Stagnan


Bismillah…

Sejujurnya saya tidak suka terjebak pada situasi itu. Tidak ada kemajuan, dan mundur malah lebih tidak memungkinkan. Pertanyaannya, sudahkah kita coba beranjak dari kondisi yang kita tidak sukai tersebut?

Saya jawab, saya mencoba.
Tapi kenyataannya saya hanya berputar-putar, terjebak pada kesemrawutan yang saya ciptakan. Benar. Jika saya mau, maka saya bisa saja mengubah dan menjadikan hal itu bukan permasalahan. Jika saya berkeinginan, maka saya bisa saja menjadikannya bukan sebagai beban. Tinggal klik gelombang di otak persepsi saya, dan “blass…”, segalanya menjadi lebih ringan.

Tapi ternyata tidak sesederhana itu pula. Saya tidak sedang berbicara tentang diri saya. Melainkan juga kaitannya dengan berbagai macam unsur yang terlibat disana. Ada konsekuensi di balik setiap langkah yang saya ambil, tentu saja. Tapi bahkan saya sendiri tidak bisa, atau katakanlah, belum bisa memastikan, apa yang sesungguhnya saya inginkan.

Gamang.
Dan pandangan saya berkali-kali menjadi hampa, menerawang sambil memikirkan, “bagaimana, bagaimana…”

Sementara ada sekelumit tanya yang tengah menunggu jawabannya, berharap kepastian segera terbuka. Dan membiarkan waktu terus berjalan tanpa tanda-tanda, sama saja memberikan peluang untuk menjadikan luka –jika harus terluka- kian membesar; demikian nasihat seorang teman.

Saya hanya tidak berani, ujarnya.
Saya hanya takut menanggung konsekuensi, tambahnya lagi.
Mungkin benar demikian. Tapi sungguh, jika saja syaraf ini bisa terbelah, akan kaulihat simpul-simpulnya begitu menegang, nyaris terbakar. Karenanya saya lebih suka membiarkan perjalanan itu menemukan ujungnya sendiri, tanpa intervensi. Dan seketika ketegangan membeku, walau berpotensi memanas sewaktu-waktu.

Dan tidak ada kemajuan sedikitpun, tidak ada kecerahan, tidak ada keputusan, tidak ada apapun yang saya hasilkan.

Saya hanya berharap suatu saat akan terbuka jalan…
Suatu kondisi dimana tak ada lagi beban dan segala keputusan yang arif dapat dimenangkan. Tapi mungkin tidak sekarang.

Friday, April 18, 2008.
Kpd seorang sahabat: kali ini, bolehkah aku yang mengharapkan keajaiban?

gbr dari snailstales.blogspot.com
kali ini udah ijin. thx, sir 🙂

Alhamdulillah, Masih Hidup…

Bismillah.

Lama tak mengisi blog ini, kukabarkan pada kalian, wahai dunia, aku masih hidup! 🙂

Ya. Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan hidup. Setelah sebelumnya harus “simulasi kematian” dengan metode ‘learning by doing’, pembelajaran terbaik yang lebih terserap karena melibatkan semua unsur; fisik, pikiran, dan hati.

Jumat lalu, empat puluh lima menit lepas dari maghrib, aku bergegas memacu sepeda motor dari rumah menuju RSCM, tempat dimana aku akan bertemu seseorang untuk urusan pekerjaan.

Tidak ada feeling apa-apa sebelum berangkat. Aku hanya meyakinkan diri untuk lebih berhati-hati karena hari sudah malam, dan biasanya jalanan akan terlihat lebih remang; apalagi di mataku yang sensitif debu dan mudah teriritasi.

Dan akupun berangkatlah. Berusaha memenuhi janji dan membuat temanku itu tak lama menunggu. SMS temanku : “Cepet ya, kalau bisa sekarang. Soalnya mau pergi lagi.
Saat itu pikiranku hanya satu: sesegera mungkin sampai ke tujuan.

Hingga tiba di lampu merah Slamet Riyadi, Jatinegara, semua masih lancar. Begitu lampu hijau menyala, arus lalu lintas yang padat jadi mengencang, dan otomatis membuatku yang berada 3 baris dari depan ikut lebih kuat menggas kendaraan.

Baru menyeberang perempatan beberapa detik dalam keadaan motor yang berlari kencang, kulihat 2 lubang di hadapanku, dan refleks aku menghindar.

Stang kubelokkan ke arah kiri, dan detik itu pula…
dari arah kiri belakang sebuah motor menabrakku tanpa kendali!

ALLAHU AKBAR!

Panik, aku bertakbir berulang kali. Sudah tidak ingat aku dimana rem, dimana segala macam pijak gigi, dan seterusnya. Badan motorku menyangkut di motor si penabrak, terseret miring sekian meter selama beberapa detik mengikuti dia, dan selama itu pula aku hanya bisa menyebut asma-Nya dalam pasrah…

Akhirnya motor itu menghantam sesuatu dan aku ikut terjatuh.

Kurasakan punggung dan bahu kananku membentur jalan yang keras. Kakiku terjepit tertimpa sepeda motor yang kukendarai. Si penabrak sendiri, tak tahu pasti aku bagaimana kondisi dan posisinya. Tiba-tiba orang-orang berkerumun, mengangkat sepeda motorku dan membantuku bangun.

Kepalaku terasa berat. Tapi kupaksakan diri untuk bangkit dan masih sempat berkata pada orang yang menolongku bahwa aku baik-baik saja, sembari meyakinkan diri sendiri. Walau pada kenyataannya kacamataku patah, motor tergeletak begitu saja entah bagaimana nasibnya, kubuka penutup mulut dan helmku, meraih tas dan menyingkir ke tepian.

Tiba-tiba sesuatu menetes menodai jaket yang kupakai.
Darah!!!
Apa yang berdarah???

Spontan kuraba sumber tetesan di dahi kiri dan mendapati kedua telapak tanganku berlumuran banyak cairan merah.

“Berdarah!” seru seseorang dengan lantang.
Kukuatkan hati yang mendadak gemetar. Gapapa, indra… kamu gapapa… kamu gak apa-apa…

Kubiarkan motorku dikerubungi orang, sambil mengelap dahiku dengan sapu tangan penutup mulut yang semakin banyak terkena darahnya. Sederas inikah?

Seorang polisi menuntun sepeda motorku diiringi yang lain. Dan beberapa orang lainnya mengamatiku baik-baik.

“Mbak gapapa?” tanya pemuda yang kuduga si penabrakku.
“Ini tissue mbak…” ujar seorang yang lain.
“Gak…gak papa…Ini cuma berdarah…Parah gak ya?” kataku tidak yakin.
Kusingkap sedikit jilbab di pelipisku, dan mas-mas yang menabrakku memperhatikan lebih seksama.
“Lukanya kecil, tapi agak dalam…”
Dan aku meringis nyeri.
“Mas gak papa?” kutanya pria yang tampak baik-baik saja itu. Wajahnya pias, entah mengkhawatirkan aku atau apa.
“Gak…saya gak papa…”

Pak polisi menghampiriku lagi.
“Anda sendirian?”
“Iya, Pak…”.
“Anda…” ia menoleh ke pria yang menabrakku. “Gimana, ada tuntutan gak?”
“Enggak… gak ada…”
“Kalo gak ada ya sudah, selesai disini. Lain kali hati-hati…”

Panikku belum selesai, darahku belum berhenti mengucur, tiba-tiba sarafku dipaksa menegang. Aku terluka, dan… tuntutan apa??

“Minum dulu, Mbak…” ulur seorang bapak tua. Dan orang-orang kemudian perlahan meninggalkan. Pria itu juga kembali pada motornya yang diparkir agak di depan.

Kuhubungi temanku segera. Mengabarkan bahwa pertemuan hari itu terpaksa dibatalkan karena musibah yang menimpa. Kukabarkan orang dekat yang lain, berharap mendapat bantuan. Setidaknya ada yang tahu bahwa aku kecelakaan. Dan tentu saja, aku hanya ingin segera pulang.

Seorang pemuda pengatur lalu-lintas informal mendekatiku yang masih sibuk mengelap luka di dahi. Masih bertanya hal yang sama, “Gimana Mbak, gak papa?”
Sampai akhirnya ia menawari tuk mengantarkanku ke apotek seberang, tapi kutolak halus dan hanya minta bantuan membelikan betadine. Pemuda yang baik sekali…

Begitu ia datang lagi, langsung kuobati bocor di atas alis kiri, juga kulit yang terkelupas di dekat mata kaki kanan dan di bawah lutut kiri.

Si penabrakku sendiri baik-baik saja, hanya terdengar bahwa motornya rusak dan sampai aku pamit, belum dapat dipastikan apakah kendaraannya itu bisa kembali berjalan normal. Maafkan saya ya… kita sama-sama mendapatkan kerugian 😥

Akhirnya kupaksakan meneruskan perjalanan pulang sendirian karena mustahil menunggu bantuan datang. Kali ini, dengan kecepatan minimal sambil merasakan perih yang tertahan…

Ya Allah, terima kasih banyak sudah mengingatkan banyak hal…

***

Pelajaran 1 :
Persiapkan segala sesuatu baik-baik sebelum berangkat. Termasuk meresapi doa “bismillahi tawakkaltu ‘alallaahi laa hawla walaa quwwata illa billah…”. Dengan nama Allah aku bertawakkal, tiada daya dan kekuatan selain dari Allah. Well, everythings can happen begitu kita keluar dari rumah…

Pelajaran 2 :
Bersikap tenang dalam keteburu-buruan tetap penting tuk dilakukan. Ketergesaan berpotensi menimbulkan ketidakberesan. Bergerak cepat boleh, tapi tetap harus tenang.

Pelajaran 3 :
Bagi para pengendara kendaraan roda dua, better gunakan helm yang menutupi semua bagian kepala karena kalo kita jatoh (na’udzubillahh…), kepala terlindung dari benturan. Jangan lupa, baik-baik perhatikan lubang yang semakin banyak bertebaran di jalan raya. Walaupun ngebut itu asyik (teteup…), slogan “Ngebut berarti Maut” kurasa masih terus relevan. Apalagi kalau udah kejeblos di lubang itu, atau ngerem mendadak dan bikin yang ada di belakang jadi nabrak…
Btw kabarnya, yang kecelakaan gara-gara lubang di jalanan itu gak sedikit… Ehm, wahai pemerintahku yang solih dan bertanggung jawab, harus menunggu berapa ratus korban lagi? 😡

Pelajaran 4 :
Kalimat “belum kapok naik motor kalau belum jatuh”, buatku kurang berlaku. Kapok mah enggak… hehe. Yang jelas, naik motor akan aman kalau kitanya hati-hati. So, berhati-hatilah. (intinya, jangan kapok naek motor ya. Hehe…)

Pelajaran 5 :
Pastikan di setiap momen, kita selalu dalam keadaan mengingat Allah. Berdzikir sambil berkendara merupakan hal yang sangat mungkin tuk dilakukan. Kematian baru terasa dekat ketika peristiwa mengerikan menghampiri kita. Tapi sesungguhnya, ia bisa menghampiri kita kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun…

Pelajaran 6 : (silakan ditambahkan…)

Ahad, April 20, 2008. 10:52 pm.
-dilarangNaekMotorLagiSamaMamah:(

gbr dari http://myfloridalegal.com/kids/acci_ans.html
dan
myfloridalegal.com/kids/accident.html
trimakasihh, maaf ga ijin…