Mengejar Barakah, Mengeja Cinta-Nya

daisy

 

“…Kamu sudah menjadi istri yang sabar. Tetapi barangkali perlu menguatkan ketabahan.”

* * *

Ada jenak hati tercenung ketika tatap mata mentafakkuri untaian nasihat, “menikah bukan untuk bahagia”. Adakah kita mengharapkan duka sewaktu menggenap bersama pasangan jiwa?

Perjalanan bersamamu sejatinya membukakan diri kita; apakah kebaikan yang tampak, ataukah keburukan yang kian terungkap. Amarah, kekesalan, sakit hati, luapan gembira, ekspresi ceria… apa saja. Dan di setiap diorama dunia, kita ditempa untuk menunjukkan adegan yang sebaik-baiknya. Maka pikiran, perasaan, setiap kata demi kata dalam kalimat, dan gerak-gerik tubuh kita perlu mensinkronisasi itu semua, dalam segala setting yang dirancang sesuka-suka Sang Sutradara.

Bersama langkah-langkah kerdil kaki kita, tapaknya kerap terpeleset, terjatuh terjerembab, mungkin pula terperosok dalam gelap. Jiwa kita yang letih mengoyakkan luka memerah. Dan mungkin menanah parah saat hujan mengguyurkan badai, tak sekali-dua, namun berkali musim dalam bilangan masa.

Apa yang kita cari sesungguhnya?

Nyatanya bahagia tak selalu bisa bermunculan sekehendak kita. Sebentar, sesekali, dan nyatanya sesuka-suka mereka. Ia ada dalam kerlip lilin yang kita nyalakan di tengah kelam. Dalam hal remeh-temeh yang kita ada-adakan. Dalam syukur yang susah-payah kita pintal bersama dalam bait-bait kehidupan. Berkali pula kita menanti-nanti fajar muncul ketika malam memekat, begitu pekat, menantang hati untuk tetap terjaga kuat.

Apakah kita bahagia?

Perjalanan bersamamu sejatinya memancangkan jiwa kita untuk berlatih dalam setiap adukan rasa. Sesiapa yang telah membiasai diri dengan derita, ia akan paham benar bagaimana cita-rasa bahagia. Sesiapa yang telah membiasai diri dengan lara, ia sungguh akan semakin mengerti bagaimana menginsyafi bahagia. Begitu juga sebaliknya.

Terkadang aku tertawa saja. Untuk berbagai lompatan peristiwa yang muncul tanpa dinyana. Untuk beragam kejadian yang di luar logika. Setelah itu mereka berlalu, berjalan, mengkristal kemudian atau terlupakan. Tak jarang pula menitikkan guyuran deras yang menerjun bebas. Tapi kemudian mereka lewat begitu saja, laksana kelebatan-kelebatan pandangan yang berganti-ganti setiap detiknya.

Sebeginikah?

Untunglah sabar itu ada pada benturan pertama. Meski kurasa, benturan itu rupanya berlapis, seperti benteng yang harus kita tembus dengan berbagai cara. Jika sudah terlewat satu, maka yang lainnya menanti lagi di depan sana. Jika tertembus yang kedua, maka yang ketiga, keempat, hingga bilangan entah, terus berdiri dengan begitu gagah.

Tapi bukankah jiwa kita yang koyak belajar merajut dirinya dengan pintalan lebih kuat, dan semakin menguat? Meski ia mungkin saja berdarah, dada kita terengah-engah, dan berkali-kali habis sudah perbekalan yang tersedia, ada tangguh membiasa dalam alir darah kita. Meski godaan untuk berhenti dan menyerah terus menyergap, segala kecemasan dan rasa khawatir jua terus membekap, namun segala janji-Nya mematahkan perih-jerih nan memayah. Menantang keyakinan untuk terus memendarkan cahaya, menerabas berbagai kendala. Wahai, Yang Menjadi Tempat Bergantung segala lemah, bukankah pagi yang hangat akan pasti hadir setelah malam dingin-Mu berrotasi dan bergulir di semesta?

Membersamaimu, memaksa jiwaku memaknai susunan abjad bertajuk ‘barakah’. Bukan bahagia yang kita kejar sepenuh jiwa di kefanaan ini. Karena ia memanglah fana, sebagaimana kesedihan juga sementara. Dan barakah bersama-Nya adalah cinta tak terganti, ketenangan yang lebih hakiki. Mungkin saja Ia memeras sabarku sejadi-jadinya, menagih tabahku sebenar-benarnya. Karena bisikmu, di depan sana bisa jadi akan terbentang ujian yang lebih hebat. Yang lebih memayahkan. Yang lebih meletihkan.

Maka, duhai jiwaku dan jiwamu, demi kasih-sayang-Nya, kuatlah.. kuatlah. Karena yang engkau kejar adalah sebenar-benar Cinta, sebenar-benar kelegaan, dalam berlipat-lipat kebaikan. Dan ia, tak mesti mewujud dalam bahagia, tetapi barakah : untaian kebaikan yang tak henti, melampaui dunia, berkekalan di surga.

Ahad 14.03.2016, 00:15 wib
pic from https://www.pinterest.com/pin/423479171181244108/
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s