Mutaba’ah Yaumiyah



Bismillah.

Saya menatap lembar berisi kolom-kolom yang selalu diedarkan tiap pekan itu dengan tatapan tak bergairah. Ada sederet ibadah dengan kolom kosong yang harus diisi angka. Sholat berjamaah, sholat sunnah rawatib, shalat Dhuha, tilawah Qur’an, puasa sunnah, qiyamullail, berolahraga, membaca buku, dsb.

Kami, saya dan sejumlah rekan satu pengajian diharuskan mengisi “Mutaba’ah Yaumiyah” itu, suatu form evaluasi ibadah harian yang akan dipantau oleh ustadzah kami. Tujuannya tentu baik, agar kami melakukan ibadah-ibadah harian sesuai standar yang ditetapkan, yang mengacu pada bagaimana Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya melakukan. Sebut saja, tilawah Al Qur’an sebaiknya bisa khatam dalam waktu sebulan, atau secepat-cepatnya 3 hari. Kalau targetnya sebulan khatam, berarti 1 hari minimal menamatkan 1 juz.

Begitu juga ibadah lainnya. Shalat Dhuha, Qiyamullail, Sunnah Rawatib, kalau bisa tidak ditinggalkan. Bukan bermakna mewajibkan yang sunah, tetapi mengingat betapa banyak keistimewaan yang terkandung dalam ibadah-ibadah tersebut, yang amatlah sayang jika dilewatkan. Apatah lagi dalam kamus seorang “aktivis da’wah”. Jika yang ia sampaikan adalah da’wah, dan yang mengubah hati manusia adalah hanya Rabb mereka, maka bagaimanalah mungkin kita tak berdekat-dekat pada-Nya?

Hati saya masih netral sampai disitu.

Tetapi menjadi agak lemas, kalau tidak boleh dibilang ingin memberontak, saat mengetahui prestasi ibadah saya diperbandingkan dengan yang lain.

Dalam kelas-kelas belajar di sekolah-sekolah, sistem ranking lambat-laun menjadi basi karena dinilai kontraproduktif. Setiap anak dipacu untuk saling bersaing satu sama lain. Dalam persaingannya,  ada saja anak yang iri, “Mengapa harus dia yang jadi juara?”. Dan lalu muncullah keberanian untuk berbuat curang, bahkan ada pula yang diimami sang guru atau dilakukan berjamaah. Lenyap sudah esensi belajar, yang penting angka dikejar, peringkat dikedepankan. Semangat yang terwujud kemudian adalah mengungguli orang lain, dan jika kita telisik selanjutnya akan memunculkan pertanyaan “untuk apa?”. Disorientasi tujuan semakin jelas, saat kita bangga telah melampaui kemampuan orang lain, bukan mengungguli diri sendiri.

Saya tidak tahu apakah sistem seperti ini juga perlu diterapkan dalam Mutaba’ah Yaumiyah yang banyak orang lakukan bersama kelompok pengajian mereka. Yang saya tahu, urusan ibadah amatlah personal, antara ia dengan Tuhannya. Kepada manusia, perannya hanyalah sebatas pengingat, mengingati dalam kebenaran, mengingati untuk menetapi kesabaran.

Jika memang dalam soal ibadah juga perlu “buka-bukaan”, saya yakin diperlukan usaha yang lebih keras untuk menjaga keikhlasan dalam melakukan ibadah tersebut. Mengerikan sekali membayangkan syaitan membisiki kita saat melakukan sholat Tahajjud, “ayo lakukan supaya kolom sholat Tahajjud di lembar evaluasi ibadahmu tidak kosong! Dan kamu tidak perlu malu lagi pada ustadzah dan teman-temanmu karena ibadahmu sedikit…”. Na’udzubillah… Na’udzubillah…

Padahal, bukankah telah jelas haditsnya, “peperangan terbesar adalah melawan hawa nafsumu sendiri”, bukan “melawan (hawa nafsu) orang lain?”. Maka mengapa sesuatu yang sangat personal ini kemudian dibawa ke ranah perbandingan antarindividu? Bukankah seharusnya pembanding diri kita sejatinya adalah diri sendiri yang dikonteks-i waktu? “Saya kemarin, saya hari ini, dan saya esok” seyogyanya menjadi ukuran yang nyata jelasnya, apakah dalam lompatan-lompatan waktu itu kita menjadi lebih baik, stagnan atau bahkan lebih buruk.

Maka rekomendasi saya, jikalah sistem pengawasan dari orang lain masih diperlukan untuk membantu capaian-capaian ibadah kita, simpan saja baik-baik formulir itu antara diri kita dengan si evaluator. Cukup. Tak perlu beredar dan kemudian dibuat resume grafiknya, siapa paling tinggi, siapa paling rendah. Karena si paling tinggi mungkin juga berjuang keras mengendalikan potensi rasa ujub atau bangga hatinya pada amal yang telah ia kerjakan.

Itu yang pertama.

Yang kedua, sejauh ini dalam 10 tahun terakhir dievaluasi secara rutin, saya belum pernah mendapatkan pertanyaan yang lebih mendalam dari sekedar torehan angka. Angka membuat saya terpasung, jika saya sudah mencapainya maka Alhamdulillah, tercapai juga standar yang harus dipenuhi. Jika tidak, ya berarti saya harus berusaha lebih giat lagi. Sebatas itu saja. Bagi saya ini memancing perasaan “cukup” dalam beribadah. Padahal orang-orang shalih terdahulu tidak pernah merasa cukup dengan ibadah yang mereka lakukan, dan amat sangat khawatir amalan mereka diterima atau tertolak.

Jadi apa kabar dengan kualitas kekhusyu’an sholat kita?

Apakah sholat Dhuha dan Tahajjud kita masih dilakukan karena tergiur fadhilah-fadhilahnya saja? Lebih parah lagi, sekedar menggugurkan target demi target?

Bagaimana tilawah Qur’an kita? Cukupkah dikejar dengan membaca berlembar-lembarnya, ataukah dengan sejauh mana kita pahami makna ayat-ayatnya?

Bagaimana olahraga kita? Sekedar menyehatkan raga atau menjaga amanah Allah agar lebih optimal mengabdi
pada-Nya?

Sekali lagi, alangkah mengerikannya jika kita terjebak pada kuantitas dan tidak terlalu memperhatikan kualitas amal ibadah. Betapa meruginya saat kita merasa “cukup” dengan target yang ditetapkan, tapi luput memperhatikan seberapa  baik kadar kekhusyu’an, kadar keikhlasan, atau kadar ketinggian orientasi pada amalan yang dilakukan.

Maka biarlah kolom-kolom mutaba’ah beredar 4 mata. Kontrol berjamaah yang saya tak pungkiri masih diperlukan, tak perlu menjadi sarana yang berbalik memfasilitasi para syaitan dalam mempermainkan keikhlasan hati, karena disanalah salah satunya, terletak syarat diterimanya amal itu sendiri.

Sesungguhnya telah jelas menjadi teladan, bahwa Ali bin Abi Thalib serta Malik bin Dinar yang kadar shalihnya melebihi kita, begitu khawatir jika amalnya tidak diterima daripada banyak beramal. Karena kita tidak pernah ingin segala rupa ibadah yang kita lakukan, menguap tak berbekas hanya karena selintas perasaan riya’ atau ujub yang berhembus, yang mungkin tanpa sadar kita perbesar peluang kemunculannya..

Wallahua’lam.

Jagakarsa, 15/8/2013, 00:59wib

Advertisements

Adakah Qur’an di Hati Kita?

Bismillah…

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan ikutan mabit (bermalam -red) dengan adik2 di SMA. Bagi saya, mabit dalam nuansa ruhiy adalah salah satu sarana re-charging iman, selain mengeratkan ukhuwah dengan teman2 juga tentunya. Dan beruntungnya, malam itu kami kedatangan al ustadz yang hafizh qur’an. Wow kerenn….

Mau tau berapa usianya?
Hm… saya taksir sekitar 23-24 tahunan.
Dan pada umur berapakah ia tunai menghafalkan Al Qur’an 30 juz?
14 tahun, sodara-sodara!
Dan tahukah apa yang ia katakan ketika itu?
“Sebenarnya saya malu hafal Qur’an umur segitu… soalnya teman-teman saya umur 9 tahun sudah pada hafal…”
Dan penonton pun bergubrak-gubrak ria…

Si ustadz yang lebih suka dipanggil “Bang Arul” ini kabarnya masih kuliah dan menjadi ketua LDK UNJ *dan saya membayangkan keberkahan da’wah di kampus itu ketika dipimpin oleh seseorang yang intens berinteraksi dengan kalamullah…

Dalam uraiannya, ia menukil hadits2 yang memotivasi kita untuk banyak-banyak membaca Al Qur’an karena begitu banyak kebaikan dan manfaat yang terkandung di dalamnya.
Beberapa hadits yang ia kutipkan seperti ini nih,

“Orang yang pandai membaca Al Qur’an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia mendapat dua pahala.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

“Sebaik-baik kamu ialah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)

“Orang yang dalam benaknya tidak ada sedikitpun dari Al Qur’an ibarat rumah yang bobrok” (Mashabih Assunnah)

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa ‘at bagi pembacanya. ” (HR. Muslim dari Abu Umamah).

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, katanya : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf. ” (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).

Nah, selain mengutip hadits-hadits yang berkaitan dengan membaca Al Qur’an, Akh Arul juga bilang kalau momentum mengkhatamkan Al Qur’an itu mengandung banyak sekali keberkahan. Jadi alangkah baiknya jika kita sudah hampir khatam Qur’an, kita ajak anggota keluarga berkumpul dan menyelesaikan bacaan Qur’an hingga khatam, lalu berdoa bersama-sama.

Maka, pas mabit itu kita bagi-bagi bacaan Qur’an. Ada yang baca ayat sekian sampe sekian, dan semuanya dibagi rata sampai ayat terakhir dari juz terakhir. Lalu pas Qiyamul Lail sang ustadz membaca doa khatamul qur’an yang bikin saya tersengguk-sengguk mengingat arti-artinya… huhu, what a great moment..

Meski lumayan pegal karena 11 raka’at dihabiskan untuk membaca 1 juz (cuma juz 30 doang sih, tapi udah kerasa pegelnya..), mabit ini lumayan berkesan dan berbekas. Maklum, udah lama gak ketemu momen seperti ini.

Ohya, beliau juga cerita kalau ada seorang ustadz (saya lupa namanya..) yang membiasakan diri mengkhatamkan Al Qur’an dalam 1 minggu. Jadi bisa diperkirakan ya, setiap hari minimal harus membaca 4-5 juz. Menariknya, ketika ustadz ini ingin menghafalkan Qur’an, ia bisa menghafal dalam waktu yang tidak begitu lama, sekitar 3 bulan saja kalau saya tidak salah ingat. Luar biasa dahh…

Terakhir, untuk melengkapi, saya lampirkan tanya-jawab bersama akh Arul al-hafizh yang diketikkan adik kelas saya.
Semoga bermanfaat dan menginspirasi kita untuk terus mendekatkan diri dengan bacaan mulia ini. Selamat menikmati ya…

***
Tanya jawab lailatul katibah

1. Setiap harinya berapa lama kak arul melakukan murajaah atau tilawah?

Yang saya lakukan saat ini tidak berstandarkan waktu namun berdasarkan banyaknya(halaman quran) nah biasanya saya dan keluarga itu meluangkan satu waktu khusus yaitu ba’da maghrib dimana tidak ada aktivitas lain selain berinteraksi(murajaah atau tilawah) dengan alquran. Sedangkan waktu-waktu lainya karena sibuknya aktivitas maka kak arul memanfaatkan waktu luang dengan sebaik-baiknya, misalnya saat perjalanan menuju kampus kak arul melakukan murajaah dan biasanya dapat 1 juz atau lebih,mantap boy…! Atau ketika jam kosong menuggu dosen,dll

2. Menurut pendapat imam abu hanifah diperbolehkan untuk salat sambil memegang mushaf, namun bila dilakukan maka akan terdapat beberapa masalah diantaranya,1. Kita tidak memandang tempat sujud,2. Kita banyak melakukan gerakan diluar gerakan salat,sedangkan menurut pendapat imam syafii sendiri melarang gerakan diluar salat lebih dari 3 kali. Bagaimana menurut pendapat antum?

Menganai gerakan diluar gerakan salat itu yang tidak diperbolehkan adalah gerakan yang tidak berguna untuk dilakukan. Sedangkan gerakan yang berguna seperti menggaruk ketika gatal itu diperbolehkan karena apabila ditahan rasa gatal mnyebabkan tidak khusunya salat maka menggaruk diperbolehkan.

Sedangkan mengenai pendapat imam abu hanifah maksud dari melakukan(memegang mushaf ketika salat) yaitu untuk manambah kekhusuyan kita ketika salat. Karena kalo imam membaca bacaan yang panjang dan kita tidak hafal bacaan itu maka apabila kita hanya menyimak maka kemungkinan pikiran kita akan melayang kemana-mana, wong orang yang sudah hafal saja pikirannya masih kemana-mana kok apalagi yang tidak hafal. Nah… kalo kita nyimak sambil megang mushaf maka konsenterasi kita akan lebih tinggi jadi kita lebih khusyu.
Nah menganai mamandang tempat sujud lagi-lagi kita harus memahamai bahwa memandang tempat sujud itu dimaksudkan agar kita dapat khusyu dalam salat nah kalo dengan memegang mushaf kita dapat khusyu maka tidak mengapa hal itu dilakukan.
Jadi…. Hukumnya boleh…

3. Bagaimana cara antum manjaga hafalan antum?

Cara menjaganya ya dengan melakukan murajaah(pengulangan) jadi bacaan yang sudah kita hafal sering kita ulang.

4. Saya masih kurang memahami mengenai kebiasaan para sahabat yang menyisakan sedikit bacaan kurannya ketika hendak menhatamkan al quran untuk dibaca bersama anggota keluarganya, mengapa demikian? Mengapa tidak membaca bersama dari awal?

Jadi keberkahan mengkhatamkan al quran itu sangat besar dimana pada saat itu juga merupakan waktu yang mustajab. jadi baik donk ketika kita hendak mengkhatamkan quran kita mengajak keluarga kita yang lain juga mendapat keberkahan, nah selain itu kan ada hadistnya barang siapa yang ikut bersama mengkhatamkan quran maka ia layaknya mendapatkan ghanimah, jadi gitu…

Nah mengenai baca bareng dari awal kak arul lupa untuk menjawabnya, tapi kalo menurut ana kelamaan gak sih kalo mesti baca bareng dari awal sampai akhir gitu, mending kalo sekeluarga kayak imam syafii lah kalo kayak kita… gimana hayo???

5. Bagaimana cara mudah menghafal alquran?

Mengenai cara,itu setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menghafalkan al quran entah dari segi waktu yang tepat ketika menghafal, tempat atu caranya. Adapun beberapa buku ada yang menyatakan cara cepat menghafal alquran itu lagi-lagi bergantung pada masing-masing individu lebih cocok dengan metode apa, so find your way
Namun ada beberapa kiat yang bisa memudahkan kita dalam menghafal al quran
1. Menggunakan 1 mushaf saja(jangan berganti-ganti mushaf)
2. Meluangkan waktu bukan mencari waktu luang (gak bakal ketmu waktu luang)
3. Memiliki tempat setoran hafalan alquran bisa temen qta, MR, abi, umi, om, tante, dll dah
4. Berada dalam komunitas yang juga menghafal al quran

Nah ini closing statement atau nasihat dari ust. Jauharul Chitam buat kita kata beliau kurang lebih gini:
Maju mundurnya umat islam itu sangat bergantung kepada interaksi umatnya kepada alquran umat ini akan maju bila umat baik interaksinya dengan alquran begitu pula sebaliknya. Nah kita juga mesti sadar bahwa ternyata musuh-musuh islam telah berusaha menjauhkan kita dari alquran.

Nah oleh karena itu buat temen-teman yang ngaku aktivis dakwah ni… kan aktivis tuh, jadi biasanya sih sibuk tapi ingat jangan sampai interaksi dengan Al Qur’an dilalaikan. Wokei….
Keep semangat n istiqomah!!! Allahu akbar!

I’m Wearing Hijab, Don’t You…?

Bismillah…

2 tahun silam, seorang sahabat lama tiba-tiba muncul di jejaring sosial saya. Dan seperti lazimnya tertera dalam jejaring itu, testimoni-testimoni tentang diri orang lain seperti menjadi wajib untuk kita berikan. Pun saya, tak pelak menerima testimoni sahabat lama saya yang walaupun satu kampus itu, jarang sekali bersua.

Yang membuat saya terbelalak bukan segambreng pujian ini dan itu. Tetapi saya baru saja ngeh ketika ia mengatakan,
“Indra ini orang yang pertama kali nanyain gue, “Mau pake jilbab gak, F?”. Dan besoknya gw mutusin untuk ngikutin dia pake jilbab juga.”

Oh… Did I?
I almost forget, dan bahkan tak ingat sama sekali andai ia tak menuliskannya di kolom testimoni itu.

Kali lain, iseng saya bertanya pada wanita paruh baya rekan satu pekerjaan.
“Don’t you want to wear hijab, Miss?”

Dan memang tak selalu gayung bersambut. Ujar wanita itu,
“Haha… sepertinya tidak. Aku merasa lebih bisa berdiri untuk banyak kalangan ketika aku tak mengenakan jilbab. Aku bisa mudah bergaul dengan siapapun (dengan aku tidak memakai jilbab -red)… Yeah, aku lebih menikmati diriku seperti ini saja.” tukasnya dengan pendirian teguh.

Serta-merta pembicaraan pun ditutup.
Tapi akhirnya saya berpikir, ”Ah, bukankah jika kita memenangkan-Nya, Dia pasti akan beri jalan terbaik bagi kita untuk berinteraksi dengan sesama?”. Dan saya pun teringat seorang Ira Puspa Dewi yang mampu didengar sekian orang dalam forum internasional dimana ia menjadi pembicara, lengkap dengan jilbabnya.
Tapi ya sudahlah. That’s your choice, Mam 🙂

Ada hal menarik dalam pengenaan hijab ini. Jika kita berjalan-jalan di tempat umum di Jakarta, sebut saja mall, pasar, atau tempat rekreasi, niscaya tak kan sulit kita temukan lima-enam-dan mungkin belasan- wanita yang menutup kepala mereka dengan jilbab. Mau yang menutup dada kah, sampai leher saja kah, ataupun yang menjuntai lebar, atau bahkan yang berbelit-belit dengan berbagai modelnya. (huffh…sejujurnya saya bingung memikirkan bagaimana si jilbab berbelit-belit membongkar pasang jilbabnya ketika mau berwudhu…).

Just like a trend (well, i don’t hope so), jilbab menjadi booming dan tampak semakin biasa sekarang.
Seorang om saya yang hidup di Belanda sampai tak habis pikir, “Should Indonesia be an islamic country?” karena sedemikian paranoidnya ia pada “negara islam”, hanya karena melihat perubahan signifikan dimana jilbab amat langka di dekade 80-90-an dan menjadi sangat lumrah di tahun 2000-an ini.
Kasihan, hanya karena seringnya ia mendapati oknum negara arab yang menjadi kriminal di negaranya, tanpa berpikir kritis ia memandang sinis perkembangan drastis itu, dan menolak mentah-mentah diberlakukannya sistem islam di negeri kelahirannya ini.

Saya yang mendengarnya hanya tersenyum. Memaklumi pola pikirnya yang agak mengherankan, menurut saya. Bagaimana bisa ia hidup di negara yang (katanya) bebas, menghargai perbedaan, tetapi sedemikian phobi terhadap agama ini, agama yang juga masih dia anut. Apakah ia juga akan sama curiganya ketika simbol palang misalnya, bertebaran dimana-mana? Apakah akan beda penerimaannya?
Anda berpikir terlalu jauh, Tuan. Kami hanya menjalankan kewajiban individual kami. Itu saja.

Dulu, di era 98-an ketika saya ingin mengenakan jilbab dengan lebih rapi, masih berkeliaran paranoism yang tak jelas asalnya.
“Kalau pakai jilbab nanti susah cari kerja..”
“Susah jodoh lho… dikiranya gak mau bergaul..”
“Kenapa musti menutup diri seperti itu…biarkan saja dunia melihat kemolekan tubuh kita..”
Dan mungkin kalimat terakhir itu masih tak sungkan digaungkan oleh -katanya- para pejuang perempuan. (hehe..perempuan yang mana? Bagaimanapun berlian tak pernah diobral, bukan?).

Sepertinya sekarang tak separah dulu, meski masih ada sekian kasus pelarangan jilbab di sejumlah instansi *masih tak mengerti mengapa isi otak harus dikebiri hanya karena bungkus luar semacam jilbab-rok mini-dan busana-busana itu -_-’

Tapi meski demikian, kemauan tetap tak dapat dipaksakan. Mengenakan jilbab saat ini bisa jadi masih sebatas pada ”suka-suka”, atau ”biar nge-trend”, atau ”ikutan temen”, atau ”malu…abis yang lain pada pake… masa aku gak pake”, dsb, dsb.
Dan jika alasan mereka seperti itu, kamu bisa apa?

Rindu sekali saya pada masa dimana sekian anak muda itu memasangkan kain lebar di atas kepalanya dengan berujar mantap, ”Inilah aku. Ini jalanku. Ini aku dengan segenap pribadi kukuh yang tak mampu dibeli oleh komentar dan cibiran atas hijab yang kupakai.”
Belia-belia yang tumbuh dalam atmosfer kebaikan, yang memberontak tatkala perintah-Nya dipertentangkan, yang mampu berujar tegar, ”Jikalah aku menjalankan apa yang Ia pinta, tentu pertolongan akan jua turut serta!”.
Keyakinan yang terpatri dan tumbuh kuat dalam lurusnya niat, insya Allah.

Namun walau masih juga saya temukan sekian banyak pemudi yang tersentuh hatinya karena cahaya iman, setidaknya saya tak bisa sama sekali menggerakkan. Upaya saya, Anda, atau kalian yang mencoba mengajak hijab itu dikenakan, hanyalah sedikit pintu pembuka. Total, sepenuhnya hanya Dia yang memiliki hak menurunkan hidayah atau tidak. Memberi petunjuk atau membiarkan sesat. Menunjukkan cahaya dan ketentraman batin sejati, atau menyemaikan kilau semu yang menyisakan kekosongan jiwa.

Seperti yang saya hadapi baru-baru ini.
Satu adik di SMA almamater saya, masih juga kekeuh dalam ’baju adek’nya, meski sempat ia utarakan keinginannya mengenakan jilbab. Keluarganya mendukung, lho. Abang pertamanya bahkan berujar, ”Kalo lo make jilbab hari ini juga, gw ajak lo ke toko R (toko muslimah –red), dan lo boleh pilih apapun yang lo mau, gw bayarin!”.

Nyaris habis akal teman-temannya satu lingkar pengajian menyerunya memakai hijab, mengajaknya ke pertokoan muslimah ini dan itu, memberikannya ciput (daleman jilbab yang dikenakan di kepala agar jilbab tak licin di rambut -red), mengusahakan meminjam seragam batik lengan panjang dari kakak alumni, dan sekian banyak ajakan lisan yang tak terhitung jumlahnya.

Dan dia masih saja bergeming. Lalu kami, tentu saja terus meyakini bahwa hidayah Allah mungkin belum turun padanya. Jika Rasulullah saw saja tak mampu mengislamkan Abu Thalib, sang paman tersayang, untuk masuk Islam, apalagi kami, yang barangkali sentuhan da’wahnya terhalang maksiat sehari-hari.

So, tak heran ketika beberapa waktu lalu seorang India yang duduk di sebelah saya dalam pesawat ke Solo masih saja bertanya.
”Does your scarf related to your religion?” ujarnya sambil menunjuk jilbab yang saya pakai. Lalu saya mengangguk dengan kuat. ”Yes. Why?”.
”No…Just wondering…. Jika memang berkaitan dengan agama, mengapa kebanyakan wanita Indonesia tidak memakai scarf sepertimu?”.
Menghela nafas, saya menjawab. “Well… actually it’s an obligation. But when they are not obey, it’s all about choices.”.

Ya. Pilihan sadar yang juga terengkuh karena usaha memahami Diri-Nya, memahami bahwa segala konsekuensi yang mungkin terjadi adalah dengan sepengetahuan-Nya, dan dengan keyakinan sungguh, bahwa Ia tak abai.
Ia menjaga mereka yang berusaha mematuhi-Nya.
Di saat itu, dunia, atau pandangan dan penilaian manusia, menjadi tak lagi pantas tuk diperbandingkan dengan karunia mahal bernama hidayah.
Priceless. Tak terbayarkan.
Persoalannya sekarang semata hanya : mau atau tidak.
Itu saja.


Friday, 29.05.09, 01:46 pm.

Bersyukur, Berpuas dan Qana’ah


Apakah kebahagiaan itu dan betulkah ia ada?

Pertanyaan ini , kata Mihaly Csikszentmihalyi dalam buku Good Business, telah berabad-abad diperdebatkan. Tapi ia belum juga terjawab. Barangkali ia hanyalah nama yang kita sematkan pada kondisi tak tergapai, ketika tiada lagi hal yang kita hasrati. Tetapi ketika tiada lagi hal yang dihasrati, adakah yang membahagiakan?
Begitu menurutnya.

Mari kita koreksi Mihaly Csikszentmihalyi. Apa yang disampaikannya bukanlah konsep tentang kebahagiaan. Melainkan tentang kepuasan.

Kondisi tak tergapai, ketika tiada lagi hal yang kita hasrati adalah kepuasan. Bukan kebahagiaan. Kebahagiaan seorang mukmin memang tidak terletak pada kepuasan, tapi pada rasa syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Dan wahai sahabat, tahukah engkau apa bedanya bersyukur dengan berpuas?

Berpuas, bukan kepuasan itu sendiri, adalah kondisi dimana seseorang merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya. Lalu tak ada lagi gairah untuk menggapai yang lebih tinggi. Seringkali orang mengidentifikasi berpuas sebagai bersyukur. Kalimat mereka berbunyi, ”Wah Mas, saya sudah bersyukur kok seperti ini.”
Tetapi betulkah yang demikian disebut sebagai kesyukuran?

”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibraahiim, 14 : 7)

Kita yakin dan mengimani bahwa ketika kita bersyukur pada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Ia yang Maha Kaya menambahkan lagi nikmat-nikmatNya untuk kita. Tapi pernahkah kita renungkan sebuah pemahaman terbalik dari ayat ini? Begini. Ajukanlah sebuah pertanyaan. ”Apa yang harus dilakukan oleh seorang yang ingin mendapatkan tambahan nikmat dari Allah?”
Jawabnya, ”Bersyukur.”

Nah, kalau begitu, siapakah orang yang paling bersemangat dalam mensyukuri nikmat Allah? Mereka adalah orang-orang yang ingin menggapai lebih tinggi, meloncat lebih jauh, dan menghambur ke pangkuan Allah. Mereka ini, bukanlah orang-orang yang puas hati. Orang yang paling menghayati syukurnya, adalah orang yang paling merasa membutuhkanNya, menghajatkan nikmat-nikmatNya, lebih tinggi dan makin tinggi lagi.

Tentu kita tak boleh merancukan makna bersyukur dengan makna qana’ah. Bersyukur adalah ’amal shalih untuk mendayagunakan segenap nikmat yang telah Allah karuniakan untuk menggapai yang lebih tinggi. Maka karunia harta menggegas kita untuk berderma. Agar Allah tambahkan nikmat. Agrar kita berinfak lebih banyak. Begitu seterusnya. Maka karunia ilmu menggegas kita untuk beramal dan mengajar. Agar kita lebih memahami. Lalu ilmu semakin tinggi, pemahaman makin berbobot. Dan lagi. Dan lagi. Tanpa henti, hingga Allah memanggil kita kembali.

Bersyukur mengajarkan kita untuk tak berpuas hati dalam meminta pada Ilahi. Terus dan terus. Lagi dan lagi. Lebih banyak dan lebih tinggi. Sang Nabi mengajarkan agar tak tanggung. ”Jika kalian berharap surga,” kata beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, ”Pintalah Firdaus yang paling tinggi!”

Sementara qana’ah adalah perasaan sadar akan kedudukan; siapa Allah dan siapa kita ketika menerima karuniaNya. Qana’ah adalah perasaan yang menuntun kita untuk bersyukur. Saat menerima anugerah Allah kita qana’ah; kita terima dengan penerimaan terbaik, kita dekap dengan erat dan akrab, kita peluk, dan kita cium sepenuh jiwa. Sesudah itu, kita ingin lagi dan lagi; menerima dengan lapang dada, dengan tangan terbuka, dengan segenap hati yang meluapkan cinta. Secara lebih kuat. Secara lebih dahsyat. Lebih. Dan lebih lagi. Maka itulah bersyukur.
Maka kita pun lalu bersyukur.

Di jalan cinta para pejuang, terjebak pada kepuasan hingga tak ada gairah untuk meloncat lebih tinggi adalah perangkap gawat.

Maka bersyukur bukanlah berpuas!
Syukur adalah mendayagunakan segenap nikmat yang telah Allah karuniakan untuk menggapai yang lebih tinggi. Yang berharta, janganlah puas dengan shadaqahnya. Yang berilmu, janganlah berpuas dengan amal dan da’wahnya. Yang bernafas, jangan puas sekedar berbaring dan duduk. Tapi bangkitlah. Berlarilah.

Di jalan cinta para pejuang, bersabarlah, bersyukurlah…
***

(Dikutip dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, karya Salim A. Fillah, hlm. 279-282.)

~kado kecil untuk seorang sahabat. Bersyukur bukanlah berpuas dg apa yg ada…
Tuesday, 14.04.2009, 08:30am

Berilah Kasih Lebih Banyak!

Bismillah…

Baru-baru ini saya sedang menghadapi ujian.
Standar ya? Namanya juga hidup. Kalau hidup gak mau dapet ujian, ke laut aja… Hehe…

Dibilang ringan… yaa…sebenarnya memang tidak terlalu berat. Tapi dibilang menyebalkan, lumayan. Semacam kerikil di sepatu kita gitulah. Masih bisa buat jalan sih, tapi mengganggu.

Nah, syukurnya kemarin itu saya mendapat ‘taushiyah’ dari Andrian, seorang nasrani yang merupakan mentor bisnis saya nan ganteng tapi udah punya istri *lho*. Kqkqkqkq… (hush!)

Berhubung Andrian ini sibuk banget dan saya jarang ketemunya, jadilah hari itu saya menyimak baik-baik setiap kata yang keluar dari lisannya. Pria berusia 29 tahun ini mengawalinya dengan berkisah,

“Dulu, ada seorang agen asuransi yang jatuh terpuruk karena terlilit hutang. Rumahnya sampai disita dan ia harus menggelandang di pinggir jalan. Bertemulah dia dengan para gelandangan lainnya dan hidup bersama mereka beberapa lama. Sampai suatu ketika, si penghutang berbaik hati memberinya penangguhan dan mengembalikan rumahnya selama beberapa waktu, sampai ia bisa melunasi hutang-hutangnya.
Singkat cerita, rumah itu ia tempati lagi dan ia menjalani kehidupan normal seperti sedia kala. Suatu hari, datang seorang gelandangan yang ingin menumpang di rumahnya. Dan si agen asuransi ini mempersilakannya dengan senang hati. Toh ia hidup sendirian di rumah itu, pikirnya,”.

Sampai situ Andrian berhenti dan mengajukan pertanyaan,
”Nah, kalau Anda jadi si agen asuransi tadi, apakah ada di antara Anda yang mau begitu saja mempersilakan gelandangan masuk ke rumah Anda?”


Lalu ia melanjutkan lagi,

“Hari-hari terus berjalan dan agen asuransi ini terus bekerja keras. Tak disangka-sangka, suatu hari ia bertemu dengan seseorang, yang ingin membeli asuransinya yang termahal!”
Mata Andrian berbinar-binar. Dan saya mulai merasakan darah saya berdesir di dalam.

“Kisah kedua…” lanjut Andrian.
“Ada sebuah toko yang menjual barang mebel. Lalu datanglah seorang nenek berkunjung ke sana. Melihat penampilan nenek yang tampak bersahaja ini, seorang pelayan hanya bertanya singkat, “Cari apa?” sambil bersikap acuh tak acuh dan cuek.

Akhirnya pindahlah nenek tersebut ke toko lainnya. Di toko ini, sang pelayan melayani nenek ini dengan begitu ramah dan santun. Disapanya nenek itu, lalu ditanyainya, kira-kira apa yang perlu dibantu. Dengan sangat melayani, pelayan itu mengambilkan barang yang dibutuhkan. Waktu terus berjalan dan suatu hari, ada seorang pengusaha kaya-raya yang ingin membeli mebel dalam jumlah besar. Ternyata pengusaha ini merupakan cucu si nenek tadi. Tanpa pikir panjang, nenek itu meminta cucunya membeli mebel di toko tempat ia berbelanja dulu yang melayaninya dengan sangat baik!”

Masih dengan bersemangat, Andrian bercerita.
“Kisah ketiga…” ujarnya.
“……….”
Uh, saya lupa bagaimana cerita ketiganya itu. 😀

Intinya, Andrian rekan saya ini ingin menyampaikan pesan, “Berilah kasih lebih banyak!!! Dan Tuhan pasti akan membalasnya dengan lebih banyak lagi!”
Lalu tentu saja ada yang bergemuruh di dalam hati saya.

Ah, kalau saja tak banyak orang di situ, airmata saya pasti sudah tumpah.
Pasalnya, baru-baru ini saya merasa kesal sekali dengan seorang rekan yang saya sudah bantu pun, masih tak mau bergerak sendiri di atas kakinya. Seperti mendorong kerbau yang tak bergeming sedikitpun dari kubangan lumpur tempat ia berpijak! Padahal saya ingin mendorongnya ke padang rumput yang hijau dan subur, dan ia tahu itu!


Tapi Andrian mengingatkan saya.

Apakah saya sudah memberi kasih dengan tulus? Apakah saya sudah benar-benar berniat membantunya? Apakah saya sudah melakukan semuanya tanpa pamrih dan hanya benar-benar ingin menolongnya?

“Beri kasih lebih banyak dan buang egoismu! Karena kita tidak akan bisa sukses jika egois dan tidak membantu orang lain!”

Sore itu, saya memungut hikmah yang tercecer dari seorang nasrani bernama Andrian.
Dan seringkali ia membawakan nasihat yang kalau saya tafsirkan dalam bahasa saya, intinya tentang meluruskan niat.

Saya jadi berkaca.
Perasaan saya hari itu memang cukup negatif. Kesal, gemas, geregetan, campur aduk semuanya. Bayangkan!
Rekan saya itu bermasalah, lalu ia mengadu pada saya. Lalu saya coba menawarkan solusi. Tapi ternyata ia malah memilih untuk berkubang dengan masalahnya dan tak mau bertindak!! Ugggghhh… gemesssss! >_<

Makanya, kata-kata Andrian hari itu seperti siraman ruhani buat saya. Dan saya paham betul, ia sudah mengalami tempaan yang mengharuskan ia melakukan nasihatnya terlebih dahulu, sebelum menyampaikannya pada saya dan rekan-rekan lain.
Maksud saya, saya tahu benar bahwa Andrian punya integritas; tidak lagi sekedar cuap-cuap berteori, apatah lagi ‘ngemeng’ dalam konsepsi-konsepsi yang hebat tapi kosong implementasi.

Dan tak jarang saya teringat pada kata-kata Ali bin Abi Thalib,
“Lihat apa yang dikatakan. Jangan lihat siapa yang mengatakan”.

Dalam pengamatan saya, terkadang Andrian yang nasrani itu jaaauh lebih konkret mengaplikasikan teori sikap positif daripada saya yang notabene muslim ini, yang kesemua konsepnya sudah tercakup dalam ajaran Islam, terdokumentasikan dalam Al Qur’an, dan juga sudah dicontohkan lebih dulu oleh Rasulullah saw, sang teladan sepanjang zaman.

Sayangnya, saya pribadi terkadang masih sulit bersikap positif, dan naasnya, banyak muslim yang saya temui sehari-hari, juga demikian! Jago bicara soal konsep ukhuwah, tapi bergesekan sedikit dengan saudaranya, jadi sangat mudah kecewa. Pandai menyitir ayat tentang mengubah keadaan diri sendiri, tapi amat sangat minim aksi.

Jika Mario Teguh mengibaratkan Islam sebagai tipe komputer tercanggih dengan software terlengkap, dan agama lainnya sebagai tipe komputer yang tidak selengkap dan secanggih Islam, maka tak lebih, saya hari ini belajar dari Andrian yang nasrani dengan segenap kemanusiaan saya.
Ceceran hikmah itu ada pada fithrah Andrian yang hanif.

Lurus. Bening.
Dan cahayanya tak padam-padam, malah akan terus bersinar.

Mengomentari hal ini, rekan bisnis saya yang lain malah berkata,
“Itulah bedanya. Andrian itu seperti mutiara. Sayangnya, ia masih berada di lumpur dan belum menyadarinya.”

Kita yang muslim, mungkin memang berlian.
Tapi coba pikirkan. Betapa seringnya kita sibuk menggores diri sendiri, membiarkannya cacat dengan perilaku negatif dan bukannya malah memancarkan cahaya…

Big thanx to Pak Andrian atas nasihat dan inspirasinya 🙂
~Monday, 10.11.08, 08:24am.

pictures are taken from: http://www.cardiophile.com
thx soo much. maaf ndak ijin yo..

Jilbab Panjang atau Pendek, Hayoo…


bismillah…


Jilbab?
Pake yang panjang atau yang pendek ya…
Yang panjang aja deh.
Hayo…niat pake yang panjang buat apa nih…
Biar dibilang ‘akhwat solehah’-kah…
atau biar gak keliatan bentuk tubuhnya…
atau biar keliatan lebih anggun, lebih santun, lebih cewek…
atau biar dibilang lebih pinter agamanya daripada yang jilbabnya pendek…
atau biar lebih cantik…
atau biar apa hayoo…

***

Sesungguhnya yang paling saya takutkan pada kalian adalah syirik paling kecil” Para sahabat bertanya : “Apa yang dimaksud syirik paling kecil itu?”
Beliau menawab : “Riya`”

(HR Ahmad no 22742 dan Al Baghawi.
Syekh al Albani berkata : sanadnya baik (jayyid) (lihat Silsilah Hadits Shahihah no 951)

~jeweranBuatDiriSendiri
Friday, 24.10.08, 10:09pm

Syahid



Bismillah…


Anda tahu raket listrik untuk mematikan nyamuk?

Lepas musim kemarau menuju penghujan, biasanya nyamuk-nyamuk bermunculan di rumah. Dulu saya mengusir nyamuk-nyamuk itu dengan sempyok, sebutan untuk sapu lidi yang agak ceper, yang biasa digunakan untuk membersihkan kasur. Belakangan ternyata lebih mantap dengan menggunakan raket listrik. Karena sekali kibas, biasanya nyamuk itu akan menyangkut di raket karena tersetrum.


Malam itu saya memperhatikan si nyamuk tersetrum sedemikian rupa.

Seluruh tubuhnya, dari kaki, sayap hingga badan, lumat dialiri listrik sampai benar-benar gosong. Lalu dengan serta-merta pikiran saya melanglang buana, berempati terhadap si nyamuk yang malang itu.



Bagaimana rasanya jika saya ada di posisi nyamuk tersebut?

Terjerat tak bisa lepas dari jaring raket yang besar, lalu tersetrum berulang kali sampai tubuh ini hangus menjadi rangka. Sempat suatu kali saya tersetrum raket itu sekilas, dan rasanya lumayan sakit.

Dan Anda tahu?

Saya sedang memikirkan daya listrik macam apa yang mungkin disediakan neraka di hari akhir nanti. Saya sedang memikirkan, mungkin seperti itu pula kondisi saya saat disiksa: tak bisa melarikan diri, meronta tapi percuma, dan sisanya hanya tinggal tulang-belulang atau mungkin debu beterbangan.

Di film Volcano, visualisasi saya tentang neraka jauh lebih tergambar. Camouran api dan batu yang dimuntahkan gunung berapi, niscaya mampu membuat rangkaian tubuh kita lumer dalam sekian puluh menit. Itu api dunia. Lalu bagaimana dengan api neraka?



Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi Saw bersabda,

“Sesungguhnya siksa dalam neraka Jahim ialah dituangkan air yang mendidih di atas kepala orang-orang yang durhaka itu, kemudian terus masuk ke dalam sehingga menembus ke dalam perut mereka, kemudian keluar segala isi yang ada dalam perut itu sehingga tampak meleleh dari kedua tapak kakinya. Ini semua cairan yang berasal dari isi perut. Selanjutnya dikembalikan lagi sebagaimana semula”.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan sahih.

Seringkali, dalam keseharian yang nampak sepele, saya membayangkan bagaimana nasib saya di akhirat kelak. Tidak usah jauh-jauh. Saat menuangkan air mendidih dari ketel ke termos, biasanya imajinasi saya langsung berlari kepada bayangan tentang neraka ketika melihat dan merasakan uap dari air di ketel yang sangat panas. Uapnya saja panas, sobat. Apalagi airnya! Dan itu baru dunia, bukan neraka!



Ketika bersinggungan dengan hal sepele macam itu, entah raket nyamuk, ataupun air mendidih, misalnya- hati saya selalu tergetar. Lalu pesimisme menyeruak tiba-tiba dan rasa takut mencuat tanpa diminta. Mengingat dosa saya yang banyaknya masya Allah, saya pesimis bisa langsung ke surga tanpa masuk neraka terlebih dahulu.

Betapa menjijikkannya saya ini…

Betapa tak terhitungnya kesalahan yang sudah saya perbuat… 😥



Saya tak merasa pantas membandingkan dengan titik-titik ekstrim lain, semisal masih ada pembunuh yang mungkin lebih berat daripada saya yang alhamdulillah belum pernah membunuh orang. Ini bukan soal perbandingan siapa yang lebih banyak dosanya. Tetapi saya sedang bicara tentang hukuman apa yang akan saya terima atas kesalahan-kesalahan yang saya anggap cukup besar bagi saya.



Bicara soal amal, benar bahwa kita mungkin juga melakukan kebaikan. Tapi yakinkah kita amal-amal itu dilakukan dengan benar dan ikhlash? Seberapa besar ia akan diterima? Seberapa banyak ia akan menjadi pemberat timbangan ?



Maka saya –selain memohon ampunan dan masih jua berharap pada kemurahan-Nya- berharap pada jalan lain yang bisa meloloskan saya dari siksa akhirat itu.



Jawabannya hanya satu : syahid.

Ya, meninggal dalam keadaan syahid; ridha lagi diridhai.



Hati saya merinding acap teringat kata yang satu itu.

Betapa agungnya. Betapa bahagianya. Betapa mulianya.

Siapa yang tidak ingin menemui Robb-nya dengan jalan yang mulus, dengan lapang dan gembira ria, diliputi sukacita dan haru-biru menyongsong surga?



Tapi… saya… pantaskah?


Untuk menjadi syahid, ada beberapa kemungkinan.

“Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid (anaknya yang akan menariknya dengan tali pusarnya kesurga)” (HR. Ahmad, Darimi, dan ath-Thayalusi).

 
Dari Jabir bin Atik dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda: 
“Syuhada itu ada tujuh selain orang yang gugur berperang fi sabilillah ( di jalan
Allah) yaitu: [1] Orang yang mati ditusuk adalah syahid, [2] mati tenggelam
adalah syahid, [3] mati berkumpul dengan istri adalah syahid, [4] mati
sakit perut adalah syahid, [5] mati terbakar adalah syahid, [6] mati tertimpa
reruntuhan adalah syahid dan [7] wanita yang mati melahirkan anak adalah
syahid”. 
[Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, dan Hakim dalam kitab Mustadraknya dengan
komentar hadits ini sanadnya shahih. Pendapat ini di setujui oleh Adh-Dhahabi]


Tak terbayang di benak saya seperti apa ketika berhadapan dengan musuh Allah, langsung wajah dengan wajah! Indonesia rupanya cukup memberikan zona nyaman yang membuat saya bahkan tak mampu merasakan hawa medan perang yang membuat mata dan hati terjaga senantiasa, insecurity yang mengharuskan kita tegang setiap saat, dan semacamnya. Walau Palestina cukup konkrit menggambarkan situasi perang, tetapi saya masih belum bisa membayangkan berada dalam suasana itu.


Begitu juga dengan wabah penyakit, kolera, dsb. Saya pikir itu musibah, sesuatu yang menimpa. Terlalu naïf rasanya jika meminta musibah. Apalagi disongsong, disambut dengan

riang-gembira. Kesempatan ini bagi saya juga lumayan kecil peluangnya.


Satu hal yang merupakan peluang besar yang bisa saya ambil adalah… meninggal saat bersalin dan melahirkan anak.


Sungguh, saya tidak tahu lagi dengan cara apa bisa terhindar dari amuk dan dahsyatnya siksa neraka atas dosa-dosa saya, jika tidak dengan mati syahid.

Bolehkah saya berharap?


Oh, rindu itu demikian menggelegak di dalam sini!

Untuk Robb-ku, apapun akan kulakukan!


Jadi bolehkah saya bersiap?

Jika benar terjadi, niscaya akan saya dorong suami saya kelak untuk mencari ibu pengganti bagi anak-anak kami.

Didiklah anak itu dengan cinta, Suamiku. Jadikan ia himpunan keshalihan yang akan menghantarkan doa agar aku dan dirimu meninggi derajatnya di hadapan Pencipta kita. Jadikan mereka benih yang akan menyuburkan bumi Allah ini, dan tumbuh-kembangkan mereka sebagai pembela-pembela agama-Nya…


Ya.

Saya tidak tahu lagi dengan jalan apa.

Tapi sungguh…

Saya juga ingin menyongsong kemuliaan sebagai penutup kehidupan saya di dunia yang fana ini… dan mungkin, meninggal saat memperjuangkan kelahiran buah hati adalah momentum serta kesempatan yang bisa saya raih!


Ya Allah, Engkau tahu luapan rindu di dalam sini…

Engkau tahu bagaimana harap dan cemas atas dosa dan amal selama ini…

Maka perkenankanlah… matikanlah kami dalam syahid… dalam keadaan ridha pada-Mu… dan Engkau pun meridhai kami. Aamiin…




Thursday, 09.10.08, 12:16pm

pics from:

en.wikibooks.org/wiki/Wikijunior:Colors/White

blog.licasdigital.com/industry/index.html

www.dreamstime.com/sky-sun-clouds-image150907

http://beautyofhisholiness.homestead.com/JehovahShamma.html

thx a lot. maaf ndak ijin