I’m Wearing Hijab, Don’t You…?

Bismillah…

2 tahun silam, seorang sahabat lama tiba-tiba muncul di jejaring sosial saya. Dan seperti lazimnya tertera dalam jejaring itu, testimoni-testimoni tentang diri orang lain seperti menjadi wajib untuk kita berikan. Pun saya, tak pelak menerima testimoni sahabat lama saya yang walaupun satu kampus itu, jarang sekali bersua.

Yang membuat saya terbelalak bukan segambreng pujian ini dan itu. Tetapi saya baru saja ngeh ketika ia mengatakan,
“Indra ini orang yang pertama kali nanyain gue, “Mau pake jilbab gak, F?”. Dan besoknya gw mutusin untuk ngikutin dia pake jilbab juga.”

Oh… Did I?
I almost forget, dan bahkan tak ingat sama sekali andai ia tak menuliskannya di kolom testimoni itu.

Kali lain, iseng saya bertanya pada wanita paruh baya rekan satu pekerjaan.
“Don’t you want to wear hijab, Miss?”

Dan memang tak selalu gayung bersambut. Ujar wanita itu,
“Haha… sepertinya tidak. Aku merasa lebih bisa berdiri untuk banyak kalangan ketika aku tak mengenakan jilbab. Aku bisa mudah bergaul dengan siapapun (dengan aku tidak memakai jilbab -red)… Yeah, aku lebih menikmati diriku seperti ini saja.” tukasnya dengan pendirian teguh.

Serta-merta pembicaraan pun ditutup.
Tapi akhirnya saya berpikir, ”Ah, bukankah jika kita memenangkan-Nya, Dia pasti akan beri jalan terbaik bagi kita untuk berinteraksi dengan sesama?”. Dan saya pun teringat seorang Ira Puspa Dewi yang mampu didengar sekian orang dalam forum internasional dimana ia menjadi pembicara, lengkap dengan jilbabnya.
Tapi ya sudahlah. That’s your choice, Mam 🙂

Ada hal menarik dalam pengenaan hijab ini. Jika kita berjalan-jalan di tempat umum di Jakarta, sebut saja mall, pasar, atau tempat rekreasi, niscaya tak kan sulit kita temukan lima-enam-dan mungkin belasan- wanita yang menutup kepala mereka dengan jilbab. Mau yang menutup dada kah, sampai leher saja kah, ataupun yang menjuntai lebar, atau bahkan yang berbelit-belit dengan berbagai modelnya. (huffh…sejujurnya saya bingung memikirkan bagaimana si jilbab berbelit-belit membongkar pasang jilbabnya ketika mau berwudhu…).

Just like a trend (well, i don’t hope so), jilbab menjadi booming dan tampak semakin biasa sekarang.
Seorang om saya yang hidup di Belanda sampai tak habis pikir, “Should Indonesia be an islamic country?” karena sedemikian paranoidnya ia pada “negara islam”, hanya karena melihat perubahan signifikan dimana jilbab amat langka di dekade 80-90-an dan menjadi sangat lumrah di tahun 2000-an ini.
Kasihan, hanya karena seringnya ia mendapati oknum negara arab yang menjadi kriminal di negaranya, tanpa berpikir kritis ia memandang sinis perkembangan drastis itu, dan menolak mentah-mentah diberlakukannya sistem islam di negeri kelahirannya ini.

Saya yang mendengarnya hanya tersenyum. Memaklumi pola pikirnya yang agak mengherankan, menurut saya. Bagaimana bisa ia hidup di negara yang (katanya) bebas, menghargai perbedaan, tetapi sedemikian phobi terhadap agama ini, agama yang juga masih dia anut. Apakah ia juga akan sama curiganya ketika simbol palang misalnya, bertebaran dimana-mana? Apakah akan beda penerimaannya?
Anda berpikir terlalu jauh, Tuan. Kami hanya menjalankan kewajiban individual kami. Itu saja.

Dulu, di era 98-an ketika saya ingin mengenakan jilbab dengan lebih rapi, masih berkeliaran paranoism yang tak jelas asalnya.
“Kalau pakai jilbab nanti susah cari kerja..”
“Susah jodoh lho… dikiranya gak mau bergaul..”
“Kenapa musti menutup diri seperti itu…biarkan saja dunia melihat kemolekan tubuh kita..”
Dan mungkin kalimat terakhir itu masih tak sungkan digaungkan oleh -katanya- para pejuang perempuan. (hehe..perempuan yang mana? Bagaimanapun berlian tak pernah diobral, bukan?).

Sepertinya sekarang tak separah dulu, meski masih ada sekian kasus pelarangan jilbab di sejumlah instansi *masih tak mengerti mengapa isi otak harus dikebiri hanya karena bungkus luar semacam jilbab-rok mini-dan busana-busana itu -_-’

Tapi meski demikian, kemauan tetap tak dapat dipaksakan. Mengenakan jilbab saat ini bisa jadi masih sebatas pada ”suka-suka”, atau ”biar nge-trend”, atau ”ikutan temen”, atau ”malu…abis yang lain pada pake… masa aku gak pake”, dsb, dsb.
Dan jika alasan mereka seperti itu, kamu bisa apa?

Rindu sekali saya pada masa dimana sekian anak muda itu memasangkan kain lebar di atas kepalanya dengan berujar mantap, ”Inilah aku. Ini jalanku. Ini aku dengan segenap pribadi kukuh yang tak mampu dibeli oleh komentar dan cibiran atas hijab yang kupakai.”
Belia-belia yang tumbuh dalam atmosfer kebaikan, yang memberontak tatkala perintah-Nya dipertentangkan, yang mampu berujar tegar, ”Jikalah aku menjalankan apa yang Ia pinta, tentu pertolongan akan jua turut serta!”.
Keyakinan yang terpatri dan tumbuh kuat dalam lurusnya niat, insya Allah.

Namun walau masih juga saya temukan sekian banyak pemudi yang tersentuh hatinya karena cahaya iman, setidaknya saya tak bisa sama sekali menggerakkan. Upaya saya, Anda, atau kalian yang mencoba mengajak hijab itu dikenakan, hanyalah sedikit pintu pembuka. Total, sepenuhnya hanya Dia yang memiliki hak menurunkan hidayah atau tidak. Memberi petunjuk atau membiarkan sesat. Menunjukkan cahaya dan ketentraman batin sejati, atau menyemaikan kilau semu yang menyisakan kekosongan jiwa.

Seperti yang saya hadapi baru-baru ini.
Satu adik di SMA almamater saya, masih juga kekeuh dalam ’baju adek’nya, meski sempat ia utarakan keinginannya mengenakan jilbab. Keluarganya mendukung, lho. Abang pertamanya bahkan berujar, ”Kalo lo make jilbab hari ini juga, gw ajak lo ke toko R (toko muslimah –red), dan lo boleh pilih apapun yang lo mau, gw bayarin!”.

Nyaris habis akal teman-temannya satu lingkar pengajian menyerunya memakai hijab, mengajaknya ke pertokoan muslimah ini dan itu, memberikannya ciput (daleman jilbab yang dikenakan di kepala agar jilbab tak licin di rambut -red), mengusahakan meminjam seragam batik lengan panjang dari kakak alumni, dan sekian banyak ajakan lisan yang tak terhitung jumlahnya.

Dan dia masih saja bergeming. Lalu kami, tentu saja terus meyakini bahwa hidayah Allah mungkin belum turun padanya. Jika Rasulullah saw saja tak mampu mengislamkan Abu Thalib, sang paman tersayang, untuk masuk Islam, apalagi kami, yang barangkali sentuhan da’wahnya terhalang maksiat sehari-hari.

So, tak heran ketika beberapa waktu lalu seorang India yang duduk di sebelah saya dalam pesawat ke Solo masih saja bertanya.
”Does your scarf related to your religion?” ujarnya sambil menunjuk jilbab yang saya pakai. Lalu saya mengangguk dengan kuat. ”Yes. Why?”.
”No…Just wondering…. Jika memang berkaitan dengan agama, mengapa kebanyakan wanita Indonesia tidak memakai scarf sepertimu?”.
Menghela nafas, saya menjawab. “Well… actually it’s an obligation. But when they are not obey, it’s all about choices.”.

Ya. Pilihan sadar yang juga terengkuh karena usaha memahami Diri-Nya, memahami bahwa segala konsekuensi yang mungkin terjadi adalah dengan sepengetahuan-Nya, dan dengan keyakinan sungguh, bahwa Ia tak abai.
Ia menjaga mereka yang berusaha mematuhi-Nya.
Di saat itu, dunia, atau pandangan dan penilaian manusia, menjadi tak lagi pantas tuk diperbandingkan dengan karunia mahal bernama hidayah.
Priceless. Tak terbayarkan.
Persoalannya sekarang semata hanya : mau atau tidak.
Itu saja.


Friday, 29.05.09, 01:46 pm.
Advertisements