Yth, Dosenku Tercinta*

Jakarta, Agustus 2007.

Kepada Yth.
Drs. GHTP, M.Psi

Di bumi Allah.

Bismillaahirrohmaanirrohim…

Assalaamu’alaykum wr.wb, Bapak…
Bagaimana kabar Bapak?
Sudah lama juga tidak bersua ya. Semoga saja Bapak sekel
uarga dalam keadan sehat wal afiat senantiasa.

Bapak, sebelumnya Indra mohon maaf jika kiriman ini terlambat datang. Terhitung hampir setengah tahun sejak kelulusan, belum ada satupun yang Indra berikan.
Jujur Indra bingung sekali. Apakah yang pantas diberikan pada guru yang ilmunya sudah tertanam seumur hidup, sementara barang juga akan habis dimakan waktu?


Pak G yang dirahmati Allah,
Kiranya Indra selalu terkenang akan kata-kata Bapak, bahwa tak perlu Indra berikan apapun untuk membalas jasa Bapak selama ini. Ketika itu, hanya doa yang Bapak minta.
Apakah Bapak percaya? Tanpa diminta pun, Insya Allah sudah Indra lakukan hal itu sejak lama…


Maha benar Allah dan Rasul-Nya, bahwa tak seorangpun bisa membayar jerih-payah para orangtua dalam mendidik putra-putrinya. Demikian pula pada Bapak, jikapun Bapak mengharap balasan dunia, Indra yakin, tak ada yang bisa menggantikan apa yang sudah Bapak lakukan bagi ratusan mahasiswa/I Bapak selama ini. Karena sesungguhnya bukan itu pula yang Bapak
kejar, bukan?


Sungguh merupakan masa-masa yang amat menyenangkan ketika bisa berdiskusi out of topic dengan Bapak. Sangat mendalam maknanya, dan selalu berupaya menggali hakikat. Betapa Indra ingat, sedikit nasihat Bapak di Ramadhan yang silam, bahwa sungguh Ramadhan bukanlah puncak ibadah, karena semakin hari, seharusnya semakin meningkat pula ibadah kita. Kesadaran itu menghentakkan jiwa, dan lagi-lagi Bapak benar, bahwa siklus harian kita seharusnya membentuk garis yang terus menanjak, bukan hanya berhenti memuncak di bulan Ramadhan, dan 11 bulan berikutnya menukik tajam.

Ramadhan sudah akan datang lagi rupanya, Pak. Dan nasihat itu Insya Allah akan terus Indra ingat. Semoga Allah sampaikan kita pada Ramadhan kali ini dan juga tahun-tahun berikutnya. Aamiin…


Pak G yang dimuliakan Allah,
Atas nama Yang Maha Mengampuni Segala Salah, indra mohon maaf untuk kesekian kalinya.
Jika ada mahasiswa Bapak yang sering lambat menangkap kalimat-kalimat ‘langitan’ Bapak dalam statistika, atau pun metodologi pengerjaan penelitian, mungkin Indra salah satunya.


Mohon maaf juga sudah datang tiba-tiba di tengah peke
rjaan Bapak yang menumpuk. Pernah pula harus ‘memaksa’ Bapak di hari Natal untuk membimbing di kampus bersama Ryan, putra Bapak, dimana Bapak seharusnya menikmati tanggal merah di rumah sebagai waktu beristirahat. Atau juga membuat Bapak menggeleng-geleng di sidang pertama yang sangat kacau. Mohon maaf jika sudah membuat Bapak malu dihadapan Mbak Julia dan Mbak Erniza, penguji sidang pertama, ketika Allah menghendaki Indra mengulang semua. Mohon maaf juga atas loncatan-loncatan ide yang membuat Bapak bingung dan mungkin bertanya-tanya, apa yang ingin Indra teliti sebenarnya. Apakah Bapak percaya bahwa Indra sudah berikan yang terbaik yang Indra punya? Betapa Allah amat menyayangi kita dengan segala rencana-Nya, sehingga dengan menambah waktu 1 semester kemarin, Dia memberikan ladang amal bagi Bapak untuk membimbing Indra, hingga terasa sekali manfaat yang Bapak berikan.
Seperti yang Bapak katakan, “Segala yang terjadi pastilah yang terbaik dari Allah, Indra,”. Bagaimana Indra bisa lupa akan nasihat seorang
Ayah kepada putrinya yang kerapkali membuat ulah?


Pak G yang baik,
Ahli hikmah bilang, sesungguhnya ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon yang tidak berbuah. Bersyukur rasanya memiliki seorang pengajar yang tetap santun dan sederhana di balik meja gedung C Lantai 3. Indra masih ingat, jika Bapak berkehendak, maka bisa saja Bapak beralih menerima tawaran mengajar teman-teman di pascasarjana. Tapi begitulah Bapak, tak pernah mau kehilangan amal yang lebih berharga di mata Bapak.

Apakah Bapak ingin tahu apa yang membedakan Bapak dari dosen-dosen lainnya di Fakultas Psikologi kita? Sikap rendah hati dan low profile Bapak yang paling Indra ingat. Begitu pula kesan pertama yang ditangkap kakak Indra ketika kita menghadiri wisuda bersama-sama. Sebagaimana padi, rasanya begitu pas analogi itu Indra sematkan pada Bapak, ketika semakin berisi, Bapak justru semakin merundukkan hati dan kepala. Padahal biasanya, semakin lama seseorang mengajar, semakin ia meraih berbagai gelar, semakin pula ia tidak berpikiran terbuka dan menerima berbagai masukan, atau semakin merasa sah pula ia membusungkan dada.

Sehingga terbuktilah salah satu kemenangan yang Allah berikan pada Bapak waktu itu. Bapak ingat, ketika beberapa dosen mengkritik bahwa gaya mengajar Bapak kurang sesuai dengan kebutuhan para mahasiswa? Pada akhirnya, di Ujian Tengah Semester, mahasiswa/i di kelas Bapak justru meraih nilai tertinggi di antara kelas dosen-dosen lainnya. Selamat ya, Pak. Cukuplah Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman yang melihat pekerjaan Bapak. Karena Allah tidak akan pernah buta.


Pak G yang terhormat,
Sedikit saja penggalan kata dari Indra, semoga Bapak berkenan memaafkan Indra. Hanya doa tulus yang Insya Allah akan terus Indra lantunkan, untuk kesehatan Bapak, kedamaian hati Bapak, kelapangan hidup dan kekuatan menghadapi segala ujian, juga rahmat dan keridhoan Allah atas Bapak. Semoga Allah meleburkan dosa setiap saat, termasuk di kala Bapak sakit dan terbaring lemah. Indra mohonkan pula doa dari Bapak, semoga Indra selalu menjadi muslimah sholihah yang berbakti dan mampu membanggakan orangtua, negara serta agama ini.

Semoga Bapak terus menjadi sebaik-baik manusia yang menebarkan manfaat.
Mudah-mudahan Bapak bersedia tuk terus mengingat dan mendoakan mahasiswi yang satu ini, ya. Salam takzim Indra untuk Ibu, Fandry, Ryan dan Andra. Semoga keluarga Bapak selalu terhimpun dalam limpahan nikmat, kesehatan, keberkahan, juga perlindungan-Nya.


Demikian saja dari Indra, semoga Bapak berkenan menerimanya.


“Ya Allah, jadikan amal guruku sebagai jariyah yang tiada putus-putusnya, ampuni dosa-dosanya, rahmatilah kehidupannya, dan jadikan surga-Mu sebagai tempatnya bermuara. Aamiin, Ya Robbal ‘Aalamiin…”


Wassalaamu’alaykum wr.wb.

Indra Fathiana, S.Psi
0801000644
Psikologi 2001.


*diberikan untuk Dosen Pembimbing Skripsiku

A New Great Catharsis of Ngebut

Bismillah…

Aku baru tau kenapa ada orang-orang yang suka nge-track di jalan…
Atau yang begitu suka balap-balapan di motoGP (eh, bener ya motoGP?!?)

Ternyata, sodara-sodara…
Beneran, ngebut itu emang asyik banget!

Jadi sabtu sore lalu, berhubung agak males-malesan berangkat ngaji, dan aku udah keburu capek ngebayangin harus jalan 200an meter sebelum mencapai angkot, lalu naik angkot 2 kali, lalu musti jalan 200an meter lagi sebelum mencapai rumah Uma, begitu ngeliat motor nganggur di rumah, aku pake aja.

Lumayan juga sih. Cipinang muara-pulogebang bukan jarak yang dekat.
Tapi masih lebih dekat dibanding Cipinang-Ciputat lah.
Akhirnya sore itu aku berangkat juga. Rutenya Cipinang Muara – Duren Sawit – Buaran – Pondok Kopi – Cakung – Pulogebang.

Do you know?
SIM gak punya, STNK kebawa kakak.
Nekat?
Hehe… Maaf ya, Negara. Kali ini aku tidak menjadi wargamu yang taat.
Yang penting bensin aman. Tinggal pasang kacamata dan helm, jadi deh.

Sebagaimana Agah yang merasakan nikmatnya sensasi hujan-hujanan (piss, Gah!), aku merasa begitu pula saat meng-gas motorku kuat-kuat, melaju di atas jalan raya.
Baru kerasa setelah ngelewatin Masjid Al Azhar seberang walikota Jaktim di Cakung (abis baru disitu jalanannya kosong. Sebelum itu macet).

Apalagi waktu melitasi jalan layang di atas terminal Pondok Kopi pas pulang.

Di bawah lampu jalan yang temaram dan suasana sepi, serta ditemani murottal QS. Ar Rahman yang mengalun di telinga, aku melaju dengan kencang.

“Nguengggggg….”

Huahhhh.
Luar biasa!
Jalanan berasa milik aku aja. (sempet juga sih ngebayangin gimana kalau aku nabrak pembatas jalan dan terjun bebas ke bawah…).

Bebas. Lepas.
Seperti melayang tanpa beban. Dan perasaanku melambung dalam ketakterbelengguan.
(jadi inget kalo aku suka banget sama elang…).

kalau si Agah merasakan sensasi luar biasa waktu main ujan-ujanan (hehe..buka aib Agah disini deh. piss ya, Gah!), aku juga merasakan sensasi serupa pas ngebut tadi 😀
gak tau kan gimana rasanya… makanya cobain *provoke..*

Lepas sejenak dari stress kecil tadi siang. Masa bodohlah dengan carut-marut perasaanku. Makan deh tu jodoh… (lho?!?!).
Kalo aja aku tau bahwa ngebut merupakan salah satu cara katarsis yang menyenangkan, pasti aku udah sejak dulu ngelakuinnya.

Pantesan aja si Vj, sahabatku di kampus dulu, memilih muter-muter gak jelas dengan motor setelah gagal menggolkan agenda da’wah di salah satu lembaga bergengsi di kampus. Ketangkep basah deh sama ikhwan, masih keluyuran di kampus malam-malam. Gak heranlah kalo yang ini. Dia mah akhwat preman. Hihi…

Tapi sayang banget tadi itu gak pake sapu tangan penutup hidung.
Jadi keliatan deh ceweknya.
Hehe. Salah ya.
Bukan itu, tapi aku jadi terpaksa menghisap debu dan asap dari knalpot-kanlpot kendaraan. Rese’ emang. Apalagi kalo yang knalpotnya dibuka trus asapnya jadi banyak gitu. Kalo udah gini mah tinggal ngedumel dalam hati.
Sempet mikir juga sih… jangan-jangan knalpot gue juga kayak gitu lagi… -_-‘

Begitu pulang, aku mengambil rute lebih jauh. Ceritanya biar katarsisnya bisa lebih lama.

Jadi dari Buaran aku terusin ke arah Kalimalang, bukan belok ke Duren Sawit. Abis itu baru belok di Cipinang Indah, cari jalan yang lebih santai menuju rumah.

Fuh…
Great moment, rupanya.
Nyandu, euy!
Kapan-kapan ngebut lagi aaaaahhhh…

~alhamdulillah,masihBisaKatarsis…

“…Looking for some place to ease the pain…”
(Fixing A Broken Heart – Indecent Obsession)

“I know just how to whisper
And I know just how to cry
I know just where I find the answers
And I know just how to lie
I know just how to fake it
And I know just how to scheme
I know just when to face the truth
And then I know just when to dream

And I know the night is fading
And I know the time’s gonna fly
And I’m never gonna tell you everything I gotta tell you
But I know I’ve got to give it a try!”

(Making Love Out Of Nothing At All – Air Supply)

Duh, Neng Indra…

Bismillah…

Seneng banget kemarin2 baru aja ngomelin orang.
Heheh… jahat banget ya. Ngomelin kok seneng…

Bukan apa-apa. Abisnya aku sakit hati sama dia. Dikiranya aku cewek lemah yang gak bisa ngelawan apa. Apalagi untuk urusan satu ini. Jangan pernah coba-coba!

Sore itu dia bicara panjang-lebar, kesana-kemari.
Gak jelas.
Entah topiknya apa.
Aku hanya terdiam memandangi jendela, melihat pemandangan jalan raya dari lantai dua gedung itu. Menggigit-gigit sedotan minumanku, dan membuang nafas berkali-kali dengan gelisah. Muak sebenarnya.

“Saya tahu… Saya mendukung cita-cita Indra. Apa yang Indra lakukan prinsipnya adalah menolong orang lain…” ujarnya.
Aku mencibir dan membuang muka tak suka.
“Bukannya menginjak-injak muka orang lain?” ungkitku sinis mengutip kata-katanya di sms beberapa waktu lalu.
“Bukan gitu, Indra…”
Blah…

Setelah sekian lama, akhirnya aku angkat bicara juga.

“Satu hal yang saya mau bilang.
Jika Anda merasa tidak respek ketika saya katakan bahwa saya bisa mencari orang lain untuk saya bekerja sama dengannya, maka saya juga sangat tidak respek ketika Anda melecehkan rencana saya di masa depan! Gak ada seorangpun, gak boleh ada seorangpun yang bisa melecehkan apa yang sudah saya rancang untuk masa depan saya! Biarpun Anda bicara 10.000 kali lebih menyakitkan lagi, saya gak peduli. Karena saya yang menentukan sendiri cita-cita saya, impian saya, dan saya yakin, masih banyak orang lain di luar sana selain Anda. Karena pada kenyataannya memang demikian.”

Fuh!
Puas banget.

Walau ngomongnya sambil bergetar dan berkaca-kaca (kebayang kata-kata dia yang nyakitin banget waktu itu soalnya), aku lega bisa mengutarakan apa yang aku pendam selama ini. Dan dia tertunduk, menampakkan raut penyesalan luar biasa.

Kalian tahu?
Para penjajah bisa merampas harta kita, rumah kita, bahkan jasad dan kehormatan kita.
Tapi TIDAK harapan kita, cita-cita luhur kita, dan keyakinan yang kita punya.

Itu sebabnya aku sangat tidak terima ketika aku dikatakan melakukan hal yang tampak buruk di mata dia, just like stupid girl di luaran sana. Immature judging. Padahal dia cuma belagak tahu bagaimana kerja kami sebenarnya.

Lagipula bukan itu juga yang aku paling tolak. Aku gak pedulilah mau dihina seperti apa, atau seberapa kali banyaknya. Tapi dia seperti melecehkan dreams dan keyakinan yang akan selalu aku perjuangkan dengan susah-payah demi orang-orang tercinta.

Tau apa dia tentang ayahku yang terbaring sakit, mamah yang begitu ingin naik haji, adikku yang tahun depan kuliah sementara biayanya makin melangit, keinginanku membuat library car, dan seterusnya, dan seterusnya?

Dan takdir itu ada disini, dalam genggaman kita.
Lukislah ia dalam jiwamu, visualisasikan, lalu yakini, dan perjuangkan, meski ribuan cerca menyeruak menghalanginya.

Tanyakan, apakah orang lain akan membantu jika kita kesusahan? Belum tentu!
Apakah orang lain akan menolong jika kita membutuhkan? Belum tentu juga!
Apakah ada orang lain peduli saat kita menderita? Siapa bilang selalu begitu?

Kutinggalkan ia begitu saja setelah mengungkapkan semua.
Berharap jiwaku semakin kuat setelahnya.
Dan aku berikrar semakin mantap, tidak ada yang boleh melecehkan apa yang aku rencanakan untuk masa depanku. Tidak seorangpun!

Maghrib menjelang, dan terbata kuucap doa robithoh untuk semua orang, termasuk dia yang kata-kata menyakitkannya masih terngiang.
Dan setelah itu, smsku terkirim.
“Maafkan saya. Saya memang masih harus belajar untuk bersikap dan berpikir positif terhadap apapun yang tidak sesuai keinginan. Semoga Allah mengampuni kita…”

Yeah…
Indra Fathiana.
Si keras hati yang selalu saja menyisakan sesal dan rasa tak tega.

Hey, dilarang ketawa ya!


-untukSeseorang,ygSyYakinAndaMembacaIni:Well,NamanyaJugaDinamika:p
InTheMiddleOfAugust2007:ThePowerOfTheDream!

gbrnya dari http://www.mckinley.uiuc.edu/Handouts/anger_management/angermanage.html

Tepian Langit Cinta

zondag, maart 19, 2006

Cinta

ditepian langit yang sama
kau dan aku juga menderita, ku rasa

tapi pendam dulu tanya tentang berapa lagi amanah
yang harus kita selesaikan hari ini

sudahi saja gundah tentang berapa putaran purnama
yang kita harus jalani hingga saatnya tiba

Cinta

kau ksatria dan aku ksatria
kita adalah prajuritNya dalam medan ujian tak berkesudahan
dan setiap naik sang kala
adalah hari baru untuk menempa sebuah jiwa yang mulia

Cinta

aku dan kau ditepian langit yang sama
kurasa sama menderita
Tapi angkat wajahmu dengan dagu tercuat
karena kita orang yang kuat
dan jika ada air mata dan keletihan jiwa
itu tidak mengapa
cukup sebagai petanda kita masih menghamba
kita toh, tetap ksatria

Jadi Cinta,

jangan lagi bertanya
jika tidak karena cinta, tak akan sanggup kita lukis hari
selesaikan saja amanat hari ini
tuntaskan segala tanya, pejamkan mata
dan simpan aku dalam ketenangan telaga dihatimu

percayalah

Karena jiwa kita adalah ksatria
terlalu mulia untuk mempermainkan dan dipermainkan
segala yang rendah dan tak berharga

dan jika putaran purnama genap sudah

dalam ketenangan setelah kegelisahan
kau didiriku dan aku didirimu
keagungan yang kita punya adalah
ketika Dia jadi kesudahan segalanya.

Kembali

Bismillah…

Kerap, semunya keindahan membuat langkah berhenti menapak.
Dalam satu bentangan masa, begitu banyak hal membuat jiwa terlena.
Terkadang tak lagi sadar bahwa perjalanan belum akan usai.
Seringkali bahkan justru terlalu masyuk menikmati kealpaan, padahal perhitungan juga acap mengintai.
Berlembar-lembar catatan, rasa-rasanya sudah cukup menjadi laporan untuk diajukan ke pengadilan mahsyar.

Sudahkah Jiwa, getarmu sungguh-sungguh tergugah saat Ia meyapa penuh kasih dan perhatian?
Sementara pongah itu berjalan terlalu santai, ada yang menatap pilu dan bertanya dengan lidah yang kelu,
“Ummatku, kembalilah pada Robb-mu…”

Begitu selalu.
Bahkan ibanya mungkin telah memenuhi dinding-dinding langit, mengetuk-ketuk singgasana walau tak lagi dapat ia kembali menjadi penyeru manusia.
Jikalah ia masih disini, bersama kita hari ini, apa yang dapat menggantikan airmatanya yang mungkin menganak-sungai melihat kondisi umat terkasih yang tak lagi mengindahkan sang utusan?

Sungguh, amatlah merugi mereka yang tak jua bergegas mengaca diri, menelanjangi aib-aib sebelum segalanya tak lagi tertutupi.
Sudahkah permainan ini membuat dirimu semakin menjauh, dan tak lagi sadar bahwa jarak yang ditempuh kan membuat jiwa kian merapuh?

Serupa gugus demi gugus jalinan gemintang di langit biru, jua bermilyar jarak antara rasi ini dan itu, mungkin demikian pula gambaran jiwamu dengan Sang Maha Tahu.
Mengapa belum juga tersadar saat bongkah-bongkah kesat bersemayam semakin dalam, dan mengurat-akar dalam hati yang binarnya kian padam?

Mengapa belum jua terbit ketakutan, ketika lembar demi lembar peringatan dalam kalamNya selalu terlantunkan?
Sudah demikiankah jernihmu menghitam, hingga selisik cahaya tak lagi mampu membuat pendar-pendar di antara sekian banyaknya titik-titik kelam?
Sudah sebanyak itukah karatmu membuat cerminnya kusut-masai, dan tak lagi mampu memantulkan pelita di tengah mutiara yang kusam?

Hingga tiba akhir perjalanan,
Niscaya sesal tak lagi berguna walau tangismu melantunkan rindu-dendam.
Walau jeritmu berteriak hingga parau,
Takkan ada lagi sedetikpun kesempatan untuk mengulang perjalanan.

Sudahlah, Jiwa.
Terus saja mendaki meski ketinggian tampak sulit diraih.
Terus saja berjalan walau kerikil demi kerikil membuat lukamu tak kunjung pulih.
Jikapun kematian menghampiri sesaat lagi,
Setidaknya tunjukkan saja bahwa sadarmu menjadi pertanda usang hati ini akan kauperbarui.

Jadi Jiwa,
Kembalilah segera disini.
Berjanjilah bahwa kita ‘kan akhiri segala hina diri,
Hingga menjumpai keabadian hakiki,
Yang luputnya membuatmu terjatuh kini.

ThxToRitshukoOkazaki4BacksoundingMe.

GreyMonday, 20.08.07, 04:45am.
~Sya’ban,AtThe-onceMore-RealBeginning…

gbr dari http://www.darksky.org/resources/protecting-our-night-environment.html

Cerita2 dari Nias (3-habis)

Hari ke-8 di Lahewa, 9 Juli 2007

Huwaa….semalam ada angin kencang plus hujan! Baju-baju yang kucuci semalam jadi jatuh dan basah semua. Sedihhh…. 😥
Terpaksa ngebilas ulang deh.

Me and Fa gak semangat sama sekali hari pertama ngisi training di Lahewa.
No passion at all! Parah gak sih…
Bahkan si Fa sampe gak mandi pagi itu saking malesnya… (jorok banget deh).
Mungkin efek dari ketidaknyamanan kita akan penginapan disini…

Aku juga sama tidak bergairahnya.
Oh c’mon Indra…luruskan niat mentransfer ilmu…
How you feel is up to you!

Akhirnya aku sms-in beberapa sahabat. Abis itu nerima sms balasan dan… thanks, frens and God, i’ve found my energy! How you feel is up to you!

Oya guys, kata-kata “how you feel is up to you” ini aku ambil dari judul sebuah buku tentang manajemen emosi. Beneran lho, how you feel emang is up to you. Kalau lagi ga semangat, coba putar balikkan perasaan itu menjadi perasaan semangat, ntar lama-lama dia muncul sendiri dan kita bakal jadi semangat lagi. Hal yang sama berlaku juga untuk rasa sedih yang kita alami, dan segala ketidakenakan emosi.

Tau kan, segala kejadian katanya bermula dari pikiran. Rasulullah saw juga bilang, Allah itu mengikuti prasangka hamba-Nya. Nah makanya… Be ware of ur thought deh ya!

Btw…
Malam ini tempat tidurku berguncang-guncang.
Gempa!!!

Kejadian menegangkan itu berlangsung selama kurang dari 10 detik. Tapi itu aja udah cukup bikin aku cemas. Jadi mikir macam-macam…. belum bikin surat wasiat 😦
Gempanya lumayan kencang soalnya. Abis itu gak bisa tidur walau udah ngantuk.
Khawatir banget bakalan ada gempa susulan…

10 Juli 2007, hari kedua di Lahewa

Alhamdulillah, gempa semalam cuma 1 kali terjadi. Tenang deh…
Hari ini, waktu liat ke langit malam-malam, waahhh… subhaanallah, ribuan bintang berkerlip-kerlip menyapa!
Keren banget!

Rasanya gak bosan-bosan memandang ke atas. Cantiiiiikkkk…
Apalagi sambil dengerin Spirit Carries On-nya Dream Theatre yang inspiring abis.
Seperti biasa, ini saatnya bikin ngiri beberapa orang..
Yes, si Trian misuh-misuh karena mupeng berat… wakakak ^_^

Tadi siang masih lumayan males-malesan sih. Tapi it’s better than before. Beberapa guru juga antusias. Jadi keingetan sama dosenku waktu kul dulu deh. Waktu kelasku silent sepanjang kuliahnya dia, akhirnya dia ngomong terus terang dengan bete-nya.

“Saya heran dengan kelas 2001. Kenapa pasif sekali ya. Saya jadi bingung, kalian nih diam karena udah ngerti, apa belum ngerti, apa gimana…”

Haha…

Aku sekarang merasakan sendiri betapa tidak enaknya mengajar di kelas yang lebih mirip kuburan daripada ruangan kuliah. Jelas, akan lebih menyenangkan ketika mengajar di kelas yang murid-muridnya semangat ketimbang diam pasif tak bersuara. Energi pengajar itu justru berasal dari murid-muridnya ya…


11 Juli 2007, hari ketiga di Lahewa

Neraka dunia ya Allah…
Panas bener disini. Mataharinya menyengat sekali.
Fa menghiburku dan berkata, “Masih di dunia, Ndra…belum di akhirat…”
Padahal dia jauh lebih keringetan daripada aku.
Yaya… masih di dunia. Belum sepanas akhirat.

Hari yang cukup melelahkan.
Cuaca panas ditambah peserta yang gak pernah berhenti menyalakan rokoknya, membuatku luar biasa menahan kesal…


12 Juli 2007, hari keempat di Lahewa

Alhamdulillah, hari ini pelatihan berjalan cukup lancar. Kalau dibandingkan yang kemarin dimana pesertanya adalah guru-guru, peserta kali ini yang orangtua-orangtua siswa, malah lebih tertib menyimak. Pas aku bawain materi kebutuhan Maslow terutama tentang harga diri dan aktualisasi diri, mereka hening. Mungkin merasa bahwa apa yang selama ini mereka perbuat seringkali menurunkan harga diri anak-anaknya dan menghambat aktualisasi diri mereka…

Aku juga sempat cerita kisahku sama mereka. Stimulus nih ceritanya, biar mereka juga mau terbuka.
Jadi, waktu adikku umur 7 tahunan, aku pernah melalukan bullying terhadapnya.
Maghrib-maghrib tuh… Aku suruh dia sholat.
Eh, malah tidur-tiduran di sofa.
Lalu aku teriakin. Masih gak bangun juga.
Akhirnya aku ambil sapu dan kupukul dia.
“Kamu nih, disuruh sholat susah banget! Buk! Dosa tau ga! Bukan bapak lagi yang nanggung dosa kamu… Buk…buk… tapi kamu sendiri! Sholat sana! Buk! Sholat!”

Adikku semata wayang itu nangis kejer begitu aku pukul pake sapu lidi…
Dan aku, hingga kini, menyesal luar biasa 😦
Jahat banget ya aku 😥

Pada kenyataannya, pukulan juga tidak membuat dia beranjak menunaikan perintah.
Jadi, kalau masih bisa cari cara yang tidak membully, soklah, harusnya pake cara lain…
Dudududu… para trainer…berintegritaslah!


13 Juli 2007, sudah hari kelima di Lahewa, rupanya…

Hari ini pelatihan ditutup dengan lumayan sukses.
Tau gak sih, mereka bilang apa?
“Semoga pelatihan ini bisa diadakan lagi kapan-kapan. Dan kami maunya sama Bu Indra dan Pak Fajar saja, tidak usah diganti tutor yang lain,”
Wuu… terbang deh gw… hahaha… ^_^

Oiya, satu hal lagi yang sangat menyenangkan hari ini adalah…
Aku jalan-jalan ke pantaaaaiiii!!!!!

Ya Allah…seneng banget! Soalnya pantai kali ini very-very amazing.
Dulunya, daratan yang kami injak-injak ini merupakan dasar lautan. Karena gempa dan tsunami kemarin, lautnya menyusut. Kebayang donk, kita berjalan-jalan di antara karang-karang besar dan dunia bawah laut! Tapi kok gak ada spongebob dkk ya? Kqkqkq…

Dah gitu airnya jerniiiiihhh…banget. Mirip sama Taman Laut Bunaken, walau masih kerenan Bunaken sih..
Ikan-ikan yang berenang di airnya keliatan hilir-mudik…
Ombaknya tenang…
Anginnya berhembus semilir….
Dan satu lagi, ketika malam menjelang, milyaran bintang bermunculan…
Dah gitu kita sambil makan durian… n_n *penting ya?*
What A Great Creator!
Subhaanallah…

14 Juli 2007, kembali ke base camp di Gunung Sitoli

Sempet-sempetnya nerima sms dari salah seorang peserta kemarin.
“Selamat jalan. Semoga Tuhan memberkati.”
Wah… jadi terharu…

Jadi inget, biasanya seusai training, para peserta berdoa bersama dan tak lupa juga untuk mendoakan kami. Macem-macem doanya, semoga Tuhan memberkati, semoga diberi rizki, kesehatan, jodoh… (yang terakhir ini kami amin-in keras banget lho… ups, hahaha….^_^)

Sampai di kota, seperti menemukan peradaban baru gitu.
Jauh bangetlah sama waktu di Lahewa. Disini tidur di kamar hotel yang nyaman banget, ber-AC (kalo di Lahewa dulu pake Angin Cepoi-cepoi), kasur empuk, kamar mandi lumayan lux, wah pokoknya bener-bener kayak orang kampung gitu dah…

Dan tentu saja, menikmati makan malam yang sangat menyenangkan.
Sayur capcay, cumi asam manis, udang goreng tepung, plus, desertnya masih teteupp durian. Sayangnya, malam itu migrenku kumat. Meriang deh…

Oiya, sebelum itu kami sempat evaluasi bareng-bareng.
Kami sepakat bahwa para peserta training itu menggemaskan.
Lho…

Salah, maksudnya, kita geregetan karena mereka udah biasa disuapin sehingga agak-agak males hidup mandiri dan gak mau berusaha supaya kehidupannya lebih baik.
Bayangin ya, kita udah berkoar-koar say to them bahwa “Apapun yang terjadi, pokoknya pendidikan itu sangat penting!”. Abis itu mereka mengeluh kalau semua terhambat karena mereka miskin dan gak mampu. Disini ini nih, yang bikin kita uugghhhh…. gemes! Soalnya mereka tu bahkan seperti gak punya ide tuk cari duit gimana caranya. Bikin usaha apaan kek, kerja kayak gimana kek… padahallll…. mereka punya tanah cukup luas, ternak macam-macam, dan hasil kebun yang kalau mau dioptimalkan, bisa cukup menyejahterakan.

Aku bahkan kalau liat tanah nias ini, berkali-kali bertanya, kenapa ya, potensi yang sedemikian hebat ini gak digarap untuk industri wisata, misalnya. Karena aku yakin banget, kalau saja disini dijadikan target wisata, akan jadi omset yang luar biasa bagi para penduduknya. Benahi ini-itu, buat promosi besar-besaran, aku jamin, Nias bakal jadi daerah wisata yang sangat digemari. Di Sorake, contohnya, banyak banget turis yang seneng surfing disana. Terus ada juga Laut karang kemarin yang sangat unik, belum lagi pantai-pantai lain yang berserakan dimana-mana.

Itu baru wisata.
Tanah kosong yang menghampar di setiap penjuru, kalau saja mau digarap dan ditanami, bisa jadi penghasilan juga.
Apalagi?
Budi daya penyu, kerajinan tangan, atap rumbia yang per meternya dihargai Rp.50.000,-, dan banyak lagi yang lain.

Ada satu kisah miris yang diceritain oleh Pak Yus, salah seorang rekan kami.
Waktu itu ada pendatang dari Jawa yang netap di Nias. Di lahan miliknya, ia sibuk menanam durian, palawija, dan sayur-sayuran lainnya. Setiap musim panen, tetangga-tetangganya yang penduduk Nias asli cuma memandang kagum dan berkata, “Wah, Pak Z, senang ya panen terus…”. Dan mereka gak terpancing bahkan untuk sekedar bertanya, “Gimana caranya supaya saya bisa seperti Bapak, dapat uang banyak tiap panen dari hasil bertani ini?”!!!!

Rrrgghh… Tolong ya… >_<

Dari cerita Mira yang ngobrol2 sama Pak T, salah seorang petinggi SC disini, kabarnya tahun 2009 most of NGO di Nias bakalan pergi meninggalkan tanah ini. Dan bisa dipastikan, para penduduk akan sangat kehilangan karena selama ini mereka amat-sangat bergantung pada mereka. Bayangin aja, setiap pelatihan itu mereka dikasih uang transport, 3 hari Rp.150.000,-. Dan Pak T bilang, uang SC yang beredar itu sekitar 2 milyar rupiah per harinya untuk ngadain kegiatan2 dan sebagainya!

That’s why mereka demen banget ikut pelatihan, karena dari situlah mereka berpenghasilan. Uangnya bisa dikumpulin buat kredit motor, beli HP, mabuk-mabukan, dst. Gak kepikiran tuh buat buka usaha, nabung, bikin gawean apa…
Malah nongkrong di warung buat minum-minum, pesta, dsb.
Yes, mereka hidup hanya untuk hari ini dan gak pernah berpikir untuk 6 bulan kedepan, 1 tahun, atau bahkan 10-20 tahun yang akan datang.

Itulah…

Kalau taun 2009 para NGO pergi, bisa dipastikan mereka kehilangan tempat bergantung. Jadi tantangan banget nih buat LSM-LSM lokal yang mungkin bergerak di bidang pembinaan untuk usaha kecil dan menengah.
Percaya deh, kita tuh bener-bener mirip kayak tikus yang mati di lumbung padi.
Kekayaan melimpah tapi gak mau dikelola. Pas dikelola orang asing baru teriak-teriak. Lha kitanya sendiri gak mau gerak…gimana mau dapet hasil…

Jadi senewen sendiri kan gua… -_-‘

16 Juli, di Teluk Dalam

Ternyata kita gak nginep di tempatnya Tina lagi di pantai Sorake. Tapi kali ini di daerah pelabuhan.
Yah…Tina… gak bisa ketemuan lagi deh 😦

Kali ini aku kenalan sama Astrid, field assistant SC, lulusan komunikasi Unpar.
Dan teuteup, ketemu sama Ade lagi. Tapi untung dia agak2 ‘bener’. Walau tetep aja pas makan malam aku jadi bulan-bulanan bullying lagi… blah… 😡

Oiya, housemaid losmen kami namanya Jul, masih sekolah kelas 3 SMA. Dia bekerja ngejagain losmen ini untuk biayanya sehari-hari. Ibunya tinggal di rumah dan adiknya masih ada 2 orang seingatku. Ayahnya sendiri sudah wafat.

Aku baru tau beberapa hari kemudian bahwa Jul ini pernah ikutan Olimpiade Fisika di Medan mewakili kabupaten Nias. Wah, hebat!!!

Menurut cerita Astrid, Jul ini punya semangat belajar yang tinggi, tapi terbentur sama masalah biaya. Dari Astrid pula aku tau Jul punya keinginan kuat untuk melanjutkan kuliah.

Aku pun mendekati dia, berharap bisa sedikit bertukar cerita.

Gak bisa ngasih apa-apa sih…, cuma sepenggal motivasi supaya dia terus belajar dan belajar. Aku dorong juga supaya dia masuk fisika ITB. Kalaupun nanti terbentur biaya, setahuku disana juga banyak beasiswa yang bisa diusahakan.

Dan matanya berbinar-binar menyiratkan optimisme yang dalam.
Bagiku, binar2 di mata anak kelas 3 SMA yang cerdas itu menyimpan kekuatan dan semangat kemajuan yang sangat kukuh….

Keesokan harinya, tanpa disangka, Jul mendekatiku.

“Kak, hp kakak tipenya berapa?” tanyanya sambil menimang casing hp dalam bungkusan.

“Sekian, sekian. Mirip tuh kayak punya kamu. Tapi keypadnya aja yang beda. Wah, casing baru ya? Bagus…” pujiku.

“Mmh…iya, tapi aku salah beli. Ini buat kakak aja deh…” ujar Jul sambil menyodorkan casing hpnya.

“Eh, aku harus bayar berapa nih?” salah tingkah aku bertanya.

“Gak usah. Buat kenang-kenangan aja..” katanya sambil tersenyum.

“Serius? Saya bayarin aja,” aku bersikeras. Gak enaklah. Dia kan juga kekurangan.

“Enggak. Buat kakak aja, kenang-kenangan dari saya.”

Akhirnya kuterima casing biru itu dengan perasaan antara tak enak hati dan senang.

Gimana dunk… orang dikasih…

Jadi ceritanya, si Jul baru dikasih Hp second sama seseorang.
Tapi hpnya itu memory cardnya gak ada. Yaudah aku kasih aja memory card hpku. Habis di Nias harganya mahal, bisa mencapai 200ribuan. Tentu si Jul mikir2 untuk beli. Pas aku tanya kakakku, di Jakarta 100ribu juga dapet. Walau kata kakakku gak enak ngasih yang bekas, kupikir daripada entar di Jakarta ribet lagi ngirim2 via pos, ya udah kuberikan punyaku aja. Itung-itung buat kenang-kenangan juga.

Dan dia keliatan sennnengg…banget menerimanya.
Tapi tetep aja aku kasih syarat sama dia.
Syaratnya adalah dia harus janji sama aku untuk belajar sungguh-sungguh supaya bisa tembus SPMB tahun depan agar masuk Fisika ITB.
Haha… jadi ngebully deh aku ^_^

Oya, di dekat losmen kami itu, ada seekor anjing kecil berbulu lebat.
Puppy puppy gitu deh. Lucu banget. Badannya genduuut… n_n
Kalo aja aku boleh pegang, pasti aku akan elus-elus badannya kayak kucing.
Uuughh…gemes…

Di Teluk Dalam ini, sayang banget, ada beberapa kesan tak mengesankan.
Aku dan beberapa fasilitator lainnya sempat kelaparan berjam-jam.
Karena losmen si Jul tidak menyediakan makanan kecuali snack dan warung makanan juga agak jauh, akhirnya kami selalu makan malam nyaris jam 9.
Gak ngerti juga sih… kenapa pihak SC sebagai tuan rumah tidak mengusahakannya di jam yang lebih normal.
Kebayang donk kami habis ngisi pelatihan seharian, dan harus ‘dipaksa’ kelaparan sampai lewat jam makannya….
Akibatnya, berhari2 disini perutku banyak banget diisi pop mie.
Khawatir banget deh ni usus kenapa-napa… 😦

Btw, talking bout pelatihan, gak ada yang special tuh kayaknya.
So far berjalan lancar dan ditutup dengan manis juga.
Biasalah, si Fa menutup training dengan menceritakan kisah temannya yang berjuang mati-matian untuk sekolah karena keterbatasan biaya.
Dulunya dia berasal dari keluarga termiskin nomor 2 sekampungnya di pelosok Kalimantan sana. Tapi sekarang dia udah kul S2 dan memiliki beberapa perusahaan.

Selalu, ketika Fa selesai membawakan cerita ini, ruangan hening tak bersuara.
Mungkin mereka bercermin, kondisi mereka saat ini tidaklah semenderita rekan si Fa. Tapi rekan Fa yang lebih susah itu justru lebih keras berjuang dan dia berhasil.
Episode berjalan 20 kilo ke sekolah, masuk IPB tanpa dibekali uang, jualan koran sambil menahan malu terhadap teman-teman kulnya, yg dramatis2 gitulah…

Dan aku selalu saja tergetar ketika mendengar kisah ini.
Ya…semoga aja bisa menggedor jiwa-jiwa mereka untuk terus mengusahakan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Satu hal menyedihkan di saat-saat terakhir ini adalah aku gak sempat main-main ke pantai lagi. Jadilah sepanjang perjalanan dari Teluk Dalam ke Gunung Sitoli, aku cuma bisa memandangi lautan biru yang bikin iri. Hiks, padahal aku belum puas dan masih pengen banget mengunjungi laut… :((

Hal lain yang sangat menyenangkan selama perjalanan berkeliling pulau Nias ini adalah saat-saat dimana aku melambaikan tangan dari balik jendela mobil kepada anak-anak yang kami lewati.

Pasti deh, tak terlewat untuk kulakukan.

“Dadaaaaghh…” sapaku sambil tersenyum ramah.
Dan mereka membalas dengan lambaian tangan pula, tersenyum amat lebar sambil juga berkata,
“Daaaaghh….”
Ahh…seneng banget liat anak-anak itu tertawa!!! ^_^

See… betapa ramahnya mereka.
Gimana aku gak akan kangen kalau gini caranya coba…
Hiks…

23 Juli 2007, Gunung Sitoli.

Kami pamitan sama kru2 SC. Ketemu juga sama Jess, salah satu pimpinan SC wilayah Indonesia. Bahasa Inggris orang Filipina ini lucu juga. Maksudku, dialek dan cengkok filipine-nya kerasa banget dalam spellingnya. Hehe… tapi biar gitu masih bagusan englishnya dia dibanding aku… huhu….

Next…

Pesawat delay karena cuaca buruk.
Jess bilang, dia pernah pergi ke Medan dari Nias suatu hari. Dari ketinggian, pulau Sumatra itu udah keliatan. Tapi pesawatnya musti kembali lagi ke Nias karena cuaca buruk tidak memungkinkan pendaratan.

Kami yang mendengarnya cuma bisa saling berpandangan.
Sebegitunya-kah?
Weleh-welehhh….

Akhirnya kami pulang sabtu pagi dari Nias.

Begitu meninggalkan bandara, aku sempat berdoa.
“Ya Allah… jagalah Nias ini…
Terimalah amal-amal kami selama memberikan pelatihan disini, dan jadikanlah ia sebagai amal jariyah yang tiada putus-putusnya.
Jadikanlah peserta training kemarin orang-orang yang lebih baik dari sebelumnya, dan berikanlah mereka kekuatan dalam melaksanakan tugasnya…”

Pesawat meninggalkan landasan dan keharuan di dadaku memuncak.
Aku pasti akan merindukan Nias…
Pasti.
Laut birunya…
Udara bersihnya…
Keramahan penduduknya…
Guru-guru penuh dedikasi yang mengajar dengan tulus…
Huhuuu…. ngenesnya terasa di dalam hati 😥

Eh, aku sempat ngeliat Om Adiwarman Karim satu pesawat sama aku ternyata.
Pakar ekonomi syariah itu… kursinya cuma beberapa langkah dari tempat dudukku.
Kalau aku sebelahan, mungkin bisa diskusi panjang lebar kali ya.
Bukan apa-apa. Waktu jaman SMA dulu, aku interes banget sama ekonomi syariah. Dan salah satu pakar yang aku dan temanku fans-kan, selain Syafii Antonio, adalah Adiwarman Karim ini. Tapi perahuku tak berlabuh di ekonomi syariah akhirnya. Malah tertambat di psikologi.
Tapi tak apa. Emang bukan rejekiku aja mungkin…


Sabtu malam, 21 Juli 2007.
Jakarta, here we come!

Alhamdulillah…. sampai juga di Jakarta.
Dijemput mamah dan kakakku.
Capek juga, soalnya oleh2ku 1 tas kebawa di pesawat berikutnya. Jadi nungguin deh selama 1 jam di bandara.

Well…
That’s all my story about journey to Nias.
Just wanna share aja.
Mudah-mudahan ada yang bisa diambil. Kalau gak yaa..gapapa juga ^_^

Ok, sampai ketemu di cerita jalan2 berikutnya.
Buat seluruh doa dan supportnya selama ini, te-ri-ma ka-sih yaa 🙂

Tanya Bocah tentang Merdeka

Seorang anak 6 tahun mengambil bendera kecil dan bertanya

“Merdeka itu apa sih, Tante?”
Sayup-sayup celotehnya terdengar di antara deru knalpot yang menerbangkan timbal

Lancar terhirup paru yang kian meradang

“Merdeka itu… kita bebas dari penjajah, sayang…”

Sementara nyaris di setiap sudut jalan

Anak-anak muda bergaya kebarat-baratan
Menjadikan MTV sebagai gaya hidup dan kebudayaan

Sang anak tak puas dan kembali bertanya
“Kalau menurut Om, merdeka itu apa?”
Lelaki bertubuh tambun itu menghisap dalam-dalam cerutunya
Menandatangani dokumen dengan anggaran tak wajar yang jauh dari kenyataan
“Hmm…merdeka… yaa…seperti Om ini sekarang…”
Coretan ditoreh dengan ballpoint mahal di atas proposal
Sah. Dengan jumlah biaya dilogis-logiskan

Berjalan, sang anak menemui seorang kakek pemungut sampah di depan rumahnya
Bertanya ia, lagi-lagi dengan pertanyaan yang sama
“Merdeka itu apa, Kek?”
Gurat-gurat keletihan tergambar jelas di wajah keriput si Bapak Tua
Sorot matanya sendu dan memerah
Selusuh kemeja lengan pendeknya yang tak lagi berwarna
“Wis ra usah takon susah-susah…sing penting kamu iso mangan, yo iku merdeka…”
Sigap tangan si Bapak Tua mengais kotoran rumah tangga
Lalu menyeka keringatnya yang mulai membasah
Dalam diam, sang bocah berkerenyit mengolah realita

Hingga malam, dalam rumah sunyi orangtua yang sibuk bekerja
Seiring pub dan diskotik ibukota yang hingar-bingar merajalela
Anak 6 tahun itu masih saja bertanya pada diary-nya
“Apa itu merdeka, Papa?
Apakah merdeka seperti yang Om Gembul katakan?
Jika ya, berarti temanku yang tinggal di kolong jembatan belum merdeka ya?
Atau…
benarkah seperti yang Kakek Tua pengais sampah bilang?
Kalau iya, berarti orang-orang yang tidak bisa makan belum merdeka…
Atau betulkah seperti yang…
Tante jelaskan
Bahwa merdeka berarti penjajah hilang?
Tapi mengapa, kakak-kakak di mall lebih senang meniru Tante Avril Lavigne
Atau mengikuti perkembangan hidup Om-om Good Charlotte
Jangan-jangan mereka tak tahu siapa itu Om Jenderal Sudirman
Atau Nenek Cut Nyak Dien yang rela menebus nyawa
Membela negeri kita?”

Diary penuh dengan kata ‘merdeka’ dengan serta-merta
Sementara sang bocah bermimpi terbang ke angkasa
Menelan tanya “Apa itu merdeka”
yang belum jua menemukan jawabnya.

Tues,140807,11:29am
~merdekakahIndonesiaku???

gambar dari trowulan.com/