Ketika Dekat, Ketika Jauh


Bismillah…

Masuk waktu isya, tadi. 

Tiba-tiba aku bercerita begitu saja tentang dia. Dan temanku bercerita hal yang sama tentang dia-nya. 

Bercermin pada kisahnya, membuatku kadang terpekur. Betapa aku seringkali bertanya-tanya, mengapa mereka –dan mungkin hampir semua orang di dunia ini- begitu mudah mencintai orang-orang seperti dia. Dan aku tidak bisa. 

Atau barangkali belum mau?

Mungkin juga. 

Tapi apakah aku salah?

Jauh dari dirinya seperti kali ini, menyisakan sesak tersendiri. Kadang iba, kadang tak tega. Tapi dekat kerap kali neraka. Airmata. Amarah. Kesah. Juga tanda tanya maha besar dalam putus asa: Tuhan, mengapa?

Lalu aku meraba-raba perannya. Mungkin sepi dan butuh teman bercerita. 

Lalu coba merasakan jika yang diharap mendengar tak lagi ada. Atau tak mau menjadi teman duduk sembari makan camilan berteman teh hangat di waktu senja. 

Perih, mungkin. Juga sunyi bertubi-tubi. Benar-benar seperti senja: remang, antara sinar matahari yang kian berkurang, dan kemunculan burung hantu yang kukuknya membuat cekam. Serta-merta senyap pun menyeruak ke bumi dalam malam yang selalu hitam.

Tapi aku masih tak bisa lupa. Menjadi tampungan serapah adalah menanggung luka seumur hidupmu: konsep diri yang tumpah-ruah-hancur-lebur-rusak-parah, dan perasaan terbuang-tak diinginkan-tertolak-tak layak ada. Maka percobaan bunuh diri barangkali menjadi episode dramatisasi hebat yang tampak berlebihan. 

Namun tolong pandang mataku baik-baik, kawan. Dan juga mata mereka yang bernasib sama. Kami menanggung luka, lalu apakah kalian menawarkan obatnya? Atau kalian hanya bisa menyumpahi kami dengan norma?

Beranjak seperti ini adalah ketenangan meski mungkin terbumbui sedih dan durja. ”Banyak hal berubah”, kata seorang teman di luar sana. ”Tapi ternyata ada yang tak bisa. Dan dia termasuk yang tidak. Jadi, pergilah.”

Dan aku pergi walau tak disengaja. Dalam keadaan berjarak, mungkin lebih mudah merajut maaf, meski juga perlu usaha. Setidaknya mengembalikan kasih dan iba karena bagaimanapun, siapa bisa menolak eksistensi karena andilnya pula. Setidaknya juga menyulam pinta, menyusun gambaran di kehidupan kedua. Bisa jadi, mungkin saja, do’a-do’a yang terlantun ini meringankan bebannya nanti di akhir masa, ketika tiada lagi iba dari-Nya.

Calang, Ahad, 08.11.2009, 00:38 wib.

berteman gerimis tengah malam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s