Mencari Cahaya

light

“Where there is a will, there is a way…”

Bismillah.

Desperate-nya saya, ketika dalam kebingungan, kemudian tidak menemukan cahaya yang diharapkan. Mungkin belum. Mungkin akan.

Mungkin men-‘syukuri saja dulu’ prosesnya akan meringankan hati. Menyemangati langkah. Menjawab gelisah. Dan,  well.. meski tak mudah, nyatanya –segala puji hanya bagi Allah-, Ia melapangkan hati yang gundah. Menjernihkan akal untuk mencari solusinya. Menemukan jawabnya.

Dan bukankah memang tugas kita hanyalah berjalan, sembari berharap langkah ini dinaungi oleh bimbingan? Mahabesar Engkau Ya Allah, sungguh tiada yang sia-sia dalam setiap jengkal takdir dan peristiwa.

***

Menjalani proses menjadi orangtua, yang mensyaratkan menjadi pribadi yang lebih baik tentunya, memaksa saya haus mencari panduan. Alhamdulillah Allah takdirkan saya belajar psikologi. Kemudian gelisah. Kemudian panik. Dan terengah-engah mencari ‘jalan pulang’.

“Syukuri gelisahmu”, ujar seorang guru. “sebab gelisah tanda berpikir”.

Dan Allah-lah sebaik-baik pembimbing, pemberi hidayah.

Allah pertemukan saya dengan guru-guru, juga teman-teman yang membantu sekali proses pulang ini. Saya sebut ‘pulang’ karena sepertinya kemarin-kemarin saya sedikit-banyak tersesat. Kehilangan peta. Kehilangan arah. Fatalnya, saya sebut si lampu kota seperti matahari. Padahal jelas-jelas ia tak miliki cahayanya sendiri.

Maka saya pun mencari cahaya yang lebih abadi. Menentramkan, tentu saja. Karena kita tahu, kebenaran –yang tiada lagi keraguan sedikitpun di dalamnya- menjadi landasannya. Keteladanan Rasul sudah membuktikannya. Apalagi yang mesti diragukan jika Sang Maha-Expert sendiri yang menurunkan teorinya, lalu ada manusia terbaik yang mengujinya lewat pengalaman nyata? Riset dan uji validitas lain –secanggih apapun ia- saya rasa belum bisa menjadi pembandingnya.

Sayang-disayang, mencari cahaya abadi memerlukan alatnya sendiri.

“Dari mana saya harus belajar, ustadz?”

“Qur’an. Hadits. Siroh Nabi. Siroh sahabat.”

“dan…?”

“Fulan. Fulan. Fulan. Ada kajian dan literaturnya”

“Bahasa pengantarnya?”

“Arab.”

Argh… Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Kamu tersesat di padang sahara. Lalu mencari jalan. Kehausan. Menemukan mata air. Tapi airnya belum terjangkau.

Sementara waktu terus berjalan. Hari menggelap. Tak bisa dihentikan! Tak bisa ditahan!

Solusi solusi solusi.

Ia terkadang datang dari orang lain saat kita stuck dalam kondisi. Dan benar.

Di tengah perjalanan seorang sahabat lewat. Ia fasih. Dan ia mau membantu!

Meski belum terlihat benar gelas dengan air di genggaman, tapi setidaknya, keyakinan menguat bersama ikhtiar yang dibukakan jalan. Sesiapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan.

Tinggal kemudian..
Menguatkan hati. Melapangkan dada. Menjalani prosesnya bersama pahit-getir belajar. Belajar adabnya. Belajar ilmunya. Belajar amalnya. Belajar membagikannya.

“…barangsiapa yang tidak bersabar atas pahit dan kerasnya menuntut ilmu, maka bersiaplah untuk menyandang kebodohan seumur hidup.” (Imam Syafi’i)

Hey, cahaya! Aku menujumu!

 

Ya Allah, terus bimbing kami.
Cimanggis, 24.03.2017, 01:18 wib

***

Note : To do : Belajar bahasa arab. Tafsir Qur’an. Siroh nabi dan sahabat. Ilmu jiwa islam. Cari ahli, talaqqi,  korespondensi, minta ilmu. Yeayy semangatt!

gambar dari sini

Advertisements

Parenting Nabi, Parenting Kekinian

follow muhammad never misguided

 

Dalam berbagai forum, saya mengamati antusiasme orangtua tentang pendidikan anak mereka. Betapa mereka ingin sekali mendidik dengan sebaik-baik pendidikan, dan karenanya mereka tak lelah mencari ilmu, bertanya, berdiskusi, juga bertukar pikiran. Support group berbentuk forum-forum yang bertebaran di dunia maya setidaknya membantu mereka merasa tak sendiri. Minimal begitu. Karena mendidik anak tak melulu beratmosfer rasa happy. Ada kejenuhan disana, mungkin juga kekesalan, kelelahan, dan bertumpuk emosi negatif.

Manusia. Wajarlah jika demikian. Yang menjadi tantangan kemudian adalah bagaimana menjaga emosi positif dan ilmu itu terus ada. Juga bagaimana kita sebagai sesama bisa saling menyemangati satu sama lain.

Kabar baiknya, akses terhadap illmu mendidik anak sekarang kian terbuka lebar. Keran-keran informasi menjadi tanpa batas dengan berkembangnya teknologi. Meski, di sisi lain, kita perlu memiliki saringan yang mumpuni untuk segala macam info tersebut: karena info sampah dan info yang bernas seringkali tertabur bercampur-baur.

Saya termasuk penikmat ilmu parenting dimana-mana. Meski pasti masih sangat terbatas, setidaknya saya jadi terpaksa belajar ketika harus berbagi pada orangtua yang lain dalam forum seminar atau sharing parenting. Berbagi dengan ‘teko’ kosong tentu tak mungkin, maka saya harus mengisinya terlebih dulu agar penuh, dan dengan begitu saya bisa menuangkannya pada gelas-gelas di sekeliling.

Tapi jujur, saya tak pernah menemukan ilmu sepuas setahun terakhir ini, setelah sedikit mendalami bagaimana Nabi mendidik generasi. Belum puas sebenarnya, karena semakin belajar, semakin saya merasa bodoh serta kecil. Dan tentu masih jauh sekali pemahaman saya mengenai ini, dibandingkan orangtua-orangtua lain yang sudah lebih dulu mendalaminya. Atau guru-guru saya -rahimakumullah- yang bersibuk mempelajari sekian banyak literatur demi mendapatkan ilmu yang shahih lagi teruji.

Tidak banyak penelitian. Mungkin juga belum terbukti dalam lab-lab observasi. Tapi sejarah senantiasa bertutur dengan jujur mengenai dirinya, dan ia hanya menunjukkan pembuktian. Kita bisa berkata bahwa zaman pasti berbeda. Tapi sesiapa yang yakin, hanya perlu percaya.

Iman ini -sesuatu yang naudzubillah semakin menipis dalam diri kita- hanya menuntut kita untuk percaya. Bagaimana bisa?

Saya tidak tahu dengan Anda. Tapi saya hanya ingin bilang, saya mencintai Nabi saya. Nabi kita. Muhammad bin Abdullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin belum cukup bukti cinta saya. Mungkin juga hanya sebatas penghias bibir, atau juga retorika dalam tulisan ini. Tapi saya sungguh ingin berjumpa dengan beliau, sekedar menatapnya saja agar ia tahu bahwa disini ada cinta. Bahwa dalam hidup ini, saya berusaha mengikutinya. Bukankah jika kita cinta, kita akan turuti dan berusaha penuhi segala kemauan orang yang kita cinta?

Begitulah. Persinggungan dengan pendidikan anak ala Nabi membimbing saya untuk banyak menggali lagi. Lebih tepatnya menampar saya dan mempertanyakan : kemana saja kamu selama ini? Jangan-jangan ilmu yang saya pernah bagi malah tak tepat, naudzubillah bertolak belakang dengan ajaran Rasulullah.

Ilmu, ilmu dan ilmu.

Sudahkah kita mengilmui bagaimana Nabi berinteraksi dengan anak-anak di usia dini? Juga bagaimana bentuk kurikulum untuk usia sebelum baligh dan sesudahnya? Remaja, mengapa tak ada dalam kamus parenting islam? Hukuman, mengapa ia diijinkan untuk dikenakan pada anak? Pada kesalahan yang bagaimana dan sebesar nan segenting apa?

Kita bisa berkata bahwa jaman telah berubah. Dan perubahan adalah niscaya, keluwesan mengikuti gelombang hidup dan menari di atasnya -bukan terbawa arus olehnya- bisa jadi mutlak pula. Namun poin saya bukan luwes-tidaknya kita mengikuti perkembangan ilmu atau jaman yang kian ganas ini.

Tetapi, lagi-lagi, saya akan bertanya (lebih untuk diri sendiri) : bukankah kita cinta pada Rasulullah yang mulia? Maka mengapa kita tak belajar pertama kali dari diri beliau?

Mengapa yang kita buka bukan lembar-lembar sejarahnya, bukan tentang bagaimana beliau menegur anak, mengapresiasinya, menemani mereka bermain, memerintahkan untuk shalat, mengajaknya berdialog laksana teman sebaya, menegur dengan tepat dll?

Mengapa bukan literatur Islam, bukan literatur Nabi, yang kita jadikan referensi dan rujukan pertama dan utama dalam mengemban tugas mulia mendidik anak-anak kita?

Jangan pernah mengulang kesalahan saya.

Percayalah, yang terjadi di forum-forum adalah pertanyaan serupa meski redaksionalnya tak sama, sejenis meski tampak berbeda. Dan jawaban yang diharapkan adalah “tips-tips”, “trik-trik”, dan lain sebagainya, yang semakin konkrit-operasional akan semakin disukai.

Tahukah Anda bahwa tips yang satu tak selalu bisa cocok untuk kita terapkan di keluarga kita? Dan sadarkah kita bahwa anak-anak adalah manusia -sekelumit makhluk dinamis yang seringkali bersikap dan berperilaku sesuka hati mereka- dan antara anak yang satu dengan anak yang lain demikian unik serta berbeda?

Yap. Treatment A tak selalu membuahkan respon B. Begitu pula trik C tak selalu menghasilkan perilaku D. Sayangnya kita, khususnya saya, lebih suka mendapatkan jawaban instan lagi cepat. Browsing-lah dan cari artikel-artikel parenting kebanyakan. Biasanya yang disukai adalah yang sangat teknis, yang konkrit menggambarkan bagaimana orangtua menghargai anak, bagaimana memuji, bagaimana berkomunikasi dengan mereka agar didengar, agar mereka menurut, patuh dan sebagainya.

Apakah salah?

Tidak. Saya tidak katakan itu semua salah. Saya malah justru terbantu sekali mendapatkan referensi jawaban saat teman-teman bertanya dalam forum diskusi. Juga saat saya mendidik buah hati di rumah yang beragam polahnya.

Tetapi, wahai, orangtua akhir jaman, wahai diriku yang bercita ingin melahirkan anak-anak penghuni surga, surga mana yang ingin engkau capai? Jalan apa yang sedang engkau tempuh? Cara siapa yang engkau ikuti sesungguhnya?

Mempelajari parenting Nabi membuka mata saya bahwa Nabi juga mengajarkan tips dan trik yang sangat operasional. Adab makan adalah duduk dengan tenang, mengucapkan doa, mengambil makanan yang paling dekat, makan dengan tangan kanan, dan bersyukur dengan apa yang tersuguh di meja.

“Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Thabrani)

 

Tetapi jangan pula kecewa jika dalam banyak hal tak kita jumpai sumber-sumber yang merinci bagaimana Nabi bersikap. Keterbatasan dokumen dan juga literatur membuat kita kehilangan jejak sejarah. Setidaknya ada hikmah disini untuk memahami konsep besar dan hal-hal prinsip dari pola pendidikan Nabi pada anak, untuk selanjutnya kita berkreasi tanpa keluar dari koridor prinsip tersebut.

Kita tahu prinsip-prinsip dalam tata cara makan atau table manner ala Islam yang diatur dalam adabnya. Tapi tak ada rincian bagaimana membuat anak betah duduk dalam waktu lama. Maka tugas kitalah berkreativitas tentang itu. Ibu A mungkin akan menemani sambil duduk bercerita menjaga fokus si anak. Ibu B mungkin akan melucu di depan mereka. Ibu C akan mengawasi dengan tegas. Ibu D menjanjikan hadiah. Apa saja, sekreatif kita mencari apa yang paling cocok untuk kita dan anak-anak kita.

Kita paham koridor tentang tata cara mendidik anak dari Nabi. Panduannya yang terekam di hadits adalah mendoakan mereka, berlemah-lembut, membelai kepala, berlari bersama, mendidik dengan keras saat anak memakan yang haram, dan sebagainya. Maka disinilah kita dapat tarik garis merah itu : tidak ada amarah sama sekali kecuali  hanya ketegasan untuk zat halal-haram yang masuk ke tubuh, tidak ada bentakan, tidak ada pengabaian, menikmati kebersamaan dan terlibat bermain bersama anak, dan sebagainya.

Inilah Rasulullah yang kita cinta…

Semakin digali ajarannya, maka sungguh, akan kautemukan bahwa cintanya pada kita, melebihi cinta kita atas segala yang fana, bahkan cinta kita pada beliau. Semakin kita pelajari  bagaimana kesehariannya menjadi suami yang hebat serta ayah yang penyayang, maka akan semakin kita pastikan bahwa hanya dialah yang layak dijadikan rujukan. Family man telah ada sejak masa Lukman Al Hakim, nabiyullah Ibrahim a.s, serta tentu saja Muhammad saw. Fathering telah mereka contohkan sejak ratusan abad lalu, dan sekarang baru saja happening kembali. Cari, ajaran yang mana dan apa saja yang kita ingin gali. Maka akan kautemukan ribuan layer kisah abadi yang selalu tepat diaplikasi di segala tuntutan zaman.

Jadi, seberapa besar cinta di dalam sini untuk sang Nabi?

Seberapa ingin kita mengikuti dan mempelajari kembali apa yang telah diwarisi?

Saya memulainya sekarang, dan mengajak kita semua menjadikan parenting Nabi sebagai rujukan. Yang utama dan pertama.

Temani saya, dan kita bisa berjalan bersisian. Saling mengajari, saling mengingatkan, dan saling berjanjian untuk reuni kembali di surga Ar-Rahman, bersama segenap keluarga yang kita sayang.

Adakah yang ingin ikutan?

 

-o0o-

Rajab/02 Mei 2016
Di tengah gelisah atas fenomena keluarga islam

Nb : saya menjadi murid Akademi Keluarga angk. ke-3 dari Parenting Nabawiyah. Alhamdulillah, disiitu saya banyak belajar bagaimana Nabi mendidik putra-putrinya dan memberikan keteladanan yang tak akan pernah lekang. Selebihnya kita harus menjadi Ayah dan Ibu yang cerdas dengan banyak membaca dan berdiskusi dengan teman sevisi. Selamat belajar 🙂

Menyusun Kurikulum Anak Muslim Usia 0-6 Tahun

muslim-boy-reading-the-quran

 

Resume Kajian bersama Ust. Herfi Ghulam Faizi, Lc di Masjid Walikota Depok

 

QS At Tahrim ayat 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. 66:6)

 

Pendidikan anak dalam islam bukan sekedar mentransisi anak dari bodoh jadi pintar, tp proses menjaga anak dari api neraka. Perintah menjaga dr api neraka sama dengan perintak menegakkan sholat dan menunaikan zakat.

Rasulullah SAW menyebutkan ilustrasi manusia itu seperti bangunan. Mendidik anak sama seperti membangun, mulai dr membuat pondasi kemudian mulai bangun hingga ke atas. Kita akan membangun anak dengan nilai2 Islam, bukan hanya mendapat ilmu kemudian menerapkan. Jika demikian maka yang terjadi hanyalah menempelkan ilmu seperti kita menempelkan puzzle, bukan membangunnya dalam diri anak sebagai bagian dari kepribadiannya yang kokoh.

Rasul juga menggambarkan manusia (muslim) ibarat pohon yang baik. Sehingga saat mendidik atau membangun manusia ibarat pula membangun bangunan atau menumbuhkan pohon, memerlukan tahapan dan saling mengokohkan.  Maka kita perlu membangun anak dengan ilmu yang berkaitan dan saling mengokohkan.

Pembahasan mengenai kurikulum pendidikan anak ini dibagi menjadi per 3 tahun. Ini bukan hitungan quran dan sunnah, perkataan ulama dsb. Hanya saja ketika kita membuka Quran dan hadits, disana ada ayat yang berbicara tentang angka usia manusia.

Angka yang disebutkan dalam Quran adalah usia 40 tahun, di QS. Al Ahqaf. Disini Allah bicara tentang usia kematangan atas nikmat, bakti, amal soleh dsb.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (QS. Al Ahqaf 46:15)

Hamba yang soleh ketika sampai diusia 40 tahun membaca doa itu berdoa agar senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat, kematangan bakti pada orangtua Dan agar bisa beramal sholeh yang diridhoi Allah.

Sementara dalam hadits disebutkan usia anak2,

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun dan pukulah mereka jika tidak shalat saat berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidur.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud II/167)

 

Dari hadits ini dapat kita lihat bahwa kematangan anak  terdapat pada usia 10 tahun. Kegagalan mendidik anak untuk sholat di usia 7 th akan mengakibatkan anak sulit mendirikan sholat di usia 10 tahun.

Dari jarak 7 menuju 10 tahun, ada jarak 3 tahun. Maka rentang inilah yang ustadz Hergi gunakan sebagai acuan membuat kurikulum anak, yakni usia 0-3 tahun, 4-6 tahun,  7-9 tahun serta 10-12 tahun.

Pada setiap tahapan pertumbuhan anak yang akan dibahas adalah 3 hal berikut :

  1. Kebutuhan pokok yang paling dasar yang diperlukan oleh anak diusia tersebut
  2. Bahaya yang paling besar terjadi pada anak diusia tersebut (apa baha
  3. Nilai2 apa saja yang kita tanamkan pada anak ditahapan usianya Dan bagaimana cara menanamkannya

Keberhasilan pendidikan anak di usia 1-6 menjadi faktor keberhasilan pendidikan anak di usia 7-10 tahun, begitupun selanjutnya sesuai bertambahnya tahapan usia.

 

PENDIDIKAN ANAK DI 3 TAHUN PERTAMA (1-3 TAHUN)

Menurut ahli2 psikologi, usia 0-6 tahun ini disebut Golden Age. Tetapi ulama menyebutkan usia ini adalah Usia Fitrah. Apapun nilai yang bermanfaat di usia dewasa, menanamkannya di usia ini.

  1. Kebutuhan

Yang dibutuhkan anak di usia 0-3 tahun :

1) Makanan

2) Perhatian

 

Al Quran menyebut usia ini sebagai Rodho’ah (usia menyusui), yaitu dimana para wanita dianjurkan untuk menyusui. Dan menggenapkan susuan anaknya (jika tak ada halangan) selama 2 tahun bagi mereka yang ingin menyempurnakannya.

Masa ini harus dijalani, karena para ulama mengatakan bahwa amalan utama bagi seorang Ibu di 2 tahun pertama setelah melahirkan adalah Menyusui anak.

Ada ibadah mulia yang berkaitan dengan waktu. Misalkan jika adzan sholat Jumat sudah berkumandang, maka ibadah paling mulia adalah bersegera ke masjid. Siapapun yang sdg beraktivitas, beramal, membangun masjid dsb, maka wajib berhenti.

Ini adalah ibadah yang berkaitan dengan MOMENTUM.

 

Begitu juga ibadah para ibu, jika sudah tiba waktunya menyusui, maka yang utama baginya adalah menyusui. Hikmah dari masa nifas dan tidak boleh sholat adalah keadaan ibu setelah melahirkan yang harus FULL menyusui. Allah ijinkan wanita yang sedang nifas untuk meninggalkan sholat dan puasa, supaya Ibu meluangkan waktu secara intens dan maksimal bersama bayinya. Pada proses ini, ibu menjadi penting sekali dalam pengasuhan anak. Bahkan saat terjadi perceraian, hak asuh langsung jatuh kepada ibu.

Di masa 0-3 tahun ini seorang Ibu berperan lebih besar. Masa hadhonah (pengasuhan) ini adalah masa istimewa, yang jika Ibu tidak hadir mendampingi anak-anaknya, maka sungguh disayangkan.

Ada hasil penelitian di Suriah  diusia 1-6 tahun dimana ada :

  1. Kelompok 1 – anak dari kecil sampai 5 thn  diasuh oleh orangtua langsung , oleh ibunya
  2. Kelompok 2 – anak dimasukan di Yayasan pendidikan sosial  (sekolah, raudhatul athfal terbaik) anak berpisah dari ibunya di usia 2-5 jam perhari

Hasil penelitian menunjukkan anak2 yang diasuh langsung oleh Ibunya (meski ia tidak bisa membaca, menulis, tdk sekolah, dsb), memiliki ketenangan dan kematangan sikap, dibandingkan anak2 yang masuk ke lembaga pendidikan terbaik sekalipun.

Maka ini adalah usia yang MAHAL. Perhatikanlah, wahai Ibu…

 

☘ ASI

Tidak ada kekuatan yang menandingi kekuatan tubuh anak yang disusui ASI. Sesungguhnya ibu yang menyusui tidak hanya mentransfer air susunya, tetapi juga mentransfer nilai2, keyakinan dan apapun yang dimilikinya.

Itu sebabnya Allah menghibur Maryam di masa menyusui agar ia senang dan tidak bersedih.

Dr. Muhammad Khoir Asya’al mengatakan bahwa untuk anak di usia 3 tahun pertama, sangat tidak baik jika yang mengasuhnya berganti2 orang, misal pagi dengan neneknya, sore diasuh bibinya, besok dititip tetangga, dll.  Anak2 yang diasuh bergantian oleh nenek, pengasuh, tetangga, dsb akan menyebabkan anak kehilangan hubungan cinta dengan orangtuanya yang TIDAK BISA DITEBUS setelah usia itu lewat. Maka penting sekali agar anak diasuh langsung oleh ayah-ibunya.

Jika anak di masa besarnya cuek jika dipanggil, mendengar sekedarnya, tidak mau dinasehati. kurang ihtirom (hormat) pada ortunya, maka ada yang kurang teroptimalkan di usia dini mereka, yaitu kebutuhan akan perhatian.

 

☘ Fase Menyapih.

Yang berbahaya adalah sikap orangtua yang tidak tepat saat menyapih. Anak terpukul saat ibu menyapih mereka, jika tidak tepat cara menyapihnya. Bangunan yang sudah dibangun selama menyusui akan runtuh dan bisa muncul kebencian pada orang2 di sekitarnya jika di fase ini ia diolok-olok dsb.

Tidak bisa sehari-2 hari anak diproses menyapih. Agar anak tidak merasa terpukul saat disapih, maka dekapan, pelukan dan usapan sayang tetap diberikan saat mereka tidak menyusu lagi.

Penyapihan dengan ekstrim dan tdk berproses dapat berdampak buruk sekali untuk kejiwaan anak. Maka berhati2lah dan lakukan secara bertahap.

 

Di masa fitrah ini (0-6 tahun), apa saja yang kita tanam pasti tumbuh. Jika yang kita tanam adalah kebaikan, maka akan tumbuh kebaikan pd diri mereka. Begitu juga sebaliknya.

Ada 2 hal yang penting kita tanamkan di 3 tahun pertama :

  1. Cinta ➡ cinta dirinya, cinta orang2 di sekelilingnya
  2. Bahasa

 

❤ CINTA

Maksudnya adalah cinta kepada diri sendiri dan orang lain. Hal ini berkaitan dengan pola menyusui dan menyapih serta pola perhatian orgtua kepada anak.

Penelitian mengatakan bahwa orang2 yang berbuat kriminal di masa besarnya, disebabkan oleh masa kecil yang kekurangan cinta dan kasih sayang dari orangtuanya, baik itu secara terpaksa (meninggal) maupun tidak.

Anak 1 tahun belum bisa bicara dan mengerti apa yang kita ucapkan pada mereka, atau yang terjadi di sekelilingnya. Tapi anak akan merasakan ketenangan jika kita DUDUK di sampingnya.

Anak tidak paham diberi hadiah berharga murah atau mahal. Dia hanya paham bahwa orang yang cinta padanya adalah orang yang mau duduk di samping mereka. Dan jangan pernah membiarkan anak duduk sendirian di depan televisi, karena ini akan berkaitan dengan ancaman kematangan bahasa anak.

Bersamai anak, bermain, bercandalah dengan anak dan tertawalah bersamanya.

Hasan dan Husain bermain di pundak Rasulullah saw saat beliau sholat. Mereka memberantakkan shaf sholat dan dibiarkan menunggangi punggung Rasul saat beliau bersujud. Tidak ada sahabat yang menawarkan untuk mengasuh cucu Rasul sementara waktu, karena Rasul juga membiarkan mereka bermain bersama beliau. Doakan anak2 seperti Rasul juga berdoa, “Ya Allah aku mencintainya. Cintailah orang2 yang mencintai mereka.”

Telatenlah duduk bersama anak, setelaten kita memegang gadget.  Menanamkan cinta anak sangat sederhana : Bersamai saja mereka.

 

❤ PENDIDIKAN BAHASA

 

Imam Syafi’i lahir di Gaza dan di usia 2 tahun diajak Ibunya ke Makkah (beliau termasuk keturunan ahlul bait/keluarga Rasul). Sehingga ibunya ingin mendekatkan Syafii pada keluarga besarnya yakni kaum Quraisy. Ibu Syafii membawanya ke suku Hudzail yang merupakan suku terfasih di Arab hari itu.  Baru pada usia 6 tahun dibawa ke Madinah untuk belajar pada Imam Malik. Maka kita temui kefasihan Imam Syafii dalam ilmu dan keindahan penyampaiannya.

Karena keindahan bahasa, beliau berkata, “jika tidak banyak kebohongan dalam syair, pasti aku menjadi penyair besar”. Hal ini karena betapa iman syafii mencintai bahasa dan syair karena pendidikan awalnya di suku hudzail.

Rasul saw saat kecilnya tinggal di Bani Saad bersama Halimah Sa’diyah, belajar bahasa yang baik di sana. Sampai-sampai ketika Abu Bakar memujinya, Rasul mengaitkan kefasihan bahasanya dengan masa kecilnya di Bani Saad yang sangat baik bahasanya.

Maka hikmahnya adalah :

  1. Orgtua perlu menyebutkan bahasa yang benar kepada anak, gak usah ikut2an dengan bahasa anak yang belum jelas. Misalnya, anak bilang mau cucu, kita tdk mengikuti kata cucu melainkan menyebuntukan susu.
  2. Hindari interaksi anak kita di 3 tahun pertama dengan perkataan/orang yang lisannya tidak baik; gampang mengeluh, mencela, mencaci maki dsb. Hindari sebutan2 tdk baik meskipun untuk menyebuntukan panggilan sayang kpd anak.
  3. Jangan biarkan anak duduk sendirian di depan TV. Karena anak akan memungut banyak kosakata yang akan menyulitkan kita menanamkan nilai di usia berikutnya. Simbol-simbol dalam TV seperti muncul gambar hati di mata kucing yang sedang jatuh cinta, terekam di benak anak. Nanti akan sulit bagi kita menanamkan pentingnya menundukkan pandangan (ghadhul bashar) di usia berikutnya.
  4. Perdengarkan kalimat2 baik, pendek dan bernada pada anak2, seperti kalimat dzikir dan surat2 pendek, sehingga mudah untuk diingat.
  • Bismillah untuk memulai aktivitas apapun..
  • Alhamdulillah…setelah makan, keluar dari kamar mandi,dll
  • Bacaan Surat pendek dengan pola Dan irama..
  • Putarkan murrotal Surat pendek (lebih baik suara orangtua sendiri)

Banyak masalah terjadi di sekeliling kita atau kita alami, jika ditelusuri akarnya adalah masalah komunikasi. Di masa Nabi Musa, ia menyadari bahwa dirinya tidak fasih dalam berbicara. Sehingga saat disuruh Allah berkomunikasi dan menemui Firaun, ia meminta bantuan saudaranya, Harun.

***


USIA 4-6 TAHUN

Di usia 4 tahun, DR. Moh. Khair As Sahal mengatakan ada 2 kebutuhan anak :

  1. Bermain
  2. Dialog/ngobrol

 

  • BERMAIN

Para ahli ilmu mengatakan bahwa anak seusia ini mengalami gejolak dalam gerak (aktif) dan gejolak bahasa (banyak bicara) shg anak dengan cepat skali meniru yang diucapkan disekitarnya, meski belum fasih.

Main bagi anak seperti bekerja pada org dewasa. Shg anak yang tdk main layaknya org dewasa yang menganggur tanpa bekerja. Allah memfitrahkan anak dalam usianya unt bergerak. RASUL mengatakan, gerak yang berlebih akan mendukung mencerdaskan anak sehingga tdk perlu dibatasi melainkan di arahkan. Jika anak yang kurang bergerak dan anteng perlu diwaspadai.

Beda dengan menuntut ilmu, memang sebaiknya duduk tenang, tapi di luar itu biarkan mereka bergerak.

 

Ibnu sina mengatakan tentang anak usia dini, kalo anak bangun tidur maka sebaiknya ia istirahat sejenak kemudian dibiarkan untuk bermain dengan mainannya selama 1 jam. Setelah bermain satu jam, kemudian disuapin makanan ringan. Lalu lepas lagi untuk bermain dengan durasi lebih lama dari sebelumnya. Setelah itu ia lelah, istirahat, baru sarapan pagi. Insya Allah lahap makannya.

Nabi Yusuf saat kanak2 diajak bersenang2 dan bermain oleh kakak-kakaknya. Maka ini memang  bagian dari kehidupan anak yang diijinkan oleh Allah.

Panduan gerak dan bermain pada usia ini adalah :

  1. Jangan membatasi anak bergerak dan bermain tanpa ada batasan waktu. Jika waktu pun terbatas, tdk disampaikan dari awal, melainkan sampaikan setelah waktu selesai.

2.Kemudian ajak anak.paling gak 1 minggu sekali ke tanah lapang untuk.memuaskan dan kenyangkan kebutuhan bergerak anak

  1. Jangan bosen jika anak mengajak bermain pada hal yang sama berulang-ulang kali.
  2. Manfaatkan permainan2 untuk menganalisa perkembangan anak kita. Permainan untuk mengobati akhlak anak kita. Misalnya saat anak diberikan boneka, anak bermain boneka dengan diam, menyisir boneka dan memakaikan baju pada boneka dengan diam, maka itulah refleksi anak diperlakukan oleh orgtua. Misalnya juga anak bermain mobil2an sambil berteriak, mengumpat atau mungkin sambil bernyanyi, maka begitulah yang ia pahami dr orgtuanya. Anak bermain mobil sambil teriak sana-sini, mungkin karena melihat ayahnya menyetir mobil sambil berteriak. Anak menggambar rumah dengan kakek atau kakaknya. Tidak ada gambar orangtuanya. Bisa jadi mereka tidak merasa dekat dengan ortu atau merasa ortu mereka penting dalam kesehariannya.

Rasulullah terbiasa bermain dengan anak2, dan saat bermain pun rasul memanggil nama anak dengan panggilan untuk org dewasa dan mengucapkan salam duluan kpd anak tsb. Misalnya menyebut salam ya abu umair.

Waspadalah dengan game di gadget yang tidak membuat anak bergerak dan menimbulkan efek kecanduan. Permainan yang baik bagi anak adalah yang membuat bergerak dan tdk membuat candu, misalnya berlari-lari.

 

  • DIALOG

Dalam Al Quran lebih banyak dialog Ayah-Anak daripada Ibu-Anak. Misal dialog Nabi Ibrahim dan Ismail, Nuh dengan Kan’an, Ya’kub dengan anak, juga Luqman dengan anak.

Pelajari pola dialog mereka bersama anak-anaknya.

Pada usia ini apapun diucapkan dan ditiru karena sebentar lg usia 5 thn waktunya anak untuk menuntut ilmu, sehingga Allah ijinkan anak2 di usia 6 tahun pertama ini untuk berpuas diri dalam bergerak dan bermain.

 

Banyak dialog yang hidup di masa ini dan tidak boleh kita diamkan.

Berikut ini tips yang perlu diperhatikan saat berdialog dengan anak :

  1. Perbanyak ilmu orangtua agar bisa menjawab pertanyaan anak. Jika bisa menjawab, jawablah dengan benar dan ilmu. Jika tidak tahu jawablah tidak tahu, jangan mengada-ada.
  2. Seni dalam menjawab, Jika anak bertanya dan kita tidak tahu, arahkan untuk mencari jawabannya di buku. Ajak ke toko buku dan biarkan mereka mencari sendiri gambar2 di buku dari apa yang mereka tanyakan.  Jelaskan secukupnya, meski sebaris-2 baris kita bacakan, sudah cukup memuaskan dahaganya.
  3. Saat anaknya diam, Maka orangtua yang bertanya dengan pertanyaan yang terbuka dan bisa merangsang pola pikir anak. Jika anak tidak banyak bertanya pada kita, maka kita harus memancing pikiran mereka.

 

Yang harus DIWASPADAI pada anak di usia 0-6 tahun

➡ Taklid / Ikut-ikutan

 

Berbahaya jika anak mengikuti anak yang rewel, bandel dsb.

 

Dr. Musthofa : Yang memprogram anak pertama kali adalah dirimu sendiri. Makanlah dengan duduk dan tangan kanan, maka anak akan merekam dan mengikutinya. Makan dengan berdiri, maka anak mengikuti apa yang mereka lihat. Jangan pernah berkata bohong,

Abdullah bin Amir dipanggil ibunya karena ibunya mau memberi kurma. Rasul bertanya, apakah kamu benar2 mau memberinya kurma? Jika tidak benar2 memberi mereka, hati2 karena kamu sudah berbohong dan mereka akan mengikutinya.

Rasul di dalam rumah melakukan apa yang dilakukan istrinya, kecuali jika ada panggilan adzan dari masjid. Seolah2 Nabi tidak mengenal istrinya dan istrinya tidak kenal Rasulullah, saking sibuknya memenuhi panggilan sholat.

Kuncinya adalah KETELADANAN.

Pendidikan anak di usia 4-6 tahun akan berhasil jika kita mengubah kebiasaan kita menjadi hal-hal yang baik, karena mereka adalah peniru ulung. Di usia <6 tahun anak akan mengikuti kita karena kagum dan cinta pada orangtuanya. Setelah 6 tahun ia akan membagi kekagumannya pada guru, teman dsb.

Hati-hati jika anak bersekolah kelak, karena mereka cenderung ikut2an dengan orang yang karakternya lebih kuat dari anak kita. Masalahnya kita tidak bisa menjaga anak kita tidak berinteraksi dengan orang lain. Maka tanamkan nilai yang benar dari rumah, dari orangtuanya.

Yang perlu kita tanamkan juga di usia ini adalah Al Qur’an. Bacaannya, tafsir, makna, hafalannya, ketepatan bunyi, tadabburnya, aplikasi Qur’an dalam keseharian dsb. Pelajari bagaimana Salafush sholih mendidikan Al Quran pada putra-putri mereka. Pena malaikat masih diangkat ketika anak melakukan maksiat (tidak dicatat oleh malaikat untuk dihisab), sehingga tidak akan menutupi ilmu.

TANYA-JAWAB

❓❓❓

Bagaimana jika pendidikan kita pada anak di usia ini sudah terlewat?

➡  jangan sampai salah urutan dalam pendidikan untuk anak kita : Iman – Adab – Al Quran.

Ada pemahaman yang perlu kita tanamkan daripada sekedar menambah hafalan ayat, hadits dsb.

Ini yang Rasul lakukan menghadapi orang2 yang di masa kecilnya masih jahiliyah. Iman dulu ditancapkan, lalu adab, baru Al Quran.

Jika ini ditanamkan dengan baik insya Allah bisa menutupi pendidikan di tahapan usia yang sudah lewat.

 

❓❓❓

Bagaimana menghadapi lingkungan yang tdk mendukung tumbang anak dengan baik?

➡ sekolah, 20%, rumah 60%, lingk 20%.

Rumah menyumbang 60% pada anak dan sisanya ada di sekolah dan lingkungan. Jika lingkungannya tidak baik, maka orangtuanya lah yang harus rajin2 ‘mencuci gelas’.

Sama halnya jika kita punya rumah di pinggir jalan, harus sering2 mengelap kaca yang terkena debu jalanan. Jika mereka terpapar lingkungan, orangtua mencuci akhlaqnya di rumah.

Hal2 yang menghalangi Quran masuk dalam diri anak :

  1. Lagu/nyanyian yang bukan lagu anak2 (lagu dewasa)
  2. Permainan2 yang bukan permainan untuk anak. Lebih menyibukkan hati dan otak anak saat dia berada di majelis ilmu, misalkan games PS dsb. Anak tidak akan kecanduan lari-lari. Tapi games akan membuatnya kecanduan dan mengganggu konsentrasi.

 

❓❓❓

Mana yang paling signifikan dalam mendidikkan anak, apakah bacaan murottal atau orangtua?

➡ tentu akan lebih berkesan bagi anak suara orangtuanya yang mengaji, daripada suara dari murottal. Rekam suara kita dan perdengarkan pada anak.

 

❓❓❓

Kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan Gadget?

➡ kalau ada kebutuhan tugas dari sekolah, tidak apa. Kenalkan sesuai esensi dan fungsinya : untuk berkomunikasi.

Jika anak sudah mencapai usia Ar Rusyd saat baligh, boleh diberikan gadget dengan kepemilikan. Di bawah itu dipinjamkan saja oleh orangtua. Cek lagi tafsir QS. An Nisa ayat 5-6 :

 

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya268, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.

Dan ujilah269 anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).

 

❓❓❓

Kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan uang pada anak?

➡ yang lebih penting dari Pendidikan Uang adalah pendidikan tentang Nilai Uang.

Didik pada anak kita agar ketika mereka memegang uang, yang harus dipikirkan olehnya pertama kali adalah : Uang ini darimana, dan Uang ini buat apa?

Hal ini termaktub dalam hadits tentang harta kita, darimana ia didapat, dan untuk apa ia dibelanjakan.

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. Tirmidzi)

 

❓❓❓

Bagaimana membagi perhatian pada kakak dan adik?

➡ ketika penglihatan anak sudah disempurnakan di usia 4 bulan dan ia sudah dapat mengenali sosok ayah-ibunya, maka sudah seharusnya anak belajar transisi kedekatan, dari ibunya beralih pada Ayahnya. Ayah harus bisa memeluk dan mendekap sehangat ibunya. Sehingga jika ibu hamil lagi, kebutuhan kasih sayang ini tidak hilang.

 

-end-

Diresume oleh Indra Fathiana, Rolla Apnoza dan Ratna Nila
gambar dari http://culturalanthropology123.blogspot.co.id/2013_10_01_archive.html