Tenang

Meletakkan tenang pada secangkir teh hangat ini mungkin terlalu naif. Senaif tenangku saat melepas pandang ke laut biru dengan ombaknya nan bergemuruh. Senaif tenangku yang menyeruak saat aku berdekat-dekat denganmu. Karena tenang sejati itu semestinya menyamudra-menyemesta; tak berbatas wadah, tak berbatas benda. Tapi bukankah Sang Mahacinta yang menghadirkannya di antara kita?

Maka seyogyanyalah aku meletakkan tenangku di atas tenang pada-Nya. Kecintaanku, adalah karena Ia sendiri yang menghalalkannya. Kerinduanku, adalah karena Ia sendiri yang menghadirkannya.

Sehingga, jika Dia tak ada di antara kita, pastilah tenangku hanya semu semata. Seperti genggaman coklat yang kerap engkau hadiahkan tempo waktu, lalu habis dan hanya menyisakan bungkusnya di tanganku. Seperti petrichor yang sejuk untuk diraup, tetapi tak lama, ia hilang bersama hujan yang menghentikan rinainya sayup-sayup.

Maka berjanjilah agar ketenangan sejati menghadirkan dirinya di antara kita.

Berjanjilah untuk terus memberi ruang pada-Nya, dan membiarkan Diri-Nya memenuhi jiwa kita.

Dengan begitu kita akan tersadar, tanpa-Nya, cinta kita takkan lama. Tanpa-Nya, ketenangan ini hanya seketika nan sekejap saja.

Sebab bukankah kita menginginkan keabadian cinta yang melampaui ruang dan masa?

Jadi, ijinkan aku merindu, menikmati tenang bersamamu, dengan kesadaran penuh yang perlu kita gugah sepenuh sungguh : tanpa-Nya, cinta ini rapuh. Dan dengan kesadaran itu, aku akan terus menggumamkan syahdu : karena Ia, aku mencintaimu.

Rabu, 05092017, 23.47wib.

Advertisements