Tuturku Kepada Ayah

I’ve got a picture hanging on the wall
It’s hard to believe you were ever that small
Now you’ve got bigger ideas,and greater ambitions
Higher to reach but further to fall

It used to be you needed me
But, now you’ve grown so tall and strong
Now you’re on your own

But when the walls of your world come tumbling down
When your heart starts breaking
And there’s no one around
Just look over your shoulder
Wherever you roam
Remember, you’re never alone

You can love without limit
From deep in your soul
If you keep a young heart, son
You will never grow old
You can fly to the moon
As high as it seems
But you can crash to the ground
On the wings of your dreams

But you will see there will be
Times when you feel ten feet tall
Times you have it all

I can’t stop you from living
I can’t blame you for trying
I can’t sto
p you from loving
Can’t keep you from crying

(Rick Price – You’re Never Alone)

***

Bismillah…

Baru-baru ini aja keingetan sama lagunya Rick Price di atas. Padahal dah cukup lama tau. Dan baru-baru ini juga memperhatikan liriknya.

Manis, ya?
It’s all about dad yang lagi liat-liat foto anaknya, dan tersadar bahwa sang anak sudah besar sekarang. Gak nyangka, anak yang tadinya kecil dan selalu membutuhkan dirinya itu, kini sudah beranjak dewasa, punya ide-ide dan ambisi-ambisi yang besar…

Aku jadi keingetan sama my dad. Imagine he says all the words of this song to me.
Hmm….

Yes, dad…
I’m growing up and being mature now.
Aku punya banyak sekali mimpi besar yang suatu saat, pasti, dengan seizin-Nya, akan terwujud. Aku yakin sekali akan hal itu. Aku tahu gak cukup waktumu untuk menemaniku selama ini. Gak cukup momen untuk memperhatikan, “rupanya sudah tiba waktunya bagi anak perempuanku mencari teman pendamping sisa hidup”. Setidaknya, menggantikan posisimu yang selalu melindungiku selama beberapa belas tahun lalu. Tidak cukup ada kemampuan untuk, bahkan sekedar menanyakan, ”Apa kabar harimu, Nak?”. Apalagi menanyakan aktivitas keseharianku, siapa saja teman-temanku, ada kejadian apa saja hari ini di belahan dunia lain, sudahkah aku membantu mamah mengurus rumah tangga, apa saja makanan yang sudah aku kuasai cara membuatnya, dan seterusnya. Tidak lagi dapat, setiap saat, bahkan!!, melafazkan namaku, anak perempuanmu satu-satunya. Hingga yang tersisa kini adalah memori demi memori atas masa kecil hingga remaja yang begitu indah…

Ingatkah Ayah, betapa kita setiap pekan berkunjung ke toko buku untuk mengayakan wawasan kita? Atau juga berbelanja kebutuhan sehari-hari yang setiap kepulangannya, selalu berakhir di counter es krim cone kegemaran kita? Atau juga deru-deru mesin motormu yang kerap mengantar-jemput putrimu ini ke sekolah, bahkan hingga SMA? Ketika tiap anak datang dan pulang tanpa iringan, aku dengan manisnya duduk menjadi penumpangmu, dan engkau tak pernah sedikitpun mengeluhkan lelah ataupun bosan.

Jika saja engkau tahu, Ayah…

Ingin sekali memutar waktu dan berjalan-jalan di hari-hari menyenangkan itu bersamamu. Ingin sekali kini, aku yang menemanimu berbelanja, atau aku yang mengantarkan ke tempat manapun yang engkau suka. Lihat, aku bukan lagi gadis kecilmu yang manja! Aku bahkan sudah bekerja, sudah bisa mencari uang dengan keringatku sendiri, sudah tak lagi menengadahkan tangan meminta padamu untuk membeli kaset nasyid A, B, C, album Roxette, Michael Learns To Rock, atau Oasis, band asal Inggris yang tengah naik daun ketika itu. Tidak lagi menunjukkan telapak tangan dan merengek minta dibelikan crayon warna-warni, bakso atau sate padang yang lewat di depan rumah, atau juga rumah Barbie seperti milik Nia, putri Om Husein kerabat kita. Tidak lagi, Ayah. Aku tak lagi menggantungkan diri pada siapapun kini; tidak juga pada mamah.

Tapi, Ayah…

Berkali-kali keterasingan menyergapku, seperti tak lagi memiliki sandaran kukuh yang akan menjadi tempat menentramkan hati, tentu saja selain Diri-Nya. Masih aku ingat betapa pelukan sosok kecilku padamu membuatku tak lagi takut pada mimpi seram, imajinasi makhluk halus atau orang jahat, atau juga ketakutan suatu saat engkau akan pergi selamanya. Jika saat ini ketakutanku bukanlah lagi pada hal-hal serupa, maka senyap di satu ruang hatilah yang kini mendominasi jiwa. Adalah nasihat, belas kasih, wajah letih namun lega begitu tiba di rumah sepulang bekerja, diskusi-diskusi seputar masalah negeri dan dunia luar, atau juga tanya-jawab seru seputar agama, atau apapun itu, yang kini menjadi dahaga yang tak lagi menemukan sumber mata airnya.

Andai kau tahu itu, Ayah…

Niscaya lengan kukuhmu akan merangkul demi melindungiku dari setiap mara bahaya.
Niscaya kekar tubuhmu kan jadi tameng setiap ancaman datang mendekat.
Dan kan tersedia waktu tuk menanggapi celoteh-celoteh kritisku tentang berbagai fenomena, juga kan tersedia anggaran untuk membeli buku baru setiap bulannya demi tambahan koleksi perpustakaan kecil kita.
Mungkin pula, takkan kaulepas aku bepergian tanpa sepengetahuanmu, tanpa pertanyaan, ”Kemana? Dengan siapa? Adakah uang untuk ongkos perjalanan?”. (Dan pasti, manjaku akan meminta tambahan meski bekal di dompet masih berkecukupan, atau juga minta diantarkan sampai ke tujuan…).

Tapi tidak, Ayah…

Tidak lagi ada semua itu dengan keadaanmu yang semakin memayah. Gurat-gurat rentamu adalah riasan wajah yang semakin membuat usiamu tampak lebih tua dari umur sesungguhnya. Kosong tatapmu adalah pemandangan sehari-hari yang semakin membiasa. Tidak lagi ada suara, keluhan, teriakan riang… Tidak… Tidak ada. Hanya fisikmu, yang masih membujur dan meyakinkanku sungguh, bahwa engkau disini, dan memang masih ada.

Kerap, pandanganku mengabur saat melihat sosok mereka yang masih dapat bercengkerama dengan ayah-ayahnya. Jika bukan sedih yang muncul, pasti selalu timbul haru-biru yang menyergap. Iri, Ayah… Meski seorang sahabat menasehati betapa beruntungnya aku yang masih memilikimu kini -setidaknya masih bisa bertatap muka di dunia karena ayahnya sudah pergi ke alam baka- tetap saja, ada yang hilang ketika damai terpaksa pergi dari rumah. Tidak lagi ada tempat berlindung ketika jiwa lelahku berbenturan dengan nurani dan pemberontakan atas salahnya asuhan. Tidak sedikitpun terdengar pembelaan saat eksistensiku seperti mendadak lenyap dan tak lagi diharapkan. Tahukah engkau, rinduku selalu berkelebatan setiap detiknya, bahkan hanya untuk menyaksikan momen-momen tersenyummu yang kini begitu langka. Menatapmu tidur sepanjang hari tanpa bisa berbuat apa-apa, adalah sama memilukannya dengan berteduh di tempat yang tak dapat menahan deru dingin dan basahnya hujan, jua guntur yang bersahutan.

Tapi sudahlah, Ayah…

Syukurku seharusnya menjadi panglima karena toh engkau belum sampai terpisah dunia. Bahagiaku seharusnya menjadi raja karena peluk dan ciumku masih dapat menyentuh wajah dan keningmu setiap saat. Meski tak lagi dapat berkata, setidaknya masih bisa kutatap binar matamu yang menyiratkan berbagai makna. Jika dahulu engkau harus menyediakan waktu menghadapi dinamika putrimu ini, maka biarkan aku berganti memperhatikanmu, meski sekedar menyuapi. Biarkan waktu-waktuku teralokasi seperti juga dahulu engkau sediakan bagiku tanpa pamrih.

Hingga tiba masa berpisah, Ayah…
Pegang janjiku tuk berbakti padamu di setiap detik umur yang tersisa…

Wed, 24.10.07; 11:08 pm.
~ketikaDetik-detikBersamanyaTerasaBegituBerharga 😥

“…Allahumma rabban naasi adzhibil ba’sa asyfi antasy syaafii laa syifaa’a illaa syifaa’uka syifaa’an laa yughaadiru saqaman. Imsahil ba’sa rabban naasi biyadikasy syifaa’u, laa aasyifa lahu illaa anta, as’alullaahal ‘azhiima, rabbal ‘ arsyil ‘azhiimi…
Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah kesukaran/penyakit itu dan sembuhkanlah ia, Engkaulah yang menyembuhkan,tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkanlah penyakit itu, wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya pada-Mu lah obat itu. Tak ada yang dapat menghilangkan penyakit selain Engkau, aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhannya ‘arasy yang agung…”

gbr dari http://photos.ivillage.com/parenting/family/2006/06/father_daughter.html,
http://freewebs.com/mydaddymydaughter/,
maladyspoetry.com/HaydenGrace2.htm

bbrp diedit, maaf ya ga ijin…

Hey, Man…


Bismillah….

Gw gak abis pikir sama mereka…
*aura pembukaannya udah gak enak nih…*

Iya emang. Kali ini gw nulis sambil nyesek. Bener-bener ngurut dada.
Ya Allah… maunya apa ya orang-orang itu?

Tiga bulan terakhir 2 orang cewek, sahabatku, nyurhatin hal yang sama: ditinggal nikah oleh orang yang mereka punya kecenderungan terhadapnya.
Masalah?
Insya Allah enggak terlalu jadi masalah. Karena aku yakin, mereka cukup tough menghadapinya. Kalau emang bukan jodoh, mau gimana lagi, ya kan?
Lagipula aku bukan pengen ngebahas point itu saat ini. Aku cuma mau ngupas gimana cerita di balik itu.

Here they are…

Kasus satu, nah ni aku cukup geleng-geleng kepala. Ni akhwat ceritanya dah proses sampe tu ikhwan sowan ke rumah ibu si akhwat di lain kota. Sounds serius donk mau nikah… tapi dah lama berproses, akhirnya kandas. Si ikhwan nikah sama akhwat lain.
Kebayang deh nyeseknya. Well… semua bisa terjadi sih sebelum akad dilantunkan. Jadi menurutku, yaa… masih tergolong kasus agak biasa. Yang agak-agak gak biasa ni ikhwan udah lebih dari 7 kali proses. Entah ditolak entah menolak… Cuma setauku memang ni ikhwan punya banyak fans.

Pemilih????
*angkat bahu*
Simpulin sendiri dah…

Kasus kedua, nah ini lebih kacrut lagi. Seorang ikhwan –sebut aja A, bukan nama sebenarnya- yang sudah mengkhitbah akhwat –sebut aja B- mengungkapkan kecenderungannya sama akhwat lain –sebut aja C, juga bukan nama sebenarnya- ya si temenku itu.

SEE!
Dia UDAH KHITBAH si B dan malah BILANG PUNYA KECENDERUNGAN KE SI C, sahabat gue! KURANG AJAR BANGET GAK SIH!

Sumpah aku pengen banget maki-maki tu oknum. Sembarangan mempermainkan perasaan perempuan. Dia pikir kita ini cewek apaan? Makhluk lemah? Jadi dia pikir dia makhluk kuat gitu, belagak jagoan?

*backsounded by Sherina… ”dia pikiiiirrr…. dia yang paling hebat…. merasa paling jago… dan paling kuat….”*

Actually selain mikirin temenku yang sakit hati, aku juga jadi kepikiran sama si calonnya si A, yaitu si B. Gimana ya, perasaan dia kalau orang yang sudah meminangnya mengucapkan cinta pada perempuan lain selain dirinya???

Si C cerita ke aku, si A emang udah satu tahun ini (sejak tahun lalu) mengkhitbah si B (Gw angkat tangan deh ya, gak tau alasan di balik kenapa jarak khitbah dan nikah bisa selama itu. Emang rentan fitnah kalau lama-lama). Baru sekitar 3 bulan lalu si A ngungkapin perasaannya ke temen si C dan of course si C sendiri.

Aku tanya ke kalian semua:
Gimana rasanya jika seseorang yang kalian sukai menyatakan perasaannya ke kalian lebih duluan?

Yes. Salah satu hal membahagiakan adalah ketika tangan tak bertepuk sebelah aja (lagian emang bisa gituh?!?). Apalagi as a girl, seringkali kita malu tuk ’maju’ terlebih dahulu menyatakan isi hati. Jadi, begitu pulalah perasaan temenku yang merasa arjunanya tiba-tiba datang…

Yang jelas aku kurang nyimak gimana akhirnya si C bisa tau kalau si A udah ngekhitbah seseorang. Satu garis merah yang aku tarik disini adalah: betapa memuakkannya diberi harapan sementara nyaris pasti ia tak akan bisa menjadi kenyataan.

Benar, segala hal masih bisa terjadi selama janur kuning belum melambai, kata orang-orang. Bisa aja si A ngebatalin khitbahannya ke si B, dan menikah dengan si C. Tapi pada kenyataannya GAK BEGITU kan? Jadi apa donk maksudnya si A ngomong2 kayak gitu ke si C? Cuma buat ngungkapin perasaan?

Aku sadar betul jiwa perempuanku. Itu sebabnya aku tulis ini atas nama solidaritasku terhadap kaumku, para perempuan. Mungkin juga sebagai protes keras atas sejumlah fenomena yang membuatku selalu mengurut dada, yang notabene dilakukan oleh para pria!

Kalian tahu?
Seorang ikhwan bilang sama aku, ”seneng aja ngobrol sama cewek-cewek… dengerin kalau mereka cerita… asyik-asyik aja bisa deket ke mereka… kalau ada perasaan, ya salah mereka sendiri. Saya kan gak ada maksud apa-apa…”

Atau juga yang lain… ”Gw ladenin aja tuh kalau ada yang curhat… dengerin, kasih masukan…” (kedua ikhwan ini padahal udah tau kalau sebaiknya tidak meladeni curhatan lawan jenis karena rawan mengundang simpati. Ditambah lagi, aku nangkep banget nada mereka yang amat menikmati tebar pesona yang mereka lakukan!!!).

Aku tau kalian akan bilang, ”salah sendiri kenapa curhatnya ke cowok…”.

Stop, stop… Dengerin dulu ya.
Kalau mau coba objektif, emang baiknya para cewek curhat ke sesamanya, jika dirasa curhat ke cowok akan menimbulkan hal-hal yang tak semestinya. Sebaliknya, si cowok juga gak usah tebar pesona sok baik-sok penolong-sok humble dst, kalau cuma mau dianggap baik, penolong, humble dan sebagainya. Sumpah CEMEN banget kalian kalau cuma gitu doank niatannya.

Atau kalian masih mau ngeles, ”…orang saya-nya biasa aja… saya juga perlakukan hal yang sama ke cewe-cewe lain… dasar dia aja yang kegeeran…” ???

Sebentar.
Aku pengen banget ngutip komentar cerdas dari Panpan, salah seorang ikhwan kampusku yang lumayan ’lurus’, di suatu diskusi bertahun-tahun lalu ketika membahas tema serupa. Menyitir learning theory, dia bilang, ”Stimulus sama, belum tentu respon juga sama,”.
Nah!

Sekali lagi, aku sadar betul jiwa keperempuananku. Dimana-mana namanya cewek pada naluriahnya seneng diperhatikan, didengar, (mungkin) GR-an, suka diemong dan sebagainya. Begitu ketemu cowok (yang tampak) sholeh, baek hati, ramah, suka menolong, menabung, hemat cermat dan bersahaja, siapa yang gak suka? Begitu si cewek klepek-klepek susah makan-susah tidur-gak lepas mikirin tu makhluk karena GR udah diperhatiin, sang makhluk bernama laki-laki itu pergi sambil tertawa dan melambaikan tangan…
”Dadagh bubye…”.

See…
Dagelan cupu macam apalagi ini?
Masih kejadian??? Hari ginih???

Please ya, pria-pria.
Aku bilang kaya gini bukannya mau menggeneralisir kalian semua seperti itu adanya. Aku cuma pengen kasih tau bahwa kaumku punya jiwa yang begitu halus, lembut dan peka. Dari sananya ia tercipta menjadi seorang yang relatif senang dimanja, amat suka diperhatikan, sekaligus relatif lebih rapuh perasaannya daripada kalian. Sementara aku sedikit banyak tau pula, kalian diberi potensi kepemimpinan lebih; senang diikuti, dikagumi, dianggap ksatria, dst.

So please, jika seorang dari kalian bercerita dan meminta kami tidak berlembut-lembut dalam suara, menahan pandangan, bersahaja dalam penampilan agar tak menimbulkan penyakit di hati kalian yang angkuhnya kerap luluh dengan kelemahlembutan, TOLONGLAH, kami juga punya kelemahan. Tapi jangan manfaatkan kelemahan kami dan lantas kalian tinggalkan begitu saja ketika hati kami memerah luka…
Bisakah kita saling menjaga dan meninggikan kehormatan yang masing-masing kita punya????????????

Nb: 3 pekan lalu teman SMA-ku baru saja bercerai setelah menikah selama 3 tahun dan sudah mempunyai anak berusia 1,5 tahun. Ia seketika harus menjadi single parent yang berjuang menghidupi anaknya, di usia yang sangat belia. Tau alasannya?
”Mau gimana lagi, Ndra? KDRT…”
Untuk kesekian kalinya, aku hanya mampu menghela nafas panjang dan mengurut dada…

Dipersembahkan untuk kedua sahabatku, juga perempuan2 lain yang jadi acap jadi korban: Kita KUAT, Cinta!!

”…ternyata tanpamu langit masih biru… ternyata tanpamu, bunga pun tak layu… ternyata dunia tak berhenti berputar, walau kau bukan milikku…”
(Lucy Rahmawati)

~jeweranJugaBuatDiriSendiri…
FitriDay,13.10.07, 12:!3 wib

Robbighfirlii wa li akhiii….
Robbanaghfirlana dzunuubana wa israafanaa..
(Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku,
dan ampunilah sikap kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami…)

Crack!!!

bismillah.

Night of catharsis.
Shopaholic! (gak juga, emang lagi butuh bbrp barang).
Jam tangan. tas mickey. donut. baju. nyaris sepatu. dan nyaris casing hp (ga dapet yang kuning soalnya).
Hebat, bisa keluar malam naik motor juga…
Dingin. Ngebut. Bebas.

Free as the windU give me wings to fly…
(Forever and A Day – MLTR)

Berputar. Diklakson orang berulang-ulang.
Mengklakson berulang-ulang.
hey, jalanan milik semua!
Terantuk polisi tidur saat genggaman mengencang.
Dua kali!
(untung gak mental…)

Berputar lagi. Bertanya arah.
“It’s not time to make a change.
Just relax, take it easy. U’re still young. That’s ur faults.
There’s so much u have to know.
Find a girl. Settle down. If u want, u can marry…”
(Father and Son – Ronan Keating feat Cat Steven)

Dan berkelebatan seketika bayang-bayang.
Lembut. Manis. Gak peka. Gemas. Sebal. Kesal. Rindu. Tangis. Duka. Riang. Tawa. Airmata.

Halfway through the night,
I wake up in a dream
Echoes in my head,
Make every whisper turn into a scream.

(Wish I Could Fly – Roxette)

Pudar. Bubar. Selesai.

In the middle of the night,
Cool sweatin in my bed
Got the windows open wide,
Thinkin about all the things you said…


Pagi. Siang. Malam.
Short message service.
Impian. Cita-cita. Masa depan.
Bunga. Langit. Terbang.

I wish I could fly, around and around
Over this town, the dirt on the ground
Id follow your course of doors left ajar
To try to find out who you really are
To try to find out who you really are

Pergi. Tinggal. Diam. Hening.

Never mind the pain
Or the aggravation
You know there’s a better way
For you and me to be

(Goodbye – Spice Girl)

Oktober. Merah. Senja. Percaya. Tak percaya..
Sakit. Luka. Bunda. Pesimisme. Bisa.

Look for a rainbow in every storm
Fly like an angel, heaven sent to me

Doa. Takdir. Jumpa. Pisah.
Hampa.
Oktober. Senja. Merah.
MERAH. MERAH. MERAH…

Goodbye my friend
I know you’re gone, you said you’re gone, but I can still feel you here…
It’s not the end
Gotta keep it strong before the pain turns into fear
So glad we made it, time will never change it, no no no…
(Goodbye – Spice Girl)

Percaya. Takdir. Usaha. Perjuangan. Perjuangan. Perjuangan.
Berserah…

DarkSunday, 15.10.07, 22:07 wib.
-untukmu…


gbr dari http://www.istockphoto.com/file_closeup/?id=2521346&refnum=1319225
satunya lagi lupa… maap ga ijin..

Menyemu Merah, Oktober di Senja Jiwa…


Bismillah…

Jingga…
Dan langit Oktober kali ini menyemu merah. Kepak beburung menempuh cakrawala, menggoreskan siluet indah di bayang-bayang angkasa. Lemparan pandang menjauh, mereka-reka ketetapan yang telah tercatat. Betapa suram dinding-dinding pembatas : diterawang begitu pucat, apalagi ditembus, ia takkan dapat.

Serupa nuansa senja yang menyiapkan dirinya terbalut malam, waktu terus berjalan merunduk pada Sang Maha Berkehendak. Berkebalikan dengan keserbapastian itu, terbolak-baliknya sekeping jiwa jua begitu sulit tertebak. Sakitnya, gembiranya, sedih maupun merindunya, tergenggam di Jari-jemari yang kapan saja bisa mengubah jika memang Ia mau melakukannya. Dalam riang tawa gelaknya, dalam kisruh dan carut-marut sedihnya, selalu ada alasan mengapa, walau tak selalu paham rencana terbaik di balik itu semua.

Dan Oktober kali ini menyemu merah. Gurat langitnya melukis garis-garis bias, laksana mengerti ia pada nanar di puncak cemas. Ketika jawab terkata sudah, dan kalimat demi kalimat memecah kebisuannya, mutiara itu pecah. Keping-kepingnya terbelah membentur, terurai tak teratur. Dan seketika waktu seolah berhenti di titik nadir, menggapai-gapai agar kembali ia berjalan tanpa harus disertai getir.

Tapi bisakah? Bahkan setelah itu remuk-redamnya masih mencoba mengumpulkan serpih-serpih yang terserak, berharap tersusun ia meski tak lagi dapat menyempurna.

Ah…

Apa yang sebenarnya diharap dari ini semua, jika memang telah tampak sebagian pertanda bahwa hancurnya memang sudah di pelupuk mata? Jika tak pantas ia berada di singgasana, maka layaklah tanah ini menjadi pijaknya. Bukankah mantap itu jua belum tiba dan masih saja terombang-ambing dalam ragunya rasa?

Menyemu merah, Oktober di senja jiwa…
Senarai cerita yang menjelma, semoga tak memayahkan teguhmu dalam asa. Maka ridha sajalah pada segala kehendak-Nya.

~hampa…
RedSundayEvening, 15.10.07, 20:39 wib,

gbr dari www.moonblink.info/Pictures/Album-43
maafkan tak ijin ya

Ramadhan Pergi Lagi

Bismillah…


Belum puas bersanding hati, tetapi memang sudah waktunya pergi. Usai hari ini hanya bisa menyisakan sesak, dan lagi-lagi sesal adalah kata yang masih terus saja terserak. Adakah esok menjelang dan kembali datang, menghampiri jiwa yang selalu butuh pada kasih sayang dan ampunan?

Wahai, Yang Maha Mengampuni Segala Dosa… ampunilah segala kesalahan kami…

.. jika amal terlalu sedikit untuk dibawa serta menuju-Nya, dan keridhoan manusia belum juga terjamah… apalagi yang bisa diharap dari lemahnya jiwa yang terpasung dalam milyaran dosa???”

Taqobbalallohu minna waminkum.
SELAMAT IDUL FITRI 1428 H
Maafkan Lahir dan Bathin
Semoga ini bukan Ramadhan yang terakhir…


-ygLagiSedihPisahanSamaRamadhan:'(

gbr dari http://meslekabootar.blogfa.com/8603.aspx
maap ya gak ijin…

Meet My Bro’s Friends


Bismillah…


Alhamdulillah…
Hari ini temen-temen kakak-ku pada dateng ke rumah, buka puasa bersama.
Dari 4 orang, cuma 3 yang dateng (anggota bandnya 5 orang, sama kakakku), 1 orang yang absen itu istri dan anaknya sedang sakit, jadi gak bisa hadir.
Ketemu juga deh sama mereka…

Ternyata Ebi sang vokalisnya itu, umurnya setahun di bawah aku. Jadi kami saling memanggil nama aja deh. Satu orang lagi, drummernya, juga ngajak istri dan anaknya. Daffa, bocah umur 2 tahun itu, berpipi sangat gembil dan chubby…
Hehe… Jadi korban deh dia kugendong-gendong dan kujawil-jawil pipinya…
Ohya, dia juga udah mulai bisa nggebuk-nggebuk gitu, nurunin papanya yang drummer…
Ngegemesin banget!

Kami makan-makan di rumah (namanya juga buka bersama).
Alhamdulillah Mamah bikin es buah, sup kimlo, pie buah (tanpa rum), salad, trus beli risoles yang gendut-gendut, plus sate ayam. (Ya Allah… ajari kami bersyukur atas nikmat makanan ini, dengan tidak menyisakan makanan yang kami makan…).

Terus udah deh, cerita ini-itu aja. Yang paling banyak ngomong tentu saja si mamah. Biasalah, ibu-ibu…
(Sayang, bapak gak bisa duduk bareng kita. Gak bisa tanya-tanya temen-temen mas-ku. Gak bisa merhatiin apa aja yang sedang anak-anaknya lakukan….Hiks…)

Beberapa menit sebelum pulang si Ebi ditodong nyanyi sama mamah sambil diiringin denting keyboard kakak-ku. Live music nih ceritanya…

Nyanyi bareng deh kita. Suaranya bagus euy… pokoknya gak pasaran dan punya ciri khas. Trus dia ngajakkin kita ngeliat kalau mereka lagi latihan atau tampil. Aku menyahut dengan semangat! Mau banget, tapi mas-ku ngelarang karena pulangnya selalu larut malam. Kasian aku-nya, kata kakak-ku. So far rencana mereka paling ngeband di Pasar Festival atau cafe gitu. Nah kalau yang ini pasti aku akan usahakan… tak apalah ya sekali-kali nongkrong di dunia mereka, just see another real world kan?

Alhamdulillah…

Aku bersyukur bisa mengenal mereka lebih dalam. Setidaknya jadi tahu dengan siapa kakak-ku bergaul. 1st impressionnya lumayanlah. Mengingat aku tidak terlalu klik dengan my oldest bro itu, salah satu cara mendekatkan diri kepadanya adalah lewat kesukaannya, ya musik itu. Belakangan aku minta diajarin main piano dan beliau mau menyediakan waktu juga. Sennnang…

Ah, ya Allah…
Saksikanlah bahwa aku tengah berusaha menjaga keluargaku tercinta…

SaturdayNite,06.10.07,23:09wib.

gbr dari : http://johnanello.com/_wsn/page2.html