Maltreatment


bismillah…

seseorang menjadikan saya bulan-bulanan dalam “eksperimennya”.
dan hasil eksperimen itu menyatakan bahwa saya begini, begini dan begitu.

analisa seorang dokter seharusnya menunjukkan bagaimana kondisi sang pasien, lalu memberikannya obat yang tepat untuk penyakitnya.
sayang sekali, profesor yang satu ini menganalisa saya melalui teknik yang kurang tepat, dan sama sekali tidak memberikan obat setelah penyakit saya justru malah terkuak akibat experimennya yang salah teknik tadi.

saya jadi ingat suatu kisah.
dalam suatu kuliah, dosen saya bercerita bahwa mereka pernah berangkat dalam satu tim untuk mendampingi korban2 trauma perang di Ambon pada awal tahun 2000 dulu.
unfortunately, ada korban salah penanganan yang membuat kondisinya tidak membaik, tetapi malah semakin buruk.
kabarnya, si tenaga konselor ini salah menerapkan teknik terapi yang mengakibatkan trauma sang klien bukannya hilang, tapi malah semakin mencuat dan membuat dirinya depresi berat!
beruntung kalau itu orang bunuh diri sekalian.
kenapa?
karena tenggelam dalam depresi dan stres akut hanya akan membuat dia tersakiti seumur hidupnya! dan itu jauh lebih menderita…

saya rasa saya sedang mengalami al yang agak mirip sekarang.
ada suatu hal yang saya rasa mengganjal dalam diri saya, ketika bersinggungan dengan isu tertentu, katakanlah pernikahan.
saya tahu, bahwa saya memiliki kekurangan dalam diri yang… itu saja sudah membuat saya berpikir panjang untuk menapaki masa depan.
saya tenggelam dalam insecurity, dan mungkin inferiority complex, sejak lama.

berhari-hari saya enyahkan perasaan ini.
berwaktu-waktu saya obati diri saya.
bertahun-tahun saya mencoba menjadi tegar seperti yang orang lain mungkin bayangkan.

tapi kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam sini.
perhatikan kalimat barusan: kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam.

seorang dokter bisa saja membedah organ tubuh untuk kemudian mengobati bagian yang rusak. tetapi bagaimana dengan jiwa? bagaimana dengan hati dan rasa?

ya.
seseorang mencoba mentreatment saya kali ini.
tetapi sayang, beliau salah cara.
maka yang terjadi adalah terkuaknya sebagian pribadi mendasar saya, sebagian kelemahan saya, sisi negatif saya, dan sesuatu yang semakin mengukuhkan kesadaran saya bahwa: “Ya, Indra Fathiana, interaksi kita dan analisa saya membuktikan bahwa KAMU MEMANG BURUK, BURUK SEKALI dalam hal itu!”

dan kalian akan segera tahu bahwa saya terhempas di jurang keterpurukkan.
inferiority complex saya tersulut, situasi under depression saya terpancing, dan saya terjebak (lagi) dalam pikiran-perasaan-sikap negatif terhadap diri saya sendiri! kabar baiknya, saya belum tahu bagaimana menangani hal ini sejak lama…
Luar biasa.

Selamat, tuan profesor.
Ada lagi yang bisa saya bantu untuk Anda?

-percayaAtauEnggak,kynyaCumaAnakPsikoYgBisaDiajak”Ngertiin”Ini…

gbr dari sini dan sini

Advertisements

5 thoughts on “Maltreatment

  1. aha…pantesan aku yang jadi sansak hidup si eneng, ini mah namanya “kelinci percobaan yg salah” nyari sasaran eksperimen pula.duh malangnya nasibku…^_^’wes..moga secepatnya masa “storming” ini segera berlalu, fii amanillah ukhti….wassalmu’alaikum….-cah gemblunk-

  2. dear fathy..,suatu treatment yang berhasil belum tentu hasilnya sesuai dengan keinginan kita kan..? tapi memang kaidah tidak mengganggu pemfungsian psikis memang harus dipegang, prinsipnya secara mental sehat.. kalau tidak mau dibilang malpraktek.walaupun fathy menulis panjang tapi menurut saya belum dapat bercerita banyak. siapa tau itu bukan inferiority complex? siapa tau hanya quarterlife of crisis? tapi apapun itu, mdh2an segera terlalui ya..– anak psiko juga (angkatan tua euy!)

  3. -percayaAtauEnggak,kynyaCumaAnakPsikoYgBisaDiajak”Ngertiin”Ini…Lapor! SAYA PERCAYA!!berhubung saya bukan anak psikologi, dan ga ngerti =pbisa dalam bahasa indonesia? =D

  4. to cah gemblunk: maap ya, cah 🙂 makasih dah jadi sansak ^_^to mba dini: thx 4 make me feel like a ‘real human being’ 🙂 inferiority complex mungkin terlalu extrem ya…tp mgkn nyerempet2 dikit.aku tau kalo ‘obat’ itu jarang yg manis. tapi most of kekeliruan terletak pada cara, teknik, dan sejenisnya. parahnya lagi,udah tekniknya salah,gak dibalikin ke kondisi normal pulak..ckckck..eniwei, thx a lot mba. bener kan, anak psiko ngerti lah pokonya.. 🙂to awan diga: waktu sd,bhs indonesianya dapet berapa,k? kqkqkq… 😛

  5. first of all, saya bukan anak psikologi. Tapi saya tertarik pada ilmu tersebut.so, if u don’t mind, i wanna share my opinion about that issue!pada dasarnya, masing-masing orang punya bakat alamiah. Dia bisa menonjol di bidang bahasa, great in Math, berjiwa seni tinggi and so on.Jadi, klo kita dianggap ‘kurang’ di dalam satu bidang, who has the right to say that we are inferior? it just means that we have other talent in another area! who knows?btw, read my posting about < HREF="http://vina-pages.blogspot.com/2007/06/bermain-adalah-pekerjaan-utama-anak.html" REL="nofollow">Multiple Intelligence<>, Fath! …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s