘hanya’ rajin membaca literatur psikologi populer, mengikuti sekian banyak seminar pengembangan diri di dalam dan luar negeri, dan dengan sendirinya menjadi manfaat begitu banyak.
Jadi, apakah harus menjadi psikolog? 🙂

Dunia nyata pasca kampus menggiring saya bertemu dengan begitu banyak fragmen kehidupan. Dan semakin saya berhadapan dengannya, semakin saya merasa begitu minim bekal yang saya punya. Bagaimana bisa kita berhadapan dengan seorang anak depresi sementara kita tidak tahu cara menanganinya? Bagaimana bisa kita menjiwai permasalahan rumah tangga, sementara pengalaman belum ada, dan secara keilmuan juga tak seberapa? Bagaimana kita dapat menangani korban-korban pasca trauma, entah karena musibah bencana, atau kekerasan yang menimpa, dengan ilmu yang alakadarnya dan hanya sekedar mencoba-coba tanpa metodologi yang baik dan kemampuan analisa-saran rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan?

Kesenjangan itu, yang saya harap bisa saya reduksi ketika saya sudah diberi anugerah mencicip pembelaran di jenjang S-2 profesi psikologi. Menjadi manfaat adalah kenikmatan tak terhingga yang bukan lagi sekedar pemuasan kebahagiaan batiniah semata, tetapi juga asset untuk berjumpa dengan-Nya di akhir masa. Mungkin belum saatnya saja kesempatan itu datang sekarang. Dan seperti keajaiban, Mario Teguh menanggapi perasaan saya di televisi semalam. Ujar beliau, tidak mungkin kita naik tangga dan sekaligus juga maju ke depan. Meraih posisi tinggi dan berjalan maju adalah hal yang aneh, kecuali melakukan salah satunya saja.
Mungkin saja yang harus saya lakukan sekarang ini adalah melakukan gerak horizontal –bukan vertikal- yaitu dengan memperkaya pengalaman, memperbanyak kenalan serta memperluas relasi dan jaringan. Dan syukurnya, di LSM tempat saya bekerja sekarang, pengalaman dan jaringan merupakan suatu keniscayaan 🙂

Saya percaya, akan ada waktu yang tepat nantinya jika saya harus belajar lagi di S2. Sebagaimana hal lainnya, selalu ada waktu terbaik dimana kita layak berada disana.
Lagi-lagi Allah memberi saya hikmah itu : saya mendapat apa yang saat ini saya butuhkan, dan bukan apa yang saya inginkan 🙂

By the way, doakan saja semoga rizqinya dimudahkan ya 🙂

Friday, July 04, 2008. 2:23pm.
~belumSaatnyaMenikmatiZonaNyaman…

*SMART = specific, measurable, attainable, realistic, time limit. Ini adalah panduan membuat goal/target yang biasa dipakai dalam ilmu manajemen/psikologi.

gbr dari taufik79.wordpress.com/2008/05/
dan
http://zulfikri.wordpress.com/2007/06/11/peran-atap-dalam-arsitektur-sebagai-simbol-martabat-bangunan/
sudah ijiin! makasih banyak..