Jogja yang Ramah (1)

bismillah…


Malam ini saya sedang berada di Jogja, kota yang ramah
sekali. Berhubung kantor menugaskan saya dan seorang rekan untuk mengurus proyek disini, maka saya pun melanconglah, sekaligus juga berjalan-jalan tentunya. Lumayan, sejenak lepas dari penatnya kota Jakarta. Beberapa bulan lalu saya juga mampir ke kota ini, untuk pertama kalinya. Rekan-rekan peneliti yang waktu itu menjadi partner saya, terbelalak begitu mendengar saya baru menginjakkan kaki di Jogja kali itu. Segitu tertinggalnya saya ya? Duh… -_-‘

Kesan yang timbul pertama kali ketika bertandang kesini adalah… ternyata Jogja itu lumayan padat ya. Sepeda motor berseliweran dimana-mana. Barangkali karena motor merupakan kendaraan yang luwes dan relatif terjangkau harganya, jadilah banyak yang memakai. Buat saya yang sudah puyeng menghadapi keruwetan lalu lintas di Jakarta, suasana ini menjadi tidak cukup nyaman. Ngomong-ngomong, iseng-iseng saya perhatikan di jalan-jalan rayanya, jarang-jarang lho yang memakai motor bebek Honda yang logonya besar dan jelas (ada kan motor Honda yang tulisannya HONDA gituh?!).
Yang lebih banyak malah motor Honda dengan logo yang samar, seperti Honda supra-x. Seketika pikiran iseng saya muncul. Apakah ada kaitannya dengan karakter orang Jogja yang tawadhu dan tidak suka menonjolkan diri? Hehe…
Bagus juga tuh kalau jadi tema penelitian. Judulnya, “Hubungan antara karakter pemalu masyarakat Jogja dengan pemilihan kendaraan bermotor dengan logo yang jelas atau samar”. Hasilnya bisa menjadi masukan bagi para produsen motor dalam mendesain atau memasarkan produknya di Jogja *dasar otak bisnis*. Hehehe… πŸ˜‰

Ohya, selain suasana yang ramai dan padat, ada satu hal yang cukup berkesan buat saya selama di Jogja, yaitu soal keramahan penduduknya. Ketika dulu saya pertama kali datang untuk meneliti di beberapa sekolah, tanggapannya sangat terbuka. Orang Jogja juga tak segan tersenyum dan menyapa orang lain yang tak dikenal. Begitu berbeda dengan cerita dosen saya yang pernah berlibur ke Paris. Ujar beliau, di Paris, atau di negeri-negeri Eropa, jangan harap kalau misalnya kita sedang kesusahan di jalan umum, akan ada yang serta-merta langsung membantu kita. Itu bukan karena mereka tidak mau menolong sih, tetapi lebih karena khawatir mencampuri. Jadi, mereka baru akan merespon jika memang dimintai bantuan. Lain dengan Jogja yang saya amati. Penduduknya sangat ramah dan altruis (suka menolong). Mereka memiliki perasaan yang halus dan peka, serta peduli terhadap orang lain.
Wah, mendengar cerita itu, saya jadi bangga sendiri deh.

Di kedatangan kedua ini, dari bandara Adi Sutjipto, saya menuju hotel Puri Artha yang terletak di Jalan Cendrawasih. Meski terlihat tidak terlalu besar dari luarnya, ternyata begitu masuk ke dalam, tempatnya lumayan besar. Ada resto dan cafe, kolam renang, fasilitas spa, dan yang unik, ada nyanyian gending jawa secara live di ruang dekat lobby-nya. Para karyawannya juga ramah dan sangat melayani. So, kalau ada yang mau ke Jogja, coba aja menginap disini. Dengan biaya Rp. 350.000,-/malam, kita bisa dapat fasilitas yang cukup nyaman *promosi* πŸ˜€

Malam pertama kami tiba di Jogja, saya segera teringat makanan iga bakar di jalan Gejayan. Dulu ketika pertama kali ke sini, saya sudah sempat ke kafe-nya. Tetapi sayang sekali menu iga bakar sedang habis. Berhubung rekan saya agak malas mencari tempat itu, akhirnya kami makan di warung tenda saja. Menunya ketika itu adalah soto daging sapi bakar. Saya pikir, mungkin mirip-mirip kali ya seperti sup iga (karena saya lagi ‘ngidam’ sup iga). Tapi ternyata beda, sodara-sodara. Ya iyalah, yang satu judulnya ‘sup’, yang satu lagi ‘soto’ :D. Rasa soto daging sapi bakar ini sebenarnya sama saja dengan soto-soto daging yang lain, hanya saja, daging sapinya dibakar terlebih dahulu. Yang agak mengecewakan, kuahnya ternyata jauh lebih banyak daripada dagingnya. Dengan kata lain, soto itu kurang berisi. Selain itu, sate kambing yang kami pesan juga terasa alot (keras). Tapi berhubung sudah seharian perut saya belum terisi makanan, soto dan sate itu tetap saja saya syukuri. Namanya juga orang kelaparan, makanan apapun pasti terasa enak. Intinya malam itu saya tidur dengan perut kenyanggg…
Alhamdulillah…

Begitulah hari pertama saya di Jogja kali ini. insya Allah disambung lagi kapan-kapan. Sampai jumpa di cerita-cerita tentang Jogja berikutnya, ya πŸ™‚

nb: besok rencananya saya mau main ke borobudur dan pantai parangtritis. dan tadi saya baru aja chat dengan seorang teman. katanya, sy harus mencoba gudeg pawon, kopi di angkringan tugu, serta mie Mbah Mo di daerah Bantul. Hmm… jadi penasaran deh πŸ˜‰

~Thursday, 070808; 10:54pm

pic from www.serbajogja.com/peta_jogja.php
tidak ijiiin..maaf ya.
Advertisements

3 thoughts on “Jogja yang Ramah (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s