Berilah Kasih Lebih Banyak!

Bismillah…

Baru-baru ini saya sedang menghadapi ujian.
Standar ya? Namanya juga hidup. Kalau hidup gak mau dapet ujian, ke laut aja… Hehe…

Dibilang ringan… yaa…sebenarnya memang tidak terlalu berat. Tapi dibilang menyebalkan, lumayan. Semacam kerikil di sepatu kita gitulah. Masih bisa buat jalan sih, tapi mengganggu.

Nah, syukurnya kemarin itu saya mendapat ‘taushiyah’ dari Andrian, seorang nasrani yang merupakan mentor bisnis saya nan ganteng tapi udah punya istri *lho*. Kqkqkqkq… (hush!)

Berhubung Andrian ini sibuk banget dan saya jarang ketemunya, jadilah hari itu saya menyimak baik-baik setiap kata yang keluar dari lisannya. Pria berusia 29 tahun ini mengawalinya dengan berkisah,

“Dulu, ada seorang agen asuransi yang jatuh terpuruk karena terlilit hutang. Rumahnya sampai disita dan ia harus menggelandang di pinggir jalan. Bertemulah dia dengan para gelandangan lainnya dan hidup bersama mereka beberapa lama. Sampai suatu ketika, si penghutang berbaik hati memberinya penangguhan dan mengembalikan rumahnya selama beberapa waktu, sampai ia bisa melunasi hutang-hutangnya.
Singkat cerita, rumah itu ia tempati lagi dan ia menjalani kehidupan normal seperti sedia kala. Suatu hari, datang seorang gelandangan yang ingin menumpang di rumahnya. Dan si agen asuransi ini mempersilakannya dengan senang hati. Toh ia hidup sendirian di rumah itu, pikirnya,”.

Sampai situ Andrian berhenti dan mengajukan pertanyaan,
”Nah, kalau Anda jadi si agen asuransi tadi, apakah ada di antara Anda yang mau begitu saja mempersilakan gelandangan masuk ke rumah Anda?”


Lalu ia melanjutkan lagi,

“Hari-hari terus berjalan dan agen asuransi ini terus bekerja keras. Tak disangka-sangka, suatu hari ia bertemu dengan seseorang, yang ingin membeli asuransinya yang termahal!”
Mata Andrian berbinar-binar. Dan saya mulai merasakan darah saya berdesir di dalam.

“Kisah kedua…” lanjut Andrian.
“Ada sebuah toko yang menjual barang mebel. Lalu datanglah seorang nenek berkunjung ke sana. Melihat penampilan nenek yang tampak bersahaja ini, seorang pelayan hanya bertanya singkat, “Cari apa?” sambil bersikap acuh tak acuh dan cuek.

Akhirnya pindahlah nenek tersebut ke toko lainnya. Di toko ini, sang pelayan melayani nenek ini dengan begitu ramah dan santun. Disapanya nenek itu, lalu ditanyainya, kira-kira apa yang perlu dibantu. Dengan sangat melayani, pelayan itu mengambilkan barang yang dibutuhkan. Waktu terus berjalan dan suatu hari, ada seorang pengusaha kaya-raya yang ingin membeli mebel dalam jumlah besar. Ternyata pengusaha ini merupakan cucu si nenek tadi. Tanpa pikir panjang, nenek itu meminta cucunya membeli mebel di toko tempat ia berbelanja dulu yang melayaninya dengan sangat baik!”

Masih dengan bersemangat, Andrian bercerita.
“Kisah ketiga…” ujarnya.
“……….”
Uh, saya lupa bagaimana cerita ketiganya itu. 😀

Intinya, Andrian rekan saya ini ingin menyampaikan pesan, “Berilah kasih lebih banyak!!! Dan Tuhan pasti akan membalasnya dengan lebih banyak lagi!”
Lalu tentu saja ada yang bergemuruh di dalam hati saya.

Ah, kalau saja tak banyak orang di situ, airmata saya pasti sudah tumpah.
Pasalnya, baru-baru ini saya merasa kesal sekali dengan seorang rekan yang saya sudah bantu pun, masih tak mau bergerak sendiri di atas kakinya. Seperti mendorong kerbau yang tak bergeming sedikitpun dari kubangan lumpur tempat ia berpijak! Padahal saya ingin mendorongnya ke padang rumput yang hijau dan subur, dan ia tahu itu!


Tapi Andrian mengingatkan saya.

Apakah saya sudah memberi kasih dengan tulus? Apakah saya sudah benar-benar berniat membantunya? Apakah saya sudah melakukan semuanya tanpa pamrih dan hanya benar-benar ingin menolongnya?

“Beri kasih lebih banyak dan buang egoismu! Karena kita tidak akan bisa sukses jika egois dan tidak membantu orang lain!”

Sore itu, saya memungut hikmah yang tercecer dari seorang nasrani bernama Andrian.
Dan seringkali ia membawakan nasihat yang kalau saya tafsirkan dalam bahasa saya, intinya tentang meluruskan niat.

Saya jadi berkaca.
Perasaan saya hari itu memang cukup negatif. Kesal, gemas, geregetan, campur aduk semuanya. Bayangkan!
Rekan saya itu bermasalah, lalu ia mengadu pada saya. Lalu saya coba menawarkan solusi. Tapi ternyata ia malah memilih untuk berkubang dengan masalahnya dan tak mau bertindak!! Ugggghhh… gemesssss! >_<

Makanya, kata-kata Andrian hari itu seperti siraman ruhani buat saya. Dan saya paham betul, ia sudah mengalami tempaan yang mengharuskan ia melakukan nasihatnya terlebih dahulu, sebelum menyampaikannya pada saya dan rekan-rekan lain.
Maksud saya, saya tahu benar bahwa Andrian punya integritas; tidak lagi sekedar cuap-cuap berteori, apatah lagi ‘ngemeng’ dalam konsepsi-konsepsi yang hebat tapi kosong implementasi.

Dan tak jarang saya teringat pada kata-kata Ali bin Abi Thalib,
“Lihat apa yang dikatakan. Jangan lihat siapa yang mengatakan”.

Dalam pengamatan saya, terkadang Andrian yang nasrani itu jaaauh lebih konkret mengaplikasikan teori sikap positif daripada saya yang notabene muslim ini, yang kesemua konsepnya sudah tercakup dalam ajaran Islam, terdokumentasikan dalam Al Qur’an, dan juga sudah dicontohkan lebih dulu oleh Rasulullah saw, sang teladan sepanjang zaman.

Sayangnya, saya pribadi terkadang masih sulit bersikap positif, dan naasnya, banyak muslim yang saya temui sehari-hari, juga demikian! Jago bicara soal konsep ukhuwah, tapi bergesekan sedikit dengan saudaranya, jadi sangat mudah kecewa. Pandai menyitir ayat tentang mengubah keadaan diri sendiri, tapi amat sangat minim aksi.

Jika Mario Teguh mengibaratkan Islam sebagai tipe komputer tercanggih dengan software terlengkap, dan agama lainnya sebagai tipe komputer yang tidak selengkap dan secanggih Islam, maka tak lebih, saya hari ini belajar dari Andrian yang nasrani dengan segenap kemanusiaan saya.
Ceceran hikmah itu ada pada fithrah Andrian yang hanif.

Lurus. Bening.
Dan cahayanya tak padam-padam, malah akan terus bersinar.

Mengomentari hal ini, rekan bisnis saya yang lain malah berkata,
“Itulah bedanya. Andrian itu seperti mutiara. Sayangnya, ia masih berada di lumpur dan belum menyadarinya.”

Kita yang muslim, mungkin memang berlian.
Tapi coba pikirkan. Betapa seringnya kita sibuk menggores diri sendiri, membiarkannya cacat dengan perilaku negatif dan bukannya malah memancarkan cahaya…

Big thanx to Pak Andrian atas nasihat dan inspirasinya 🙂
~Monday, 10.11.08, 08:24am.

pictures are taken from: http://www.cardiophile.com
thx soo much. maaf ndak ijin yo..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s