Ketika Berpulang

snow-flower

 

Bismillah.

Membaca What You Learn After Losing A Parent At A Young Age mengingatkan saya pada peristiwa 8 tahun silam, saat ayah saya berpulang. Tidak ada rasa terkejut, tidak pula rasa sakit di saat kejadian. Saya menemani beliau dalam sakitnya selama 7 tahun, suatu rentang waktu yang tidak sebentar untuk menjadi lumpuh, tak dapat  bicara, tak bisa berjalan, hingga tergeletak begitu saja tanpa daya di tempat tidur. Saya yang mendampingi beliau untuk berbagai hal : menyuapinya, memandikannya, beristinja’, menemaninya sholat dalam lafadz yang masih saja fasih didengar, mengajaknya bercerita meski tak 100 % ia tangkap, tertawa, memeluk tubuhnya, dan sebagainya. Dan Mamah, tentu saja terlebih-lebih lagi.

Di hari terakhirnya, saya berlari-lari mencarikan obat karena kondisi Bapak kian memayah. Jam menunjukkan pukul 17.30 saat itu, dan sepulang kerja saya mempercepat langkah agar bisa mencapai maghrib di rumah. Lalu saya melakukan aktivitas seperti biasa : shalat, bebersih, makan malam, dan menemani Bapak di kamarnya.

Masih bernafas teratur, saya memegang tangannya yang lemah. Kulitnya mengeriput. Tulang-tulangnya menonjol karena daging tubuhnya kian berkurang. Giginya juga rusak parah. Seperti bayi, bahkan lebih lemah dari itu. Lirih, saya berbisik pada Allah.. berikanlah yang terbaik buat Bapak, ya Rabb..

Pukul 9 malam kakak saya pulang dan saya mendesaknya untuk membawa Bapak ke rumah sakit, tapi dia menolak. Sudah tidak lama lagi, ujarnya. Dan menunggu ambulance hanya semacam kesia-siaan karena membutuhkan waktu yang lama. Jadi kami sibuk saja menemani Bapak sambil tilawah di sebelahnya serta mentalqinkannya kalimat tauhid tak jeda-jeda.

Lalu 1 jam kemudian nafasnya tersengal. Dan kami semakin berbisik di telinganya sambil menahan airmata yang mendesak keluar. Bukan rasa sedih, hanya sepenggal rasa tak tega melihatnya berjuang dalam sakaratul maut. Masya Allah, demikian beratnya perjuangan itu…

Dan benar saja, tak lama beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir, tepat di hadapan saya. Berkebalikan dengan itu, saya menghembuskan nafas berat tetapi lega. Bukan karena tidak kehilangan, tapi lebih karena berakhir sudah penderitaan Bapak selama ini. Karena, siapa yang tega melihatnya terus-menerus menggeletak tanpa bisa bergerak? Bahkan bebayi masih bisa menggerakkan bola matanya dengan jenaka, menggerakkan kaki-tangannya dengan lincah, dan sorot mata mereka mampu berbicara meski eja belum sempurna. Dan Bapak? Ah… sungguh tak kuat saya membayangkannya.

Kesibukan berikutnya adalah mempersiapkan rumah untuk tamu-tamu yang takziyah, menerima ucap belasungkawa, juga meminta segenap kawan untuk bersama sholat  ghaib agar jamaah kian banyak. Lalu saya ikut mengantarnya ke pemakaman, dan melihat jasadnya diturunkan ke liang lahat. Pandangan saya agak gelap. Tubuh saya limbung. Tapi kesadaran ini masih kuat terjaga bahwa segalanya adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah semua akan kembali. Innaalillaahi wa inna ilaihi roji’uun…

Satu hari berlalu. Dua hari. Tiga hari. Mamah masih saja menangis.

Tapi tidak ada air menggenang di sudut mata saya di hari-hari yang berjalan ketika itu. Hanya ada lubang menganga besar di lubuk hati, yang kemudian hingga detik ini saya sadari, tidak akan ada sesuatupun yang bisa menambalnya. Tidak suami. Tidak anak-anak. Tidak siapapun.

Lalu berbulan kemudian airmata ini baru tumpah. Mengair bah. Tidak terbendung dan akan muncul kapan saja ia mau. Saya rindu. Teramat rindu…

Penyesalan silih-berganti datang, bergantian dengan rasa sakit. Tidak ingin ditinggalkan. Tidak suka kesepian. Tidak mau menoleransi kesendirian.

2 tahun kemudian saya menikah. Kehilangan saya terisi, tapi lagi-lagi, tidak pernah terganti. Saya bersyukur mendapatkan suami yang bisa menggenapi sakinah di dalam seluruh ruang rasa. Juga bersyukur karena sosoknya mampu memberikan rasa aman serta perlindungan yang nyata.

Tapi, tidak sedikitpun bisa memberikan citarasa yang sama.

Kenyataannya, saya tetap sedih saat menikah tanpa kehadiran seorang ayah. Juga teriris melihat seorang ayah dan anak gadisnya bercengkerama. Terluka melihat seorang kakek mengantarkan cucunya ke sekolah. Juga terisak saat pedih hidup tak menemukan ruang bercerita.

Kehilangan orangtua di saat muda, paruh baya ataupun tua, tak pernah meninggalkan bekas bahagia. Selalu luka. Selalu airmata. Jika tiada airmata, mungkin sedikit sesal karena tak pernah memberikan lebih banyak ketimbang yang seharusnya. Jika tidak ada kesedihan, mungkin sejumput hampa meraja, dan itu sudah cukup membuat kita menjadi manusia.

Dan 8 tahun sejak keberpulangannya, saya tidak tahu kata apa yang bisa membahasakan kehilangan di dalam sini. Seperti kata-kata seorang kakak yang kerap saya ingat, “Doa menghubungkan kita dengannya.” Tapi bukankah doa tak pernah membuat yang berjarak menjadi bersua, dan bagaimana bisa, perasaan cinta menemukan muaranya jika perjumpaan hanyalah mimpi belaka?

Apapun, tidak ada yang bisa menggantikan tempatmu, Bapak. Tetaplah disini, di ruang hati terbesar, dan biarkan putrimu ini memendam rindunya sendiri. Hingga tiba saat berjumpa. Hingga bahagia tak mengijinkan setitik duka menihilkannya. Lalu di hari dimana kesedihan tiada, kita akan berpelukan lagi, berjalan bersama lagi, dan yang tersisa hanyalah bahagia, sukacita, tanpa jeda, tanpa sudah.

Yaa Rabbi, ampuni dosanya, terangi kuburnya, mudahkan hisabnya, masukkanlah ia ke surga. Aamiiin.

 

Kamis, 13.10.2016 /  19:51 wib

 

Rindu #1

images-48

Di dalam ruang jiwa kita, ada bilik bersekat-sekat. Aku berikan ruang besar itu untukmu : seseorang yang dalam diamnya, lebih sering berbuat. Dalam lelahnya, tak banyak kesah terungkap. Dalam getirnya hidup, tak banyak keluh terangkat. Dan karenanya, mungkin, luka batinmu sibuk kaupendam sendiri. Dan karenanya, mungkin, setiap rasa kau cecap sendiri.

Aku tak pandai mengeja rindu. Karena bagiku, rindu adalah terjemah cinta. Kagum. Sayang. Yang terrangkai begitu saja tanpa kata. Mungkin juga tak memerlukan beragam eja.

Terkadang ia meluap. Mungkin juga menyurut. Tapi tak pernah sedikitpun padam.

Terkadang ia badai. Kadang pula angin sepoi. Tapi tak pernah ia kerontang.

Katakan padaku bagaimana rindu harus mendapat tempat. Pada gejolak jiwa ringkih yang acap mencari sandar. Pada langkah kaki yang kerap mencari pijak. Pada kemelut jiwa, yang seringkali terjebak taufan.

Adakah yang bisa kita lakukan
Untuk menyampaikan rindu
Di saat doa tak lagi mampu
Menjadi obat yang ampuh?

Yaa Allah, jaga ayahku selalu..

***

Wed, 21th Sept 2016, 7:15 pm