Yth, Dosenku Tercinta*

Jakarta, Agustus 2007.

Kepada Yth.
Drs. GHTP, M.Psi

Di bumi Allah.

Bismillaahirrohmaanirrohim…

Assalaamu’alaykum wr.wb, Bapak…
Bagaimana kabar Bapak?
Sudah lama juga tidak bersua ya. Semoga saja Bapak sekel
uarga dalam keadan sehat wal afiat senantiasa.

Bapak, sebelumnya Indra mohon maaf jika kiriman ini terlambat datang. Terhitung hampir setengah tahun sejak kelulusan, belum ada satupun yang Indra berikan.
Jujur Indra bingung sekali. Apakah yang pantas diberikan pada guru yang ilmunya sudah tertanam seumur hidup, sementara barang juga akan habis dimakan waktu?


Pak G yang dirahmati Allah,
Kiranya Indra selalu terkenang akan kata-kata Bapak, bahwa tak perlu Indra berikan apapun untuk membalas jasa Bapak selama ini. Ketika itu, hanya doa yang Bapak minta.
Apakah Bapak percaya? Tanpa diminta pun, Insya Allah sudah Indra lakukan hal itu sejak lama…


Maha benar Allah dan Rasul-Nya, bahwa tak seorangpun bisa membayar jerih-payah para orangtua dalam mendidik putra-putrinya. Demikian pula pada Bapak, jikapun Bapak mengharap balasan dunia, Indra yakin, tak ada yang bisa menggantikan apa yang sudah Bapak lakukan bagi ratusan mahasiswa/I Bapak selama ini. Karena sesungguhnya bukan itu pula yang Bapak
kejar, bukan?


Sungguh merupakan masa-masa yang amat menyenangkan ketika bisa berdiskusi out of topic dengan Bapak. Sangat mendalam maknanya, dan selalu berupaya menggali hakikat. Betapa Indra ingat, sedikit nasihat Bapak di Ramadhan yang silam, bahwa sungguh Ramadhan bukanlah puncak ibadah, karena semakin hari, seharusnya semakin meningkat pula ibadah kita. Kesadaran itu menghentakkan jiwa, dan lagi-lagi Bapak benar, bahwa siklus harian kita seharusnya membentuk garis yang terus menanjak, bukan hanya berhenti memuncak di bulan Ramadhan, dan 11 bulan berikutnya menukik tajam.

Ramadhan sudah akan datang lagi rupanya, Pak. Dan nasihat itu Insya Allah akan terus Indra ingat. Semoga Allah sampaikan kita pada Ramadhan kali ini dan juga tahun-tahun berikutnya. Aamiin…


Pak G yang dimuliakan Allah,
Atas nama Yang Maha Mengampuni Segala Salah, indra mohon maaf untuk kesekian kalinya.
Jika ada mahasiswa Bapak yang sering lambat menangkap kalimat-kalimat ‘langitan’ Bapak dalam statistika, atau pun metodologi pengerjaan penelitian, mungkin Indra salah satunya.


Mohon maaf juga sudah datang tiba-tiba di tengah peke
rjaan Bapak yang menumpuk. Pernah pula harus ‘memaksa’ Bapak di hari Natal untuk membimbing di kampus bersama Ryan, putra Bapak, dimana Bapak seharusnya menikmati tanggal merah di rumah sebagai waktu beristirahat. Atau juga membuat Bapak menggeleng-geleng di sidang pertama yang sangat kacau. Mohon maaf jika sudah membuat Bapak malu dihadapan Mbak Julia dan Mbak Erniza, penguji sidang pertama, ketika Allah menghendaki Indra mengulang semua. Mohon maaf juga atas loncatan-loncatan ide yang membuat Bapak bingung dan mungkin bertanya-tanya, apa yang ingin Indra teliti sebenarnya. Apakah Bapak percaya bahwa Indra sudah berikan yang terbaik yang Indra punya? Betapa Allah amat menyayangi kita dengan segala rencana-Nya, sehingga dengan menambah waktu 1 semester kemarin, Dia memberikan ladang amal bagi Bapak untuk membimbing Indra, hingga terasa sekali manfaat yang Bapak berikan.
Seperti yang Bapak katakan, “Segala yang terjadi pastilah yang terbaik dari Allah, Indra,”. Bagaimana Indra bisa lupa akan nasihat seorang
Ayah kepada putrinya yang kerapkali membuat ulah?


Pak G yang baik,
Ahli hikmah bilang, sesungguhnya ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon yang tidak berbuah. Bersyukur rasanya memiliki seorang pengajar yang tetap santun dan sederhana di balik meja gedung C Lantai 3. Indra masih ingat, jika Bapak berkehendak, maka bisa saja Bapak beralih menerima tawaran mengajar teman-teman di pascasarjana. Tapi begitulah Bapak, tak pernah mau kehilangan amal yang lebih berharga di mata Bapak.

Apakah Bapak ingin tahu apa yang membedakan Bapak dari dosen-dosen lainnya di Fakultas Psikologi kita? Sikap rendah hati dan low profile Bapak yang paling Indra ingat. Begitu pula kesan pertama yang ditangkap kakak Indra ketika kita menghadiri wisuda bersama-sama. Sebagaimana padi, rasanya begitu pas analogi itu Indra sematkan pada Bapak, ketika semakin berisi, Bapak justru semakin merundukkan hati dan kepala. Padahal biasanya, semakin lama seseorang mengajar, semakin ia meraih berbagai gelar, semakin pula ia tidak berpikiran terbuka dan menerima berbagai masukan, atau semakin merasa sah pula ia membusungkan dada.

Sehingga terbuktilah salah satu kemenangan yang Allah berikan pada Bapak waktu itu. Bapak ingat, ketika beberapa dosen mengkritik bahwa gaya mengajar Bapak kurang sesuai dengan kebutuhan para mahasiswa? Pada akhirnya, di Ujian Tengah Semester, mahasiswa/i di kelas Bapak justru meraih nilai tertinggi di antara kelas dosen-dosen lainnya. Selamat ya, Pak. Cukuplah Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman yang melihat pekerjaan Bapak. Karena Allah tidak akan pernah buta.


Pak G yang terhormat,
Sedikit saja penggalan kata dari Indra, semoga Bapak berkenan memaafkan Indra. Hanya doa tulus yang Insya Allah akan terus Indra lantunkan, untuk kesehatan Bapak, kedamaian hati Bapak, kelapangan hidup dan kekuatan menghadapi segala ujian, juga rahmat dan keridhoan Allah atas Bapak. Semoga Allah meleburkan dosa setiap saat, termasuk di kala Bapak sakit dan terbaring lemah. Indra mohonkan pula doa dari Bapak, semoga Indra selalu menjadi muslimah sholihah yang berbakti dan mampu membanggakan orangtua, negara serta agama ini.

Semoga Bapak terus menjadi sebaik-baik manusia yang menebarkan manfaat.
Mudah-mudahan Bapak bersedia tuk terus mengingat dan mendoakan mahasiswi yang satu ini, ya. Salam takzim Indra untuk Ibu, Fandry, Ryan dan Andra. Semoga keluarga Bapak selalu terhimpun dalam limpahan nikmat, kesehatan, keberkahan, juga perlindungan-Nya.


Demikian saja dari Indra, semoga Bapak berkenan menerimanya.


“Ya Allah, jadikan amal guruku sebagai jariyah yang tiada putus-putusnya, ampuni dosa-dosanya, rahmatilah kehidupannya, dan jadikan surga-Mu sebagai tempatnya bermuara. Aamiin, Ya Robbal ‘Aalamiin…”


Wassalaamu’alaykum wr.wb.

Indra Fathiana, S.Psi
0801000644
Psikologi 2001.


*diberikan untuk Dosen Pembimbing Skripsiku

Advertisements

3 thoughts on “Yth, Dosenku Tercinta*

  1. neng…terharu deh baca suratnya T_T ….jadi inget dosen pembimbingku juga….tops lah pokokna tulisanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s