Menanamkan Tauhid pada Anak

Kuliah Akademi Keluarga Parenting Nabawiyah Angk. 3 Pertemuan ke-3
👨🏻 Ust. Rofiq Hidayat, Lc
✏ Resume : Indra Fathiana

🌾Tema ini sangat penting ketika kita sudah sepakat bahwa standar kebahagiaan hidup yang kekal nan tidak fana adalah menjalani ketetapan dan ridho Allah. Hidup sesuai dengan aturan Allah, tidak peduli dengan celaan dan pujian manusia.

🌾manusia ditempatkan di dunia karena kesalahan, tapi dunia adalah fase penentuan apakah kita akan kembali ke surga atau malah ke neraka karena kita durhaka

🌾Misi hidup seorang muslim adalah BERIBADAH (qs. Adz Dzariyat 56)
Ibadah di sini berbentuk kata kerja, mewakili aktivitas yg hari ini sedang berlangsung dan akan terus berlangsung di masa depan sampai waktu yg tak ditentukan. Ia BERKESINAMBUNGAN sejak manusia ditaklif (saat bersaksi di alam ruh) sampai ia wafat nanti.
So seorang muslim seharusnya tidak menyisakan sedikitpun aktivitas di dunia ini melainkan untuk ibadah. Sehingga apapun yg dilakukan manusia berpotensi menjadi ibadah, jika kita PAHAM ILMUnya. (kecuali maksiat pada Allah). Dan ibadah itu bukan sekedar shalat, mengaji dan hal2 lain yang mengalami penyempitan makna.

🌾Tugas dalam hidup : menjadi KHALIFAH
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Qs. Al Baqarah : 30)
🌾Tugas ini dibagi menjadi 2 :
1) hubungan dengan Allah (hablumminallah)
2) hubungan dengan manusia (hablumminannas)

🌾Jalan Takdir Kehidupan🌾
Qs. Asy Syams 7-10
➡ ayat 7-8 adlh wilayah ketuhanan, dan ayat 9-10 adlh wilayah manusia

Allah hanya memberikan kecenderungan pada manusia untuk memilih, namun manusialah yang memutuskan dan selayaknya tidak menjadikan takdir sebagai legitimasi atas pilihan buruk yang kita ambil.⁠⁠

🌾Dari paparan ini sejatinya kita memahami bahwa konsep hidup seorang muslim telah ada dan tak perlu dirumuskan lagi, yakni yang tertuang dalam syariat. Begitu juga dengan konsep masa depan di akhirat, jalan utk meraih kebahagiaan hidup, serta jalan untuk menuju kehidupan abadi yang diridhoi.

✨ “Hai orang2 yang beriman, bertakwalah pada Allah dengan sebenar2 taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali2 kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” Qs. Ali Imron :102
➡ tetaplah dalam fitrah sejak janji tauhid itu diikrarkan.. Qoolu balaa syahidna

🌾Asas Pendidikan Islam 🌾
Qs. Al Baqarah 1-5
➡ Allah menyebut Al Qur’an sebagai kitab yang tiada keraguan padanya dan menjadi petunjuk.
Jangan pernah sama sekali meragukan apa yang terdapat dalam kitab.
➡ Visi pendidikan adalah menjadi orang yang muttaqin/bertaqwa.  Sedangkan pelajarannya adalah tentang keimanan (al ghoib), syariat, islam, konsep bermuamalah sesama manusia.
➡ Yang diajarkan pertama pada anak adalah keimanan, kemudian syariat (sholat dll). Bangun keimanan anak dan hak-hak yang harus ditunaikan kepada-Nya, atau dengan kata lain, membangun keshalihan pribadi. Setelah itu baru membangun keshalihan sosial dengan menafkahkan sebagian rejeki.⁠⁠

🌾 Konsep Pendidikan Al Qur’an 🌾
🔹Asas : Al Qur’an sebagai referensi utama
🔹Paradigma berpikir : keyakinan tanpa ragu sedikitpun ttg seluruh isi Al Qur’an
🔹Misi : menjadikan Al Qur’an sebagaj petunjuk hidup
🔹Visi : melahirkan generasi yang bertaqwa

🌱Rousseau mengatakan bahwa anak tidak layak dikenalkan dengan ketuhanan kecuali jika telah mencapai usia 18 tahun. Kita mungkin tidak terima. Yang dikhawatirkan adlh kalau kalimat ini dimodif dan dikemas dengan penelitian, kemudian disodorkan dg  sangat logis. Anak2 tidak boleh dikenalkan dengan konsep yang abstrak, yang celakanya sering disamakan dengan hal goib.
Padahal mengimani yang ghoib dalam Islam merupakan hal penting dan berbeda dengan konsep abstrak yang dimaksud Rousseau.

🌱 Penanaman tauhid mrpkn pondasi terpenting di dunia pendidikan Islam, pondasi semua kebesaran Islam dan muslimin. Jangan sampai terbalik, kita sibuk mengajarkan semua permainan edukasi sejak usia dini, dunia IT, baca tulis hitung bahkan bahasa asing, tetapi tidak mengajarkan tauhid.

🌾Urutan Menanamkan Tauhid 🌾
Menurut Al Ghazali, tahapan menanamkan tauhid pd anak adalah:
1. Al Hifdz – dihafal  ➡ 2. Al Fahm – difahami ➡ 3. Al I’tiqod – ikatan ➡ 4. Al Iqon – keyakinan ➡ 5. At Tashdiq – pembenaran

“Jundub bin Junadah –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Kami telah bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari IMAN sebelum belajar AL QUR’AN, kemudian barulah kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” (HR. Ibn Majah dan disahihkan oleh al-Albani)

1⃣Al Hifdz : Menghafal
Yaitu membacakan berulang-ulang hingga anak2 hafal dan bisa mengucapkannya.
“Siapa Tuhanmu? >> “Allah”
📗📗 cek metode tanya-jawab mengajarkan tauhid sejak dini di buku Ta’limush Shibyan at Tauhid⁠⁠ – Muhammad bin Abdul Wahhab

❗Ajari anak menghafal konsep2 keimanan meski mereka belum paham benar arti dan kandungannya, karena akal mereka belum sampai. Di masa ini kita belum perlu memaparkan dalil, nanti akan ada waktunya.
Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Al Ghazali memulainya dengan menjelaskan tentang sifat sempurna Allah. Kemudian dilanjutkan dengan rukun iman; kehidupan setelah kematian, adzab kubur, mizan, shirath, hisab, surga dan neraka, syafaat. Selanjutnya tengang keutamaan para sahabat Nabi, urutan sahabat setelah Nabi secara kemuliaan dll.

✨ Teknis tahap Menghafal (Al Hifdz)
1. Mulai dengan TALQIN (membacakan berulang2 hingga anak hafal dan bisa mengucapkannya)
2. PENGUATAN dengan pemahaman ilmu tauhid dari Qur’an dan Hadits, sibukkan dengan ibadah dan duduk dengan orang2 shalih, takut kepada-Nya, tenang bersama-Nya
3. Jauhi pengajaran tauhid versi filsafat.

Allah melapangkan awal pertumbuhan anak-anak untuk masuknya iman tanpa ada kebutuhan dan bukti. Namun hal ini membutuhkan penguatan dan penetapan dalam jiwa anak dan juga orang awam agar teguh dan tidak guncang.
❓Bagaimana caranya??
➡ dengan tilawah Qur’an dan tafsirnya, membaca hadits dan memahami maknanya, sibuk dengan tugas ibadah.

🌾Agar Anak Berinteraksi Baik dengan Allah 🌾
(Dari tesis DR. Adnan Baharits)
1⃣Menghidupkan Fitrah
🔹yaitu menjaga dan menyirami fitrah anak agar ia terus tumbuh subur.
🔹Fasilitasi anak dengan hal2 yang mendekatkan mereka pada fitrahnya

2⃣ Mengenalkan nikmat-nikmat Allah
🔹ajak anak mengamati/mentadabburi ciptaan2 Allah (lihat, perhatikan, analisa, simpulkan, bersyukur)
“Allah-lah yang menurunkan hujan dan menumbuhkan biji-bijian..”
Ajarkan terlebih dahulu bahwa hujan diturunkan Allah, baru ajarkan proses terjadinya.
🔹 ajak anak mengingat nikmat Allah dan sibuk mensyukurinya. Qs. Fathiir : 3

3⃣ Muraqabatullah ~ merasa diawasi Allah
❓Bagaimana cara mengajarkan pada anak?
➡ dialog iman tentang Allah Maha Melihat >> tidak boleh bohong, nanti Allah marah. Dsb.
🔹Selalu merasa dalam pengawasan Allah
🔹Takut bermaksiat walau sendirian
🔹Semua perbuatan dan perkataan pasti tercatat
🔹Takut akan datangnya hari ketika mulut terkunci dan semua anggota tubuh berbicara
Qs. Luqman : 16
cek kisah Umar bin Khattab yang menguji seorang anak penggembala domba untuk menjual dombanya dan anak ini bertanya, “Dimana Allah?”

4⃣ Membiasakan Ibadah2 Wajib
Dengan beribadah, anak berlatih langsung untuk menanamkan tauhid uluhiyyah.

🔹Iman ibarat batang pohon, ibadah seperti akar dan pondasi yang menopangnya.
➡ iman perlu tegak dengan hal2 yang tak terlihat namun kokoh dan menguatkan. Jadi ajarkan anak beribadah bukan dengan iming-iming dari kita, tapi tanamkan dengan keimanan pada Allah. Tidak apa2 jika reward hanya sekedar stimulus, tapi terus ingatkan bahwa kita beribadah untuk mendapatkan ridho Allah. Karena jika ibadah selalu kita ajarkan secara transaksional, maka imannya mudah rapuh dan hancur hanya karena ujian yang kecil-kecil. (lihat Qs. Al Fajr : 15-16).

🔹Sholat sebagai ibadah wajib
“Perintahkan anak2 kalian sholat pada usia 7 tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkan di antara mereka tempat tidurnya” (HR. Ahmad dan Abu Dawud-hasan)
➡ sebelum 7 tahun sudah dikenalkan/diajak, 7 tahun diperintahkan dan dipolakan seperti orang dewasa (rapi pada rukun, syarat dan khusyu’-nya), dan di usia 10 tahun bisa jadi tak perlu ada pemukulan.
❗Perhatikan, pemukulan hanya untuk pelanggaran syariat, khususnya sholat.
➡ Jika anak terbiasa beribadah sejak kecil, di usia aqil baligh ia akan terbiasa melakukannya. Namun jika saat baligh baru diajarkan, anak akan menganalisa dan mempertanyakan alasan dan orangtua akan sibuk menyiapkan reward (otak kritis anak berkembang di usia baligh -pen). Anak akan beribadah untuk menyenangkan orangtua dan bukan karena Allah.

❗Peran orangtua :
Selalu mencontohkan apa yang benar ➡ Keteladanan ➡ Kewibawaan ➡  Perintah yang selalu ditaati
✨ Beri peringatan dan nasehat ➕beri teladan ➕ serahkan pada Ahlinya (berdoa, tawakkal ‘alallah).

5⃣ Kisahkan Indahnya Keimanan
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (Qs. Yusuf : 111)
➡ sebagian besar isi Al Qur’an yang merupakan petunjuk hidup adalah kisah. Maka kita bisa tiru metode Qur’an ini (berkisah) dalam mendidik anak. Sampaikan kisah yang detil dan jelas targetnya untuk penaaman tauhid.
🔹kisah Qabil-Habil🔹kisah 3 orang yang terjebak di goa🔹kisah Juraij dan ibunya🔹kisah Abu Hurairah dan setan🔹kisah Bilal bin Rabbah 🔹kisah Ashabul Kahfi 🔹kisah kesabaran Nabi Ayyub🔹kisah Nabi Yusuf as.⁠

6⃣ Kisahkan Indahnya Surga
“Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih kenikmatan (tinggi di surga) yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati manusia” (HR. Bukhari).
🔹Sajikan surga dan neraka secara seimbang, yang dimaksudkan untuk memunculkan harapan dan ketakutan/kewaspadaan.
❗Harus diberi ENDING untuk berharap surga dengan berbagai amalannya, dan menghindari neraka dengan berbagai amalannya. Jangan sampai anak ketakutan, tapi harus kita tumbuhkan sikap optimis dan waspada.
❗Jangan beritakan gambaran surga dengan detil yang tidak ada dalilnya.
Misal, apakah di surga ada es krim? Jawab saja dengan, yang penting kita berusaha agar masuk surga dulu, dan… “di dalamnya, kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta.” (QS. Fushilat : 31)

🌴 Nabi mengibaratkan seorang muslim seperti pohon kurma. Akarnya kuat menghujam, gambaran aqidah yang kokoh. Batangnya besar dan kuat, yaitu ibadah. Jika akar tidak kuat, maka batang sekokoh apapun akan guncang dan hancur.
Maka inilah pentingnya menjaga kekokohan aqidah dan keimanan dengan cara :
🔸tahu bagaimana dalilnya
🔸tahu halal-haramnya
🔸responsif melaksanakan perintah-Nya
🔸 tidak transaksional dalam beribadah
🔸bersabar dalam beribadah, termasuk bersabar menunggu terijabahnya doa yang bisa saja ditangguhkan untuk diberikan di akhirat, atau ditunda sampai waktu yang tepat

☀Pertanyaan ☀
❓Bolehkah menjawab pertanyaan anak dengan “tidak tahu” jika kita mmg tdk tahu ilmunya?
✅ Jawaban : Harus.
Jawaban “tidak tahu” termasuk ilmu. Imam Malik bin Anas dan Imam Ahmad pernah menjawab “tidak tahu” saat ditanya hal yang ia tidak tahu.
Pelajaran yang diambil anak2 dari hal ini adalah
(1) jika kita tdk tahu, maka kita menjawab apa adanya, bukan sok tahu.
(2) jika kita tdk tahu, maka kita perlu belajar.

❓Bagaimana mendidik anak agar tidak terlalu menggampangkan sifat maha pengampun Allah, karena bisa saja anak melakukan kesalahan terus-menerus karena ia tahu bahwa Allah Maha Pengampun?
✅ Jawab : tabiat manusia adalah berbuat dosa, dan sebaik2 orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat. Ia salah, mengaku bersalah, dan mensucikan diri kembali.
Anak2 yang menggampangkan sifat maha Pengampun Allah dengan melakukan kesalahan berulang2, jangan2 ada yang salah dengan keimanannya. Cek ayat yang berkaitan dengan orang2 munafik, yg menyebutkan 13 karakter terkait yaitu kejujuran, komitmen, dsb. Nasehati anak agar menjauhi sifat orang munafik tsb.

-end-

Advertisements