Ketika Kita Harus Kalah…

Bismillah…

Banyak hal terpikirkan oleh saya ketika detik demi detik berlalu sementara perhitungan suara berdasarkan quick count di Metro TV terus melaju. Saya tidak tahu apakah saya tidak punya cukup sense of crisis ketika justru saya merasa semakin ‘nothing to loose’ pada apapun hasil Pilkada DKI Jakarta saat ini, walau deg-degan juga kerap terasa di hati.

Sempat saya berdoa, “Ya Allah, menangkan kami dalam Pilkada ini… demi kebaikan da’wah kedepan, Ya Allah…”.

Tapi segera saya ralat begitu saya menyadari bahwa saya sama sekali tidak tahu apakah kemenangan merupakan hal terbaik dari-Nya. Sekali lagi, kita tidak pernah tahu apakah kemenangan identik dengan keridhoan-Nya.

Maka saya pun segera meralat permohonan saya. Seperti layaknya anak kecil meminta pada bundanya, saya memohon dengan sangat agar diberikan hasil terbaik sesuai kehendak-Nya: menang ataupun kalah. Masalahnya sama saja, jika menang kita akan bekerja keras agar Jakarta menjadi lebih baik. Jikapun kalah, kita akan tetap bekerja keras, bukan? Bedanya, mungkin kontrol masyarakat akan lebih menyorot kuat saat kita menjadi eksekutif di pemerintahan. Ada atau tiada kita di jajaran pemerintah, kita akan terus bekerja. Itu intinya.

Dan hasilnya, pasangan Adang DaradjatunDani Anwar mendapatkan angka dibawah pasangan Fauzi Bowo-Priyanto.

Kalah?

Secara matematis, ya.

Dan tentu saja, segala perencanaan dan idealisme kita untuk membenahi Jakarta dengan lebih massif serta sistematis harus tertunda.

Saya tidak ingin sok tahu mengevaluasi ini-itu dalam persiapan Pilkada kemarin. Sebab saya yakin, Dia sudah menyiapkan balasan terbaik-Nya untuk kerja keras, pengorbanan, juga doa siang-malam yang selama ini terlantunkan.

Yang ada dalam benak saya adalah bagaimana terus memotivasi diri bahwa kekuasaan bukanlah tujuan dan berusaha ikhlash terhadap segala ketentuan.

Bukankah kita terus belajar untuk berorientasi pada proses dan bukan pada hasilnya?

Maka teringatlah saya akan sebuah kutipan dari buku “Belajar dari Perang Uhud, Strategi Menghadapi Kekalahan” karya Hepi Andi Bastoni (Penerbit Pustaka Al-Bustan, 2003). Dalam hikmah-hikmah yang beliau tuliskan, ada satu poin yang begitu membekas dalam pikiran saya :

“Bagi Allah, kalah dan menang dalam sebuah peperangan tidak penting.
Yang penting adalah beriman atau tidak.”

Saya tersadar seketika.

Benar, menang-kalah bukanlah hal luar biasa dalam suatu pertarungan. Menjadi pihak yang menang ataupun kalah adalah amat sangat biasa dan lumrah terjadi jika memang kita sudah dengan fair melakukan segalanya. Tetapi bukan itu tujuan kita sebenarnya.

Kemenangan kita sejatinya adalah ketika Allah ridho terhadap segala urusan yang kita lakukan. Pertanyaannya adalah, apakah kemenangan dan berkuasa sudah berarti Allah ridho pada kita? Apakah kalah dan tak berkuasa juga berarti Allah tak ridho pada kita?

Pilkada DKI Jakarta saya rasa telah banyak memberi pelajaran berharga.

Mungkin rekan-rekan yang lain dapat membuat evaluasi, hikmah ataupun ibrah hingga berangka-angka.

Namun lepas dari itu semua, saya pribadi merasa pemaknaan saya terhadap segala hal yang tak sesuai cita menjadi lebih mendalam.

Ketergantungan saya terhadap kehendak-Nya semakin kukuh.

Kepasrahan saya terhadap segala kehendak-Nya juga semakin meng-utuh.

Sedih tentu saja tak terelakkan, tetapi kesedihan itu justru semakin membuat saya semakin totalitas menyerah pada keputusan terbaik-Nya.

Lagipula, disinilah saya merasa bahwa keikhlasan kita acapkali diasah.

Tak seharusnya kemenangan membuat kita terlalu larut dalam euphoria, sebagaimana kekalahan tak semestinya pula menghambat kita tuk berbuat lebih baik lagi di masa-masa berikutnya. Tak seharusnya kemenangan membuat kita bertambah gairah, dan tak semestinya celaan memenjarakan kita dalam keterpurukan dari berbuat amal kebaikan selanjutnya. Karena toh memang tidak selayaknya kemenangan membuat kita merasa mulia, sebagaimana kekalahan juga tak harus membuat kita merasa rendah.

Yang harus kita lakukan –mengutip Aa’ Gym- adalah evaluasi, perbaiki, dan terus mengevaluasi serta memperbaiki. Hingga, apapun keadaan eksternal yang terjadi di luar diri kita, hubungan antara kita dengan Diri-Nya, diharapkan dapat terus terjaga.

Karena sekali lagi, tidak penting bagi Allah apakah kita menang atau kalah. Tetapi yang penting adalah kita beriman atau tidak.

Wallohu a’lam bishshowab.

Semoga, dalam keadaan menang ataupun kalah, Allah senantiasa ridho pada kita.

“…Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim…”

(QS. Ali Imran : 140)

gbr diambil darimana lupa 😦 maaf ya ga ijin dulu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s