Cerita2 dari Nias (2)

Yeah, kali ini kita lanjutin lagi crita2 dari Nias-nya ya.

Selasa, 3 Juli 2007, hari kedua training di Teluk Dalam.

Training di hari pertama benar-benar menguras energiku.
Letihnya luar biasa. Sampai-sampai tumitku serasa mau copot dari tungkainya.
So does my friend, Mira. Via sms, keluhan yang kukirim berbalas keluhan juga.
“kalau kamu ‘hosh…hoshh…’ disana, kayanya aku lebih ‘hosh…hosh..’ lagi deh, Ndra…”, begitu dia bilang.
Yeah… kami rasa kami bernasib sama. Fuh…
Namanya juga trainer amatiran. Kudu banyak-banyak latihan dan jam terbang nih kayaknya.

Pelatihan hari ini berjalan lancar. Kalau di tengah training peserta mulai mengantuk, kami bersama-sama menyanyikan Maena, lagu daerah Nias yang biasa didendangkan sambil menari. Seru! Soalnya ibu-ibu dan bapak-bapak itu jago nyanyi semua!
Dah gitu narinya lincah pula! Waaahhh…
Btw kalian tau gak sih… tari Maena ini (katanya) gerakannya ada 30an jenis, trus dari yang 30 jenis itu masih terbagi-bagi lagi… lagu pengiringnya sendiri ada 7 buah. Kebayang ya, budaya Indonesia yang amat sangat kaya ini… *_*

Masa-masa penatku di tengah-tengah training kadang kumanfaatkan untuk ‘melarikan diri’ sejenak keluar ruangan. Menatap langit biru dan pepohonan hijau sambil memejamkan mata serta menghirup nafas dalam-dalam, kuyakini mampu mengembalikan energi yang keluar.
Berhubung gak ada tempat duduk yang enak, jadilah aku duduk-duduk di atas tong sampah yang ada di dekat pintu masuk. Begitu aku menekuk badan sedikit alias merunduk (ceritanya ngantuk berat neh…), gak sampai 10 detik bumi tempatku berpijak seperti bergoyang. Dan…
“GUBRAKKK…”
Aku sukses terjatuh dengan posisi setengah bersujud di tanah, dengan sampah-sampah bergeletakan di kaki belakang! Begitu mengangkat kepala, wajah Ade yang terbahak-bahak segera terkuak. “Ngapain lo, Ndra? Huahahaahahaha…”

Sial.
Susah payah aku bangun dan membersihkan lutut yang mendadak nyeri.
Sakit, tau.
Duh, mudah-mudahan aja para peserta di dalam gak terganggu sama sekali. Kalau ternyata mereka tahu dan menghambur ke jendela melihat adegan memalukan tadi, mau ditaruh dimana muka ini… -_-‘
Huh. Parah bener nasib awak hari kedua ini.

Aku masuk lagi ke kelas dengan wajah dinormal-normalkan. Kak Angel, note taker kami, bertanya apakah aku baik-baik aja.
“Yes, i’m fine, kak!” ujarku sambil melototin si Ade yang nyengir lebar.
Duh, semoga gak ada lagi yang tau kalau aku baru aja jatuh! Dududududu…

Rabu, 4 Juli 2007, hari ketiga training di Teluk Dalam

Hari ini murid-murid akan bergabung dengan guru-gurunya untuk mencurahkan perasaan mereka mengenai cara sang guru mendidik di sekolah. Aku memilih berada di kelas siswa-siswa untuk menjelaskan apa itu bullying, cara mengatasinya, plus menggali alternatif hukuman yang lebih positif dan memanusiakan. Anak-anak yang cerdas dan menggemaskan (sejak kapan anak kecil tidak menggemaskan di mataku?). Senengnya, mereka gak malu-malu tuk mengeluarkan pendapat didepanku. Beberapa bahkan sangat aktif. Oya, ada yang cerita begini…
“Kak…kak, ada teman kami yang suka dipanggil ‘Si Gigi Tupai’…”
Aku yang mendengarnya jadi terbahak. Ya ampun…so what gitu lho…kan gigi tupai lucuu! n_n

Begitu mereka menyanyikan hymne guru dihadapan para guru, aku merasakan keharuan tak terkira. Kertas-kertas berbentuk hati berisikan pesan mereka terhadap guru-gurunya, kurasa cukup mewakili perasaan yang ada.
Ini isinya…
“Ibu guru yang baik, jangan marah-marah lagi ya.”
“Bapak dan Ibu guru yang ganteng dan cantik, kami akan menjadi murid yang berdisiplin.”
“Ibu jangan cepat marah, nanti cepat tua…”

Ah, bapak-bapak dan ibu-ibu guru. Sayangi anak-anak ini ya…

Training pun ditutup dengan review dan menyanyikan lagu khas Nias.
Kak Angel, gadis asli Nias temennya Ade yang menjadi notulen pelatihan kami, mengatakan bahwa lagu itu merupakan lagu perpisahan yang berisi ungkapan tidak ingin berpisah. Hiks…hiks…
Gak heran deh, ada cewek manis berjilbab hijau yang matanya berkaca-kaca waktu pelukan perpisahan sama guru-guru wanita. Apalagi waktu sama Bu Ros dan Bu Fau yang antusias dan semangat banget.
Abis itu, seperti biasa, Fa dan Ade ngeledek-ledekin…
Blah… cowok-cowok kadang emang gak pake perasaan… *sigh*
Betul, kan?

Ohya. Malam ini kami kenalan sama David, temennya Ade, seseorang yang cukup pemalu, ramah dan suka sekali tersenyum.
Terus ada Daniel dan Nina juga, pasangan dari Swedia.
Nina ini ternyata anggota legislatif lho. Umurnya baru 31 tahun. Ternyata, di Swedia itu, warga berusia 23 tahun udah bisa jadi anggota parlemen. Wah…
Tapi kasian mereka, buku-bukunya disita keimigrasian sampe didenda berapa jutaa…gitu. Padahal buku-buku itu mereka bawa untuk bacaan anak-anak di Nias sini lho…
God… is it my Indonesia?!?!?

Oiya. Hari ini aku main-main ke Pantai Lagundri.
Sayangnya, udah kesorean, jadi pemandangannya gak terlalu jelas karena hari sudah mulai kelabu (satu tingkat gradasi sebelum gelap).

Next, dinner with lobster, sodara-sodara!
Lumayanlah…di Jakarta jarang makan juga karena mahal…
Nyam…nyamm…
Enak! ^_^
Alhamdulillah…

Hari keempat, 5 Juli 2007, training di kecamatan Amandraya

Hari ini Bapak ulang tahun ke 59…
Hm… nelpon pun mungkin i can’t talk to him…
Padahal waktu itu mau jalan-jalan ke puncak buat refreshing… berarti tunggu aku pulang aja kali ya.

Semangat 45 masih menyala di hari keempat pelatihan.
Peserta sedikit lebih pasif, dan… oh my God, salah satu dari mereka disinyalir mabuk!
O..ow…
Aku baru tau pas istirahat lho. Soalnya pas pelatihan tadi, dia mengkritisi kami dengan sangat. Dia bilang, kalau di Nias, gak ada itu caranya berbaik-baik menghadapi bullying. Yang ada langsung penggal leher aja.
Hukkk…
Aku melongo. Fa kulihat sama bengongnya.

Kami tau bapak itu ternyata mabuk dari si David. Dave bilang, mulut si bapak itu beraroma asoka (minuman keras yang biasa diminum di Nias)…keciumanlah waktu mereka ngobrol berdua pas berpapasan ketika istirahat. Ckckck… kalau gurunya saja mabuk-mabukan, macam mana pula murid-muridnya hey…

Hari ini, David habis dibully sama si Ade… cowok friendly yang amat sangat murah senyum banget itu, dikata2in Ade mirip orang gila karena cengar-cengir melulu. Aku juga bingung sih…kok David segitu baeknya ya sama Ade… kalau aku jadi dia, udah aku timpuk tuh si Ade…
Ummhhh… Pria-pria yang aaanehhh… -_-‘

Hari ini, dan sepanjang hari bersama Ade dan Bang Dodi, theme songnya adalah “Di Balik Awan”-nya Peter Pan. Hm… lumayan.

“dan aku berdiam… di balik awan…
Aku berdiam di balik hujan…”


Hari ke-5, 6 Juli 2007, masih di Amandraya.

My God! Kenapa ada manusia macam Ade yang hidup di dunia ini? *keluh*
Sepanjang pelatihan selama si Fa nge-train, aku sibuk berdebat dengan cowok satu itu tentang kerjaan.
Ade : “Kenapa begini? Kenapa begitu?”
Aku : “Ya emang begitu caranya, kalee…”
Ade : “kalo begini kenapa begitu?”
Aku : “Uggghh…. ya karena begini..”
Ade : “Ga bisa begitu donk…dimana-mana kalau lo begini berarti lo begitu…”
Aku : “@#$@%%#%”
Ade : “$^&%*&)(*^”
Aku : “Terserah lo deh…”
Ade : “Wakakak…”
Aku : “Gokil!”

Ga sabar, aku sms si David.
“Hoy David! Si Ade nge-bully aku gara2 kamu gak dateng nih!”
David membalas…
“Hahaha… anak itu baiknya emang kita singkirkan aja dari muka bumi…”
Nah kan. Masih ketawa pulak si David itu… Herran.

Begitu pulang dan beres2 di Keyhole, aku pindah rumah. Ada turis jepang yang mau nempatin kamar kami soalnya. Si Susi, housemaid kami disana, sampe minta maaf berkali-kali. Duh Susi, pengennya sih marah gak mau pindah… gimana dunk… hehe…

Kamar baru sama sederhananya. Tapi tetep enakan di tempat lama, coz deket sama rumah Tante (si pemilik rumah –red). Akhirnya malam itu aku puas-puasin main sama Tina, anaknya si Tante yang masih berumur 4 tahun.
Ramah banget lho anaknya… sama strangers juga gak malu-malu. Gak segan digendong siapa aja. Udah gitu, pas aku ajak dia bobo sama aku, dia juga mau! Tapi tante dan si Ade udah wanti-wanti kalo dia ngompol atau nangis malem-malem.
Aku punya akal! Biar ga ngompol ya harus pipis dulu sebelum tidur… kalau nangis…yaa… tinggal bawa pulang lagi. Susah amat…

Akhirnya aku bawa deh tuh anak ke kamar.
Pas sampe kamar, pipis di toilet dan… eehhhhhh…malah minta pulang.
Oalah, dek…dek… gimana cih kamuuu… -_-‘


Hari ke-6, kembali ke basecamp : Kec. Gunung Sitoli.

Masih disopiri oleh Bang Dodi, kami tancap gas dari Teluk Dalam ke Gunung Sitoli.
Ngebut ngejar waktu lagi. Soalnya kalo kemaleman di jalan, bakalan menyulitkan banget. Medannya gelap dan suka ada perampok. Belum lagi kelokan tajam, jalanan tak berpagar yang langsung menghadap lautan, anak kecil bawa-bawa ular di jalan…
Allahu akbar… parah bener deh si Bang Dodi. Ni naek mobil apa jetcoaster sih! >_<
Kali ini bukan kejeduk-jeduk lagi di dalam mobil. Tapi kalo kata Fa… “ Jangan-jangan entar gw kayak si Dono lagi, pas turun dari mobil gemeteran gak berenti2…”
Huah…

Sampai di hotel di Gunung Sitoli…
Seneng banget ketemu Mira! Setelah sekian lama berpisah (padahal baru 6 hari!), kita cerita ini-itu. Saling membanggakan wilayah kekuasaan masing-masing pun tak terhindarkan…

Mira : “tau gak sih, liat donk bintangnya dari sini…keliatan jelas banget!”
Aku & Fa: “ya ampun! Baru segitu doang! Kemarin tuh ya, penginapan kita menghadap langsung ke laut lepas, trus lotengnya kayak teras, dari sana kita bisa liat langit luas tak terhingga dengan bintang bertaburan di atasnya, sambil dengerin debur ombak di kejauhan!”
Mira : -_____- *silent mode on*

Habis makan malam bareng, kami mencicipi durian bersama-sama.
Wahhh… kenyang pisan, man…
Enak banget durennya. Murah pula! Disini kalau lagi musim harganya bisa mencapai Rp. 500,- /buah lho! Coba bandingin sama di Jakarta yang bisa Rp. 50 ribu satu buahnya!

next.. gempa di Lahewa!
(to be continued)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s