Menstruasi Berkepanjangan


Apakah di antara Anda ada yang pernah mengalami haid atau menstruasi berkepanjangan?

Masa haid normalnya berkisar antara 5-8 hari, namun ini tergantung pada siklus menstruasi masing-masing orang. Saya sendiri termasuk yang cukup lama, baru benar-benar bersih hingga 9 hari. Rasanya rugi sekali saat Ramadhan tiba, ketika saya harus bolong puasa 9 hingga 10 hari. Maasyaa Allah, saat mengganti/qadha puasa setelah Ramadhan selesai itu seperti tak selesai-selesai saking banyaknya. Tapi rupanya ada juga yang siklus menstruasinya mencapai 15 hari. Qadarullah, insya Allah ada kebaikan dalam setiap kehendak Allah 🙂

Saya mengalami haid berkepanjangan atau muncul flek di luar haid sejak masa gadis.  Pernah saya periksakan pada dokter kandungan, namun sang dokter tidak dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada organ vital tersebab saya belum menikah. Diagnosa pun sebatas perkiraan bahwa yang terjadi dikarenakan pengaruh hormon.

Dua bulan terakhir haid saya rupanya muncul 2x dalam sebulan. Yang pertama benar-benar haid, namun yang kedua ini meragukan. Jedanya semenjak suci hanya 5 hari saja dan munculnya di luar kebiasaan. Selain itu saya juga merasakan nyeri di perut bagian bawah yang persis sekali nyeri saat haid. Tapi kali ini karakter darahnya merah dan segar, tidak seperti darah haid yang amis dan kehitaman. Dengan karakter seperti itu, maka saya memutuskan untuk tetap shalat, karena saya yakin ia adalah darah istihadhah (darah penyakit). Alhamdulillah keputusan saya tidak keliru, karena setelah saya berkonsultasi dengan Dr. Valleria, Spog, beliau membenarkan bahwa itu adalah darah istihadhah. Meski demikian beliau menyarankan agar saya memeriksakan diri ke dokter kandungan, karena hal tersebut tergolong abnormal. Diagnosanya hanya bisa tegak setelah ada pemeriksaan langsung. Dan waktu pemeriksaan pun sebaiknya dilakukan saat darah masih keluar, ujar beliau.

Selang bersih 2 hari, rupanya darah keluar lagi seperti semula dengan volume sedang. Kali ini saya mengejar jadwal dokter supaya dapat memperoleh kepastian diagnosa. Maka berangkatlah saya diantar suami tercinta ke dr. Andi Fathimah, spog, di RS Aulia Jagakarsa. Dokter kandungan yang ternyata seangkatan dengan Dr. Valleria ini adalah dokter yang mendampingi selama proses kehamilan anak ke-2 saya. Sosoknya yang keibuan, lembut dan mau menjelaskan dengan sabar membuat saya dan suami nyaman saat berkonsultasi dengan beliau.

Namun tak ayal, berbagai pikiran berkecamuk dan rasa cemas tak juga terhindarkan, khawatir terdapat penyakit yang parah semisal kista, kanker rahim, dsb.. na’udzubillaah. Meski begitu suami menenangkan saya bahwa yang saya alami besar kemungkinan hanyalah pengaruh hormon. Rupanya ia sempat membaca beberapa sumber di internet yang menyebutkan beberapa kemungkinan dari abnormal bleeding ini.

Sampai di rumah sakit sayapun menjalani serangkaian pemeriksaan, yakni periksa dalam (VT/Vaginal Toucher) dan USG. Alhamdulillah rahim saya bersih dan tidak ditemukan kelainan yang mengkhawatirkan. Hanya saja dinding rahim saya rupanya cukup tebal/mengalami penebalan (hiperplasia). Jika dalam keadaan tidak haid ketebalan normal dinding rahim adalah sekitar 3 mm saja, dinding rahim saya saat itu mencapai 10 mm. Dr. Fathimah mengatakan bahwa penebalan dinding rahim ini terjadi karena faktor ketidakseimbangan hormonal, ketika peningkatan hormon estrogen tak diimbangi oleh peningkatan progesteron. Faktor penyebab lain bisa karena di picu oleh Ada gangguan kesehatan, seperti mengidap diabetes, obesitas, atau gangguan yang mempengaruhi kelenjar pituitary (kelenjar di otak yang mempengaruhi hormon), pemakaian obat-obatan yang mengandung estrogen dan progesterone, stres yang berat dan berkesinambungan.

Dengan kondisi seperti ini wajar saja saya mengalami pendarahan, karena dinding rahim yang tebal ini memang akan meluruh dengan sendirinya di bawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron. 
Hiperplasia sendiri memiliki beberapa level, yaitu :
  1. Simplek. Penderita dengan kondisi ini tak perlu cemas berlebihan karena Hiperplasia simplek tergolong ringan dan takkan berakhir dengan keganasan sehingga penderita tetap masih bisa hamil.
  2. Kistik. Seperti halnya simplek, kasus ini tak berbahaya.
  3. Atipik. Kondisi yang satu ini mesti diwaspadai. Atipik cenderung merupakan cikal bakal kanker.
Sementara itu, pengobatan yang bisa ditempuh pasien adalah :
  • Tindakan kuratase selain untuk menegakkan diagnosa sekaligus sebagai terapi untuk menghentikan perdarahan.
  • Terapi hormon untuk menyeimbangkan kadar hormon di dalam tubuh. Namun perlu diketahui kemungkinan efek samping yang bisa terjadi, di antaranya mual, muntah, pusing, dan lainnya. Rata-rata setelah menjalani terapi hormonal sekitar 3-4 bulan, gangguan penebalan dinding rahim sudah bisa diatasi. Jika pengobatan hormonal yang dijalani tak juga menghasilkan perbaikan, terapi akan dilanjutkan dengan obat lain.
Karena rahim saya bersih dan tidak memerlukan tindakan kuretase, maka dr. Fathimah hanya memberikan obat penormal hormon dengan dosis tertentu.

Dr. Fathimah juga menyatakan bahwa hiperplasia ini tidak perlu dikhawatirkan, namun tetap saja dapat menjadi berbahaya di kemudian hari, karena ia berpotensi menjadi kanker rahim. Tetapi, seolah menenangkan saya, dokter Fathimah buru-buru berujar bahwa kanker rahim biasanya terjadi di usia mendekati 50 tahun. Mudah-mudahan saya bisa terus menjaga kesehatan organ kewanitaan sehingga tak perlu mengidap penyakit yang parah. Dan untuk Anda, jika mengalami menstruasi berkepanjangan, ada baiknya untuk segera memeriksakan diri ke dokter agar dapat diketahui penyebabnya dan tentu saja treatment yang tepat.

Bunda Dikuncikan Farah

Bismillah…
Ini cerita tentang Farah. Antara getir untuk dikenang, lucu untuk ditertawai, sekaligus bikin geleng-geleng. Jadi bingung mau tertawa atau sedih. Hehehe…
Ceritanya Farah umur 11 bulan waktu kejadian ini. Sedang puncak-puncaknya fase separation anxiety alias tidak mau berpisah lama-lama dari Bundanya. Menghilang dikit si Bunda dari pandangan, tangisannya meledak lalu ia akan berjalan tertatih-tatih mencari.
Sore itu Bunda kepingin pipis. Gak mungkin donk bawa-bawa si Farah ke toilet.. jadi Bunda tinggalkan Farah di ruang tengah sambil mengendap-endap. Sebab kalau diberitahu, sama aja dia akan nangis juga.
Dan benar, belum ada 1 menit Bunda di kamar mandi, Farah nangis dan menyusul ke toilet. Awalnya hanya merengek. Tapi karena tidak kunjung dibukakan pintu, dia menggedor-gedor sambil menangis kencang.
And the story starts…
Pintu kamar mandi itu ada selot kunci di luar dan dalam. Dan Farah yang cerdas meraih selot luar, menggesernya sehingga… “srettt!”, pintu terkunci.
Bunda sama sekali gak nyangka Farah bisa menggeser selot kunci itu sehingga Bunda terperangkap di dalam. Sambil memanggil-manggil nama Farah, Bunda menahan sedih mendengar tangisannya yang semakin kencang. Ya Allah, anakkuu… apa yang kamu lakukan?
Sambil coba mengendalikan diri, Bunda bicara pada Farah. “Farah tenang ya.. buka kuncinya, Sayang. Ayo digeser lagi seperti tadi. Pegang selotnya ya…”
Tentu saja Farah yang masih 11 bulan itu tidak mengerti bagaimana menggeser selot yang terkunci. Jadi dia hanya menangis, meraung-raung karena tidak kunjung melihat Bundanya.
Kehabisan akal, Bunda juga mulai terserang panik.  Gak mungkin ini selot terbuka kalau tidak dibuka dari luar. Dan tidak ada orang sama sekali di rumah. Tapi.. ada tetangga! Barangkali mereka dengar…
Berteriaklah Bunda melolong di tengah tangisan Farah yang super kencang.
“Tolooooooonggg….. Tolooonggg…..”
Sekali, dua kali, tiga kali, enam kali… sepuluh kali…
Ya Robb, tidak ada orang yang dengar… sakitnya tenggorokanku berteriak.. padahal suara mereka di luar rumah sekilas terdengar dari dalam WC.
Bunda pun berusaha menarik pintu kamar mandi yang terbuat dari stainless. Tapi terlalu kuat, tidak bisa ditarik!
“Dindaaaaaa….. toloooongg….. Divaaaaaaa…. Tooo..loooongggg!!” Bunda berusaha lagi memanggil nama anak-anak sebelah.
“TOOOOOOLOOOOOOOONGGGGG…. DINDAAAAA…… DIVAAAA…… OM SONIIIIIIII….. TOOOLOOOOONGGGGG!!!!”
Nama tetangga Bunda sebut satu-persatu. Tetap tidak ada respon.
Hujan mengguyur dan menerbitkan suara menderu.
Ya Allah bagaimana ini… Farah semakin keras tangisnya. Dan bunda semakin panik karena hopeless berteriak tanpa hasil.
Akhirnya Bunda coba selipkan tangan Bunda ke luar pintu lewat daun pintu yang atas. Farah sedikit tenang dalam sesenggukan.  “Tenang ya Farah, Bunda sedang berusaha…”
Tapi… tangan Bunda tidak sampai!  Selot kuncinya terlalu jauh. Tangan Bunda terjepit!
Ya Robb… hopeless lagi. Komat-kamit hati Bunda berdoa pada Allah minta diberikan cara atau pertolongan. Lalu Bunda teriak lagi sekencang-kencangnya, “TOOOO…LOOOOOONGGGG!!!!”, ditemani suara Farah yang tak kalah kencang menangis dalam kepanikan. Tak terasa mata ini ikut berkaca-kaca saking bingungnya.
“Farah… Farah keluar yaa.. ke pintu, Nak.. Farah panggil Kakak Dinda, atau Kakak Diva…”
Tapi Farah tidak mengerti sama sekali.
Dalam kepasrahan Bunda coba ambil gayung, lalu menyelipkannya di antara daun pintu supaya celah yang terbuka semakin lebar sehingga tangan ini bisa masuk. Lumayan sakit juga tangan ini terjepit. Ayo, ayo sedikit lagi…
Arghh… gak bisa!
Farah terus menangis.. dan Bunda semakin panik.
Gayung diselipkan lagi, kali ini didorong terus ke arah bawah, terjepit di pintu dan… “Grombyaanggg….!”
PINTU TERBUKA!!! Slot kuncinya terlepas bersama sekrup-sekrupnya.
Alhamdulillaaahh….
“FARAAAAAAHHH….!!!!!”
Seperti ibu dan anak yang sudah berpuluh tahun berpisah tak pernah jumpa, Bunda langsung memeluk Farah yang menangis hebat. Membelainya dalam pelukan sembari menenangkannya.   Dan Farah kecil yang tadinya menangis kencang langsung terdiam dalam dekapan Bunda.
“Are you oke, Farah? Sudah gak papa ya Sayang… Bunda disini… Farah peluk Bunda ya…”
Sore itu haru sekali… gak tega dengar tangisan Farah yang begitu sedih dan memeluk Bunda begitu kencang seolah tidak ingin berpisah.
Bunda langsung susui Farah supaya dia semakin nyaman. Matanya menatap Bunda dengan kesedihan. Merasa bersalah sekaligus kehilangan amat-sangat. Sesekali nafasnya masih tersengal di antara tenggorokan yang menelan ASI.
“Ssssh… tenang ya Sayang.. kan Bunda sudah disini sama Farah… J
Begitu terkendali semua, Bunda keluar menemui tetangga di depan rumah, mamanya Diva. Mau laporan.
“Mbak, aku baru aja dikunciin Farah di kamar mandi…”
“Hah, saya gak dengar apa-apa…” kata mama Diva.
“Iya saya teriak kenceng banget , mbaak…” hiks… sedih bener gak ada yang denger, keluh Bunda dalam hati.
“Ooo jadi itu tadi kakak yang teriak kenceng-kenceng? Pantesan Diva tadi kayak dengar suara orang minta tolong… tapi gak jelas, soalnya kan ketutup suara hujan, Diva pikir suara darimana…” kali ini Diva angkat suara.
“Tapi Alhamdulillah udah bisa keluar.. Kasian Farah nangis kenceng tadi.. Gak kedengeran sama sekali??”
“Enggak, kak Inda.. gak kedengeran. Orang ujan deres banget…”
Hufftt… yasudahlah. Nasipnya Bunda deh.
“Makanya Kakak lain kali kalo mau ke WC bilang Diva dulu.. nanti Diva jagain Farahnya.”
Owh so sweet Diva yang baik.. tapi tawarananya rada telat yak? -_-‘
“Baiklah lain kali kakak titip Farah yah…”
Bunda bawa Farah masuk ke dalam lagi.. menyusui lagi sambil menatapnya penuh kasih.
“Farah sayang, tadi hebat banget bisa kunci pintu kamar mandi… Tapi Bunda kan jadi terkunci di dalam.. Lain kali tidak usah main kunci lagi ya Nak.. kan kasian jadinya Farah nangis di luar.. Ya?”
Mata Farah menatap Bunda lekat-lekat. Sesenggukannya mulai terdengar lagi, seperti merasa bersalah dan bilang, “Maafin Farah ya Bunda…”. Lalu Bunda peluk bidadari Bunda ini sambil menenangkannya lagi.
See… harus tertawa bangga, atau mengurut dada bersedih ya karena kejadian ini?
Oh, Farahku sayang… tak habis pikir Bunda dibuatmu, Nak… Semoga gak terulang lagi ya…

18 Januari 2013, 00:33 wib.
Ditulis Bunda saat Farah sudah berumur 14 bulan.

Terminal Kampung Melayu, Suatu Senja

Bismillah…

Selasa sore di terminal Kampung Melayu, senja menjelang malam.

Jakarta diguyur hujan badai.
Berlebihan?
Ah, tidak. Benar-benar badai.
Hujan mendera tanpa ampun, ditingkahi guntur yang susul-menyusul. Pukul 14.15 wib hari itu langit benar-benar hitam, bukan lagi kelabu. Sama persis dengan kondisi langit pukul 18.00 dalam keadaan normal. Bayangkan!

Beruntung, saat aku pulang pukul 17.00, hujan sudah menyusut.
Sudah sampai terminal Kampung Melayu.
Berjingkat aku melangkah, menghindari masuknya air ke dalam sepatu. Mengapa kerumunan orang begitu banyak menyemut di tengah-tengah?

Kuedarkan pandang ke sekeliling. Arus kendaraan menuju Cawang begitu padat. Rupanya tak banyak angkot yang stand by di terminal. Bukan tak mau, tapi tak sampai. Sepertinya macet luar biasa karena kemungkinan besar banjir dimana-mana.

Aku mematung. Angkotku mana, ya?

Tiba-tiba seorang pengamen kecil mendekatiku. Perempuan. Kutebak usianya baru 8-9 tahun.

”Mbak minta Mbak…”
Refleks aku mengatupkan tangan dan berucap maaf, sembari mengalihkan perhatianku pada kendaraan yang ditunggu.

Tapi ternyata ia tak menyerah.
”Mbak…… minta Mbak…”
Aku menoleh. Kali ini memperhatikan dengan lebih seksama.
Oke… *gak tega

”Nyanyi dulu…” pintaku. Tidak ada yang gratis di dunia ini, nak…
”Minta mbak…”
”Yah nyanyi dulu. Gak mau ngasih kalau gak nyanyi…”
*maksa mode : on. Lah dia juga maksa… Lo dapet gw dapet donk… haha…

Akhirnya gadis kecil itu bersiap menyanyi.
”Eh! Jangan nyanyi deh! Ngaji aja!” potongku.
”Ngaji apa Mbak….”
”Umm…apa ya… hafalnya apa?”
”Doa makan aja Mbak??” matanya berbinar.
Seorang bocah kecil lain menghampiri kami. Kali ini jauh lebih muda usianya. 4-5 tahun mungkin? Seketika sejumput perih tiba-tiba hadir bertandang…

”Iya Mbak…Allahumma baariklana fiima rozaqtana waqinaa ’adzaabannaar…” si kecil berteriak tanpa diminta. Wajah polosnya seolah haus pujian.

Aku tersenyum. ”Al Fatihah coba gimana…”
Lalu mereka berlomba melafalkan, berbalap-balapan.
”Allahumma baariklana fiima rozaqtana…”
”Lho… Al Fatihah… kok jadi doa makan terus… Gak mau… coba ulang…”
Aku membantu mengarahkan. ”Bismillaahirrohmaanirrohiim…”
Lalu mereka melanjutkan. Dan aku menyimpul senyum senang. Enak ya ngerjain anak-anak… *lho?!

Tidak ada yang gratis di dunia ini. Semua perlu harganya sendiri. Jika kamu ingin mendapatkan apa yang kamu inginkan, berusahalah sekuat tenaga.
Hina. Betul-betul hina.
Siapa yang mengajari mereka meminta-minta???
Tak sanggup kubayangkan apa jadinya mereka yang sejak dini diajari menengadahkan tangan; meminta dan meminta!

Seorang bapak paruh baya mendekat dan mengamati mereka. Pertunjukkan mereka usai, dan imbalan yang kujanjikan segera berpindah tangan.
”Ditabung ya…” pesanku sebelum mereka berlari. Cerewet kaali kakak ini, mungkin begitu mereka pikir…

”Anak seperti itu aja bisa ngaji… banyak anak orang kaya malah hancur hidupnya…” si bapak berkomentar tanpa ditanya.
”Hehe… begitu ya Pak…”
”Iya… ada yang narkoba lah… sekolah gak bener lah… tapi anak-anak kaya mereka bisa ngaji…”
”Hehe… saya iseng aja tadi Pak. Daripada mereka minta-minta, saya suruh ngaji aja dulu…”
”Ya bagus mereka bisa…”

Akhirnya kami malah berbincang ringan. Sampai tak lama kemudian angkot yang ditunggu oleh bapak itu datang. Sementara mobil yang kutunggu masih tak kunjung datang, kuputuskan untuk meminta orang rumah menjemput saja.

Dan terminal Kampung Melayu semakin diselimuti malam. Sekelebat peristiwa, mungkin mengandung begitu banyak pembelajaran…

Jadi sebenarnya tema tulisan ini apa ya?

Tuesday, 14.04.2009, 09.30 am.

Di Pintu Kereta


Baru kali ini aku berdiri di tepi pintu kereta

Memandang peron berjalan
Juga orang yang duduk hendak menumpang
Hilir mudik datang-pulang

Menjalani hidup yang tak pernah selesai.

Baru sekarang ini aku melongok pintu kereta
Menatap langit membentang

Menghirup udara nan menyejukkan
Bebaskan mata bagi cakrawala
Luas,
Seluas mahakarya Sang Pencipta

Baru kali ini kuberdiri di pintu kereta
Meresapi perjalanan
Memaknai kehidupan

Di suatu masa

Akan jua berpulang.

13.10.2008
10.10 wib

note : diketik di hp waktu bnr2 berdiri di pinggir pintu kereta. ternyata asyik banget bediri di deket pintu kereta…adem dan bisa liat pemandangan. pantesan byk yg seneng gelantungan ya…

pic from : http://www.flickr.com/photos/jsampsonak/2752173296/
makasih dan maaf ga ijin..

Menginspirasi, Bukan Memotivasi


Bismillah…

Sebagaimana manusia biasa, saya berulang kali mengalami penurunan motivasi.
Termasuk juga soal bisnis. Kalau lagi malas rasanya benar-benar tak bergairah. Ekstrimnya malah jadi ingin berhenti.

Tapi alhamdulillah saya sudah menemukan solusinya.
Kalau sedang malas, yang saya kerjakan kemudian hanyalah memaksakan diri untuk melakukan. Ternyata, energi itu saya temukan justru ketika saya berbuat. Dan motivasi itu tumbuh seiring pergerakan kita.

Jadi, bukannya menunggu motivasi dulu, baru bergerak.
Tapi bergerak dulu, hingga dorongan itu tercipta dengan sendirinya.

Kata sepatu Nike mah, “Just Do It!”.
Begitu kira-kira poin pertamanya.

Sekarang kita masuk ke poin kedua.

Ceritanya kemarin sore saya baru saja bertemu partner bisnis untuk memberikan arahan. Padahal saya lagi agak malas. Tapi demi tanggung jawab dan biar semangat lagi, akhirnya saya lakukan juga.

Benar bahwa saya menjadi energik setelah melakukan pekerjaan saya, tanpa menunggu termotivasi dulu sebelumnya. Tapi begitu selesai, saya ngos-ngosan.
Perasaan sih tadi saya gak ngomong sampai setengah jam deh…
Tapi kekuatan saya seperti terkuras…

Begitu si rekan pulang, saya langsung teringat pesan senior saya,
“Jangan menjadi motivator, tapi jadilah inspirator.”

Saya mengerti sekarang.
Saya kelelahan karena terlalu banyak bicara, memotivasi.
Yang diberi arahan sih manut-manut saja. Tapi kok saya jadi merasa ‘tersedot’ ya?? Dan seberapa lama motivasi itu akan bertahan?

Butuh banyak pengetahuan/knowledge untuk menjadi seorang motivator.
Dan biasanya harus termotivasi dulu sebelum dapat memotivasi orang lain.
Lalu apa bedanya dengan inspirator?
Inspirator, tanpa banyak kata, secara otomatis menjadi motivator bagi orang lain. Jika motivator mendorong orang lain melalui lisannya dan ia dapat memotivasi orang lain sebelum ia melakukan apa yang dimotivasikan, maka seorang inspirator melakukan hal-hal yang mampu mendorong orang lain, tanpa perlu ia katakan sebelumnya. Inspirator mampu memancing insight yang membuat orang lain berpikir, kemudian terdorong melakukan sesuatu.

Contoh konkretnya nih…
Misalnya saya sedang malas membaca buku.

Lalu datang orang pertama, si motivator.

Dia bilang, “Baca buku itu nambah wawasan lho! Jadi pinter, banyak pengetahuan…”

Lain dengan si inspirator.
Tanpa banyak cincong, dia rajin baca buku minimal 1 judul sehari.
Begitu dia bicara, kata-katanya bernas semua.

Lihat perbedaannya?

Ketika didorong oleh si motivator, saya jadi rajin membaca. Tapi saat tidak dimotivasi, saya jadi malas lagi.

Beda dengan si inspirator. Dengan melihatnya saja, saya jadi kagum dan berpikir, kok kalimat yang keluar dari mulutnya meaningful semua ya.
Lalu saya cari tahu mengapa bisa seperti itu.
Begitu dapat jawabannya bahwa dia memiliki kebiasaan membaca minimal 1 judul sehari, saya meneladaninya tanpa ia minta.

Well…
Banyak bicara memang melelahkan. Apalagi kalau tujuannya memotivasi, seperti pengalaman saya di atas.
Begitu kita tidak memotivasi, objek yang kita tuju kehilangan gairahnya. Sebab motivasi yang tumbuh pada dirinya berasal dari luar alias motivasi eksternal.
Terlebih lagi kalau yang kita motivasi ternyata tidak termotivasi. Makin merasa lelahlah kita…

Berbeda dengan menjadi inspirasi.
Tanpa banyak bicara, perbuatan kita mampu membuat orang di sekitar kita tergugah.
Lebih dari itu, contoh yang kita berikan melalui perilaku, mampu menimbulkan perubahan yang lebih maksimal : menggerakkan!

Inilah yang disebut motivasi intrinsik, dorongan yang berasal dari dalam diri sendiri. Dalam banyak literatur psikologi, motivasi intrinsik disebut-sebut terbukti lebih mampu membuat suatu perilaku bertahan.
Tambahan lagi dari rekan senior saya, inspirasi juga akan lebih (mudah) diingat ketimbang motivasi karena real, nyata terlihat.

Disini peran si inspirator hanyalah trigger, pemicu. Tak lebih dari itu.

Dan jangan lupa, integritas merupakan modal utamanya.

Jadi, pelajaran yang bisa dipetik hari ini adalah:
1. Jangan tunggu motivasi muncul baru kita mau bergerak. Tapi bergeraklah, lalu lihat apa yang terjadi *dengan gaya Mario Teguh*. Hehehe…
Maksud saya, bergeraklah, lalu rasakan bahwa motivasi itu tumbuh dengan sendirinya. Makin banyak kita bergerak, semangatnya juga makin membesar. Setidaknya itu yang saya rasakan.

(Btw saya sudah mencoba dan berhasil. Kalau gak percaya, cobain deh sendiri )

2. Jadilah inspirator, bukan motivator.
Selain melelahkan, menjadi motivator terkadang tak selalu membuat orang tergerak. Kalaupun ia tergerak, kemungkinan hanya sementara waktu. Sedangkan inspirator, tanpa banyak bicara, mampu membuat orang lain terdorong lalu bergerak dengan motivasi yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri.

Kesimpulan umumnya, kalau dipikir-pikir mah, kuncinya lagi-lagi mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang juga… hehehe…
Ayo SMANGATTT….
😀

~NyemangatinDiriSendiri…
Tuesday, 02.12.08, 10:30pm

Ibu 40 Hari (2)

Sayur:

Sayur asem
Sayur sop bakso
Tumis kacang panjang
Pecel
Sayur labu santan plus tahu

Lauk :
Ikan lele goreng
Balado kentang
Tempe goreng biasa/tepung
Perkedel jagung

Daftar belanja :
Ikan lele 7.000
Bahan sayur asem 3.000
Tempe 2 lonjor 4.000
Jagung manis 6.000an
Bumbu dapur 1.000
Cabe hijau 2.000
Cabe merah 3.000
Cabe rawit 1000
Ceker ayam 3.000
Bahan sayur sop 2.000
Bakso 4.000
Kentang 5.000
Tauge 1.000
Daun bawang-seledri 1.000
Kacang panjang 1.500
Bumbu pecel 3.000
Tahu pong 3.000
Labu siam 4.000….

HAH…
Belanja begituan doank abis 50 ribu!!!
Padahal itu gak ada ayam atau daging…
PARRAHHHH……………

~sutris! >_

pic from : http://portugues.istockphoto.com/file_closeup/food-and-drink/
fruits-and-vegetables/5966189-vegetable-cartoon-collection.php?id=5966189

Berilah Kasih Lebih Banyak!

Bismillah…

Baru-baru ini saya sedang menghadapi ujian.
Standar ya? Namanya juga hidup. Kalau hidup gak mau dapet ujian, ke laut aja… Hehe…

Dibilang ringan… yaa…sebenarnya memang tidak terlalu berat. Tapi dibilang menyebalkan, lumayan. Semacam kerikil di sepatu kita gitulah. Masih bisa buat jalan sih, tapi mengganggu.

Nah, syukurnya kemarin itu saya mendapat ‘taushiyah’ dari Andrian, seorang nasrani yang merupakan mentor bisnis saya nan ganteng tapi udah punya istri *lho*. Kqkqkqkq… (hush!)

Berhubung Andrian ini sibuk banget dan saya jarang ketemunya, jadilah hari itu saya menyimak baik-baik setiap kata yang keluar dari lisannya. Pria berusia 29 tahun ini mengawalinya dengan berkisah,

“Dulu, ada seorang agen asuransi yang jatuh terpuruk karena terlilit hutang. Rumahnya sampai disita dan ia harus menggelandang di pinggir jalan. Bertemulah dia dengan para gelandangan lainnya dan hidup bersama mereka beberapa lama. Sampai suatu ketika, si penghutang berbaik hati memberinya penangguhan dan mengembalikan rumahnya selama beberapa waktu, sampai ia bisa melunasi hutang-hutangnya.
Singkat cerita, rumah itu ia tempati lagi dan ia menjalani kehidupan normal seperti sedia kala. Suatu hari, datang seorang gelandangan yang ingin menumpang di rumahnya. Dan si agen asuransi ini mempersilakannya dengan senang hati. Toh ia hidup sendirian di rumah itu, pikirnya,”.

Sampai situ Andrian berhenti dan mengajukan pertanyaan,
”Nah, kalau Anda jadi si agen asuransi tadi, apakah ada di antara Anda yang mau begitu saja mempersilakan gelandangan masuk ke rumah Anda?”


Lalu ia melanjutkan lagi,

“Hari-hari terus berjalan dan agen asuransi ini terus bekerja keras. Tak disangka-sangka, suatu hari ia bertemu dengan seseorang, yang ingin membeli asuransinya yang termahal!”
Mata Andrian berbinar-binar. Dan saya mulai merasakan darah saya berdesir di dalam.

“Kisah kedua…” lanjut Andrian.
“Ada sebuah toko yang menjual barang mebel. Lalu datanglah seorang nenek berkunjung ke sana. Melihat penampilan nenek yang tampak bersahaja ini, seorang pelayan hanya bertanya singkat, “Cari apa?” sambil bersikap acuh tak acuh dan cuek.

Akhirnya pindahlah nenek tersebut ke toko lainnya. Di toko ini, sang pelayan melayani nenek ini dengan begitu ramah dan santun. Disapanya nenek itu, lalu ditanyainya, kira-kira apa yang perlu dibantu. Dengan sangat melayani, pelayan itu mengambilkan barang yang dibutuhkan. Waktu terus berjalan dan suatu hari, ada seorang pengusaha kaya-raya yang ingin membeli mebel dalam jumlah besar. Ternyata pengusaha ini merupakan cucu si nenek tadi. Tanpa pikir panjang, nenek itu meminta cucunya membeli mebel di toko tempat ia berbelanja dulu yang melayaninya dengan sangat baik!”

Masih dengan bersemangat, Andrian bercerita.
“Kisah ketiga…” ujarnya.
“……….”
Uh, saya lupa bagaimana cerita ketiganya itu. 😀

Intinya, Andrian rekan saya ini ingin menyampaikan pesan, “Berilah kasih lebih banyak!!! Dan Tuhan pasti akan membalasnya dengan lebih banyak lagi!”
Lalu tentu saja ada yang bergemuruh di dalam hati saya.

Ah, kalau saja tak banyak orang di situ, airmata saya pasti sudah tumpah.
Pasalnya, baru-baru ini saya merasa kesal sekali dengan seorang rekan yang saya sudah bantu pun, masih tak mau bergerak sendiri di atas kakinya. Seperti mendorong kerbau yang tak bergeming sedikitpun dari kubangan lumpur tempat ia berpijak! Padahal saya ingin mendorongnya ke padang rumput yang hijau dan subur, dan ia tahu itu!


Tapi Andrian mengingatkan saya.

Apakah saya sudah memberi kasih dengan tulus? Apakah saya sudah benar-benar berniat membantunya? Apakah saya sudah melakukan semuanya tanpa pamrih dan hanya benar-benar ingin menolongnya?

“Beri kasih lebih banyak dan buang egoismu! Karena kita tidak akan bisa sukses jika egois dan tidak membantu orang lain!”

Sore itu, saya memungut hikmah yang tercecer dari seorang nasrani bernama Andrian.
Dan seringkali ia membawakan nasihat yang kalau saya tafsirkan dalam bahasa saya, intinya tentang meluruskan niat.

Saya jadi berkaca.
Perasaan saya hari itu memang cukup negatif. Kesal, gemas, geregetan, campur aduk semuanya. Bayangkan!
Rekan saya itu bermasalah, lalu ia mengadu pada saya. Lalu saya coba menawarkan solusi. Tapi ternyata ia malah memilih untuk berkubang dengan masalahnya dan tak mau bertindak!! Ugggghhh… gemesssss! >_<

Makanya, kata-kata Andrian hari itu seperti siraman ruhani buat saya. Dan saya paham betul, ia sudah mengalami tempaan yang mengharuskan ia melakukan nasihatnya terlebih dahulu, sebelum menyampaikannya pada saya dan rekan-rekan lain.
Maksud saya, saya tahu benar bahwa Andrian punya integritas; tidak lagi sekedar cuap-cuap berteori, apatah lagi ‘ngemeng’ dalam konsepsi-konsepsi yang hebat tapi kosong implementasi.

Dan tak jarang saya teringat pada kata-kata Ali bin Abi Thalib,
“Lihat apa yang dikatakan. Jangan lihat siapa yang mengatakan”.

Dalam pengamatan saya, terkadang Andrian yang nasrani itu jaaauh lebih konkret mengaplikasikan teori sikap positif daripada saya yang notabene muslim ini, yang kesemua konsepnya sudah tercakup dalam ajaran Islam, terdokumentasikan dalam Al Qur’an, dan juga sudah dicontohkan lebih dulu oleh Rasulullah saw, sang teladan sepanjang zaman.

Sayangnya, saya pribadi terkadang masih sulit bersikap positif, dan naasnya, banyak muslim yang saya temui sehari-hari, juga demikian! Jago bicara soal konsep ukhuwah, tapi bergesekan sedikit dengan saudaranya, jadi sangat mudah kecewa. Pandai menyitir ayat tentang mengubah keadaan diri sendiri, tapi amat sangat minim aksi.

Jika Mario Teguh mengibaratkan Islam sebagai tipe komputer tercanggih dengan software terlengkap, dan agama lainnya sebagai tipe komputer yang tidak selengkap dan secanggih Islam, maka tak lebih, saya hari ini belajar dari Andrian yang nasrani dengan segenap kemanusiaan saya.
Ceceran hikmah itu ada pada fithrah Andrian yang hanif.

Lurus. Bening.
Dan cahayanya tak padam-padam, malah akan terus bersinar.

Mengomentari hal ini, rekan bisnis saya yang lain malah berkata,
“Itulah bedanya. Andrian itu seperti mutiara. Sayangnya, ia masih berada di lumpur dan belum menyadarinya.”

Kita yang muslim, mungkin memang berlian.
Tapi coba pikirkan. Betapa seringnya kita sibuk menggores diri sendiri, membiarkannya cacat dengan perilaku negatif dan bukannya malah memancarkan cahaya…

Big thanx to Pak Andrian atas nasihat dan inspirasinya 🙂
~Monday, 10.11.08, 08:24am.

pictures are taken from: http://www.cardiophile.com
thx soo much. maaf ndak ijin yo..