Pray

Ya Allah…
Berilah aku kedalaman ilmu yang dapat menghalau syubhat…
Kematangan fiqh yang dapat meneguhkan hati menghadapi fitnah…

Ya Allah…
Berilah aku ketegaran iman yang dapat mengalahkan syahwat…
Kesabaran jiwa yang dapat mengalahkan kelemahan karakter kami…

Ya Allah…
Turunkanlah sakinah ke dalam hati kami saat kami menghadapi tantangan…
Turunkanlah cinta dan kelembutan ke dalam jiwa kami saat kami menghadapi perbedaan…
Kuatkan aku menghadapi diriku sendiri sebagaimana Kau kuatkan aku menghadapi musuh2-ku dan musuh2-Mu…

Ya Allah…
Ajarkan aku makna diam saat berkarya besar…
Ajarkan aku makna keyakinan saat kegagalan…
Ajarkan aku makna keteraturan saat kekacauan…
Ajarkan aku makna keadilan saat kemarahan…
Ajarkan aku makna iffah dalam kepapaan…
Ajarkan aku makna zuhud dalam keberhasilan. ..
Ajarkan aku makna keabadian saat godaan kesementaraan. ..

Ya Allah…
Kuserahkan jiwaku pada-Mu…
Maka bimbinglah ia hingga waktu menghadap di haribaan-Mu…

(Anis Matta)

~AllahummaAaamiin..


Advertisements

Pada-Mu Kubersujud

Ku menatap dalam kelam
Tiada yang bisa ku lihat
Selain hanya nama-Mu Ya Allah

Esok ataukah nanti
Ampuni semua salahku
Lindungi aku dari segala fitnah

Kau tempatku meminta
Kau beriku bahagia
Jadikan aku selamanya
Hamba-Mu yang slalu bertakwa

Ampuniku Ya Allah
Yang sering melupakan-Mu
Saat Kau limpahkan karunia-Mu
Dalam sunyi aku bersujud

(Pada-Mu Kubersujud – Afghan)

-h25ramadhan1429H
“allahumma innaka ‘afuwwun Kariim, tuhibbul ‘afwa fa’fuanni…”

pic from http://www.nwce.gov.uk/bank_images/star_night.jpg

Tumis Buncis Tempe Teri

Ini buatnya udah lama… tapi baru diposting skarang. Silakan kalo ada yang mau coba.

Simple dan sedap 🙂



Bahan-bahan:

Buncis, diiris miring

Teri medan (digoreng setengah matang)

Tempe (dipotong kotak2/panjang2, digoreng setengah matang juga)

Cabe hijau (diiris miring)

Cabe merah yang besar (diiris miring juga)

Cabe rawit (boleh diiris miring atau melintang biasa)

Minyak goreng secukupnya


Bumbu:

Bawang putih, cincang halus

Lada bubuk (lada bulat juga boleh, tapi dihaluskan dulu)

Daun salam 1-2 helai

Sereh 1 tangkai

Saus tiram

Garam

Gula pasir



Cara memasak :

Semua bumbu ditumis sampai wangi dengan minyak goreng secukupnya,

Campurkan dengan cabe hijau, cabe merah, rawit dan saus tiram.

Udah gitu masukkan buncis, teri dan tempenya.

Aduk-aduk terus sampai kira-kira bumbunya meresap.

Terakhir, masukkan garam dan gula pasir.

Oya, semua bumbu dan bahan-bahan, diperkirakan sendiri ya. soalnya ini semuanya cuma commonsense aja.

Selamat memasak!

Tentang Menikah

Bismillah…

Sebenarnya saya males ngomongin isu ini.
Selain tidak banyak menguasai konsepnya, saya juga belum pengalaman. Beda halnya jika saya minimal sudah menerapkan, yang jelas gak terkesan sotoy ataupun teoritis belaka. Tapi sepertinya ide ini harus saya share deh.. jadi saya tetep nulis aja.

Yap, saya mau ngomongin soal pernikahan.
Di usia rawan nikah seperti sekarang ini, rasa-rasanya membicarakan hal ini bukan aib juga. Toh secara psikologis, ‘tugas’ kita memang sudah seharusnya seperti itu. Dalam usia 20-30an, menikah, berkeluarga dan memikirkan kemantapan karier adalah hal lumrah yang dalam bahasa psikologi perkembangan, menjadi tugas yang sepantasnya diselesaikan.

Kalau kita bicara soal calon yang akan kita pilih, pasti udah banyak yang hafal hadits nabi saw yang bilang,
“Wanita dini
kahi karena empat perkara: karena kehormatannya, hartanya, kecantikannya, dan agamanya, maka pilihlah yang mempunyai agama niscaya kamu akan bahagia.”
(HR. Al Bukhari).
Jadi, tentu saja parameter kriteria kita sebaiknya mengacu pada hal di atas.

Tapi fakta ternyata tidak semudah bayangan kita.
Kalau kita memilih calon pendamping yang baik agamanya, parameternya apa?
Ibadahnya yang rajinkah?
Ini perlu di-break down lagi. Apakah shalatnya yang kenceng, atau tahajjudnya yang tidak pernah terlewat, atau tilawah Qur’annya yang berjuz-juz dalam satu hari, puasa sunnahnya yang tak pernah putus, hafalan Qur’an yang berjubel, dsb.

Nah, kalau sudah ketemu dengan orang yang seperti itu, pasti keren donk..
Hmm… sekilas, iya. Tapi bentar dulu. Disini ini nih rahasia yang mau saya bagi.

Dalam perbincangan di YM beberapa waktu lalu, ternyata, seorang teman saya bercerita bahwa pengalamannya membuktikan bahwa tidak semua yang ibadahnya baik itu bisa diandalkan.
Nah lho… gimana nih?

Sederhana sih, taruh aja contoh banyaknya orang sholat yang masih mencuri.
Jadi, kalau konteksnya pernikahan, gak semua yang ibadahnya baik, keluarganya juga berhasil.

Ini kata temen saya lho.
Dia bilang, dia menemukan fakta bahwa pernikahan seseorang yang ibadahnya rajin, ternyata kandas di tengah jalan. Ternyata si suami yang rajin ibadah ini kurang bertanggung jawab terhadap anak istrinya. Pengangguran pemalas, ujar rekan saya itu. Akhirnya berujung pada perceraian deh. Mengenaskan ya…

Waktu ngobrol sama temen saya ini, saya sampe berujar… “Masa sih… Masa sih…” berkali-kali.
“Wallahi, Ndra…” (nah, sampai bersumpah dengan nama Allah segala dia…)
“Sholat gak jamin. Ngaji gak jamin. Ibadah gak jamin!” tegas beliau.
Saya yang belum pengalaman ini akhirnya mikir. Ohh, begitu ya.

Jadi, gimana donk kita menentukan calon yang benar-benar tepat buat kita, kalau ternyata parameter ibadah tidak menjamin?

“Kuncinya…” lanjut teman saya ini, “cuma kedekatan kita dengan Allah. Biasanya kita akan diberi mata hati yang jernih ketika kita dekat dengan Allah. Disitu kita bisa melihat lebih dalam dan memutuskan, apakah orang yang mau kita nikahi/mau menikahi kita benar-benar ‘baik’/tidak untuk kita jadikan pasangan hidup”.

Nah, dalem banget kan..

Tidak usah dipungkiri, kadang kita suka terpukau dengan si anu yang ibadahnya rajin.
Atau si itu yang anak orang kaya.
Atau si dia yang tampangnya keren, cantik, ganteng, dsb.
Atau si ini yang kepribadiannya menarik, dan kayaknya pantes deh jadi ibu/ayah dari anak-anak kita kelak.

Keinginan-keinginan itu manusiawi sekali, menurut saya. Bagaimanapun sebagai manusia, tentu saja hati ini punya kecenderungan pada yang secara kasat mata dianggap baik. Tapi ya itu tadi, saya jadi disadarkan sama nasihat rekan saya itu, bahwa… PUN, ibadah saja tidak menjamin kebaikan yang ada pada seseorang.


So, kiranya memang perlu kita luruskan niat lagi, bahwa menikah itu untuk mencari keridhoan-Nya semata. Dan tentu saja, berhubung ini adalah isu yang sangat krusial dan keputusannya akan berpengaruh seumur hidup dunia-akhirat, adalah terlalu angkuh untuk kita putuskan hanya dengan mengikuti keinginan sendiri, tanpa campur tangan Yang Maha Tahu segala yang terbaik bagi kita. Campur tangan itu, insya Allah akan kita dapatkan dari mata hati yang jernih, yang telah dipengaruhi oleh kedekatan kita dengan-Nya.

Hmm… jadi ngaca deh saya.

~nampolBangettt..makasihYa,Adzan…
Sun, 14.09.08, 02:59pm

Di Sepertiga Terakhir


Bismillah…

Senarai angin malam berhembus basah.

Dingin yang menyapa lembut lapisan-lapisan epidermis mengguratkan beku sesekali, meniupkan aroma gigil di penghujung malam yang mistis. Sapuan lembut awan putih yang berderak, menghias kelam langit yang kian memucat.
Selalu sepi. Dan tanpa suara.

Diam tersungkur adalah pelengkap.
Tidak ada satupun fragmen pengganti yang menandingi tunduknya angkuh hati di saat semua makhluk merapati mimpi-mimpi. Terpasung dalam untaian tangis merintih, dan terjerembab dalam bentangan sajadah beraromakan kesturi.
Pada lusuh yang mengalas, bercermin pula khouf dan roja’ dalam kucuran bulir-bulir yang memanas.

Sudah datang masa berpulang di ambang putaran waktu ini.
Tak perlu berlama-lama menunggu titik balik, karena Cahaya memantulkan selisiknya pada tiap-tiap rongga yang masih sadar, atas tujuan apa ia diciptakan.

Maka terpuruknya, tersungkurnya, dan tergugunya ia adalah keadaan yang dipahami sebagai keterbalikan: karena ada masa dimana penawar baru terasa saat sudah mengalami kesakitan. Ada saat dimana segar baru terpulihkan ketika panas dirasakan sebagai bara yang membakar.


Duduk mematung kini.

Membiarkan semilir angin menyibukkan dirinya dalam satu-dua tiupan, menerbangkan sejumlah galau yang semakin ringan teruapkan. Meski sengguk-sengguk itu membuat sesak di dalam sini, dan berat dirasa punuk yang terus saja merunduk sedari tadi, rasanya belumlah lebur bergumpal-gumpal nista yang harus dipanggul ketika pengadilan menanti. Sesal terus saja menari di pelupuk retina, tak sanggup melawan imaji betapa beratnya, betapa sulitnya, jika kelak harus menanggung segala konsekuensi.

Ketika percik-percik bara sudah membuat lepuh urat-urat di setiap inci daging merah, bagaimanakah bisa, membayangkan seluruh tubuh bergenang-genang di lapis demi lapis kedalaman api panasnya? Saat Saqar pun Jahannam menyiapkan dirinya, tak lagi cukup takut dan khawatir mewakili segala makna.

Parah. Rasuk dosa selalu terlihat indah dalam pandangan para pemuja nafsu jiwa.

Serupa air di padang pasir yang tandus lagi gersang, begitulah tampak fatamorgana di mata para pemabuk yang tak lagi ingat mana logika, mana rasa, mana pula nurani yang bersuara.
Dan menumpuklah khamr-nya di setiap mili pembuluh darah, menagih adiksi yang harus terpuas, harus tersalur hingga terkapar sudah sang teraniaya: menyerah pada para durjana…

Beruntung, senantiasa masih ada kasih di setiap gelegar murka.

Ada kemurahan di antara amarah pada jiwa-jiwa yang lengah lagi berbalut pongah. Maka rapuh saat ini semoga menjadi kunci pembuka leburnya.
Sekedar memastikan bahwa masih ada cercah-cercah yang mampu membuat asa kembali terajut, meski dengan benang-benang yang tak lagi utuh berwujud. Sekedar meyakinkan bahwa selangit-bumi keliru masih dapat terobati dan menyembuh, dengan ketakterhinggaan ampunan dan kasih sayang di setiap waktu.

Semoga, tunduk hari ini bukan ia yang terakhir kalinya.
Tersungkur detik ini bukan lagi angkuh keesokan harinya. Karena kesempatan mendekat senantiasa ada jika memang kemauan itu jua mengada. Sebelum maut merapat, sebelum jejak-jejak Izrail mendekat, dan sebelum diangkat lembar-lembar amal yang tadinya tercatat, maka sebaik-baik penutup adalah taubat.

Beranjak, senyap kemudian mulai pergi dan fajar berganti mengawali hari. Desir angin yang bertiup tenang, membalut jiwa ringkih yang tertatih menyusun diri. Adakah yang lebih damai dari menyendiri bersama Sang Maha Kasih seperti ini? Niscaya kenikmatan manapun takkan mampu menggantikan kedudukannya di kesat hati yang selalu haus memulih…

WroteOnLastNiteOfRamadhan1428H,
Fri, 12.10.07; 00:41am; backsounded by Gloria, OST H2.
Masih relevan diposting skarang.
~KetikaBersamaMuSelaluSegalanya… 😥

“Wahai Allah, sesungguhnya aku telah berbuat zhalim kepada diriku
dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah daku dengan ampunan dariMU, dan kasihilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi ampunan dan Maha Penyayang…”

pics from: