Cuma Dinamika

Bismillah…

Cobaan…cobaan…

Ada-ada aja deh.

Kali ini tentang situasi kerja.

Bersyukur sekali aku sudah bekerja saat ini. Meski dengan gaji dibawah standar S-1 Psikologi (itu kalau mau dibandingin sama teman2 lain –freshgraduate- yang kerja dengan gaji minimal Rp. 2 juta/bulannya), setidaknya aku bisa menghidupi diri sendiri tanpa depend on parents lagi.

Beruntungnya lagi, aku bekerja di bidang yang aku sangat minati, tanpa melamar.
Walau gak pernah nyangka bakalan jadi trainer di bidang pendidikan, alhamdulillah, aku sangat senang bisa berbagi dengan orang lain melalui training yang kuberikan.
See, betapa banyak freshgraduate yang bekerja tak sesuai background keilmuan mereka, bukan? Itupun dengan perjuangan keras apply CV kesana-kemari.

Ketiga, waktu kerjaku relative fleksibel dibandingkan para pekerja kantoran (mungkin itu juga alasan dibalik gaji yang tak sesuai standar). Buat aku sih gak masalah juga, karena waktu yang fleksibel sangat membantuku mengerjakan hal lain di luar sana. Lagipula, training fee kan lain lagi 😉

Jaaadi, apa donk cobaannya, Ndra?

Hmmmhhhh…

Aku sudah lama tahu bahwa pimpinanku ini sangat sering bersinggungan dengan masalah2 spiritual. Meditasi, yoga, etc, etc.

Dan aku tahu, Spiritual Quotient beliau cukup tinggi. Keliatanlah dari penghayatan dia akan berbagai situasi hidup, bagaimana coping stress-nya, bagaimana ia menghadapi ujian kehidupan selama ini, dsb.

Permasalahan kemudian berawal dari secuplik sesi Training for Trainer yang dibawakan oleh suaminya. Tanpa ba-bi-bu, pria setengah baya itu bercuap-cuap tentang reinkarnasi dalam Islam, bagaimana dia membantu klien kami yang depresi sekaligus kemasukan makhluk lain, bagaimana manusia memiliki ruh dan dimensi-dimensi dalam hidupnya, berapa jumlah kadar ‘kualitas kebaikan’ yang bisa dideteksi, dzikir-dzikir yang harus dilakukan, dst, dst.

Dan cuping telingaku mendadak tegak dengan serta-merta.
Plus kelopak mata yang terpicing.
Juga tatapan-tatapan penuh arti dengan Mira, seorang rekanku di tempat yang sama.
(Ehm. Semoga kalian tidak memvisualisasikanku seperti kurcaci bertelinga panjang ya).

Pertanyaan kami sama : Apa-apaan ini???

He said, setiap orang mengalami reinkarnasi. Dan ruh yang ada pada dirinya merupakan ruh dari ratusan tahun lalu.

“Mengapa?”, tanyaku.

“Karena ia memiliki dosa yang belum terhapuskan dengan sesamanya,” ujarnya.

“sehingga, ia harus memperbaikinya dengan kembali lagi ke dunia,” tambahnya lagi.

“Setauku, tidak ada reinkarnasi dalam Islam. Jika manusia wafat, segala amalnya terputus kecuali 3 hal : amal jariyah, doa anak yang sholeh, dan ilmu yang bermanfaat. Dosanya dengan sesama manusia ya ia pertanggungjawabkan di akhirat,” kilahku.

Kebiasaan frontal deh si Indra…

“Lho, lantas, bagaimana dengan dosanya kepada manusia lain kalau belum dimaafkan? Itu sebabnya Tuhan menurunkan lagi ruhnya ke dunia, dalam bentuk jasad yang lain,”

Aku kasak-kusuk dengan beberapa teman yang sepemikiran.

Bahkan seorang Adi Nugroho terpingkal dalam sms-nya.

“Jadi kita ini adalah ruhnya nabi Adam, dong? Hehe… 🙂
Udahlah, Ndra. Entar pusing sendiri lho…”

Keesokan harinya bapak “itu” ceramah lagi.

“Jadi, setiap manusia itu pasti ber-reinkarnasi…”

“Ok. Sekarang begini,” tegasku.

“Kita sama-sama tahu bahwa nabi2 punya kualitas pribadi yang lebih dibanding manusia lainnya. Mereka juga ma’shum, terhindar dari dosa. Kalau tadi dikatakan bahwa semua manusia ber-reinkarnasi untuk melebur dosa2nya yang belum habis kepada manusia lain, lalu gimana dengan para Nabi?”

“Mereka tidak ber-reinkarnasi.”

“Lho?”

“Itu tergantung kehendak Tuhan. Jika menurut Tuhan mereka tidak perlu reinkarnasi, maka tidak akan terjadi,”

“Lho, tadi katanya semua manusia ber-reinkarnasi tanpa kecuali?!!?”
*inkonsisten neh…*

“Ya… tergantung kehendak Tuhan. Dan cuma Tuhan yang tahu…”

Rasanya otak di kepalaku berputar2.
Penjelasan Anda membingungkan, Tuan.
Dan tidak masuk akal saya sama sekali!

Forum memanas kemudian. Dua orang teman juga frontal menanggapi isu ini.
Beberapa lainnya, dan bahkan hampir semua (rrghh!), cuma terdiam dan menerima begitu aja.

Bosku, kemudian, menanggapi dengan menceritakan kejadian di India, dimana seorang rekannya mengalami fenomena dejavu. Proses dejavu ini (diyakini oleh sebagian besar orang) sebenarnya merupakan peristiwa yang pada masa lalu dialami oleh ruhnya yang lain, yang bukan dirinya saat ini. Oleh karena itu, ruhnya yang sekarang bisa mengingat/merasakan dengan jelas detail kejadian di masa lalunya.

Aku tidak tahu dengan pemikiran orang-orang dalam ruangan itu ketika itu.

Tapi buatku, penjelasan demi penjelasan mereka semakin lama semakin mentah dan tertolak dari kepalaku.
Dan selalu, alasan yang dipakai adalah “please open your mind… dan bebaskan pikiranmu dari paradigma2 yang sudah ada…”

Oh yeah…?!?!?!?

Aku udah pernah menghadapi ini, Pak.

Bahkan seorang doktor psikiater dalam sebuah seminar “Anak Indigo” di kampusku berbicara sama blak-blakannya.

Pake dalil pula, ya qur’an, ya bible, wedha, dll.

Ayat yang dinukil itu berbunyi, “sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),”(Al Insyiqaq : 19). Yang dimaksud dengan tingkat demi tingkat ialah dari setetes air mani sampai dilahirkan, kemudian melalui masa kanak-kanak, remaja dan sampai dewasa. Dari hidup menjadi mati kemudian dibangkitkan kembali.

Dan mereka beranggapan bahwa setelah mati dibangkitkan kembali ini adalah reinkarnasi!!!

Seorang peserta seminar protes ketika itu. Dikatakannya dengan lantang,

“Yang dimaksud dengan ‘dibangkitkan kembali’ disini adalah dibangkitkan kembali pada hari kiamat, bukan di dunia. Lagipula menurut saya, tidak bisa sembarangan menafsirkan ayat seenaknya. Ada ahli tertentu dan ada syarat2 khusus pula. Apalagi anda membawakannya dalam forum terbuka seperti ini sehingga bisa membuat banyak orang salah faham,”

Sang psikiater hanya tersenyum simpul.

Dan dengan ringan ia menjawab, “Ya setiap orang memiliki pandangan masing-masing. Bisa jadi para penafsir terdahulu itu menafsirkan sesuai kondisi zaman pada saat itu. Kalau sekarang kan zaman sudah berubah. Saya kira kita open mind saja…”

What a brainwasssshhh…!

Aku akhirnya mendiskusikan hal ini kepada beberapa orang yang kuasumsikan faham.
Jawabannya jelas : tidak ada reinkarnasi dalam Islam.

Argumennya juga gamblang :

  1. manusia wafat dan akan dibangkitkan lagi di alam barzakh, bukan di dunia. Penjelasan rinci silakan buka tafsir ibnu katsir, HAMKA, dll.
  2. ketika manusia meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali 3 hal: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholih (hadits shahih riwayat Muslim)
  3. dejavu adalah proses alamiah yang terjadi karena ada bagian saraf yang kejang. Walau penjelasan psiko-kognitif ini masih jadi perdebatan, setidaknya sudah ada titik terang bahwa semua ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Lihat uraiannya di sini.
  4. dalam Islam, setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah, sehingga bertentangan dengan alasan reinkarnasi dimana manusia lahir kembali untuk menebus dosa-dosanya di masa silam.
  5. penjelasan syar’i lainnya, silakan liat disini juga.

Aku gak masalah sih dengan perbedaan pendapat ini.
Sok kalau punya pemikiran sendiri mah.
Dan kalau aku juga punya pendapat sendiri gak masalah donk…
Kita sama-sama menghargai aja.

Tapi yg aku khawatirkan sejujurnya bukan diriku semata.

Tapi teman-teman yang mendengarkan tadi. Salah satu diantara mereka bahkan sudah terkontaminasi dan sedikit banyak tergiring menyepakati pemikiran Bapak “itu”.
Itu sebabnya aku menolak pendapat sahabatku ketika ia menyarankan, “masih banyak hal lain yang perlu dipikirin daripada reinkarnasi dan semacamnya…”.

Ini bukan perkara simple lho. Bisa mengguncang akidah.
Pasalnya, pemikiran yang berawal dari reinkarnasi ini akan mengerucut pada penyamaan agama.

Mereka bilang, reinkarnasi itu ada di semua agama, baik Islam, Kristen, Hindu, pun Budha. Kita semua sedang berusaha menjadi baik (dengan ber-reinkarnasi), dan semua agama mengajarkan kebaikan. Kita semua sebenarnya bersumber pada Tuhan yang sama, yang mengajarkan nilai-nilai kebaika yang sama. Jadi agama tidak diperlukan lagi karena toh nilai-nilai kebaikan kita adalah nilai-nilai universal yang ada di semua agama!

Sudah lihat garis merahnya?

Aku sama sekali tidak khawatir pada diriku (meski tetap aja harus waspada dan harus prepare ‘senjata’ untuk meng-counter).

Tapi aku mencemaskan teman-temanku yang baru-baru ini terlibat di sini, di tempatku bekerja sekarang.

Kemudian juga bukan sekedar itu saja.

Klien-klien kami yang ‘bermasalah’ secara psikis dan spiritual akan ditangani oleh lembaga si bapak “itu” kedepannya, yang notabene juga suami bosku.

Dimana tanggung jawabmu ketika kamu merekomendasikan orang yang sakit pada dokter yang belum tentu menggunakan obat yang tepat?

Kemudian juga tentang meditasi.

Aku sangat faham bahwa meditasi bisa membantu menenangkan diri seseorang.

Tapi kecemasanku berikutnya adalah jika teman-temanku mengalami lompatan berpikir yang agak keliru : menganggap meditasi sebagai media paling baik untuk memunculkan ketenangan, dibanding sholat atau berdoa kepada-Nya.

Padahal firman Allah SWT dalam Qur’an (hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang, QS. Ar ra’du, 13 : 28), bagiku (yang meyakininya) adalah sangat sulit untuk dipungkiri kebenarannya.

Sudah dibahas pula oleh Abu Sangkan dalam buku “Pelatihan Sholat Khusyu” terbitan Baitul Ihsan tahun… (lupa) bahwa sholat merupakan meditasi tertinggi dalam Islam.

Itu pula sebabnya Kang Hanna Djumhana (expert psikologi Islam dan psikolog klinis sekaligus dosenku) menegaskan bahwa Islam sudah cukup memfasilitasi semuanya dengan dzikir, doa dan sholat ketimbang meditasi/yoga yang buatan manusia.

Lagipula dzikir yang digunakan Bapak “itu” dalam ritualnya tidak aku dapati dalam tuntunan dzikir yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Sudah jelas kaidahnya bahwa ibadah yang diterima adalah yang ikhlas karena Allah dan benar, yaitu sesuai dengan tata cara yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Well…
Kupikir ini memang ‘cuma’ ujian kecil dan dinamika kerja aja.

Di tempat lain kurasa dinamikanya pun berbeda. Ada yang gak boleh pake jilbab pas packing obat di industri farmasi, ada yang gak boleh sholat sampai pekerjaannya selesai (dimana seringkali melebihi waktu sholat dan sudah masuk ke waktu sholat berikutnya), ada juga yang dimarahin karena kalau sholat terkesan lama (padahal biasa aja), ada juga yang lembur mulu gak kelar-kelar, dan seterusnya, dan seterusnya.

Aku bahkan sudah berpikir jauh kedepan jika seandainya prinsip yang kupegang tak lagi bisa sejalan dengan orang-orang (baca : pimpinanku) di tempat kerjaku sekarang.

So far mudah-mudahan aku bisa menjaga diri dan teman-temanku, dan kuharap mereka juga bisa menghargai perbedaan serta prinsip anak buahnya. Walau setiap saat aku ketar-ketir juga. Bayangkan aja, pimpinan tempat kerjaku ini bisa ‘menerawangi’ pribadi seseorang plus keburukan-keburukannya! Tidakkah ini melanggar privasi? 😡

Yup. Ini ‘cuma’ dinamika, kurasa.
Dan aku akan mulai bersiap meninggalkan jika jiwa, pemikiran, dan diriku seutuhnya tak lagi dapat berkompromi dengan mereka.

Makanya, Indra…
Jangan mau seumur hidup jadi orang gajian* ^_^

Yah…ngalir aja dululah…

Monday 130807,14:42 wib
*judul bukunya Valentino Dinsi


gbrnya dari http://www.inmagine.com/business-personalities-photos/photodisc-pdil050 dan
http://www.clipartguide.com/_pages/0060-0607-1916-0337.html
maap ya ga ijin dulu…

Advertisements

One thought on “Cuma Dinamika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s