Berdamai dengan Masa Lalu


Bismillah…

Banyak orang bijak bilang, hiduplah di masa kini, sekarang ini, agar terbebas dari kungkungan trauma masa lalu dan kecemasan akan masa depan yang belum menentu. Tak mudah berdamai dengan masa lalu yang acap terisi kenangan buruk. Dan mungkin begitu pula halnya dengan masa depan yang seringkali memunculkan kejutan-kejutan tak menyenangkan.
Tapi sungguh, terjebak di situasi itu membuat kita maju tak bisa, diam di tempat pun tak menghasilkan apa-apa. Maka demikian memprihatinkannya kisah saya, dan mungkin juga Anda, tatkala tiba-tiba tertarik ke memori suram masa lalu, terpaku diam disitu, dan sekonyong-konyong tak bisa keluar dari trauma menyakitkan yang mungkin cukup menekan. Apalagi memikirkan masa depan yang jauh sekali dari jangkauan.

Miris dan mengiris, kadang-kadang.
Tapi sayangnya kita tak dapat lupa, tak dapat begitu saja membuang jejak-jejak ingatan yang sudah demikian kuat tertanam. Lebih kacau lagi, pada saya yang pemikir-perasa komplit ini. Logika hilang kemana, dan yang muncul adalah kecemasan-kecemasan berlebihan yang apabila diperturutkan, jangan-jangan anxiety disorder¹lah akibatnya.

Seorang psikolog rekan saya bilang, trauma itu bukan dihilangkan, tapi kita berdamai dengannya. Dan saya terbelalak. Ohya? Bagaimana bisa?
Bisa, ujarnya. Namun butuh proses dan kesabaran menjalaninya.
Dalam kebuntuan yang didominasi perasaan tak menyenangkan, saya berpikir. Tetapi makin saya pikirkan, makin kejam pula demon-demon² itu menghujamkan duri-duri ingatannya. Tepat sekali, makin depresilah saya pada akhirnya.

Tak menemukan jawaban, saya membiarkan waktu terus berjalan dan mengalir begitu saja. Hari-hari saya terisi banyak pengalaman baru; dan laiknya dinamika kehidupan, tentu, positif-negatif, senang-sedih, susah-mudah dan berbagai pasangan rasa bertebaran disana. Jawaban sederhana untuk semua itu ternyata ada disini, di hati ini. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa ‘sembuh’, tetapi yang jauh lebih penting daripada itu semua adalah perasaan ikhlash dan berserah kepada-Nya. Itu sebabnya, ketika saya berfokus pada keinginan untuk pulih, justru saya semakin merasa tertekan. Maka hal yang lebih nyaman daripada itu adalah berserah saja, titik. Tidak ada yang lain.

Pertanyaan saya, memangnya apalagi yang bisa kita lakukan untuk mengubah?
Tidak ada. Sama sekali tidak ada. Yang bisa kita lakukan hanyalah menyibukkan diri pada sebanyak mungkin agenda kebaikan yang akan melebur keburukan, serta bertawakkal. Toh tidak ada sehelai daunpun yang jatuh tanpa seijin-Nya. Dan apalagi segala macam peristiwa-peristiwa besar yang menyelimuti kita. Pasti, pasti ada hikmahnya.

Maka hari itu, ketika seseorang bersama memori buruk yang melekat tentang dirinya, datang tiba-tiba, saya bisa dengan sumringah menyambutnya. Saya bisa memilih untuk menjadi sedih, untuk marah, atau bahkan membuang muka tak suka. Tapi lagi-lagi, buat apa? Apakah memori itu menjadi hilang kemudian dengan serta-merta?

Tidak ada yang dapat menghapus apa yang sudah terjadi. Jadi saya memutuskan untuk beranjak berdiri sembari berharap semoga apa yang pernah terjadi serta apa yang saya lakukan di hari ini dan nanti, bisa membuat saya semakin bijak menata diri.
Tidak ada yang bisa membuatnya hilang, lenyap, atau berubah seketika. Mengasihani diri sendiri sama saja dengan membunuh waktu dan membiarkannya terlewat sia-sia, sementara hari esok menunggu untuk dilukis secepatnya. Betul, sama sekali tidak mudah, tapi sama sekali tidak mustahil pula untuk dicoba. Hanya perlu itu: kemauan untuk mencoba. Berani? 🙂

“Face your past without regret.
Handle your present with confidence.
Prepare for the future without fear.
Keep faith and drop the fear.
Don’t believe your doubts and never doubt your beliefs.
Life is wonderful if you know how to live it.”
(pravstalk.com)
Friday, July 04, 2008; 3:06 pm.
Untuk seorang sahabat lama yang muncul tiba-tiba, welcome 🙂

really2 thanks!!! 😉

¹anxiety disorder : gangguan kejiwaan berupa kecemasan yang berlebihan
²demon : setan. Dalam mata kuliah psikologi kognitif semester awal, ilustrasi gambar yang diberikan untuk jejak-jejak ingatan adalah gambar setan-setan kecil bertanduk yang membawa garu. Ia mencuat dimana-mana dalam kognisi kita dan muncul begitu saja sebagai representasi buah-buah pikiran.

Resign?!

Bismillah…


Baru kali ini aku merasakan gundah-gulananya menjadi pegawai yang ingin pindah kerja. Mengingat seorang teman sudah cabut tanpa sinyal sedikitpun, dan iklim yang tidak terlihat berubah siginifikan dengan ‘kedewaan’ sang pimpinan, plus, sejumlah rekan yang pada saat bersamaan ingin fokus di tempat lainnya…
Hufff….
Bagaimana ya?

Tawaran sudah digulirkan.
Tapi aku masih mencoba mengingat-ingat bagaimana aku match dengan suasana kerja tertentu. Disini, aku bisa ‘sesuka hati’ datang; jika ada pekerjaan besar, lakukan. Jika tidak, ya jadi pengangguran. Paling-paling hanya datang mengisi absen dan duduk di depan komputer, mengetik modul pelatihan sembari browsing kesana-kemari. Dengan waktu kerja yang relatif bisa ‘kukendalikan’, maka aku bisa melakukan fokusku yang lain di luar sana sewaktu-waktu, kapanpun aku mau. Yang penting pekerjaanku di kantor selesai. Kalaupun pekerjaan di kantor jauh lebih banyak dan menuntut untuk lembur, itu merupakan salah satu konsekuensi dari ketiadaan jam kerja yang saklek.

Bagaimana ya?

Ini bukan persoalan bersyukur atau tidak bersyukur. Tetapi, jika kita tidak bisa mengubah keadaan setelah mengerahkan segenap kemampuan, apalagi yang mau diharap?
Bersabar?
Sounds pasrah ya… padahal itu satu hal yang ingin aku enyahkan kuat-kuat. Lagipula, adalah hal yang wajar bukan, jika seorang karyawan mencari tempat kerja yang lebih baik?
Oh yeah… karyawan…. *duuh…kuadran kiri yang menyebbbbalkan!!!*

Apakah aku bisa mengatur waktu dengan sama fleksibelnya ketika di tempat baru itu? Jika tidak, itu berarti aku harus berjuang lebih keras dengan pulang lebih larut dan tentu saja, harus memastikan tenaga dan stamina terjaga.

Sebenarnya waktu kemarin gabung sama di forumnya S Foundation, berharap punya banyak link sambil manfaatin barangkali ada info ‘tempat untuk memberi’ yang lebih baik. Dan sejauh ini baru datang tawaran di tempat yang sepertinya menantang…

Duh, gimana ya….
(udah 3 kali ‘gimana ya’..kalo 4 kali dapet piring deh) *garing*

Wellhh…
Sepertinya harus banyak cari masukan nih. Dan yang utama, masukan dari Allah pastinya. Dari kalian, ada yang mau berkomentar?

~kapanYaResignSelamanya..?
Friday 18.07.08, 10:09pm

pic from
www.treehugger.com/2007/09/30-week/
without permission. so sorry…

Tentang Kuliah S2 (lagi-lagi…)

Bismillah.


Perbincangan saya dengan seorang teman di seberang sana yang tengah melanjutkan studi S2-nya, lagi-lagi menggelitik saya untuk memikirkan kembali isu ini. Niat saya yang timbul-tenggelam sementara waktu karena kesibukan bekerja, kembali tersulut. Kerinduan saya akan bangku kuliah dan dunia akademis memang tak pernah padam, hanya saja mungkin sedikit meredup mengingat ada hal lain yang tengah saya prioritaskan saat ini.

Saya belum tahu kapan akan kembali menekuri kampus dan segala dinamikanya. Yang pasti, begitu saya teringat akan rencana ini, satu-satunya yang memancing kehati-hatian saya adalah alasan di balik itu semua. Bagi saya, jika melanjutkan S2/profesi ‘hanya sekedar’ agar bisa diterima bekerja di perusahaan bonafit dengan posisi lumayan bagus, kok sayang sekali ya. Walau sepengamatan saya, cukup banyak orang dengan niatan seperti itu –yang tentu saja tidak bisa saya salahkan-. Pencarian ilmu dalam pandangan saya bukanlah sekedar untuk mengejar posisi, gaji tinggi, pekerjaan bonafid dan seterusnya. Tetapi lebih daripada itu, saya sudah jauh-jauh hari semenjak kelulusan S1, memikirkan hal mendasar yang mendorong saya jika di kemudian hari saya meneruskan kuliah ke jenjang S2. Benar, ini soal visi dan misi apa yang akan saya bawa ketika saya bergelar “psikolog” nantinya.

Tak lama setelah saya lulus S1, saya mengobrol ringan dengan 5 orang teman yang kebetulan sedang menjalani studi S2-profesinya. Pertanyaan saya singkat sekali.
“Punya visi apa setelah nanti jadi psikolog?”
Atau, “Habis lulus profesi mau ngapain?”
Dan mengejutkannya, 3 dari 5 rekan saya ini menjawab dengan begitu ‘ngawang-ngawang’-nya.
“Mmm…belum tau,”
“Apa ya, Ndra? Jujur gw belum kepikiran tuh, ngejalanin aja sih…”
“Duh, gak tau deh. Mikirin yang di depan mata aja sekarang. Tugas-tugas nih numpuk banget!”

Selebihnya, 2 orang yang lain, lumayan memiliki pandangan jauh ke depan.
“Mau bikin lembaga pendidikan, atau sekolah yang bagus,”
“Mmmm… belum tau juga. Tapi mungkin akan seperti Mba “X” (psikolog di kampus –red), jadi family-terapist,”

Mungkin saya sedikit perfeksionis. Menjalani sesuatu tanpa menyadari hakikat “buat apa saya melakukan hal tertentu”, adalah hal yang cukup mengganggu. Implikasinya jelas, jika tidak ada niat sungguh-sungguh di balik itu, ketika kebosanan atau kesulitan menghadang, pasti kita akan mudah jatuh. Lebih dari itu, adalah kesia-siaan ketika kita menjalani sesuatu tanpa ruh, tanpa hal yang menjiwai mengapa kita harus melakukan itu, mengapa kita harus berada disana, dst.

Mungkin ada juga beberapa orang yang menemukan hakikat sembari menjalaninya. Well, tidak salah juga. Tapi sekali lagi, saya hanya ingin memastikan bahwa saya menjalani semua dengan penuh kesungguhan, dengan penuh visi yang akan membuat saya yakin bahwa apa yang saya lakukan akan bermanfaat sebesar-besarnya. Bukankah para pemain bola selalu berusaha mengarahkan bola mereka ke gawang?

Sehingga, pertanyaan-pertanyaan inilah yang barangkali harus saya buat jawabnya se-SMART* mungkin. Buat apa saya menjadi psikolog? Apa yang akan saya lakukan jika saya sudah bergelar psikolog? Sekedar prestise sajakah? Tampak keren dan wah di mata orang? Atau apa?

Benturan saya rasakan ketika saya suatu hari secara tidak sengaja bertemu dengan dua orang ibu rumah tangga bermasalah. Yang satu, rumah tangganya kurang harmonis, sementara yang satu lagi, anaknya bermasalah. Apa yang bisa saya jawab ketika si wanita paruh baya itu mencurahkan isi hatinya tentang sang suami yang dingin dan tak pernah menjalin komunikasi yang baik? Apa yang bisa saya sarankan ketika ibu yang satu lagi membutuhkan saran mengenai anaknya yang depresi karena suatu hal?

Kening saya pun berkerut, mengindikasikan kognisi yang sibuk mencari jalan. Minimal ada hal yang bisa saya berikan terhadap mereka; entah saran, masukan, apapun itu. Tapi saya gagap, dan menjawab dengan asumsi-asumsi ditambah bumbu pengalaman yang minim sekali. Dan saya merasa bersalah sekali tidak bisa membantu dengan optimal karena bekal yang kurang.

Disitulah gap itu terasa.
Ada ekspektasi yang besar ketika orang tahu bahwa saya sudah belajar psikologi, walau baru bergelar S.Psi alias sarjana psikologi. Padahal harapan itu tak sebanding dengan kapasitas yang saya punya. Tapi lagi-lagi, apa iya harus dengan menempuh profesi dan menjadi psikolog dulu?

Untuk pertanyaan terakhir, saya berkaca pada rekan senior saya. Berlatar belakang sarjana pendidikan dan master di bidang sastra inggris (catat : bukan psikologi), beliau sering sekali ‘menerima klien’ untuk dimintai nasihat dan saran. Sejumlah pasangan nyaris cerai datang kepada beliau dan berkonsultasi, dan hasilnya, alhamdulillah mereka rukun kembali dan mengurungkan niat untuk berpisah.

Rahasia beliau, ‘hanya’ rajin membaca literatur psikologi populer, mengikuti sekian banyak seminar pengembangan diri di dalam dan luar negeri, dan dengan sendirinya menjadi manfaat begitu banyak.
Jadi, apakah harus menjadi psikolog? 🙂

Dunia nyata pasca kampus menggiring saya bertemu dengan begitu banyak fragmen kehidupan. Dan semakin saya berhadapan dengannya, semakin saya merasa begitu minim bekal yang saya punya. Bagaimana bisa kita berhadapan dengan seorang anak depresi sementara kita tidak tahu cara menanganinya? Bagaimana bisa kita menjiwai permasalahan rumah tangga, sementara pengalaman belum ada, dan secara keilmuan juga tak seberapa? Bagaimana kita dapat menangani korban-korban pasca trauma, entah karena musibah bencana, atau kekerasan yang menimpa, dengan ilmu yang alakadarnya dan hanya sekedar mencoba-coba tanpa metodologi yang baik dan kemampuan analisa-saran rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan?

Kesenjangan itu, yang saya harap bisa saya reduksi ketika saya sudah diberi anugerah mencicip pembelaran di jenjang S-2 profesi psikologi. Menjadi manfaat adalah kenikmatan tak terhingga yang bukan lagi sekedar pemuasan kebahagiaan batiniah semata, tetapi juga asset untuk berjumpa dengan-Nya di akhir masa. Mungkin belum saatnya saja kesempatan itu datang sekarang. Dan seperti keajaiban, Mario Teguh menanggapi perasaan saya di televisi semalam. Ujar beliau, tidak mungkin kita naik tangga dan sekaligus juga maju ke depan. Meraih posisi tinggi dan berjalan maju adalah hal yang aneh, kecuali melakukan salah satunya saja.
Mungkin saja yang harus saya lakukan sekarang ini adalah melakukan gerak horizontal –bukan vertikal- yaitu dengan memperkaya pengalaman, memperbanyak kenalan serta memperluas relasi dan jaringan. Dan syukurnya, di LSM tempat saya bekerja sekarang, pengalaman dan jaringan merupakan suatu keniscayaan 🙂

Saya percaya, akan ada waktu yang tepat nantinya jika saya harus belajar lagi di S2. Sebagaimana hal lainnya, selalu ada waktu terbaik dimana kita layak berada disana.
Lagi-lagi Allah memberi saya hikmah itu : saya mendapat apa yang saat ini saya butuhkan, dan bukan apa yang saya inginkan 🙂

By the way, doakan saja semoga rizqinya dimudahkan ya 🙂

Friday, July 04, 2008. 2:23pm.
~belumSaatnyaMenikmatiZonaNyaman…

*SMART = specific, measurable, attainable, realistic, time limit. Ini adalah panduan membuat goal/target yang biasa dipakai dalam ilmu manajemen/psikologi.

gbr dari taufik79.wordpress.com/2008/05/
dan
http://zulfikri.wordpress.com/2007/06/11/peran-atap-dalam-arsitektur-sebagai-simbol-martabat-bangunan/
sudah ijiin! makasih banyak..

Get Sick


Diagnosa
Typoid : positif

Formula
Enakur, Metoclopramide HCl 10 mg
Alpara kaplet
Ottoprim Sulfametoxa
Bufantacid
Bed rest 1 week

Innalillaahi wa inna ilayhi rooji’uun…
Semoga menjadi penggugur dosa. Aaamiiin.

note: yang belum pernah kena tipes, jangan sampe deh. na’udzubillah..
jaga makanan dan istirahat!

gbrnya dari sini nih:
http://www.kapanlagi.com/a/0000003810.html

iya, ga ijin.. maap…