Jelang 2008

Bismillah…

Rasa-rasanya aku harus meninjau ulang hidupku nih.
Maksudku, dengan target menikah sebelum umur 25 tahun alias tahun 2008 (duhh…isu ini lagi!), sepertinya aku harus mempersiapkan segala sesuatunya. Bukan apa-apa, sepertinya kalo udah mencapai 25 tahun, agak-agak gimanaaa…gitu, berasa ada barrier psikologis aja. Ditambah lagi, usia yang paling baik untuk menikah (bagi perempuan) berkisar antara 18 – 20 tahun (yang ini aku baca di buku Developmental Psychology, karangan Diane E. Papalia). Jadilah aku membuat target itu.
Mau gimana lagi, yang bikin targetan juga aku, jadi salah sendiri deh kalau sekarang mulai bingung memikirkan apa-apa yang harus disiapin.

Aku juga punya target ambil kuliah profesi tahun 2008 ini… (kalau ada rejekinya, aamiin). Hampir semua teman yang kul S2, terutama bagian klinis dewasa, mengatakan bahwa jadwal kuliah mereka amat sangat padat, ditambah harus kerja kelompok mengerjakan tugas ini-itu. Seorang teman wanita mengatakan, ”Duh, gak kebayang deh gw kalau kuliah sambil ngurus keluarga dan anak…”. Dan kalimat itu membuatku berpikir, ”sepertinya aku tidak akan optimal jika kul sambil punya anak…”. Walau di sisi lain, seorang wanita juga berkata, ”Yaa.. emang padat sih. Tapi aku asyik-asyik aja tuh. Anakku kan dititip sama eyangnya…”.

Nah, permasalahannya sekarang adalah, gimana ceritanya kalau aku kuliah profesi lalu aku ternyata sudah diamanahi seorang baby… (tu juga kalau beneran jadi nikah tahun 2008). Titip sama eyangnya? Umh, kayanya bukan itu deh yang aku pikirin. Tapi waktu intensifku dengan si baby akan berkurang karena aku kuliah dari pagi hingga petang. Tentu saja aku tidak mau melewatkan waktu emasku dengannya.

Hmm….hmm…hmm…

Aku juga sudah mulai memikirkan dimana aku akan tinggal setelah aku berkeluarga nanti. Sepertinya akan lebih aman dan nyaman jika aku punya rumah sendiri saja. Rumah impianku adalah rumah berhalaman luas dengan sungai kecil mengelilinginya (btw, kepada Fithri sang arsitek, sudahkah dirimu mendesainkannya untukku?!?).

Inget masa kecil aja sih. Alhamdulillah dulu aku bisa bermain di halaman rumahku sehingga gak perlu main jauh-jauh. Ya main sepeda, petak umpet, benteng takeshi, nanam pohon buah2an, bikin lapangan basket (asal jadi) dan mematok ringnya begitu aja (judulnya ada ring basket, titik), dsb, dsb. Mengingat Jakarta tidak lagi punya lapangan luas nan asri untuk tempat bermain, rasa-rasanya aku yang harus menyediakan fasilitas itu untuk anak-anakku deh. Lagipula aku jadi bisa memantau mereka dengan baik juga kan

Lalu kenapa mesti ada sungai kecil mengelilinginya, karena aku suka air dan ikan. Lucu deh, kalau di sungai kecil itu nanti ada angsa-angsa berenangnya. Terus kalau mau masak ikan gak usah jauh-jauh, tinggal nyetok aja di sungai itu. Asyik kan? Terus nanti halaman rumahku akan ditanami berbagai pohon buah dan tanaman obat. Tidak lupa juga, ada beberapa kelinci dan rusa-rusa berkeliaran. Fithri bilang, “Rumah apa kebun binatang, Ndra?”. Wakakak….. ^_^

Gak papa. Aku cuma ingin menyediakan fasilitas yang dapat merangsang multiple intelligence anak-anakku. Setiap sore aku akan berjalan-jalan di kebunku bersama mereka, supaya natural intelligence anakku terasah. Lalu, main basket, petak umpet, petak jongkok, galasin, bentengan, badminton, atau sekedar joging sama-sama, supaya sehat dan bisa bersosialisasi dengan baik. Oya, mainnya sama anak-anak tetangga biar rame dan seru. Dapet lagi deh tuh interpersonal intelligence. Pokoknya aku tidak akan membiarkan anak-anakku terlalu lama main playstation, game komputer, dan berbagai mainan individu lainnya. Di samping menghambat kemampuan bersosialisasi, suatu penelitian pernah membuktikan main games2 semacam itu dapat meningkatkan obesitas (karena mainnya sambil ngemil!).

Mmmh… apalagi ya…

Ah, ya. Itu aja dulu.
Yang jelas aku tidak berminat sama sekali untuk
tinggal di apartemen. Heran, sekarang kemana-mana kalau jalan pasti bakal ketemu spanduk atau baliho2 yang nawarin apartemen. Bukan apa-apa, kayanya perkembangan psikis dan sosialisasi orang yang tinggal di apartemen kurang sehat deh. Adik privatku aja nih, yang tinggal di apartemen, berkali-kali mengeluh karena kesepian gak punya teman.
Pas aku tanya, ”Kamu kenal gak sama anak depan rumahmu? (dimana jarak antara 1 pintu dan pintu lainnya hanya 1 meter!)”.
Lalu dia jawab dengan gelengan muram, ”Gak kenal…”.
Dan aku tentu saja menghela nafas. Bagaimana mungkin aku membiarkan generasiku tumbuh tanpa mengenal orang-orang di sekelilingnya?

Gak cuma anak-anak. Bahkan orang dewasa pun bisa tumbuh sebagai manusia individualis yang gak kepikiran sama sekali sama sekelilingnya. Mau tetangga lagi kesusahan dan butuh bantuan, kayanya ’who cares’ deh. Betapa tidak menyenangkannya hidup seperti itu buatku… Jangan-jangan kalau gw meninggal gak ada satupun tetangga yang ngelayat lagi. Boro-boro didoain deh… Ya kan? -_-‘

Kalau inget kuliah psikologi arsitektur di semester 6, kata dosenku apartemen atau rumah susun itu memang lumayan untuk pasangan yang baru menikah, karena ruangannya yang tidak terlalu besar sehingga dapat meningkatkan kedekatan di antara mereka. Tapi untuk keluarga dengan anak, sepertinya tidak direkomendasikan deh. Lagipula ada perbedaan psikologis juga tuh, antara orang-orang yang sehari-harinya berinteraksi dengan orang lain, dengan yang pemukimannya tembok melulu (penelitiannya sapa tau, lupa… Kayanya pernah ada di majalah Tarbawi juga…). Lagipula, harga apartemen gak murah juga. Bu Mimi bilang, sekarang ini ada yang harganya paling murah 100 juta, tanpa DP (WAKS!). Mau pake atau tanpa DP, kayanya duit segitu better gw invest buat pendidikan anak gw deh…

Yah… begitulah. Kalau pas masih single bisa mikirin diri sendiri ansich, ntar kalau udah berkeluarga mikirnya harus luasss…banget. Pertimbangin ini, mikirin itu, belum lagi sekolah anak –aku masih bingung mau homeschooling atau sekolah alam-, bikin usaha sendiri, belum lagi ngatur anggaran sehari-hari, ngatur pembagian waktu sama suami (kalau aku dan suamiku beraktivitas di luar rumah), dst, dst.

Ribet kan? Makanya, sapa bilang nikah cuma seneng-senengnya doank…
Dududududu…

Btw, guys, menurut kalian, aku terlalu jauh memikirkan ini gak sih?


~justWannaPrepare…
WednesdayMorning, 07.11.07; 09:22 am.



gbr dari sini nih…
www.nassaulibrary.org/fpark/
www.loanswithrob.com/sitemap.htm
http://me.abelcheung.org/2006/10/25/ps3-%E4%B8%8D%E8%A6%81%E4%BA%86%EF%BC%8C%E8%AC%9D%E8%AC%9D%E3%80%82/
http://www.imagezoo.com/images/weibu/hma0083.html
maaf ya ga ijin dulu…

Advertisements

14 thoughts on “Jelang 2008

  1. cie…cie yang udeh mau nikahan…frend, sekarangkan orang mikirnya suka yang jauh2…jangankan dikau…adek gue aja udeh mikir yang jauh-jauh…Seru juga dikau mba…Met menjalani hidup baru deh!!! Gutlak aja…

  2. wah jadi lagi bingung ingin kuliah ato nikah?;)semoga diberikan petunjuk yg terbaik ya!spedaman juga pengen nikah:Dmumpung masih di Jakarta, supaya mudiknya satu tujuan hehehe…btw temen spedaman juga ada yg ambil S2 di UI, namanya Bagas.siapa tau kenal:)

  3. Assalamu’alaikum..salam kenal mba..InsyaAllah perencanaan itu baik mba..apalagi ini menyangkut pasangan hidup yang akan bersama kita dalam jangka waktu yang lama..semoga dimudahkan Allah Ta’ala..

  4. wah, banyak yg komen.hehe… namanya jg manusia, cuma bisa berencana, Allah juga yang nentuin nantinya.to pi: saha ieu teh? ga kenal..kenalan yaa 😀 makasi udah mampir 🙂to spedaman: iya dan, ayo disegerakan 😉 udah mapan juga kan dirimu 🙂 bagas? sunu bagaskara? kenal.. adek kelas saya dia mah 🙂to ichsan: jazaaakalloh khoir doanya. salam kenal jg ya

  5. saya menikah, modalnya 5 juta buat nikah. udah nikah gak punya tabungan sama sekali, hanya yakin janji Allah, bahwa jika ikhtiar, maka akan ada jalandan alhamdulillah, saya sekarang jadi dosen di halmahera, istri masih PTT di sini juga. dan soal biaya, insya Allah, banyak pintu rejeki dari Allah 🙂jadi…kapan nikah nduk??? :p

  6. to ~a~ :iya mas, sy sih yakin aja sm janji Allah. tp sy juga sangat percaya bahwa hidup adalah perjuangan. so, i just do my best, and God do the rest! 😀buat pertanyaan terakhir: maunya sih taun depan. doain aja ya 🙂

  7. Hi are using WordPress for your site platform?
    I'm new to the blog world but I'm trying to get started and create my own.
    Do you need any html coding knowledge to make your own blog?

    Any help would be really appreciated!

    Feel free to surf to my web blog – get back with your ex girlfriend

  8. With havin so much content do you ever run into
    any problems of plagorism or copyright violation?
    My website has a lot of exclusive content I've either authored myself or outsourced but it seems a lot of it is popping it up all over the web without my permission. Do you know any ways to help protect against content from being stolen? I'd really appreciate it.

    Take a look at my page agoda coupon

  9. Attractive section of content. I just stumbled upon your web site and in
    accession capital to assert that I acquire in fact enjoyed account your blog posts.
    Any way I'll be subscribing to your feeds and even I achievement you access consistently rapidly.

    My website; how to cure a cold sore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s