Menginspirasi, Bukan Memotivasi


Bismillah…

Sebagaimana manusia biasa, saya berulang kali mengalami penurunan motivasi.
Termasuk juga soal bisnis. Kalau lagi malas rasanya benar-benar tak bergairah. Ekstrimnya malah jadi ingin berhenti.

Tapi alhamdulillah saya sudah menemukan solusinya.
Kalau sedang malas, yang saya kerjakan kemudian hanyalah memaksakan diri untuk melakukan. Ternyata, energi itu saya temukan justru ketika saya berbuat. Dan motivasi itu tumbuh seiring pergerakan kita.

Jadi, bukannya menunggu motivasi dulu, baru bergerak.
Tapi bergerak dulu, hingga dorongan itu tercipta dengan sendirinya.

Kata sepatu Nike mah, “Just Do It!”.
Begitu kira-kira poin pertamanya.

Sekarang kita masuk ke poin kedua.

Ceritanya kemarin sore saya baru saja bertemu partner bisnis untuk memberikan arahan. Padahal saya lagi agak malas. Tapi demi tanggung jawab dan biar semangat lagi, akhirnya saya lakukan juga.

Benar bahwa saya menjadi energik setelah melakukan pekerjaan saya, tanpa menunggu termotivasi dulu sebelumnya. Tapi begitu selesai, saya ngos-ngosan.
Perasaan sih tadi saya gak ngomong sampai setengah jam deh…
Tapi kekuatan saya seperti terkuras…

Begitu si rekan pulang, saya langsung teringat pesan senior saya,
“Jangan menjadi motivator, tapi jadilah inspirator.”

Saya mengerti sekarang.
Saya kelelahan karena terlalu banyak bicara, memotivasi.
Yang diberi arahan sih manut-manut saja. Tapi kok saya jadi merasa ‘tersedot’ ya?? Dan seberapa lama motivasi itu akan bertahan?

Butuh banyak pengetahuan/knowledge untuk menjadi seorang motivator.
Dan biasanya harus termotivasi dulu sebelum dapat memotivasi orang lain.
Lalu apa bedanya dengan inspirator?
Inspirator, tanpa banyak kata, secara otomatis menjadi motivator bagi orang lain. Jika motivator mendorong orang lain melalui lisannya dan ia dapat memotivasi orang lain sebelum ia melakukan apa yang dimotivasikan, maka seorang inspirator melakukan hal-hal yang mampu mendorong orang lain, tanpa perlu ia katakan sebelumnya. Inspirator mampu memancing insight yang membuat orang lain berpikir, kemudian terdorong melakukan sesuatu.

Contoh konkretnya nih…
Misalnya saya sedang malas membaca buku.

Lalu datang orang pertama, si motivator.

Dia bilang, “Baca buku itu nambah wawasan lho! Jadi pinter, banyak pengetahuan…”

Lain dengan si inspirator.
Tanpa banyak cincong, dia rajin baca buku minimal 1 judul sehari.
Begitu dia bicara, kata-katanya bernas semua.

Lihat perbedaannya?

Ketika didorong oleh si motivator, saya jadi rajin membaca. Tapi saat tidak dimotivasi, saya jadi malas lagi.

Beda dengan si inspirator. Dengan melihatnya saja, saya jadi kagum dan berpikir, kok kalimat yang keluar dari mulutnya meaningful semua ya.
Lalu saya cari tahu mengapa bisa seperti itu.
Begitu dapat jawabannya bahwa dia memiliki kebiasaan membaca minimal 1 judul sehari, saya meneladaninya tanpa ia minta.

Well…
Banyak bicara memang melelahkan. Apalagi kalau tujuannya memotivasi, seperti pengalaman saya di atas.
Begitu kita tidak memotivasi, objek yang kita tuju kehilangan gairahnya. Sebab motivasi yang tumbuh pada dirinya berasal dari luar alias motivasi eksternal.
Terlebih lagi kalau yang kita motivasi ternyata tidak termotivasi. Makin merasa lelahlah kita…

Berbeda dengan menjadi inspirasi.
Tanpa banyak bicara, perbuatan kita mampu membuat orang di sekitar kita tergugah.
Lebih dari itu, contoh yang kita berikan melalui perilaku, mampu menimbulkan perubahan yang lebih maksimal : menggerakkan!

Inilah yang disebut motivasi intrinsik, dorongan yang berasal dari dalam diri sendiri. Dalam banyak literatur psikologi, motivasi intrinsik disebut-sebut terbukti lebih mampu membuat suatu perilaku bertahan.
Tambahan lagi dari rekan senior saya, inspirasi juga akan lebih (mudah) diingat ketimbang motivasi karena real, nyata terlihat.

Disini peran si inspirator hanyalah trigger, pemicu. Tak lebih dari itu.

Dan jangan lupa, integritas merupakan modal utamanya.

Jadi, pelajaran yang bisa dipetik hari ini adalah:
1. Jangan tunggu motivasi muncul baru kita mau bergerak. Tapi bergeraklah, lalu lihat apa yang terjadi *dengan gaya Mario Teguh*. Hehehe…
Maksud saya, bergeraklah, lalu rasakan bahwa motivasi itu tumbuh dengan sendirinya. Makin banyak kita bergerak, semangatnya juga makin membesar. Setidaknya itu yang saya rasakan.

(Btw saya sudah mencoba dan berhasil. Kalau gak percaya, cobain deh sendiri )

2. Jadilah inspirator, bukan motivator.
Selain melelahkan, menjadi motivator terkadang tak selalu membuat orang tergerak. Kalaupun ia tergerak, kemungkinan hanya sementara waktu. Sedangkan inspirator, tanpa banyak bicara, mampu membuat orang lain terdorong lalu bergerak dengan motivasi yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri.

Kesimpulan umumnya, kalau dipikir-pikir mah, kuncinya lagi-lagi mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang juga… hehehe…
Ayo SMANGATTT….
😀

~NyemangatinDiriSendiri…
Tuesday, 02.12.08, 10:30pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s