Tenang

Meletakkan tenang pada secangkir teh hangat ini mungkin terlalu naif. Senaif tenangku saat melepas pandang ke laut biru dengan ombaknya nan bergemuruh. Senaif tenangku yang menyeruak saat aku berdekat-dekat denganmu. Karena tenang sejati itu semestinya menyamudra-menyemesta; tak berbatas wadah, tak berbatas benda. Tapi bukankah Sang Mahacinta yang menghadirkannya di antara kita?

Maka seyogyanyalah aku meletakkan tenangku di atas tenang pada-Nya. Kecintaanku, adalah karena Ia sendiri yang menghalalkannya. Kerinduanku, adalah karena Ia sendiri yang menghadirkannya.

Sehingga, jika Dia tak ada di antara kita, pastilah tenangku hanya semu semata. Seperti genggaman coklat yang kerap engkau hadiahkan tempo waktu, lalu habis dan hanya menyisakan bungkusnya di tanganku. Seperti petrichor yang sejuk untuk diraup, tetapi tak lama, ia hilang bersama hujan yang menghentikan rinainya sayup-sayup.

Maka berjanjilah agar ketenangan sejati menghadirkan dirinya di antara kita.

Berjanjilah untuk terus memberi ruang pada-Nya, dan membiarkan Diri-Nya memenuhi jiwa kita.

Dengan begitu kita akan tersadar, tanpa-Nya, cinta kita takkan lama. Tanpa-Nya, ketenangan ini hanya seketika nan sekejap saja.

Sebab bukankah kita menginginkan keabadian cinta yang melampaui ruang dan masa?

Jadi, ijinkan aku merindu, menikmati tenang bersamamu, dengan kesadaran penuh yang perlu kita gugah sepenuh sungguh : tanpa-Nya, cinta ini rapuh. Dan dengan kesadaran itu, aku akan terus menggumamkan syahdu : karena Ia, aku mencintaimu.

Rabu, 05092017, 23.47wib.

Advertisements

Recovery

daisy-wheel-under-the-snow-wallpaper-14635

 

Bismillah.

Meninggalkan kenyamanan memang tak mudah. Mengenang kebaikan di masa lalu memang tidaklah ringan di saat kita menghadapi apa yang sebaliknya di masa sekarang.

Tapi bukankah kita telah memilih apa yang nurani sukai? Dan tidaklah cahaya itu datang kecuali dengan sekehendak-Nya.

Bersabarlah, Jiwa. Mintalah agar hatimu pulih segera. Dan sibukkanlah dirimu dengan segala yang disukai-Nya. Karena ketenangan tak pernah hadir kecuali dengan taat. Dan ketentraman tak akan hadir kecuali dengan menghampiri-Nya berdekat-dekat.

Karena yang seperti ini, insya Allah akan segera lewat.

🙂

 

Sunday 23.10.2016 / 03:05 am

Seimbang

out-of-balance

 

bismillah.

Menemukan keseimbangan setelah terjadi beban yang berat sebelah adalah serupa hujan menderasi padang tandus, yang mulai nyaman dengan fatamorgananya. Beradu pandang mata kita pada oase yang dingin di tengah panas yang membakar, tetapi nyatanya ia tiada. Selanjutnya ilusi demi ilusi mengorganisir dirinya di dalam sinaps, untuk selanjutnya mengacaukan realitas, yang mungkin menyenangkan, tetapi sesungguhnya kosong belaka.

Mengangkat beban untuk bisa kembali ke posisinya semula, mungkin tidak ringan. Tapi lihatlah betapa bersyukurnya dirimu. Dan nuranimu yang jujur memantulkan cahaya-Nya, tidaklah dapat didustakan.  Ingatkah bagaimana kesyukuran terbit pertama kali ketika segalanya harus dianggap ‘selesai’? Dan ingatkah bahwa Allah menurunkan ketenangan tanpa rasa sedih ataupun gundah sedikitpun, bersamaan dengan keridhoanmu melepas semua?

Maka mengapa harus kembali resah di kala sesungguhnya kita tengah kembali pulang? Mengapa kegelisahan mulai menghantui ketika jalan yang terang benar-benar telah dibukakan? Apapun caranya, dan demikianlah Allah menghendaki, hanyalah kebaikan. Dan percayalah, jika perjalanan itu tidak berakhir, niscaya keburukan yang lain akan mengakumulasi dan menghadirkan gerumulan resah yang lain.

Sabar itu ada pada benturan pertama. Sabar itu ada pada seberapa kuat engkau tetap bertahan dan tak goyah. Memegang imanmu kuat-kuat mungkin memunculkan perih atas kehilangan. Atas berbagai budi baik yang tertanam. Dan segala rindu yang kaukatakan tak bisa tertahan, menyayatkan luka dalam berbagai ingatan. Tapi bersabarlah, bersabarlah, bersabarlah. Bukankah telah lama kaulantunkan doa, agar Ia tak serahkan jiwa ini pada diri kita, meski hanya sekejap mata?

Penciptaan bumi dan seisinya membutuhkan waktu. Sebagaimana pula pulihnya hatimu juga membutuhkan waktu. Berjalanlah terus dalam kearifan. Dalam istighfar. Dalam keteguhan menjaga apa yang semestinya terjaga. Dalam kekuatan yang kian berlipat, dan jangan lagi goyah untuk sedikit godaan kesenangan, rasa aman, atau apapun yang menurutmu dapat menghadirkan ketenangan. Disini, dalam perjalanan cahaya, telah sempurna penjagaan-Nya untukmu. Telah lengkap keberadaan-Nya untuk memenuhi segala ruang kosong nan hampa yang pernah ada. Cukuplah Allah bagi kita. Cukuplah kemahaannya memenuhi segala celah. Dan ingatlah bahwa sesungguhnya, “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.”. Dan yakinkanlah hatimu bahwa “…sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”. Hingga kelak di suatu masa, “kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.”.

Maka apakah masih ada lagi yang perlu dikhawatirkan?

Terulah menuju keseimbangan. Bersabar. Kuatkan sabarmu. Dan bersiap-siagalah atas berbagai lenaan. Semoga Allah menjagamu dalam keabadian kasih-sayang yang tak lekang-lekang…

***

“Yaa Tuhanku, perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.” 

Ahad, 16.10.2016, 06:58 wib.

 

Ketika Berpulang

snow-flower

 

Bismillah.

Membaca What You Learn After Losing A Parent At A Young Age mengingatkan saya pada peristiwa 8 tahun silam, saat ayah saya berpulang. Tidak ada rasa terkejut, tidak pula rasa sakit di saat kejadian. Saya menemani beliau dalam sakitnya selama 7 tahun, suatu rentang waktu yang tidak sebentar untuk menjadi lumpuh, tak dapat  bicara, tak bisa berjalan, hingga tergeletak begitu saja tanpa daya di tempat tidur. Saya yang mendampingi beliau untuk berbagai hal : menyuapinya, memandikannya, beristinja’, menemaninya sholat dalam lafadz yang masih saja fasih didengar, mengajaknya bercerita meski tak 100 % ia tangkap, tertawa, memeluk tubuhnya, dan sebagainya. Dan Mamah, tentu saja terlebih-lebih lagi.

Di hari terakhirnya, saya berlari-lari mencarikan obat karena kondisi Bapak kian memayah. Jam menunjukkan pukul 17.30 saat itu, dan sepulang kerja saya mempercepat langkah agar bisa mencapai maghrib di rumah. Lalu saya melakukan aktivitas seperti biasa : shalat, bebersih, makan malam, dan menemani Bapak di kamarnya.

Masih bernafas teratur, saya memegang tangannya yang lemah. Kulitnya mengeriput. Tulang-tulangnya menonjol karena daging tubuhnya kian berkurang. Giginya juga rusak parah. Seperti bayi, bahkan lebih lemah dari itu. Lirih, saya berbisik pada Allah.. berikanlah yang terbaik buat Bapak, ya Rabb..

Pukul 9 malam kakak saya pulang dan saya mendesaknya untuk membawa Bapak ke rumah sakit, tapi dia menolak. Sudah tidak lama lagi, ujarnya. Dan menunggu ambulance hanya semacam kesia-siaan karena membutuhkan waktu yang lama. Jadi kami sibuk saja menemani Bapak sambil tilawah di sebelahnya serta mentalqinkannya kalimat tauhid tak jeda-jeda.

Lalu 1 jam kemudian nafasnya tersengal. Dan kami semakin berbisik di telinganya sambil menahan airmata yang mendesak keluar. Bukan rasa sedih, hanya sepenggal rasa tak tega melihatnya berjuang dalam sakaratul maut. Masya Allah, demikian beratnya perjuangan itu…

Dan benar saja, tak lama beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir, tepat di hadapan saya. Berkebalikan dengan itu, saya menghembuskan nafas berat tetapi lega. Bukan karena tidak kehilangan, tapi lebih karena berakhir sudah penderitaan Bapak selama ini. Karena, siapa yang tega melihatnya terus-menerus menggeletak tanpa bisa bergerak? Bahkan bebayi masih bisa menggerakkan bola matanya dengan jenaka, menggerakkan kaki-tangannya dengan lincah, dan sorot mata mereka mampu berbicara meski eja belum sempurna. Dan Bapak? Ah… sungguh tak kuat saya membayangkannya.

Kesibukan berikutnya adalah mempersiapkan rumah untuk tamu-tamu yang takziyah, menerima ucap belasungkawa, juga meminta segenap kawan untuk bersama sholat  ghaib agar jamaah kian banyak. Lalu saya ikut mengantarnya ke pemakaman, dan melihat jasadnya diturunkan ke liang lahat. Pandangan saya agak gelap. Tubuh saya limbung. Tapi kesadaran ini masih kuat terjaga bahwa segalanya adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah semua akan kembali. Innaalillaahi wa inna ilaihi roji’uun…

Satu hari berlalu. Dua hari. Tiga hari. Mamah masih saja menangis.

Tapi tidak ada air menggenang di sudut mata saya di hari-hari yang berjalan ketika itu. Hanya ada lubang menganga besar di lubuk hati, yang kemudian hingga detik ini saya sadari, tidak akan ada sesuatupun yang bisa menambalnya. Tidak suami. Tidak anak-anak. Tidak siapapun.

Lalu berbulan kemudian airmata ini baru tumpah. Mengair bah. Tidak terbendung dan akan muncul kapan saja ia mau. Saya rindu. Teramat rindu…

Penyesalan silih-berganti datang, bergantian dengan rasa sakit. Tidak ingin ditinggalkan. Tidak suka kesepian. Tidak mau menoleransi kesendirian.

2 tahun kemudian saya menikah. Kehilangan saya terisi, tapi lagi-lagi, tidak pernah terganti. Saya bersyukur mendapatkan suami yang bisa menggenapi sakinah di dalam seluruh ruang rasa. Juga bersyukur karena sosoknya mampu memberikan rasa aman serta perlindungan yang nyata.

Tapi, tidak sedikitpun bisa memberikan citarasa yang sama.

Kenyataannya, saya tetap sedih saat menikah tanpa kehadiran seorang ayah. Juga teriris melihat seorang ayah dan anak gadisnya bercengkerama. Terluka melihat seorang kakek mengantarkan cucunya ke sekolah. Juga terisak saat pedih hidup tak menemukan ruang bercerita.

Kehilangan orangtua di saat muda, paruh baya ataupun tua, tak pernah meninggalkan bekas bahagia. Selalu luka. Selalu airmata. Jika tiada airmata, mungkin sedikit sesal karena tak pernah memberikan lebih banyak ketimbang yang seharusnya. Jika tidak ada kesedihan, mungkin sejumput hampa meraja, dan itu sudah cukup membuat kita menjadi manusia.

Dan 8 tahun sejak keberpulangannya, saya tidak tahu kata apa yang bisa membahasakan kehilangan di dalam sini. Seperti kata-kata seorang kakak yang kerap saya ingat, “Doa menghubungkan kita dengannya.” Tapi bukankah doa tak pernah membuat yang berjarak menjadi bersua, dan bagaimana bisa, perasaan cinta menemukan muaranya jika perjumpaan hanyalah mimpi belaka?

Apapun, tidak ada yang bisa menggantikan tempatmu, Bapak. Tetaplah disini, di ruang hati terbesar, dan biarkan putrimu ini memendam rindunya sendiri. Hingga tiba saat berjumpa. Hingga bahagia tak mengijinkan setitik duka menihilkannya. Lalu di hari dimana kesedihan tiada, kita akan berpelukan lagi, berjalan bersama lagi, dan yang tersisa hanyalah bahagia, sukacita, tanpa jeda, tanpa sudah.

Yaa Rabbi, ampuni dosanya, terangi kuburnya, mudahkan hisabnya, masukkanlah ia ke surga. Aamiiin.

 

Kamis, 13.10.2016 /  19:51 wib

 

Rindu #1

images-48

Di dalam ruang jiwa kita, ada bilik bersekat-sekat. Aku berikan ruang besar itu untukmu : seseorang yang dalam diamnya, lebih sering berbuat. Dalam lelahnya, tak banyak kesah terungkap. Dalam getirnya hidup, tak banyak keluh terangkat. Dan karenanya, mungkin, luka batinmu sibuk kaupendam sendiri. Dan karenanya, mungkin, setiap rasa kau cecap sendiri.

Aku tak pandai mengeja rindu. Karena bagiku, rindu adalah terjemah cinta. Kagum. Sayang. Yang terrangkai begitu saja tanpa kata. Mungkin juga tak memerlukan beragam eja.

Terkadang ia meluap. Mungkin juga menyurut. Tapi tak pernah sedikitpun padam.

Terkadang ia badai. Kadang pula angin sepoi. Tapi tak pernah ia kerontang.

Katakan padaku bagaimana rindu harus mendapat tempat. Pada gejolak jiwa ringkih yang acap mencari sandar. Pada langkah kaki yang kerap mencari pijak. Pada kemelut jiwa, yang seringkali terjebak taufan.

Adakah yang bisa kita lakukan
Untuk menyampaikan rindu
Di saat doa tak lagi mampu
Menjadi obat yang ampuh?

Yaa Allah, jaga ayahku selalu..

***

Wed, 21th Sept 2016, 7:15 pm

Di Persimpangan

 

autumn
Langit pekat. Dan gemintang tak terlihat. Cukup sunyi dan kian menyenyap di kala tak sedikitpun terdengar bebunyi jangkrik ataupun para ngengat. Dan, hatimu…, adakah ia masih meriuh-menggelombang bersama langkah yang mungkin goyang?

Di persimpangan, apakah hatimu yang bimbang, ataukah kakimu yang mulai keliru menapakkan perjalanan?

Sejatinya jiwa kita memang selalu membutuhkan harapan. Atas berbagai hal yang ideal. Atau mimpi yang begitu indah untuk diwujudkan. Atau, cita-cita yang sangat tinggi untuk digapai. Atau pula, keinginan sederhana yang dimulai dari langkah-langkah kecil, ringan, namun menjadi landasan yang kokoh untuk kehidupan.

Jika kini, telah tersadar bahwa pandangmu selalu dan pasti mutlak berbataskan cakrawala, maka apalagi yang sepatutnya engkau usahakan untuk melampauinya? Apa yang sesungguhnya jiwamu butuhkan untuk ia hadir di sini, membersamai?
Jiwa kita yang kerdil tidak pernah puas. Dan memberinya makanan lain hanya akan merusaknya. Pasti. Meski perlahan.

Cepat atau lambat kaki kecilmu akan melangkah. Terus berjalan. Tapi jalan mana yang kaususuri, sudahkah kaupastikan? Melakukan hal benar mungkin masih saja membukakan kesalahan, terlebih, melakukan hal yang tak dapat dibenarkan. Sudahkah, sudahkah, setitik cahaya di dalam hatimu kaubiarkan memekar berpendaran?

Di persimpangan, cahayamu tentu saja tertiup angin. Terlempar badai. Tertutup debu dan pasir. Tapi sejauh mana jemarimu menggenggamnya kokoh, akan membuat ia bertahan, hanya jika engkau ingin. Sudahkah, sudahkah, engkau ijinkan pijarnya menyala merah, ataukah belenggu jiwamu membuatmu menyerah dan terkapar kalah?

Di persimpangan, hatimu akan terus bertanya. Dan kakimu akan berjalan. Untuk keabadian. Untuk perjumpaan. Entah keselamatan. Atau keburukan.

 

Rabu 2.08.2016

“Bukan ia-nya yang salah. Hanya, pastikan saja tak mendurhakai-Nya saat kelopaknya merekah.”

 

Di Lorong Sunyi

 

lorong

Di lorong sunyi ini kita berjalan. Ditingkahi ceria tertawanya yang tak paham ada apa. Seceria senyum mereka yang tak mengerti di depan sana bagaimana.  Dan aku tersibuk menghitung waktu yang tidak pernah berhenti. Menghitung langkah kaki yang ingin sekali berselonjor barang sekali.

Sampai kapan kita melangkah?

Gumamku menemukan ujung yang tak pernah berjeda. Sedemikian jauh perjalanan dan aku mengeluh lelah. Bolehkah?

Sementara kakimu terus tegap mengayun, berlari, berderap-derap di lorong sunyi. Sesekali ia mungkin terpeleset. Tergenang air. Tersapu becek. Tapi tidak sedikitpun berhenti. Meninggalkan kesahku yang terus teraduk dalam payah.

Bolehkah? Bolehkah?

Penghujung jalan ini jauh, teramat jauh. Aku bahkan tidak melihat ujungnya ada. Tak mampu meraba dimana akhirnya menyata. Barangkali juga ia hanya fatamorgana.  Semacam harapan yang fana. Hanya bias. Hanya cahaya yang menipu mata.

Aku tersedak dan nafasku menyesak. Oksigen hilang dan aku mulai meraup udara dari mulut yang membuka. Mungkin aku kehilangan yakin. Dan mulai goyah kehilangan angin. Udara menggigil tetapi tak semili kubik pun 02 terbang menembus rongga diafragma yang haus udara.

Tapi engkau terus saja berdiri tegak. Terus melangkah di atas merahnya telapak. Tidak peduli saat kuku-kuku mengelupas. Abai meski engkau tahu ragamu melemas.

Lalu aku sibuk bertanya, “sudah sampai mana? Apakah masih jauh? Sampai kapan? Apakah kita akan berhenti? Dimana?”

Kaubilang kaupun tak tahu sampai kapan kita harus melangkah. Tapi gerakmu tetap terayun. Mungkin kali ini bersama gelepar pasrah. Meski aku tahu tidak ada kata menyerah.

“Jangan berhenti.”

Aku mendengar huruf-hurufmu berbalapan bersama nafas yang tersengal. Mungkin mereka bosan menghela udara dan sama kesal.

“Karena kita tak bisa berhenti. Karena tugas kita hanya berlari.”

Tapi bukankah perjalanan ini sudah begitu jauh? Terlampau jauh? Mengapa harus? Mengapa terus?

“Karena kita tak mungkin mundur. Atau berbalik lagi.”

Lalu kauhirup udara yang tersisa. Mungkin hanya cukup untuk sekali hentak. Tapi larimu kian melesat.

Dan di lorong sunyi ini kita melangkah lagi. Ditingkahi tawa mereka yang lepas; merajuk, berputar, berhamburan, tak paham sama sekali apa yang terjadi. Hanya turut berlari tak henti-henti.

Dan aku, mengikuti saja jalan yang membuka. Menyeret kakiku yang kesulitan mengeja. Mengokohkan hati. Menunggu datang cahaya.

–o–

28042016. 00:33wib
~di penghujung april yang nyaris pecah