Kerjaan oh Kerjaan…

Bismillahh…





Again.

Pikiran ini tidak henti-hentinya berputar di benak saya. Soal kerjaan! Lagi!



Jadi masih kerja aja, Ndra?



Blah…

Kerisauan ini muncul lagi setelah permasalahan sebelumnya memang belum tuntas.

Pelajaran satu : tuntaskan masalahmu agar ia tidak berbuntut panjang!

Tak lain tak bukan, masih juga soal pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan saya tentu saja. Yahh… salah sendiri juga sih. Masak kerja di lembaga sosial ngarepin banyak. Mbok ya ngono… kerja di perusahaan… *huk*

Apalah yang bisa diharap dari yang selama ini saya jalani. Ini bukan soal bersyukur atau tidak, saya tegaskan. Tapi kita bicara kebutuhan yang ternyata melebihi pendapatan. Ya memang wajar, kerja dengan waktu yang relatif ‘semaunya’ (baca: fleksibel), dan bobot kerja yang tak terlampau berat, amatlah sepadan dengan apa yang saya terima.



Nah. Masalah muncul ketika harapan tak bersesuaian dengan kenyataan, bukan?



Itu dia.

Dengan menyambi berbisnis, pengeluaran saya untuk operasional tentu saja tak hanya seputar makan siang, sumbangan kebutuhan dapur dan rumah tangga, keperluan bulanan perempuan serta berangkat-pulang kantor semata-mata. Tetapi juga biaya tetek bengek ongkos unpredictable kesana-kemari bertemu partner/klien yang membengkak, pulsa yang cepat habisnya (karena memang sering banget dipakai), plus, biaya makan (selain lunch) kalau terpaksa makan sore atau malam di luar rumah. Maklum… awal-awal berbisnis kan butuh modal.

Bisa ditebaklah…

Besar pasak daripada tiangnya.



Saya kemudian berpikir untuk mencari sumber penghasilan selain kantor tempat saya mengabdi saat ini. Pindah kerjalah, intinya. Tapi saya masih menganalisa ini-itu.



Ternyata, lowongan di el-es-em tidak sebanyak yang saya duga. Mengingat saya masih merasa “gak gue banget” untuk bekerja di company -khususnya bidang HR dimana lulusan psikologi banyak berkecimpung disana- maka saya berfokus pada lembaga-lembaga sos-masy dulu, sesuai dengan minat saya.



Begitu ketemu yang sepertinya menarik…

Oalah… tempatnya jauh bener yak… bisa-bisa tua di jalan sayah kalau beginih caranyah… minimal 2,5 jam perjalanan, maannn… Itu kalau tidak macet. Kalau macet tentu saja bisa lebih lama lagi.

Dan berdasarkan informasi beberapa rekan yang lebih paham, pekerjaannya ternyata jauh tak sebanding dengan penghasilan yang diterima. Ya eyyalaahh… el-es-em gitu lokh…

Tapi saya juga butuh duit, Tuan… bukan sekedar aktualisasi diri *mengenaskan banget kesannya*



Well… saya pun melupakan lowongan di tempat tersebut. Gimanapun saya mencari yang lebih baik. Soal memberi, dimana aja juga bisalah, tidak harus disana…



Kemudian lowongan di company mulai berdatangan.

BUMN. Recruiter.

Saya abaikan email itu. Tapi masih kepikiran juga.

Ambil gak ya… coba-enggak….coba-enggak…

Dan hari-hari berlalu begitu saja tanpa keputusan.

Please, tolong, boleh kan saya merasa tidak klik untuk bekerja di company?

Dengan jam kerjanya, kulturnya, basic keilmuannya, bener-bener bukan jiwa saya untuk ituuu…

“Tapi gak ada salahnya dicoba lagi, Mbak…” ujar salah seorang rekan kantor.

“Begitu ya?”

Dan keraguan saya masih saja mengawang-ngawang dengan mata menerawang bimbang.



Dan…

Malam ini saya membaca ulang Laskar Pelangi.

Menelusur ulang kisah seorang guru sejati bernama Bu Mus yang terlampau langit bagi saya yang palung ini. Sejumlah orang dengan background psikologi memang menjadi guru (BK, pada umumnya. Atau dikenal dengan bimbingan konseling).



Tapi saya berkaca. Rasa-rasanya saya tidak punya cukup kepiawaian untuk menghadapi siswa-siswa. Dan cermin saya itu adalah Bu Mus, seorang guru muslimah langitan dengan trilyunan kesabaran menghadapi tingkah-polah 10 murid-muridnya yang ‘aneh tapi nyata’; dan juga seorang rekan saya yang lebih dulu menjadi guru BK tingkat SMA.



Kalau bercermin dengan Bu Mus, tewaslah saya. Betul-betul palung dan langit!

Maka cermin yang satunya masih cukup membuat saya sadar dari bahan apa dia diciptakan *peace, Mir! :D*.

Maksudnya, dulu saya dan rekan saya ini sama-sama belajar psikologi di kampus yang sama, angkatan yang sama, dan, kantor yang sama pula. Jadi saya rasa, bekal saya dan dia gak beda jauhlahh… Yang mungkin lumayan berbeda adalah pembawaan dan sifatnya.

Dari dia ini saya acap mendengar keseharian seorang guru BK yang cukup membuat saya berpikir, “kayaknya gua gak bisa kayak elu deh Mir kalo jadi guru…”.



Tau dong… tugas guru itu bukan sekedar menyampaikan materi, tapi juga mendidik.

Tau apa arti mendidik? Transfer nilai. Dan transfer nilai itu bicara soal bagaimana menjadi teladan. Menjadi teladan haruslah menampilkan sosok yang lebih mature (menurut saya), dalam berbagai hal. Dan dalam hemat saya, selain integritas, kesabaran dan ketulusan adalah dua hal yang mutlak harus dimiliki seorang guru yang ingin sukses, disamping poin-poin sekunder lainnya. Mau jadi guru macam apa kalau tidak mengajar dengan hati, coba???

Maka, blasss…. Hilanglah kepercayaan diri saya seketika.



Ditambah satu hal lagi, saya masih merasa… gimanaa gitu, dengan keharusan jadwal yang fullday bagi seorang guru, apalagi guru BK yang idealnya musti stand by setiap saat di sekolah.

Udah dibilang saya gak bakat kali ya, jadi karyawan office hour… rasanya gak merdeka aja gitu… dan tentu saja, yang paling fundamental adalah ini persoalan mengajar dengan hati, yang masih harus dipertanyakan dari seorang saya 😦

Barangkali, kalaupun mengajar, mungkin saya lebih memilih menjadi dosen, yang jam kerjanya relatif tidak penuh seharian.

Dan weelll, sodara-sodara…

Menjadi dosen di Jakarta dan entah mungkin daerah lainnya, mensyaratkan pendidikan minimal strata 2!

Selamat! Anda tidak qualified!



Lalu sedikit cahaya atau entah godaan selanjutnya, muncul dari Bandung.

Lintasan pikiran ini bermula ketika saya berkunjung ke satu sekolah di Bandung dalam rangka pekerjaan kantor, dan saya bekerjasama dengan sejumlah orang dari satu perusahaan penerbitan terkenal berinisial G.

Pertama, ketemu sama Mbak N, sang editor sekaligus wartawan yang dinamis sekali kerjanya.

Kedua, ketemu sama Kang D dan Kang R, manager dan staf marketing yang subhanallah welcome dan baik hati sekali.

Ketiga, ketemu sama Pak G sang bos area penerbitan Jabar dan Jateng, yang begitu humble dan berbaur dengan para bawahannya.

Otak saya langsung nguing-nguing (kalau saya jadi lebah, pasti antenanya udah kelip-kelip deh).

Sepertinya menarik juga kerja di penerbitan, terutama marketingnya. Target sudah pasti ada, tapi yang saya amati dalam dunia marketing adalah dimana proses learning by doing menjadi salah satu hal terbesar yang menjadikan mereka semakin menyempurna.



Jadi, dalam pandangan saya yang awam tapi sotoy ini, orang-orang marketing itu tidak cukup hanya dengan membaca buku, ilmu atau teorinya berjilid-jilid, untuk menjadi pintar. Tapi harus action, action dan action. Dan dalam action itulah seringkali ilmu atau teori kalah benarnya. Atau dengan kata lain, pembelajaran/hikmah yang didapatkan ketika action, melebihi sekedar teori belaka. Menantang, bukan?



Ditambah lagi, waktu kerjanya relatif bisa dikendalikan. Mau sambil makan-makan, libur sekarang atau nanti, asalkan target tercapai, bereslah pekerjaan kita, ujar Kang D, si bos marketing penerbit G area Jabar.

Dan buat saya, pekerjaan ini punya nilai tambah tersendiri. Sebagai orang yang belajar ilmu perilaku manusia, marketing menjadi lahan belajar yang subhaanalloh luaaaaaaas… sekali, untuk mempelajari setiap saat, bagaimana memahami manusia sebagai subyek, dimana hablumminannas berlaku dengan segala rambu dan ketentuan-Nya. Otomatis, kualitas diri dalam berinteraksi dengan sesama manusia pasti ter-upgrade karena banyak learning by action tadi.



Lalu apakah kemudian saya mengajukan diri untuk bekerja sebagai staf marketing dari penerbit G?

Hehe. Belum, ternyata.



Pertama, saya masih menimbang-nimbang apakah cukup menenangkan bekerja di perusahaan yang punya stereotip kurang baik dalam konteks aqidah. Saya belum menemukan kebenarannya (karena yang namanya stereotip belum tentu benar, kan?). Walaupun banyak orang menjadi karyawan perusahaan ini-itu yang jelas-jelas menikam ummat, itu urusan mereka lah. Kalo sekarang kan saya sedang bicara tentang saya thok, bukan orang lain. Yang jelas ini PR buat saya cari tahu faktanya seperti apa, dan merupakan hal yang berkaitan dengan nurani. So, tidak usah ditanya seperti apa mendasar/tidaknya.



Kedua, jika saya ingin bekerja di tempat mereka, maka saya harus menimbang untuk hidup di Bandung, meninggalkan Jakarta. Dan ini berarti saya harus berhadapan dengan keluarga yang dari dulu selalu memberatkan jarak dan waktu bagi saya dalam bekerja. Okelah kalau hanya beberapa lama keluar kota. Tapi kalau sampai bekerja tetap di kota lain, dalam waktu berbulan-bulan, sepertinya saya pesimis akan mendapatkan ijin.

“Emang di Jakarta gak ada kerjaan bagus apa, sampe harus ke luar kota segala???”

Kira-kira demikianlah potensi ‘nyap-nyap’ dari 3 significant person di rumah.

Kecuali… ya, kecuali, ada mahram yang mendampingi disana.



Ketiga, ini juga tak kalah penting. Memangnya mereka sedang buka lowongan?

Hehe… gubrak deh.



Tapi entah kenapa saya seperti punya dorongan kuat untuk menindaklanjuti ladang terakhir ini. Pasalnya saya di-support sekali oleh sahabat saya yang tahu benar bagaimana linglungnya saya akhir-akhir ini untuk soal pendapatan.

Katanya, “Ya udah coba aja. Kamu kan minat. Kerja di penerbitan asyik lho, bisa kenal penulis-penulis ternama. Relasimu juga jadi lebih luas. Bisa kembangkan bisnismu juga. Selain itu kamu juga suka menulis. Siapa tahu bisa jadi editor J

Walau dia sama sekali belum berpengalaman di dunia penerbitan, hati kecil saya bersorak memberi dorongan yang sama positifnya. Entah kenapa.



Wellhh…

Panjang kaaali cerita kali ini ya?!?

Yah, pastinya saya masih harus mencari informasi kesana-kemari.

Ini memang bukan soal keyakinan bahwa rizqi sudah ada yang mengatur. Tapi ini soal kerja keras mencari pintu rizqi itu, dan soal pilihan-pilihan yang akan menentukan lukisan takdir macam apa yang akan saya jelang kedepannya.

Kalau begitu saya mohon doa (dan info2nya) ya, teman-teman… Semoga saya ditunjukkan yang terbaik 🙂



Kebayang deh, kalau aja saya curhat sama partner bisnis saya yang satu itu, pasti dia akan bilang….“Perasaan dari dulu udah gua bilang untuk cari yang lebih baik. Sampe sekarang belum dilaksanain juga solusinya? Yang kayak gini aja dipusingin, Iiiin… In! Fokuslah sama hal besar!”

Hahahaa… ampun dah, Bu Ap!!! ^_^





~ampeInsomniaGinihEuy..

Saturday, 04.10.08; 03.56 am





gambar2nya dari sini niiihh…

www.parentalk.co.uk/atwork/default.asp

http://homework.syosset.k12.ny.us/teachers/swrigley/extra-help.htm

http://www.istockphoto.com/file_closeup/business/business_concepts/banking/1973631_money_bag_the_cartoon_toolbox_series.php?id=1973631

http://www.school-clipart.com/_pages/0511-0710-1112-0653.html

Advertisements

5 thoughts on “Kerjaan oh Kerjaan…

  1. bismillaah…Haha, panjang bener critanya, ooo mau di penerbit to… saya sih kenal sama yg punya penerbit, tp penerbit I bukan penerbit G. :pSaya kebetulan jd salah satu penyumbang naskah di penerbit tersebut, Fath. Kalo dr aqidah, yg saya tau sih dr penulis2nya rata2 orang2nya insya Allah bisa dipercaya. Mungkin saya ambil contoh kali ya, salah satunya dosen saya dulu waktu kuliah, Pak Rinaldi Munir. Naah, yg punya penerbit ini teman baik beliau. Tp jujur saya kurang tau seluk beluk mengenai marketingnya. Kalo mau, bisa saya carikan infonya. Gmn??Semoga membantu dan tetap semangat… 😀

  2. Met Idul Fitri Dulu ya….Bekerja…duit…karir…aqidah…rumah tangga…suami….anak-anak dirumah…aktivitas dakwah…sy hanya mau mendoakan semoga mbak fathi diberikan petunjuk yang terbaik oleh yang Di ATAS tentang seperti apa yang seharusnya dipilih & dilakukan.dan sedikit tambahan saran….segera fokus tuk menyegerakan MENIKAH MBA…he-he.. Insya Allah nantinya malah kebuka jalan yang terbaik apakah itu masalah dimana akan tinggal, masalah menjaga kekonsistenan aqidah, termasuk masalah pekerjaan'.Sekali lagi ini cuman sekedar masukan gitu loh…he-he

  3. Sip…..lah he-he..Kerja yang mapan, posisi strategis sebagai eksekutif muda, pake handphone communicator E 90, menjinjing laptop keluaran terbaru, berangkat pake mobil city car sejenis honda jazz terbaru… berhubungan dan memiliki begitu banyak relasi kerja, sebenarnya bukanlah faktor penentu : “Kepuasan, kenyamanan, ketenangan, kebahagiaan”.kita juga lebih sering salah memandang konsep Aktualisasi diri. yang justru lebih sering dibungkus ambisi yang sebenarnya lebih laksana meminum air laut yang semakin lama malah semakin merasa dahaga.“Kepuasan, kenyamanan, ketenangan, kebahagiaan” adalah bahasa hati, perjuangan hati, suara nurani.Dunia justru akan lebih sering membuat kita tersiksa jika kita sekuat tenaga mengejar-ngejarnya.“Kepuasan, kenyamanan, ketenangan, kebahagiaan”..sebenarnya tidaklah serumit komponen komputer. Bisa jadi sebenarnya sesederhana makna cinta itu sendiri.Sesederhana : Memandang adek bayi kecil yang sedang berusaha tuk bisa berjalan. Senyuman si kecil yang menyambut tat kala kita mendekatinya, pelukan erat si kecil yang tertidur di pangkuan kita. Tatapan, pegangan tangan, ketulusan sang suami atau istri. Kok jadi kemana-mana yah..he-he.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s