Enjoying the Process


bismillah…

Aku tidak mendapatkan apa-apa malam ini secara riil.
Kondisi fisik justru diharapkan bisa terus fit. Walau jam tidur berkurang, agak lemas seharian, mata hitam berkantung, ongkos entah habis beberapa puluh ribu, pulsa, tenaga, semuanya… tapi alhamdulillah, terasa sekali jiwa ini memiliki energinya sendiri. Energi yang dihasilkan dari ketawakkalan atas takdir Allah: bahwasanya tugas kita hanyalah berusaha. Lalu selesai.

Tiga malam ini sujudku basah. Dan mungkin berhari-hari kedepan.
Deadline! Deadline! Deadline!
Bisakah? Bagaimana?
Entah kekuatan apalagi yang bisa diharapkan dari ringkih dan lemahnya seluruh susunan kemanusiaanku : jasad, jiwa, dan begitu pula hati. Segala ketidakmungkinan sudah terbayang-bayang, melukis sketsa pesimisme dan kegagalan.

Dan memang tidak ada yang bisa diharapkan lagi kecuali harapan itu sendiri.
Setidaknya aku masih bisa berharap, masih bisa meminta.
Fakir, Ya Allah… status apalagi yang lebih hina dari hamba yang benar-benar hina?

Malam ini aku tidak mendapatkan apa-apa secara nyata.
Lelah, kantuk, perasaan ingin berhenti, pasrah, menyerah…
Sesekali terselip cemas, tapi segera teringat bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini jika Ia berkehendak. Uniknya, momentum dengan nuansa seperti ini aku dapatkan dalam ‘proses-proses dunia’, sesuatu yang mungkin menurut kacamata kebanyakan kita terlihat di permukaannya semata. Dan entahlah, belum kutemukan ada peristiwa-peristiwa serupa di tempat lainnya. Bahwa aku merasakan senyata-nyatanya jatuh dan bangun, seburuk-buruknya penghinaan dan keterhinaan, seyakin-yakinnya pada segala firman, disini, baru disini. Bahwa aku berjuang, bersusah-payah, mungkin pula berdarah-darah, agaknya menjadi kecil dalam pandangan manusia. Well, pentingkah?

Hanya saat skripsi dan saat ini, dalam kekhawatiran yang nyaris sama, dalam ketakutan yang mematikan, dan tentu saja, dalam rasa tawakkal yang teramat dalam. Tapi energi itu ada dalam proses, ada dalam pergerakan. Ada azzam yang menghentak-hentak kuat. Ada gelora yang menunggu diluapkan. Menunggu diledakkan.

Dan aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Tidak ada yang lain. Bahwasanya kemudian hasil tak seperti yang dikira, adalah hak prerogatif Sang Maha Berkehendak atas segala kemauan-Nya. Tidak ada sedikitpun ikhtiar yang sia-sia.

Ya. Malam ini aku tidak mendapatkan apa-apa secara nyata.
Tapi kuatku semakin memperoleh ruhnya, karena menjalani proses adalah tugas utama yang cukup dilakukan saja. Apapun tebusannya.

note:
Dear Fit: seperti kata2mu, “cukuplah Allah, Rasul dan para mujahid yang menyaksikan perjuanganmu, In!”
Terima kasih atas segala kesertaan penuhmu dalam jihad kita.
Takkan bosan kupintakan kekuatan, kemudahan dan kemenangan dari-Nya..

~jelang24Agustus,untukIndonesia,untukBerjutaCita
Thursday, 21.08.08, 01:17 am.

pic from http://lisasantiagallery.com/displayimage.php?album=15&pos=42
maaf tidak ijin..

Advertisements

2 thoughts on “Enjoying the Process

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s