Di Lorong Sunyi

 

lorong

Di lorong sunyi ini kita berjalan. Ditingkahi ceria tertawanya yang tak paham ada apa. Seceria senyum mereka yang tak mengerti di depan sana bagaimana.  Dan aku tersibuk menghitung waktu yang tidak pernah berhenti. Menghitung langkah kaki yang ingin sekali berselonjor barang sekali.

Sampai kapan kita melangkah?

Gumamku menemukan ujung yang tak pernah berjeda. Sedemikian jauh perjalanan dan aku mengeluh lelah. Bolehkah?

Sementara kakimu terus tegap mengayun, berlari, berderap-derap di lorong sunyi. Sesekali ia mungkin terpeleset. Tergenang air. Tersapu becek. Tapi tidak sedikitpun berhenti. Meninggalkan kesahku yang terus teraduk dalam payah.

Bolehkah? Bolehkah?

Penghujung jalan ini jauh, teramat jauh. Aku bahkan tidak melihat ujungnya ada. Tak mampu meraba dimana akhirnya menyata. Barangkali juga ia hanya fatamorgana.  Semacam harapan yang fana. Hanya bias. Hanya cahaya yang menipu mata.

Aku tersedak dan nafasku menyesak. Oksigen hilang dan aku mulai meraup udara dari mulut yang membuka. Mungkin aku kehilangan yakin. Dan mulai goyah kehilangan angin. Udara menggigil tetapi tak semili kubik pun 02 terbang menembus rongga diafragma yang haus udara.

Tapi engkau terus saja berdiri tegak. Terus melangkah di atas merahnya telapak. Tidak peduli saat kuku-kuku mengelupas. Abai meski engkau tahu ragamu melemas.

Lalu aku sibuk bertanya, “sudah sampai mana? Apakah masih jauh? Sampai kapan? Apakah kita akan berhenti? Dimana?”

Kaubilang kaupun tak tahu sampai kapan kita harus melangkah. Tapi gerakmu tetap terayun. Mungkin kali ini bersama gelepar pasrah. Meski aku tahu tidak ada kata menyerah.

“Jangan berhenti.”

Aku mendengar huruf-hurufmu berbalapan bersama nafas yang tersengal. Mungkin mereka bosan menghela udara dan sama kesal.

“Karena kita tak bisa berhenti. Karena tugas kita hanya berlari.”

Tapi bukankah perjalanan ini sudah begitu jauh? Terlampau jauh? Mengapa harus? Mengapa terus?

“Karena kita tak mungkin mundur. Atau berbalik lagi.”

Lalu kauhirup udara yang tersisa. Mungkin hanya cukup untuk sekali hentak. Tapi larimu kian melesat.

Dan di lorong sunyi ini kita melangkah lagi. Ditingkahi tawa mereka yang lepas; merajuk, berputar, berhamburan, tak paham sama sekali apa yang terjadi. Hanya turut berlari tak henti-henti.

Dan aku, mengikuti saja jalan yang membuka. Menyeret kakiku yang kesulitan mengeja. Mengokohkan hati. Menunggu datang cahaya.

–o–

28042016. 00:33wib
~di penghujung april yang nyaris pecah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s