Buat Apa Nge-blog???



Bismillah.



Pertanyaan itu sudah terpikirkan sejak lama sebenarnya. Buat

apa nge-blog? Tapi kemudian mencuat lagi setelah perbincangan saya dengan seorang teman beberapa waktu lalu. Saya bukan pemantau rutin blog beliau. Ketika saya menanyakan perkembangan blognya, dengan mimik serius dia mengatakan, ”Blog saya sudah saya hapus,”.



Lho, mengapa?

”Blog jadi menimbulkan banyak fitnah… gak ikhlas, takut riya’ dan merasa bagus…” demikian ujarnya.

Alasan dibalik itu yang kemudian membuat saya berpikir.

Saya sudah gelisah sejak lama. Apakah saya harus berhenti menulis? Apakah secara ekstrim saya hapus saja jejak-jejak eksistensi saya dalam bentuk tulisan yang ada? Apakah saya lebih baik tidak usah menuangkan pikiran dan mengenyahkan aktualisasi diri serta turunannya?



Teringat saya tiba-tiba pada perkataan Fudhail bin Iyadh. Ujarnya, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’, sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan. Adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya,” (Maksud beliau adalah apabila ada seseorang meninggalkan amal kebaikan karena takut riya’, seperti dia tak mau shalat sunnah karena takut riya’, berarti dia sudah terjatuh pada riya’ itu sendiri. Yang seharusnya dilakukan adalah tetap melaksanakan shalat sunnah walaupun di sekitarnya ada orang, dengan tetap berusaha untuk ikhlash dalam amalnya tersebut.Lihat Tazkiyatun Nufuus karya Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim dan Abu Hamid, hlm.17, dengan beberapa perubahan).



Saya tahu blog memang berpotensi menimbulkan fitnah (keburukan –red). Bentuknya bisa macam-macam. Mulai dari fans lawan jenis, musuh, penyakit hati, dan lain-lain. Tapi, blog juga berpotensi bessssarrr sekali dalam menyebarkan pemikiran, me-leading kognisi, dan bahkan juga menciptakan budaya menulis yang kreatif, segar, imaginatif, yang kesemuanya saya maksudkan dalam bingkai yang positif. Setuju apa setujuuu…? 🙂



Nah, ujian berikutnya muncul dari komen para pembaca tulisan kita. Katanya, blog yang bagus pasti banyak pengunjungnya. Logika ini juga berlaku dalam seberapa banyak jumlah komentator tulisan-tulisan yang kita posting.



Pertanyaan saya, apakah benar banyaknya komentar mengindikasikan bahwa tulisan kita bagus? Dan sebaliknya, apakah sedikit atau tidak adanya komentar juga menandakan bahwa tulisan kita buruk?

Ah, kalau parameternya sesederhana itu, betapa kasihannya saya dan mereka yang menulis hanya untuk mengharapkan komentar dari orang-orang 🙂



Lagi-lagi saya teringat pada hadits yang tak pernah usang dibahas ini. “Sesungguhnya amal itu tergantung niat…..” (Hadits Bukhari Muslim dengan sanad yang shahih).



Nah, sebagai muslim, tentu saja kita ingin apapun yang kita lakukan bernilai ibadah. Berwujud amal sholih. Wong aktivitas mandi yang sesepele itu juga bisa bernilai ibadah kok. Kan menjaga kebersihan merupakan sebagian dari iman… (wah, kalau selama ini kita mandi cuma begitu aja gak pake diniatin buat ibadah, sayang banget ya..).



Apalagi menulis yang niatnya menyebarkan nilai-nilai positif dan berbagi pada sesama.

Yang sangat memprihatinkan buat saya, sejak awal ngeblog, saya tidak pernah habis melihat postingan-postingan yang isinya hujatan dan caci-maki. Rasanya kalau masuk ke blog itu, energi saya terserap begitu banyak. Pulang dari sana, hati saya mendadak jadi capek luar biasa.



Dulu saya juga pernah komplain dengan seseorang sambil menyebut namanya di blog saya. Berharap dia membaca, malu karena keburukannya saya kupas, dan kemudian saya berharap para pembaca berpihak pada saya. Saya sungguh puas!! Tapi saya sudah menyakiti orang lain dan juga menyebarkan kebencian padanya.



Adalah aman bagi saya jika ia adalah orang yang pemaaf. Tapi bagaimana jika tidak? Bagaimana jika di hari kemudian ia menuntut saya, lantas amal kebaikan saya berpindah kepadanya?



Tak sedikit pula yang mengomentari fenomena sehari-hari, lalu menuangkan opini negatifnya atas fenomena tersebut, lalu memancing sekian banyak komentator yang tak kalah negatifnya. Duhhh… rasanya dada saya jadi sesak setelah berkunjung ke blog itu.

Apalagi kalau isi maupun komen-komennya diimbuhi dengan hujatan, caci-maki, perasaan tak suka, atau kata-kata kotor, yang terekspos sedemikian rupa. Jengah!!



Jika kita memang tulus untuk mengingatkan, mengapa tak langsung saja menyampaikannya kepada yang bersangkutan? Apakah kita juga suka jika orang lain mengingatkan atau membuka aib dan kesalahan kita di depan khalayak ramai?



Rasa-rasanya saya tak yakin ada di antara kita yang menyukainya.

Lagi-lagi saya mengurut dada. Semua kembali pada niat masing-masing. Jika tidak bisa menebar manfaat, semoga kita tak perlu menjadi mudharat. Jika tak bisa menyemai kebaikan, semoga kita juga tak perlu menjadi sumber munculnya keburukan.

Dan barangkali kita juga perlu waspada. Jangan-jangan, perbuatan yang selama ini kita anggap baik, ternyata sama sekali tak bernilai!

Alih-alih merasa bangga bersinar di hadapan manusia, ternyata kita tak lebih dari seonggok sampah di hadapan-Nya…

Dan merugilah kita… merugilah kita…





~mengingatkanDiriSendiri…

Mohon maaf buat yang sudah terzhalimi selama saya ngeblog ya 😥

Thursday, 6.11.08, siang2 gitu deh ngetiknya…



thx to : http://ghuroba.blogsome.com/2007/05/23/ikhlas-betapa-sulitnya/

pic from http://www.latinonutrition.org/Resources-LinkstoOtherOrganizations.htm

Advertisements

3 thoughts on “Buat Apa Nge-blog???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s