Pahlawan (2)

Para pahlawan punya cara tersendiri untuk menoreh sejarah dirinya.
Ia sadar, dan tahu kapan harus menyusun kekuatan, kapan pula harus mengkontribusikan.

Tetapi pahlawan tak pernah rela kehilangan momen2 pembuktian amal,
bahkan ia menyesal ketika melewatkan episode perjuangan tanpa sengaja.

Karena mereka tahu, tak selamanya usia berdampingan dengan dunia.
Karena mereka sadar, seringkali takdir jauh dari cita-cita.

Dan itulah sebabnya, mereka tak punya kamus selain berjuang dan mengkontribusikan apapun yang ada, agar kelak waktu mencatat sosoknya sebagai sejarah,
ada atau tiada manusia lain yang mengenang jerih payahnya.

***

ditulis 2 tahun lalu kalo gak salah…
gambarnya diambil dari google, udah lama jg, jadi gak tau sumbernya…

Pembicara NATO*



Bismillah…

Kata orang, pengalaman adalah guru terbaik.
Dan sepertinya saya harus sepakat.

Dalam 2 tahun terakhir ketika mengisi pelatihan/seminar, banyak sekali peserta yang lebih senior secara usia maupun pengalaman. Dan saya berdiri di depan mereka sebagai fasilitator, pembawa materi.

“Lihat!
Usianya saja jauh lebih mudah daripada kita.
Pengalamannya pasti juga tak banyak.”

Huffffhh….

Jika bicara soal knowledge/pengetahuan, kita bisa meng-upgrade-nya lewat membaca. Tapi kalau soal pengalaman, saya angkat tangan deh.
Kok bisa sih, bicara tentang pengasuhan anak tetapi sendirinya belum berkeluarga?

Duh, Pak, Buu… ampunnn…
Jangan serang saya begitu dunk… Mati kutu nih!

Yaa…alhamdulillah belum ada sih yang secara frontal bicara seperti itu ketika saya tampil. Tapi kadang-kadang saya jadi merasa minder sendiri. Bukan soal saya lebih tahu mengenai materinya. Juga bukan soal penguasaan apa yang saya bawakan. Tetapi ini soal aplikasi.

Sudah belum, kamu tuh mengaplikasikan apa yang kamu katakan?
Sudah belum, kamu benar-benar menghadapi susahnya menangani anak di sekolah sehari-hari?

Setahun terakhir ini saya semakin merasa tak nyaman.
Persoalannya cuma karena saya merasa… kok apa yang saya katakan normatif sekali ya…
Kok yang saya kasih tau ke peserta itu, cenderung ngawang-ngawang ya…
Kok jawaban-jawaban yang saya berikan, tatarannya ideal sekali dan belum tentu mudah direalisasikan?
Lebih dari itu, saya jadi merasa cuma tau teorinya doang, tapi gak ngerti aplikasinya.
Emangnya saya tahu susahnya jadi guru… sekarang malah berani-beraninya ngajarin guru…
Ngomong mah enak… coba kamu yang ngadapin murid sehari-hari…

Solusi pertama adalah tampaknya saya harus segera menikah *lho*
Maksud saya, minimal saya bisa ngerasain punya anak dan mendidiknya. Jadi kalau saya berbagi sama peserta pelatihan atau seminar, saya bisa bilang bahwa saya juga menerapkan apa yang saya katakan.
Gimana ceritanya mau jadi konsultan pernikahan/keluarga tapi belum menikah, coba…

Solusi kedua, saya harus sering-sering ngobrol atau mengamati orang-orang yang sudah punya anak atau juga guru-guru. Biasanya jadi tau masalah yang suka dihadapi. Misalnya, kalau anak suka bandel gimana, kalau menghukum anak yang efektif seperti apa, menyikapi ini gimana, itu seperti apa, dst.

Akhirnya yang paling sering saya lakukan adalah menceritakan pengalaman orang lain. Real, solutif, membumi, dan tentu saja, sangat aplikatif!
Setidaknya ini menutupi ”lubang” pengalaman saya yang minim sekali.
Judulnya kan berbagi, bukan ngajarin… Hehe… ngeles…

Eh tapinya ya, kalau di bisnis saya mah, gak bakalan boleh jadi pembicara kalau bisnisnya gak jalan. Karena pasti keliatan, antara orang yang benar-benar pengalaman berjuang, dengan orang yang sekedar NATO (no action talk only). Jadi, kejujuran dan integritas adalah fondasi utamanya. Karena kalau tidak jujur dan tidak berintegritas, pasti gak akan ada yang respek dan mau mendengarkan.

Tapi kalau disini nihhh yaa…
Dudududu…

Ah, kan udah saya bilang… saya harus resign secepatnya. Hehe…
*ngomong mulu lu, Ndra…kapan resign benerannya!!*
Peace



Thursday, 04.12.08, 07:23pm

*No Action Talk Only

Menginspirasi, Bukan Memotivasi


Bismillah…

Sebagaimana manusia biasa, saya berulang kali mengalami penurunan motivasi.
Termasuk juga soal bisnis. Kalau lagi malas rasanya benar-benar tak bergairah. Ekstrimnya malah jadi ingin berhenti.

Tapi alhamdulillah saya sudah menemukan solusinya.
Kalau sedang malas, yang saya kerjakan kemudian hanyalah memaksakan diri untuk melakukan. Ternyata, energi itu saya temukan justru ketika saya berbuat. Dan motivasi itu tumbuh seiring pergerakan kita.

Jadi, bukannya menunggu motivasi dulu, baru bergerak.
Tapi bergerak dulu, hingga dorongan itu tercipta dengan sendirinya.

Kata sepatu Nike mah, “Just Do It!”.
Begitu kira-kira poin pertamanya.

Sekarang kita masuk ke poin kedua.

Ceritanya kemarin sore saya baru saja bertemu partner bisnis untuk memberikan arahan. Padahal saya lagi agak malas. Tapi demi tanggung jawab dan biar semangat lagi, akhirnya saya lakukan juga.

Benar bahwa saya menjadi energik setelah melakukan pekerjaan saya, tanpa menunggu termotivasi dulu sebelumnya. Tapi begitu selesai, saya ngos-ngosan.
Perasaan sih tadi saya gak ngomong sampai setengah jam deh…
Tapi kekuatan saya seperti terkuras…

Begitu si rekan pulang, saya langsung teringat pesan senior saya,
“Jangan menjadi motivator, tapi jadilah inspirator.”

Saya mengerti sekarang.
Saya kelelahan karena terlalu banyak bicara, memotivasi.
Yang diberi arahan sih manut-manut saja. Tapi kok saya jadi merasa ‘tersedot’ ya?? Dan seberapa lama motivasi itu akan bertahan?

Butuh banyak pengetahuan/knowledge untuk menjadi seorang motivator.
Dan biasanya harus termotivasi dulu sebelum dapat memotivasi orang lain.
Lalu apa bedanya dengan inspirator?
Inspirator, tanpa banyak kata, secara otomatis menjadi motivator bagi orang lain. Jika motivator mendorong orang lain melalui lisannya dan ia dapat memotivasi orang lain sebelum ia melakukan apa yang dimotivasikan, maka seorang inspirator melakukan hal-hal yang mampu mendorong orang lain, tanpa perlu ia katakan sebelumnya. Inspirator mampu memancing insight yang membuat orang lain berpikir, kemudian terdorong melakukan sesuatu.

Contoh konkretnya nih…
Misalnya saya sedang malas membaca buku.

Lalu datang orang pertama, si motivator.

Dia bilang, “Baca buku itu nambah wawasan lho! Jadi pinter, banyak pengetahuan…”

Lain dengan si inspirator.
Tanpa banyak cincong, dia rajin baca buku minimal 1 judul sehari.
Begitu dia bicara, kata-katanya bernas semua.

Lihat perbedaannya?

Ketika didorong oleh si motivator, saya jadi rajin membaca. Tapi saat tidak dimotivasi, saya jadi malas lagi.

Beda dengan si inspirator. Dengan melihatnya saja, saya jadi kagum dan berpikir, kok kalimat yang keluar dari mulutnya meaningful semua ya.
Lalu saya cari tahu mengapa bisa seperti itu.
Begitu dapat jawabannya bahwa dia memiliki kebiasaan membaca minimal 1 judul sehari, saya meneladaninya tanpa ia minta.

Well…
Banyak bicara memang melelahkan. Apalagi kalau tujuannya memotivasi, seperti pengalaman saya di atas.
Begitu kita tidak memotivasi, objek yang kita tuju kehilangan gairahnya. Sebab motivasi yang tumbuh pada dirinya berasal dari luar alias motivasi eksternal.
Terlebih lagi kalau yang kita motivasi ternyata tidak termotivasi. Makin merasa lelahlah kita…

Berbeda dengan menjadi inspirasi.
Tanpa banyak bicara, perbuatan kita mampu membuat orang di sekitar kita tergugah.
Lebih dari itu, contoh yang kita berikan melalui perilaku, mampu menimbulkan perubahan yang lebih maksimal : menggerakkan!

Inilah yang disebut motivasi intrinsik, dorongan yang berasal dari dalam diri sendiri. Dalam banyak literatur psikologi, motivasi intrinsik disebut-sebut terbukti lebih mampu membuat suatu perilaku bertahan.
Tambahan lagi dari rekan senior saya, inspirasi juga akan lebih (mudah) diingat ketimbang motivasi karena real, nyata terlihat.

Disini peran si inspirator hanyalah trigger, pemicu. Tak lebih dari itu.

Dan jangan lupa, integritas merupakan modal utamanya.

Jadi, pelajaran yang bisa dipetik hari ini adalah:
1. Jangan tunggu motivasi muncul baru kita mau bergerak. Tapi bergeraklah, lalu lihat apa yang terjadi *dengan gaya Mario Teguh*. Hehehe…
Maksud saya, bergeraklah, lalu rasakan bahwa motivasi itu tumbuh dengan sendirinya. Makin banyak kita bergerak, semangatnya juga makin membesar. Setidaknya itu yang saya rasakan.

(Btw saya sudah mencoba dan berhasil. Kalau gak percaya, cobain deh sendiri )

2. Jadilah inspirator, bukan motivator.
Selain melelahkan, menjadi motivator terkadang tak selalu membuat orang tergerak. Kalaupun ia tergerak, kemungkinan hanya sementara waktu. Sedangkan inspirator, tanpa banyak bicara, mampu membuat orang lain terdorong lalu bergerak dengan motivasi yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri.

Kesimpulan umumnya, kalau dipikir-pikir mah, kuncinya lagi-lagi mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang juga… hehehe…
Ayo SMANGATTT….
😀

~NyemangatinDiriSendiri…
Tuesday, 02.12.08, 10:30pm

Ibu 40 Hari (2)

Sayur:

Sayur asem
Sayur sop bakso
Tumis kacang panjang
Pecel
Sayur labu santan plus tahu

Lauk :
Ikan lele goreng
Balado kentang
Tempe goreng biasa/tepung
Perkedel jagung

Daftar belanja :
Ikan lele 7.000
Bahan sayur asem 3.000
Tempe 2 lonjor 4.000
Jagung manis 6.000an
Bumbu dapur 1.000
Cabe hijau 2.000
Cabe merah 3.000
Cabe rawit 1000
Ceker ayam 3.000
Bahan sayur sop 2.000
Bakso 4.000
Kentang 5.000
Tauge 1.000
Daun bawang-seledri 1.000
Kacang panjang 1.500
Bumbu pecel 3.000
Tahu pong 3.000
Labu siam 4.000….

HAH…
Belanja begituan doank abis 50 ribu!!!
Padahal itu gak ada ayam atau daging…
PARRAHHHH……………

~sutris! >_

pic from : http://portugues.istockphoto.com/file_closeup/food-and-drink/
fruits-and-vegetables/5966189-vegetable-cartoon-collection.php?id=5966189