Semoga

bismillah…

Lagi suka dengerin lagunya Kla Project yang ini…

Merenungkanmu kini, menggugah hariku
berbagai kenangan berganti, masa yang t’lah lalu
sebenarnya ku ingin menggali hasrat untuk kembali

Melukiskanmu lagi di dalam benakku
perlahan terbayang pasti garis wajahmu
kehangatan cinta kasih dapat kubaca jelas di situ

Adakah waktu mendewasakan kita
kuharap masih ada hati bicara
Mungkinkah saja terurai satu persatu
pertikaian yang dulu bagai pintaku
semoga…

(Semoga – Kla Project)

~andIRememberABunchOfYellowRoses…
wed, 28.11.07;02.45pm

Advertisements

Warisan Dendam

Bismillah…

Oktober 2007. Pagi itu aku menemani mamah pergi ke bank syariah di bilangan Matraman. Setelah lama menunggu antrian, aku segera menemui petugas frontline-nya. Sambil mengurus ini-itu untuk mengambil sejumlah uang, si petugas tiba-tiba bertanya pada mamahku.

“Ibu E, ya?”
Mamahku yang tengah melamun, terkejut. Pasalnya ibuku tidak menunjukkan identitas apapun.
Sambil mengamati sang petugas, beliau menjawab,
“Iya… Mas siapa ya…”
“Saya Ri, anaknya Pak Z…”

Seperti adegan film yang dihentikan tiba-tiba, selama beberapa detik mamahku mematung. Aku juga terkejut, tetapi masih bisa mengendalikan diri. Aura tak enak segera memenuhi segitiga itu: aku, mamah dan mas Ri tadi.

Si Ri jadi kikuk. Untung mamah segera mengucap sepatah kata.
“Oohh… Ri ya… anak Pak Z… sudah lama disini…?”
“Lumayan, bu. Sudah 6 bulanan… Gimana kabar Bapak, Bu?”
“Bapak baik… Oh jadi Ri disini sekarang…”
Dan obrolan basa-basi pun berlanjut. Meski rumah R hanya berbeda 200an meter dari rumahku, keluargaku sama sekali tak pernah memperhatikan mereka.

Aku diam saja di tengah percakapan itu. Menunggu si Ri membereskan pekerjaannya dan memikirkan keterlambatanku tiba di tempat kerja.

Pikiranku melayang-layang ke wajah Bapak di rumah.
Lebih kurang 15-an tahun lalu ayahku bekerja sama dengan ayahnya si Ri. Mereka, yang bersahabat karib sejak masih kuliah di UII Jogja, mendirikan CV yang bergerak di bidang konsultan perencanaan pembangunan. Kebetulan Pak Z, ayah Ri, menjadi managernya dan ayahku menjadi orang lapangan.

Proyek bergulir dan ayahku berkutat dengan begitu banyak pekerjaan. Beliau yang menggambar sketsa bangunannya, memperkirakan berapa banyak baja, besi, dan bahan-bahan bangunan yang perlu dipersiapkan, dst, dst.

Aku tidak tahu persis berapa lama proyek-proyek itu berjalan, mengingat aku belum cukup dewasa untuk memahami apa yang ayahku lakukan. Aku hanya ingat bahwa dulu ayahku sering sekali bolak-balik Jakarta-Sukabumi untuk mengurusi proyek itu. Malam-malamnya habis untuk berkonsentrasi menggambar dan menggambar, menghitung angka-angka, hingga suatu ketika…

Ayahku tidak lagi mau berjabat tangan dengan Pak Z ketika mereka bertemu saat sholat berjamaah di masjid dekat rumah. Dan hampir semua jamaah bapak-bapak disana mengetahui apa yang tengah terjadi, sampai-sampai ustadz di masjid itu berkata,
“Jamaah saya yang tidak mau saling bersalaman satu sama lain adalah Pak Z dan Pak R (ayahku –red),”.

Kalian tahu apa penyebabnya?
Tidak pernah ada komisi dari proyek itu untuk ayahku, meski ayahku sudah mengerahkan seluruh energinya. Tidak ada komunikasi dari Pak Z tentang berapa besar keuntungan yang telah ia terima dan berapa banyak yang seharusnya ayahku terima, lalu semuanya terputus begitu saja. Uang hak ayahku yang tidak diberikan oleh Pak Z nilainya hampir 100 juta rupiah!

Kalian tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh sahabat sendiri? Sahabat yang bersama-sama kita ketika di bangku kuliah dulu, sudah dianggap saudara, dan kini tega menikam diri kita, salah satu orang terdekatnya, tanpa penjelasan apapun?

Tidak ada permintaan maaf, dan lebih dari sepuluh lebaran terlewati begitu saja. Tidak ada kesadaran untuk mengganti kerugian, bahkan sampai ayahku terserang stroke 7 tahun lalu dan nyaris tidak bisa bergerak seperti sekarang, Pak Z tak pernah datang!

Kami sekeluarga meradang. Tapi ayahku yang pendiam tidak melakukan apapun. Tidak ada tuntutan hukum yang akan beliau ajukan. Tidak ada tuntutan agar sahabat karibnya itu meminta maaf. Hanya satu keyakinan beliau : siapa yang menabur angin, ia akan menuai badai. Dan beliau begitu percaya pada keadilan-Nya.

Dadaku menggelegak mengingat semuanya. Tapi memendam kesumat adalah seperti memelihara pohon kaktus yang terus tumbuh di dalam hati: durinya menyakiti diriku sendiri. Adakah manfaatnya??

Kupandangi Ri hari itu sambil berusaha menetralisir sakit hati yang tiba-tiba menjalar. Adalah hal yang wajar jika tadi mamah tiba-tiba terdiam ketika ia menyebut nama ayahnya yang telah menghancurkan perasaan kami sekeluarga. Beruntung ibuku masih bisa bersikap baik padanya saat itu. Masih berusaha menanyakan kabar nenek dan ibunya yang pernah akrab di pengajian bersamanya di masjid dekat rumah, dan bermanis-manis tanpa sedikitpun memperlihatkan rasa tidak suka.
Sementara aku duduk diam mendengar, sambil berusaha menasihati jiwaku sendiri.
“Allahumma… Aku paham… Tidak semestinya dendam itu diwariskan…”.

-maybeForgiven,butNotForgotten.
ikhlashkanKami,yaAllah…
Tues, 27.11.07; 12.40 pm.

gbr dari http://www.allposters.com/-sp/Dark-Sky-Oregon-Posters_i1002815_.htm
maap ga ijin…

Tentang Bekerja

Bismillah…

Pekan lalu, dalam sebuah pertemuan dengan beberapa teman, kami berbincang.
Seorang rekan kami yang kebetulan PNS di sebuah lembaga pemerintah, kebetulan tengah hamil 6 bulan. Ia, yang baru saja pulih dari sakitnya berbulan-bulan, alhamdulillah kini sudah bisa bekerja seperti biasa.

Sayangnya, karena pengaruh kehamilannya, ia kerap kali muntah di kantor. Akibatnya,
Aku kerja seringnya cuma sampai jam 10. Jam 10 udah pulang…,” ujar E, temanku itu.
Dan tentu saja kami semua terbelalak.
Ha? Kerja apaan kamu, E?”
Wahh… makan gaji buta kau, E
”Merugikan negara nih!”

Si E hanya bisa tersenyum simpul.
Ya abis gimana… di kantor kalau muntah ya akan muntah di ruangan. Ga sempat lari ke toilet… Daripada bikin satu ruangan gak nyaman…”
”Tapi tetep nerima gaji utuh?”
”Ya namanya juga PNS… Alhamdulillah, sih…”

Lain lagi kisah temanku, M, yang bekerja sebagai guru di sebuah SMA swasta. Awalnya, ia memang menerima gaji honorer; kalau masuk dapet honor, kalau gak masuk gak dapet honor. Belakangan ia sudah menerima gaji tetap; masuk-gak masuk gajinya gak berubah. Ketika berhari-hari tidak masuk karena suatu urusan, ia berkata pada petugas pembayar gaji karyawan.

”Pak, kayaknya gaji saya kebanyakan nih. Saya kan cuma masuk sekian hari bulan ini…”
Tapi tentu saja petugas itu tidak mau ambil pusing.
Terserah Mbak deh mau diapakan…”

Ketika M bercerita padaku, aku berkata,
Ya toh kamu juga mengerjakan tugas-tugas sekolah di luar jam sekolah, bukan? Kamu bahkan menerima konsultasi anak-anak. Mudah-mudahan itu sebanding dengan honor kamu…”
Nah, aku juga berpendapat begitu sih… Selain itu, aku pikir aku optimalkan aja semaksimal mungkin ketika aku masuk,” kata M.
”Atau bisa juga kamu itung honormu berapa yang sesuai dengan jumlah hari kamu masuk. Sisanya infak-kan aja…”
”Tapi itu banyak banget, Ndra… ratusan ribu…”
”Ya… kalau bicara siapa yang butuh infak, pasti banyak banget kok, M…”

Tapi ternyata kisah M itu belum apa-apa. Ada yang lebih mengejutkan lagi.
Rekan
guru yang masih satu bidang pelajaran dengan M malah tidak mau menerima sama sekali honornya yang ”kebanyakan” itu. Prinsipnya, ”Saya hanya memakan apa yang memang menjadi hak saya,”.

Kalau membandingkan dua kasus di atas, aku jadi bersyukur hingga saat ini. Sebagai pekerja sosial di LSM, aku memang berstatus honorer. Kalau masuk kantor dapet honor, kalau gak masuk ya gak dapet honor (itu di luar training fee yang lumayan besar sih…). Sangat kecil, memang. Tetapi dengan begitu, segala sesuatu memang menjadi jelas : Aku menerima sesuai dengan apa yang aku kerjakan. Sehingga, amannya, aku tidak ”makan gaji buta” yang memang bukan hak-ku sepenuhnya.

Sejujurnya aku tidak ingin memicingkan sebelah mata terhadap profesi PNS. Sebab jangan-jangan, kalau aku ada di posisi mereka, aku juga akan berlaku demikian.
Nyaman sekali bukan, mene
rima gaji utuh walau kita tidak bekerja dengan optimal?

Sayangnya, sepengetahuanku, masih banyak orang beranggapan profesi PNS sangat menyenangkan justru karena hal itu : gaji utuh walau kerjaan gak beres, plus tunjangan, plus uang pensiun di hari tua (padahal uang pensiun juga sangat kecil jumlahnya – aku tau itu karena ayahku juga pensiunan PNS). Bahkan seorang senior yang kuyakin pemahaman agamanya cukup baik, juga punya paradigma seperti itu. Ia bisa pulang 2 jam lebih awal dari jadwal, dengan alasan anak di rumah butuh perhatian!

Gak heran deh kalau banyak orang memanfaatkan posisi ini. Judulnya semua ditanggung instansi tempat kita bekerja, walau kita memberikan kinerja yang gak sebanding! >_<

Berbeda dengan cerita Anis Bunnies, temanku yang bekerja di perusahaan swasta. Dengan gaji yang memang sebanding dengan jerih-payahnya, ia sangat dituntut untuk bekerja profesional. ”Ya kan kita dibayar untuk bekerja, Ndra…” ujarnya.

Aku gak bilang bahwa jadi PNS itu suatu keburukan, ya. Salut untuk mereka yang bertekad menegakkan budaya kerja profesional dan bersih di instansi pemerintah (semoga istiqomah!). Setiap orang punya pilihan kok… dan setiap orang berhak menikmati apa yang sudah mereka perjuangkan.

Tapi jadi miris aja, kalau kebanyakan orang masih berpikiran bahwa menjadi PNS berarti bisa bekerja sesuka hati (baca: tidak profesional) dan ”asalkan mendapat gaji utuh”. Berapa banyak negara terugikan kalau begini caranya…

Boro-boro deh bicara tentang ”memakan apa yang bukan hak-nya”…
Apalagi tentang keberkahan rizki… pertanggungjawaban di hadapan Allah…
dan seterusnya… dan seterusnya…

Fuhhh…
Mengerikan sekali…
Semoga kita semua dihindarkan dari hal-hal semacam itu ya 😦

~ditengah2KeprihatinanYangMendalam…
Wed, 15.11.07; 10:25 am.

gbr dr http://pt.inmagine.com/business-personalities-photos/photodisc-pdil050
dan http://www.grinningplanet.com/2003/workaholics/joke-1704.htm

maap ga ijin….

S2… Oh… S2…


Bismillah.

Tika : “S2 Profesi Klinis Dewasa UI untuk februari, pendaftarannya udah dibuka. Untuk yang mulai kuliah bulan Juli, biasanya Feb atau Maret…”

Aku : “He??!?! is it realistic enough untuk aku kejar???”

Anik : “Ndra, sekarang udah 10,5 juta….”

Aku : “God…. Duit dari manee… ” *lemessss…*

-worrying…
Ahad malem, 11.11.07

“Ya Allah, berikanlah aku kesempatan dan rizki untuk mempelajari sebagian kecil ilmu-Mu, agar aku dapat berbuat lebih banyak lagi untuk ummat-Mu… Hiks…”


gbr dari www.tsc.go.ke/revgradscheme.htm

Jelang 2008

Bismillah…

Rasa-rasanya aku harus meninjau ulang hidupku nih.
Maksudku, dengan target menikah sebelum umur 25 tahun alias tahun 2008 (duhh…isu ini lagi!), sepertinya aku harus mempersiapkan segala sesuatunya. Bukan apa-apa, sepertinya kalo udah mencapai 25 tahun, agak-agak gimanaaa…gitu, berasa ada barrier psikologis aja. Ditambah lagi, usia yang paling baik untuk menikah (bagi perempuan) berkisar antara 18 – 20 tahun (yang ini aku baca di buku Developmental Psychology, karangan Diane E. Papalia). Jadilah aku membuat target itu.
Mau gimana lagi, yang bikin targetan juga aku, jadi salah sendiri deh kalau sekarang mulai bingung memikirkan apa-apa yang harus disiapin.

Aku juga punya target ambil kuliah profesi tahun 2008 ini… (kalau ada rejekinya, aamiin). Hampir semua teman yang kul S2, terutama bagian klinis dewasa, mengatakan bahwa jadwal kuliah mereka amat sangat padat, ditambah harus kerja kelompok mengerjakan tugas ini-itu. Seorang teman wanita mengatakan, ”Duh, gak kebayang deh gw kalau kuliah sambil ngurus keluarga dan anak…”. Dan kalimat itu membuatku berpikir, ”sepertinya aku tidak akan optimal jika kul sambil punya anak…”. Walau di sisi lain, seorang wanita juga berkata, ”Yaa.. emang padat sih. Tapi aku asyik-asyik aja tuh. Anakku kan dititip sama eyangnya…”.

Nah, permasalahannya sekarang adalah, gimana ceritanya kalau aku kuliah profesi lalu aku ternyata sudah diamanahi seorang baby… (tu juga kalau beneran jadi nikah tahun 2008). Titip sama eyangnya? Umh, kayanya bukan itu deh yang aku pikirin. Tapi waktu intensifku dengan si baby akan berkurang karena aku kuliah dari pagi hingga petang. Tentu saja aku tidak mau melewatkan waktu emasku dengannya.

Hmm….hmm…hmm…

Aku juga sudah mulai memikirkan dimana aku akan tinggal setelah aku berkeluarga nanti. Sepertinya akan lebih aman dan nyaman jika aku punya rumah sendiri saja. Rumah impianku adalah rumah berhalaman luas dengan sungai kecil mengelilinginya (btw, kepada Fithri sang arsitek, sudahkah dirimu mendesainkannya untukku?!?).

Inget masa kecil aja sih. Alhamdulillah dulu aku bisa bermain di halaman rumahku sehingga gak perlu main jauh-jauh. Ya main sepeda, petak umpet, benteng takeshi, nanam pohon buah2an, bikin lapangan basket (asal jadi) dan mematok ringnya begitu aja (judulnya ada ring basket, titik), dsb, dsb. Mengingat Jakarta tidak lagi punya lapangan luas nan asri untuk tempat bermain, rasa-rasanya aku yang harus menyediakan fasilitas itu untuk anak-anakku deh. Lagipula aku jadi bisa memantau mereka dengan baik juga kan

Lalu kenapa mesti ada sungai kecil mengelilinginya, karena aku suka air dan ikan. Lucu deh, kalau di sungai kecil itu nanti ada angsa-angsa berenangnya. Terus kalau mau masak ikan gak usah jauh-jauh, tinggal nyetok aja di sungai itu. Asyik kan? Terus nanti halaman rumahku akan ditanami berbagai pohon buah dan tanaman obat. Tidak lupa juga, ada beberapa kelinci dan rusa-rusa berkeliaran. Fithri bilang, “Rumah apa kebun binatang, Ndra?”. Wakakak….. ^_^

Gak papa. Aku cuma ingin menyediakan fasilitas yang dapat merangsang multiple intelligence anak-anakku. Setiap sore aku akan berjalan-jalan di kebunku bersama mereka, supaya natural intelligence anakku terasah. Lalu, main basket, petak umpet, petak jongkok, galasin, bentengan, badminton, atau sekedar joging sama-sama, supaya sehat dan bisa bersosialisasi dengan baik. Oya, mainnya sama anak-anak tetangga biar rame dan seru. Dapet lagi deh tuh interpersonal intelligence. Pokoknya aku tidak akan membiarkan anak-anakku terlalu lama main playstation, game komputer, dan berbagai mainan individu lainnya. Di samping menghambat kemampuan bersosialisasi, suatu penelitian pernah membuktikan main games2 semacam itu dapat meningkatkan obesitas (karena mainnya sambil ngemil!).

Mmmh… apalagi ya…

Ah, ya. Itu aja dulu.
Yang jelas aku tidak berminat sama sekali untuk
tinggal di apartemen. Heran, sekarang kemana-mana kalau jalan pasti bakal ketemu spanduk atau baliho2 yang nawarin apartemen. Bukan apa-apa, kayanya perkembangan psikis dan sosialisasi orang yang tinggal di apartemen kurang sehat deh. Adik privatku aja nih, yang tinggal di apartemen, berkali-kali mengeluh karena kesepian gak punya teman.
Pas aku tanya, ”Kamu kenal gak sama anak depan rumahmu? (dimana jarak antara 1 pintu dan pintu lainnya hanya 1 meter!)”.
Lalu dia jawab dengan gelengan muram, ”Gak kenal…”.
Dan aku tentu saja menghela nafas. Bagaimana mungkin aku membiarkan generasiku tumbuh tanpa mengenal orang-orang di sekelilingnya?

Gak cuma anak-anak. Bahkan orang dewasa pun bisa tumbuh sebagai manusia individualis yang gak kepikiran sama sekali sama sekelilingnya. Mau tetangga lagi kesusahan dan butuh bantuan, kayanya ’who cares’ deh. Betapa tidak menyenangkannya hidup seperti itu buatku… Jangan-jangan kalau gw meninggal gak ada satupun tetangga yang ngelayat lagi. Boro-boro didoain deh… Ya kan? -_-‘

Kalau inget kuliah psikologi arsitektur di semester 6, kata dosenku apartemen atau rumah susun itu memang lumayan untuk pasangan yang baru menikah, karena ruangannya yang tidak terlalu besar sehingga dapat meningkatkan kedekatan di antara mereka. Tapi untuk keluarga dengan anak, sepertinya tidak direkomendasikan deh. Lagipula ada perbedaan psikologis juga tuh, antara orang-orang yang sehari-harinya berinteraksi dengan orang lain, dengan yang pemukimannya tembok melulu (penelitiannya sapa tau, lupa… Kayanya pernah ada di majalah Tarbawi juga…). Lagipula, harga apartemen gak murah juga. Bu Mimi bilang, sekarang ini ada yang harganya paling murah 100 juta, tanpa DP (WAKS!). Mau pake atau tanpa DP, kayanya duit segitu better gw invest buat pendidikan anak gw deh…

Yah… begitulah. Kalau pas masih single bisa mikirin diri sendiri ansich, ntar kalau udah berkeluarga mikirnya harus luasss…banget. Pertimbangin ini, mikirin itu, belum lagi sekolah anak –aku masih bingung mau homeschooling atau sekolah alam-, bikin usaha sendiri, belum lagi ngatur anggaran sehari-hari, ngatur pembagian waktu sama suami (kalau aku dan suamiku beraktivitas di luar rumah), dst, dst.

Ribet kan? Makanya, sapa bilang nikah cuma seneng-senengnya doank…
Dududududu…

Btw, guys, menurut kalian, aku terlalu jauh memikirkan ini gak sih?


~justWannaPrepare…
WednesdayMorning, 07.11.07; 09:22 am.



gbr dari sini nih…
www.nassaulibrary.org/fpark/
www.loanswithrob.com/sitemap.htm
http://me.abelcheung.org/2006/10/25/ps3-%E4%B8%8D%E8%A6%81%E4%BA%86%EF%BC%8C%E8%AC%9D%E8%AC%9D%E3%80%82/
http://www.imagezoo.com/images/weibu/hma0083.html
maaf ya ga ijin dulu…

Great Leader

“The supreme quality for leadership is unquestionable integrity. Without it, no real success is possible, no matter whether it is on a section gang, a football field, in an army, or in an office.”
Dwight Eisenhower


Bismillah…


Saturday nite with Bu Mimi!
Mimpi apa gw bisa makan malem bareng dia…

Bu Mimi ini adalah salah satu bos.. eh bukan, partner seniorku yang jadi panutan banyak orang karena kesuksesannya membangun bisnis. With her husband, dia berjuang selama lebih kurang 4 tahun dan sekarang sudah bisa menikmati hasilnya.

Sore itu aku bergegas menuju Taman Anggrek karena janjian sama 2 orang rekan. Pas buka hp, eh ada missed call dari bu Mimi. Ada apa ya? Gak biasa-biasanya aku ditelpon orang sekaliber beliau…

Begitu on the way, hpku berbunyi…
”Dimana, In?”
“Otw, bu.. ke Taman Anggrek..”
”Oh, ya udah kebetulan kita juga mau kesana..
ketemu disana ya.. kamu bla-bla-bla aja dulu… ntar aku bantu bli-bli-bli…”
“Wahhh… iya, iya! Aku tunggu ya!”

Hatiku langsung berbunga-bunga.
Dia? Mau bantu aku?
Wahh…

Setelah sama-sama ketemu temenku, aku menemaninya makan malam. Gak salah lagi deh, dapet motivasi, cerita, juga inspirasi.

“Segala sesuatu akan menarik hal yang sama. Kalau kamunya semangat, pasti kamu akan ketemu orang-orang yang semangat. Kalau kamunya ogah-ogahan, yaa… ketemunya juga orang yang ogah-ogahan juga.
Dan ingat, berdoa, MINTA sama Tuhan,”, ujarnya mantap.

Dan mataku berbinar-binar.
Yeah… positif… positif… positif…

Beberapa leader di berbagai lini seringkali hanya mampu memerintah, mendelegasikan, memotivasi, memberi arahan atau dukungan kepada bawahan/partnernya dan sebagainya.

Salah? Gak juga…

Tapi idealnya, pemimpin yang baik adalah mereka yang mau terjun langsung merasakan kesulitan rakyatnya, atau bahkan turun tangan membantu meringankan beban mereka.
Dan aku menemukan sosok itu pada si ibu yang satu ini…

Integritas!

Great leader emang gak cuma bisa ngomong…
Sayang aja, beliau bukan (baca: belum) muslimah.
Hehe…

Hoy muslimah… kemane aje kite ah… 😀


~fullOfFuel…
Tues, 06.11.07; 11:46 am


If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader. “
–John Quincy Adams

Nothing is at last sacred but the integrity of your own mind.
–Ralph Waldo Emerson


gbr dari http://www.istockphoto.com/file_closeup/?id=2899456&refnum=656218
maaf ya ga ijin…