Sebelah Sayap

 

Bismillah.

Dunia ini kecil. Akhirat itu besar.
Waktu kita singkat. Begitu sebentar. Dan apa-apa yang sudah lewat tinggal menjadi kenangan. Tidak dapat dikembalikan. Tidak bisa diputar balik. Tidak pula bisa ditebus dengan apapun juga, dengan berbagai cara.

Anak-anakmu bertumbuh. Dan hidup terus berjalan. Dan kau, dimana kakimu berpijak sekarang? Serta, untuk apa? Untuk siapa? Kepada apa dan siapa kautujukan?

Kekurangan harta, kemiskinan, atau kekayaan dan keberlimpahan, menjadi episode yang semestinya tidak lebih besar dari konsentrasimu pada apa yang menjadi amanah utama. Bahwa kehidupan menggilas sesiapa yang tidak berpunya, bahwa kemiskinan mungkin saja menggerogoti cuil-cuil iman kita, mungkin saja… mungkin saja. Tapi kebergantunganmu pada Yang Mahakaya sesungguhnya tengah diuji. Keyakinanmu pada kebaikan-Nya tengah dibentur untuk kemudian keluar sebagai pemenang, ataukah pecundang yang menyerah pada kebendaan yang tak berpihak.

Jiwa-jiwa rapuh kita hidup di dalam roda yang terus berlari kencang. Sekencang usaha, akal, jiwa, raga sebagian kita untuk terus bertahan. Menutup yang berlubang. Mencari lagi demi apa yang kita katakan sebagai masa depan.

Tapi, masa depan yang mana?

Yang bahkan tak lebih banyak dari tetesan air di ujung kuku saat ia tercelup di luas samudra?

Atau kehidupan abadi yang batasnya tak lagi berangka?

space

Jiwa-jiwa ringkih kita tergeletak di jaman yang tak lagi bisa menata dirinya sendiri, untuk melihat gambaran kini atau nanti. Betapa terpukaunya kita pada kemapanan, kenyamanan, keterjaminan…
Lalu apa yang bisa menjaminmu selamat, meski selesai sudah segala mimpi, tercapai sudah segala ambisi, padahal bertrilyun angka yang kau kagumi itu tak satu sen pun kaubawa mati?

Kita dipaksa menyerahkan pilihan untuk kemudian terbawa arus kencang-kencang. Sesuatu yang kita sebut solusi, tetapi sesungguhnya memunculkan bibit penyakit baru yang jumlahnya jauh lebih masif daripada virus manapun yang pernah ada di muka bumi. Betapa ironis. Betapa mengiris. Sementara retina kita terjebak pada hedonisme dan materialisme yang tak mampu memuaskan nafsu, di saat yang sama, nuranimu menggigil, menjeritkan derita akan kesadaran yang tak pernah terpanggil.

Akan sampai kapan ini bergulir?

Sementara maut mendesak-desakmu di batas waktu, dan penjaganya tak pernah lengah mengawasi, menunggu titah untuk bergerak tanpa nanti-nanti. Kita berada di permukaan bumi yang telah tua usianya, dan sungguh sayang, langkah kita bukanlah membuat hidup ini kian panjang.

Bangunlah rumah. Kediaman. Apapun yang menurutmu memuaskan.
Bangunlah istana. Bisnis. Usaha. Atau apapun yang menghasilkan tumpukan harta.

Namun akan ada titik dimana dirimu sadar, mereka tak dapat membeli kebahagiaan di dunia, apalagi kelak di surga. Jadi apa yang tengah kauperjuangkan sesungguhnya? Sementara hidup hanyalah kilatan waktu bagaikan pedang, dan kita hanyalah pejalan yang singgah sebentar di bawah pohon rindang.

Maka seharusnya jiwamu terinsyaf bersegera. Menimbang-nimbang apa yang layak dan tak layak dilakukan. Karena waktu tak dapat ditukar. Masa anak-anakmu yang riuh berceloteh tak bisa kembali. Usiamu tak bisa berhenti. Karena sejauh apapun kesungguhanmu berdaya, akan selalu ada penyesalan meminta, “…dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”

Pegang teguh yang kauyakini, Jiwa. Teruslah menjaga apa yang sepatutnya engkau jaga. Dunia ini sebentar. Kehidupan ini tak lama. Dan akhirat itu abadi. Sebagaimana keabadian akan meminta kesungguhanmu untuk mengabdi sedari sini. Tidak ada yang bisa menggantikan peranmu sedikitpun. Tidak pula bisa kaudelegasikan pada siapapun. Bahagia di sini hanyalah sementara. Dan derita itu tidak selamanya.  Maka genggam erat idealismemu sepenuh sungguh, sepenuh jiwa.  Agar kelak bisa kautuai kenikmatan agung, yang tak pernah bisa tergantikan dengan bilangan apapun. Dan jangan pernah menukar mahalnya kehidupan di sana dengan sepotong sayap nyamuk yang hina, teramat kecil lagi tak berharga.
***

Selasa, 17.10.2016, 03:41 wib

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s