Teman Pengganti Bunda

 

 

muslim-mom2

Sudah 4 hari ini sulung saya sakit. Perutnya mulas, sedikit pusing, dan rintihannya bisa berlangsung setiap saat. Di saat bersamaan saya harus menunaikan amanah sebagai panitia event Sekolah Mommee, komunitas ibu muslimah yang menjadi ruang aktualisasi.

Kami sedang tak ada khadimat. Dan di hari itu pula suami yang biasanya menjadi partner terbaik dalam merawat anak-anak, harus mengisi training di lain tempat. Alternatif yang memungkinkan adalah membawa kakak yang tengah sakit karena ia butuh perhatian khusus, sementara adik bermain di daycare. Maka saya pun membawa kakak di tengah keribetan menjadi panitia event ini.

Kondisinya belum baik, tapi kami tak punya banyak pilihan. Beruntung, tersedia kids corner yang memang kami rancang untuk memfasilitasi orangtua yang ingin belajar namun tidak bisa meninggalkan anaknya. Maka begitu tiba di lokasi, sayapun segera menyiapkan sarapannya dan memintanya makan sendiri seperti biasa. Perjanjian sudah dibuat dari rumah : hari ini Bunda bekerja menuntaskan amanah, kakak bicara dengan nada yang baik atau tidak merengek dan tidak rewel. Hal ini perlu saya tegaskan karena rengekan bagi saya cukup mengganggu mood dan konsentrasi.

Setelah makan hanya beberapa suap, saya segera mengantarnya ke ruang kids corner karena harus segera wira-wiri. Disana sudah tersedia balok-balok, bola, buku cerita, dan kasur untuk berbaring. Lalu saya segera kembali ke ruang event dan melakukan banyak hal.

Beberapa waktu kemudian sulung saya datang lagi meminta minum, diantar kakak pendampingnya. Cemilan dan air pun segera berpindah tangan. Saya pun membujuknya lagi agar ia kembali ke kids corner sehingga saya bisa kembali mengurusi teknis acara. Setelah memastikan ia tenang menyimak buku yang dibacakan kakak pendamping, saya segera menunaikan yang tertunda.

Tetapi tak berapa lama, ia kembali lagi. “Mau sama bunda,” ujarnya. Oke, tidak apa. Tapi lalu mulailah episode itu : sebentar-sebentar ia mengeluh sakit perut. Merengek. Mengintil  sambil mengaduh. Tak terfikir bahwa saya bisa menitipkan pada teman-teman panitia lainnya karena semua sedang bertugas. Tak terlintas kepada siapa amanah ini bisa didelegasikan. Yang terjadi kemudian adalah dia semakin merengek, rewel dan tidur-tiduran di lantai bagian depan, dekat saya bertugas di meja operator. Pemandangan yang tidak cukup indah untuk dilihat. Pertama, karena itu bukan area tidur. Kedua, sikapnya kurang baik. Ketiga, terlalu terekspos fisiknya di depan umum dengan posisi kurang cantik.

Maka saya pun memintanya pindah ke area ibu dan anak di belakang. Mencoba mencarikan buku bacaan, makanan, apapun yang bisa mengalihkannya dalam kesibukan. Tapi hanya berhasil sekian menit. Lalu ia datang lagi dan lagi dengan rintihan berulang-ulang, “sakit perut, Bundaa…”

Klimaksnya terjadi saat saya hendak berwudhu. Ia tak mau ditinggal, mengaduh kesakitan dan mulai menangis. Begitu saya sholat pun ia merintih dalam rewel. Hati saya teriris. Antara bingung harus bagaimana karena semua cara tidak efektif, dan berusaha mengendalikan diri agar tetap sabar dan tenang. Di saat itulah, beberapa akhawat menawarkan obat lain pada si sulung dan mengobati perutnya.

Di titik itu jiwa saya mulai sentimentil. Alhamdulillah ada sahabat yang siap menggantikan peran saya di saat saya tak bisa mendampingi anak. Sahabat yang saya kenali pemikirannya, hatinya, juga akhlaqnya pada anak-anak. Seketika saya berpikir beginilah yang perlu saya siapkan jika suatu saat saya tak ada. Tak lagi ada dalam keseharian mereka. Berpulang. Dipanggil. Dan kepada merekalah kelak saya akan menitipkan buah hati saya. Dengan pendidikan yang saya tahu bahwa kami telah memahaminya bersama-sama. Dengan ilmu yang telah kami dapat dan diskusikan berulang kali, dan kemudian menyamakan frekwensi. Dengan pemahaman yang insya Allah terus berkembang di jalan yang baik. Dengan nilai yang mungkin pada praktiknya tak selalu sama, tapi dasar-dasarnya kami paham harus melakukan yang seperti apa.

Maasyaa Allah. Perkara ini kemudian menjadi penting tatkala kita memang tidak lagi bisa membersamai anak-anak di dunia. Perlu ada sosok ibu yang bisa menggantikan posisi saya. Perlu ada sosok bunda yang hangat, yang dapat saya percaya. Dan saya menaruh kepercayaan pada sahabat-sahabat terbaik yang saya kenali pikiran, ilmu dan pengasuhannya, yang selama ini menjadi bagian dalam pembelajaran parenting bersama-sama. Apakah suami saya bisa mencari istri lainnya agar menjadi ibu bagi anak-anak kami ketika saya mendahului?  Tentu saja. Tapi boleh jadi saya tak kenal dengannya. Dengan pemikirannya. Pola asuhnya. Pemahaman dan perlakuannya dalam mendidik anak-anak.

Itu sebabnya saya ingin katakan pada anak-anak saya, “Sayang, jika kamu butuh peluk hangat, datanglah, berceritalah pada Tante X yang penyayang. Jika kamu menghadapi masalah yang rumit, pergilah ke Tante Y yang bijaksana. Jika kamu butuh penyemangat, pergilah ke Tante Z yang bersemangat.”. Dan tentu saja ini menjadi PR bagi saya untuk mendekatkan anak-anak kepada sahabat-sahabat saya agar mereka semakin mengenal untuk kemudian saling mencintai.

Kita tidak bisa terus-menerus memberikan pendampingan, karena tak tahu kapan harus kembali pulang. Tapi kita bisa mempersiapkan lingkungan yang anak butuhkan untuk perkembangan jiwanya. Untuk kematangan emosinya. Untuk keterampilan, teladan, bimbingan, nasihat, arahan, atau apapun, yang menjadi pengokoh kepribadiannya saat kita, ibu kandungnya, tak lagi bisa berbuat apa-apa. Kondisi ini akan berlaku jika kita kelak jatuh sakit dan tak bisa memenuhi aspek tumbuh kembang anak dengan optimal. Memiliki sahabat yang mau menyayangi anak kita seperti ia menyayangi anaknya sendiri, tentu perlu proses. Dan ini perlu kita bangun sedemikian rupa. Dan dengan berbagai kelebihan-kekurangan mereka, kita perlu mentransfernya pada anak-anak, agar mereka menyerap kelebihan yang ada, belajar dari kebaikan-kebaikan yang dipunya.

Ah, di tengah hiruk-pikuk kepanitiaan hari itu,  dan di tengah suara rintihan yang tak henti-henti, saya mengazzamkan diri untuk memikirkan hal ini lebih serius lagi. Mungkin kami –saya dan sahabat-sahabat- perlu membuat perbincangan khusus untuk saling memback up berbagai keterbatasan. Juga untuk terus menyelaraskan pikiran, hati, juga perlakuan. Kita tidak tinggal di dunia ini selamanya. Dan kita perlu meyakinkan diri bahwa anak-anak berada di sosok-sosok yang dapat diandalkan. Lingkungan yang mendukung, sosok pribadi yang dapat menggantikan, adalah keniscayaan untuk anak-anak yang tak selamanya ada dalam dampingan. Dan semoga kita menikmati surga bersama-sama, dengan keluarga yang saling menguatkan, saling menggantikan, saling mengisi kekosongan. Barakallaahu fikum, sahabatku. Semoga kita dapat bersiap bersama-sama. Untuk generasi yang pasti akan kita tinggalkan.

***

Depok di awal Senin 15.9.2016, 01:44 wib.

Special to akhawat MM : Kenang-kenangan Studium General Sekolah Mommee

Advertisements

Travelling?

Bismillah.sand footprint

Bulan depan saya akan melakukan perjalanan jauh. Travelling!

Biasanya saya akan berteriak “yeayy!” dengan gembira. Bagaimana tidak, berjalan ke lintas kota atau negara, bagi saya yang sesungguhnya anak rumahan ini sangat menyenangkan. Yap, menjeda sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas tentulah menjadi momen beristirahat yang bisa menyegarkan jiwa.

Tapi kali ini entah mengapa rasanya justru lebih banyak cemasnya. Semacam undescribeable feeling yang campur aduk tak jelas rupa. Kalau dulu jaman single, berpetualang ke luar kota bakalan bikin excited banget, sekarang jadi melow sentimentil ditambah cemas bin khawatir. Apakah karena ini perjalanan seorang diri ya?

Kalau dibilang seorang diri banget, sebenarnya tidak juga. Karena rencananya saya akan pergi bersama sekitar 6 orang kawan untuk mengikuti training di Istanbul sana. Dan semuanya adalah para pria. Heu… bagaikan putri di sarang penyamun ya. Udah bujuk-bujuk pak suami padahal, tapi dia bilang baru akan pergi bulan November nanti. So duitnya disimpen dulu buat kepergian berikutnya dan keperluan lainnya. *lobi gagal >_<*

Apakah saya  juga resah karena meninggalkan anak-anak? Hm… bisa jadi. Apalah saya ini, sama sekali bukan ibu karier yang bisa tenang meninggalkan anak berjam-jam meski di tangan Ayahnya sekalipun. Dannn.. baru kemarin pergi seharian dari jam 9 pagi sampai 8 malam, si sulung sudah kirim mesej via whatsapp ayahnya. “Bundaaa kenapa lama bangetttt… kakak udah kangeeen…” *melting*. Dan begitu sampai di rumah, si mungil Mima menghambur memeluk erat dengan rautnya yang berbinar-binar jenaka. Olala… how can i leave you, my dearr… itu baru beberapa jam doang, nanti kalo seminggu lebih gimana.. *mewek*

Pemicu perasaan sentimentil lainnya adalah.. ini perjalanan pertama saya ke luar negeri. Ya baiklah saya sedikit norak dan cemas berlebihan. Tapi kemudian semakin feel bad waktu supervisor kami yang sudah pengalaman bulak-balik Eropa Asia Turki blablabla, menyatakan belum tentu ikut menemani. Heu.. jangan-jangan kami kayak anak ayam ilang nanti.. yang lainnya juga pada baru pertama ke Turkey soalnya *insecure*.

Ah sudahlah. Let it be. Belum juga kejadian udah banyak banget yang dipikirin wkwk.. kebiasaan. Liat aja entar kali ya. Yah meski ga bikin tenang juga karena ini belum solved, at least energinya bisa kita pakai untuk mikirin hal lain. Mulai searching daerah wisata yang menarik misalnya? Hihi..

See you soon, Istanbul! Semoga tak ada halangan. Aamiin..

 

Di Persimpangan

 

autumn
Langit pekat. Dan gemintang tak terlihat. Cukup sunyi dan kian menyenyap di kala tak sedikitpun terdengar bebunyi jangkrik ataupun para ngengat. Dan, hatimu…, adakah ia masih meriuh-menggelombang bersama langkah yang mungkin goyang?

Di persimpangan, apakah hatimu yang bimbang, ataukah kakimu yang mulai keliru menapakkan perjalanan?

Sejatinya jiwa kita memang selalu membutuhkan harapan. Atas berbagai hal yang ideal. Atau mimpi yang begitu indah untuk diwujudkan. Atau, cita-cita yang sangat tinggi untuk digapai. Atau pula, keinginan sederhana yang dimulai dari langkah-langkah kecil, ringan, namun menjadi landasan yang kokoh untuk kehidupan.

Jika kini, telah tersadar bahwa pandangmu selalu dan pasti mutlak berbataskan cakrawala, maka apalagi yang sepatutnya engkau usahakan untuk melampauinya? Apa yang sesungguhnya jiwamu butuhkan untuk ia hadir di sini, membersamai?
Jiwa kita yang kerdil tidak pernah puas. Dan memberinya makanan lain hanya akan merusaknya. Pasti. Meski perlahan.

Cepat atau lambat kaki kecilmu akan melangkah. Terus berjalan. Tapi jalan mana yang kaususuri, sudahkah kaupastikan? Melakukan hal benar mungkin masih saja membukakan kesalahan, terlebih, melakukan hal yang tak dapat dibenarkan. Sudahkah, sudahkah, setitik cahaya di dalam hatimu kaubiarkan memekar berpendaran?

Di persimpangan, cahayamu tentu saja tertiup angin. Terlempar badai. Tertutup debu dan pasir. Tapi sejauh mana jemarimu menggenggamnya kokoh, akan membuat ia bertahan, hanya jika engkau ingin. Sudahkah, sudahkah, engkau ijinkan pijarnya menyala merah, ataukah belenggu jiwamu membuatmu menyerah dan terkapar kalah?

Di persimpangan, hatimu akan terus bertanya. Dan kakimu akan berjalan. Untuk keabadian. Untuk perjumpaan. Entah keselamatan. Atau keburukan.

 

Rabu 2.08.2016

“Bukan ia-nya yang salah. Hanya, pastikan saja tak mendurhakai-Nya saat kelopaknya merekah.”