Tentang Menikah

Bismillah…

Sebenarnya saya males ngomongin isu ini.
Selain tidak banyak menguasai konsepnya, saya juga belum pengalaman. Beda halnya jika saya minimal sudah menerapkan, yang jelas gak terkesan sotoy ataupun teoritis belaka. Tapi sepertinya ide ini harus saya share deh.. jadi saya tetep nulis aja.

Yap, saya mau ngomongin soal pernikahan.
Di usia rawan nikah seperti sekarang ini, rasa-rasanya membicarakan hal ini bukan aib juga. Toh secara psikologis, ‘tugas’ kita memang sudah seharusnya seperti itu. Dalam usia 20-30an, menikah, berkeluarga dan memikirkan kemantapan karier adalah hal lumrah yang dalam bahasa psikologi perkembangan, menjadi tugas yang sepantasnya diselesaikan.

Kalau kita bicara soal calon yang akan kita pilih, pasti udah banyak yang hafal hadits nabi saw yang bilang,
“Wanita dini
kahi karena empat perkara: karena kehormatannya, hartanya, kecantikannya, dan agamanya, maka pilihlah yang mempunyai agama niscaya kamu akan bahagia.”
(HR. Al Bukhari).
Jadi, tentu saja parameter kriteria kita sebaiknya mengacu pada hal di atas.

Tapi fakta ternyata tidak semudah bayangan kita.
Kalau kita memilih calon pendamping yang baik agamanya, parameternya apa?
Ibadahnya yang rajinkah?
Ini perlu di-break down lagi. Apakah shalatnya yang kenceng, atau tahajjudnya yang tidak pernah terlewat, atau tilawah Qur’annya yang berjuz-juz dalam satu hari, puasa sunnahnya yang tak pernah putus, hafalan Qur’an yang berjubel, dsb.

Nah, kalau sudah ketemu dengan orang yang seperti itu, pasti keren donk..
Hmm… sekilas, iya. Tapi bentar dulu. Disini ini nih rahasia yang mau saya bagi.

Dalam perbincangan di YM beberapa waktu lalu, ternyata, seorang teman saya bercerita bahwa pengalamannya membuktikan bahwa tidak semua yang ibadahnya baik itu bisa diandalkan.
Nah lho… gimana nih?

Sederhana sih, taruh aja contoh banyaknya orang sholat yang masih mencuri.
Jadi, kalau konteksnya pernikahan, gak semua yang ibadahnya baik, keluarganya juga berhasil.

Ini kata temen saya lho.
Dia bilang, dia menemukan fakta bahwa pernikahan seseorang yang ibadahnya rajin, ternyata kandas di tengah jalan. Ternyata si suami yang rajin ibadah ini kurang bertanggung jawab terhadap anak istrinya. Pengangguran pemalas, ujar rekan saya itu. Akhirnya berujung pada perceraian deh. Mengenaskan ya…

Waktu ngobrol sama temen saya ini, saya sampe berujar… “Masa sih… Masa sih…” berkali-kali.
“Wallahi, Ndra…” (nah, sampai bersumpah dengan nama Allah segala dia…)
“Sholat gak jamin. Ngaji gak jamin. Ibadah gak jamin!” tegas beliau.
Saya yang belum pengalaman ini akhirnya mikir. Ohh, begitu ya.

Jadi, gimana donk kita menentukan calon yang benar-benar tepat buat kita, kalau ternyata parameter ibadah tidak menjamin?

“Kuncinya…” lanjut teman saya ini, “cuma kedekatan kita dengan Allah. Biasanya kita akan diberi mata hati yang jernih ketika kita dekat dengan Allah. Disitu kita bisa melihat lebih dalam dan memutuskan, apakah orang yang mau kita nikahi/mau menikahi kita benar-benar ‘baik’/tidak untuk kita jadikan pasangan hidup”.

Nah, dalem banget kan..

Tidak usah dipungkiri, kadang kita suka terpukau dengan si anu yang ibadahnya rajin.
Atau si itu yang anak orang kaya.
Atau si dia yang tampangnya keren, cantik, ganteng, dsb.
Atau si ini yang kepribadiannya menarik, dan kayaknya pantes deh jadi ibu/ayah dari anak-anak kita kelak.

Keinginan-keinginan itu manusiawi sekali, menurut saya. Bagaimanapun sebagai manusia, tentu saja hati ini punya kecenderungan pada yang secara kasat mata dianggap baik. Tapi ya itu tadi, saya jadi disadarkan sama nasihat rekan saya itu, bahwa… PUN, ibadah saja tidak menjamin kebaikan yang ada pada seseorang.


So, kiranya memang perlu kita luruskan niat lagi, bahwa menikah itu untuk mencari keridhoan-Nya semata. Dan tentu saja, berhubung ini adalah isu yang sangat krusial dan keputusannya akan berpengaruh seumur hidup dunia-akhirat, adalah terlalu angkuh untuk kita putuskan hanya dengan mengikuti keinginan sendiri, tanpa campur tangan Yang Maha Tahu segala yang terbaik bagi kita. Campur tangan itu, insya Allah akan kita dapatkan dari mata hati yang jernih, yang telah dipengaruhi oleh kedekatan kita dengan-Nya.

Hmm… jadi ngaca deh saya.

~nampolBangettt..makasihYa,Adzan…
Sun, 14.09.08, 02:59pm

Advertisements