Cerita Temanku tentang Kepercayaan

Bismillah…

Salah satu karunia terbesar seorang manusia adalah ia dikaruniai akal untuk berpikir dan mengambil insight dari apa yang tengah terjadi di sekelilingnya.

Kali ini saya belajar banyak hal mengenai “kepercayaan/trust”, sesuatu yang katanya, tak terbayar, saking mahalnya.

Dalam berhubungan dengan banyak pihak sebagai partner kerja, contohnya, atasan saya berkali-kali menekankan, hati-hati menjaga kepercayaan orang lain, karena sekali saja kita tidak dipercaya, maka disitulah integritas kita jatuh di mata mereka. Lepas dari penilaian manusia yang tidak selamanya bisa diharapkan (buat apa juga mengharap penilaian manusia), saya sendiri (agak) sepakat dengan statement bos saya itu (soalnya, kadang ada orang yang cuma gara-gara 1 kasus aja, dia jadi gak percaya selamanya. Akhirnya, yang terjadi adalah blaming, labeling, dan ujung-ujungnya jadi gak positif lagi. Nah, yang kayak gini jatuh-jatuhnya jadi kurang bijak juga, menurut saya).
Tetapi apapun itu, saya termasuk orang yang percaya bahwa trust itu mahal harganya.

Mari kita bayangkan sejenak kehidupan Makkah ketika Rasulullah Muhammad saw bertumbuh disana. Tak pernah sedikitpun masyarakat Makkah saat itu yang tidak sepakat bahwa Muhammad tidak jujur, yang karenanya ia mendapat gelar “Al Amin”(yang dipercaya). Dari situ ia mendapat keberkahan: banyak orang yang senang menjalin relasi dengannya, bisnisnya berkembang pesat, dan masyarakat menjadi begitu respek terhadap dirinya. Kejujuran berkembang menjadi integritas, dan berbuah kepercayaan yang nilainya begitu besar.

Saya kemudian berkaca pada peristiwa-peristiwa di sekitar saya. Seorang teman merasa dikhianati oleh temannya sendiri yang sudah begitu ia percaya, hanya karena membocorkan rahasia. Mungkin content rahasia itu terkesan sepele. Tetapi saya dapat memahami perasaan teman saya tersebut bahwa poinnya bukan terletak pada sepele atau tidaknya content rahasia yang ia pegang.

Apakah Anda mengerti?

Yap, poinnya terletak pada pelanggaran janji.
Bukankah sepele-tidaknya suatu persoalan tergantung paradigma?
Benar. Dan paradigma seseorang terhadap suatu hal tentu saja tidak selalu sama dengan yang lainnya. Jadi memang tepat, poinnya bukan pada content rahasia itu, tetapi pada “perjanjian” yang seringkali tak tertulis, yang jika disuratkan akan berbunyi : saya percaya padamu, itu sebabnya saya ceritakan hal ini. Dan jika saya bercerita padamu, artinya, kamu harus menyimpannya baik-baik.

Seorang teman lain menceritakan kisah ‘pembocoran’ yang sama, dalam content yang berbeda. Kali ini contentnya jauh lebih private, jauh lebih rahasia untuk diumbar-umbar. Dan naasnya, orang yang ia percaya menceritakan hal itu kepada orang lain, dan orang lain menceritakannya pada orang lain lagi, begitu seterusnya sampai kisah itu tersiar dan tentu saja tidak lagi utuh; penuh bumbu disana-sini dan berbeda dari versi aslinya.

Si teman kedua misuh-misuh kepada saya dengan begitu kecewa. Apalagi ia tahu bahwa temannya yang tidak amanah itu adalah pembelajar yang intens menyerap ilmu keislaman.

Sambil menghibur dan mencoba memetik hikmah bersama-sama, sekali lagi saya bercermin. Betapa mudahnya lisan ini mengatakan apa-apa yang tidak semestinya. Betapa mudahnya hati ini menggampangkan kepercayaan orang lain, dan seringkali tanpa merasa bersalah pula.

Sejujurnya, ketika menghadapi orang-orang yang menghancurkan kepercayaan seperti yang dialami 2 rekan saya, saya jadi lebih hati-hati memilih teman bercerita. Tentu saja kemudian memilih untuk tidak lagi mudah percaya pada si pembocor rahasia.

Tak usahlah kita bicara soal kode etik psikolog yang harus memegang teguh rahasia kliennya, Islam sudah jauh-jauh hari membicarakan konsep agung dalam berinteraksi dengan sesama manusia: bagaimana kita mendoakannya ketika saling bertemu, ketika ia bersin, menjenguknya ketika sakit, menutupi aib-aibnya, melapangkan urusannya dan tentu juga menjaga rahasianya, serta lain sebagainya.

Alangkah saya bisa memaklumi rekan saya itu, ketika ia begitu kecewa mengapa sang teman yang dipercaya menjaga rahasia malah sesumbar, apalagi turut melengkapinya tanpa rasa bersalah juga. Saya rasa, kali ini saya banyak belajar betapa kepercayaan itu cukup sulit diraih tetapi amat mudah dihancurkan dalam sekejap mata…

Ya Allah, jadikan kami orang yang jujur dan mampu menjaga kepercayaan orang lain…

~bercermin…
Thursday 27th June 08, 9:08pm