Luntur?!?!

bismillah…

Jumat, 16 Juni 2007, 23.05 wib.

“Indra, sejak bla…bla…bla… saya punya pemahaman utk gpp bersalaman tangan dgn ce.. Jadi jangan kaget ya 🙂 tp sy ttp hargain bgt yg ga salaman.. sy emang berubah dlm bbrp hal fiqh”
(Sms dari sahabat seniorku)

***

Bicara tentang perubahan, katanya memang tidak selamanya menyenangkan. Bahkan, perubahan sering dikatakan sebagai perpindahan dari kondisi nyaman kepada kondisi tidak nyaman.

Aku tidak tahu apakah perubahan yang dialami sahabatku itu termasuk dalam kategori “pindah dari menyenangkan menjadi tidak menyenangkan”. Sebab pada kenyataannya, dia mengaku merasa lebih nyaman sekarang dengan perubahan yang ada.

Sms itu datang setelah kami bertemu dalam 1 forum. Tiba-tiba saja dia berkata seperti itu dalam sms-nya, seperti hendak menjelaskan bagaimana kondisi dirinya sekarang. Padahal aku juga tidak cukup tahu bagaimana dirinya dahulu, karena kami beda kampus dan beda usia 2 tahun. Dulunya kami memang 1 sekolah di tingkat SMA, tapi itupun tidak saling kenal, hanya sebatas “aku tahu dia kakak kelasku”. Jadi sebenarnya baru 3 tahun terakhir ini aku berinteraksi dengan beliau. Selama itu, aku hanya sekedar tahu bahwa dia tumbuh sebagai muslim yang banyak melakukan kajian intens terhadap agamanya. Dan dalam lingkungan kajian itu, kurasa kami sama-sama tahu tentang hal berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram.

Dalam forum itu, ketika baru bertemu rekan berlainan jenis, seperti biasa, kuusahakan untuk hanya mengatupkan tangan sebagai isyarat bersalaman (baca: tidak berjabatan tangan). Bukan jijik atau apa ya. Tapi ini adalah bagian dari menjaga dan menghormati diri sendiri dan orang lain. Bahasan lebih mendalam tentang ini bisa dicek disini.

Awalnya agak canggung, memang. Selalu ada pikiran-pikiran, “nanti terlihat aneh tidak ya? nanti dianggap terlalu ekstrimkah?” dst, dst.
Wajar, kupikir. Sebab aku sekarang lebih banyak berada dalam situasi dan kondisi heterogen dimana tidak semua orang memahami apa yang aku pahami.
Tapi meskipun begitu kesini-sini aku semakin terbiasa melakukannya.
Entah ‘masa bodoh’-ku kumat sehingga gak mau mikirin reaksi orang lain, atau nekat, atau aku semakin merasa independent untuk melakukan apa yang aku inginkan, atau entah apa…

Syukurnya, sejauh ini, untuk perilaku berjabat tangan, lawan jabat tanganku yang lain jenis dapat mengerti. Termasuk yang bertemu di forum malam itu. (Bukan mengerti dalam arti tahu alasan di balik kenapa aku gak mau jabat tangan, tapi memahami perbedaan).
Dan sahabat laki-lakiku itu, sebenarnya tidak terlalu kuperhatikan bagaimana sikapnya ketika bersalaman dengan lawan jenis. Tetapi mungkin dia hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya dia faham untuk masalah tidak berjabat tangan dengan perempuan non-mahram, tapi dia mengalami perubahan yang mungkin akan membuatku mempertanyakannya (padahal enggak juga…GR aja dia 🙂


Well, aku membalas sms itu dengan ini:
“everyone has his/her own choice. And every choice has its consequences. Bla..bla..bla..
Kalau merasa yakin dengan perubahan fiqh, silakan… Aku fine-fine aja :)”

Dan dia mengucapkan terima kasih atas sikap pengertianku.

Aku bukannya tidak mau mengingatkan dia.
Dia cerdas. Teramat cerdas.
Itu sebabnya aku yakin dia terlalu pintar untuk diajarkan tentang bagaimana interaksi lelaki-perempuan nonmahram dalam Islam, termasuk hal kecil macam jabat tangan itu.
Apalagi aku tahu bahwa dia cukup punya kepribadian yang kuat. It means, aku bisa memastikan dia tidak sekedar ‘terbawa arus’ ketika melakukan sesuatu, tapi pasti ada alasan di baliknya. Bukan sekedar tidak enak dengan pandangan orang, tapi ada yang lebih esensial daripada itu.
Dan tentu, aku (harus) menghormati pilihannya.

Sebenarnya bukan itu sih yang mau aku omongin di postingan kali ini…
(jadi sepanjang ini baru pembukaan doank?!?!)
Hehe… ya gak juga.
Aku cuma sedang mencermati perubahan-perubahan yang terjadi di sekelilingku aja.

Banyak orang bilang, dunia nyata mampu melunturkan banyak hal yang menjadi idealisme selama di kampus. Mulai dari pemikiran, perilaku, apapun itu.
Dan aku merasakan itu. Mungkin juga teman-temanku yang lain.

Katanya, ada muslimah yang pas kuliah nutup rapat tubuhnya pake jilbab, lalu pas masuk dunia kerja sampai lepas…
Gak sedikit juga yang tadinya jilbabnya lebar, lalu pas kerja menyusut…
Yang tadinya kukuh menjaga sentuhan, mulai toleran jabat tangan dengan nonmahram…
Yang tadinya kritis, jadi melempem begitu berhadapan dengan unchangeable system…
Yang dulunya begini, sekarang begitu…

Aku gak tau musti bilang apa dengan gejala ini.
Dari dulu aku berusaha ngejewer diri sendiri kalo udah mulai berani menilai keseluruhan orang hanya karena secuplik sikap, perilaku atau hal-hal printil.
Maksudku, tidak semestinya yang secuil-secuil itu menjadi alasan untuk menilai secara general, bukan?
Aku gak tau apakah sikapku benar atau tidak dalam menyikapi ini.
Aku juga gak tahu apakah (jangan-jangan) aku juga sudah meluntur ketika berhadapan dengan dunia nyata yang gak seideal konsep2 yang kupahami ketika masih jadi mahasiswa dulu. Apakah aku sekarang menjadi lebih toleran terhadap hal-hal yang tidak ideal? Atau dengan kata lain, aku juga mengalami ‘kelunturan’?
Atau apakah aku justru mengalami perubahan paradigma, terutama tentang bersikap open mind?

Seseorang bilang, aku berubah agaknya. Gak sekaku dulu.
Kutanya balik, is it better or worst???
Better, jawab dia.
Aku merasakan hal yang sama.
Walau tidak tahu apakah aku better or worst than before, aku lebih enjoy dengan diriku sekarang.
Aku lebih menikmati penerimaanku terhadap perbedaan.
Aku lebih toleran terhadap hal-hal yang tidak seragam.
Dan aku bersyukur, bisa belajar tuk tidak lagi berkacamata kuda.

Parahnya, (ini parah gak sih?!?!), aku jadi tidak mudah mengkritisi sesuatu sekarang.
Jadi lebih banyak empati. Lebih banyak melihat dari berbagai segi.
Contoh simple, aku pernah merasa sangat berempati sama Pak SBY.
Ketika banyak orang bilang SBY cuma tebar pesona dan gak memunculkan perbaikan signifikan, aku memikirkan hal “gak penting!!!” lainnya…
Aku gak berani bilang seperti orang-orang karena aku pikir dia pasti juga capek akibat jadwal tidur yang berkurang, permasalahan bangsa yang gak selesai-selesai, musibah yang gak berhenti-berhenti datang, dan… percaya atau enggak, aku bener-bener kasihan melihat kantong matanya yang kian menebal dengan wajah yang penuh beban.
Dari situ aku melihat hal lain yang justru bikin aku mengaguminya : di tengah hujatan, beliau tetap bisa tenang dan tidak mengeluarkan kalimat negative sebagai ekspresi kekesalan.
Kalau aku jadi dia, mungkin aku akan misuh-misuh dan berpikir, “lo tukang kritik tau apa sih, yang jalanin gue, mending lo bantuin gue kasih solusi atau perbuatan konkrit daripada ngritik doang…”
Nah, kan…

Akhir-akhir ini aku hanya sedang banyak berpikir aja.
Dulu, ketika mahasiswa, bisa aja teriak-teriak dan nyalah-nyalahin si oknum pejabat yang begini, si anggota dpr yang begitu, nuntut harusnya ini, harusnya itu, dst.
Bukan berarti aku gak peka dan sekarang jadi toleran sama korupsi, misalnya. Yang jelas-jelas zholim ya aku masih frontal-lah…
Tapi aku sekarang merasa bahwa ketika aku mau ngritik orang, aku jadi mikir-mikir dulu : aku bisa ngritik tapi aku belum tentu bisa berbuat lebih baik ketika aku ada di posisi dia.
Aku bisa nyela macem-macem, tapi benarkah aku bisa menjalankan peran orang yang kucela? Aku bisa bilang, yang benar itu bla..bla..bla… tapi, yakin gak sih, aku sudah pasti bisa menjalankan bla..bla..bla..ketika aku jadi dia?

Ngerti kan ya?

Aku gak tau apakah ini disebut gejala meluntur atau bukan.
Yang jelas sekarang pengennya ati-ati aja kalau mau bicara macam-macam, khawatir jatuh jadi hakim yang bisa bikin penilaian a, b, c, padahal diri sendiri aja belum sepenuhnya benar. Kalo balik lagi ke kasus temenku diatas soal bersalaman, aku gak berani melarang macam-macam karena aku sebenarnya kadang-kadang juga masih sulit tuk tidak menjabat tangan lawan jenis nonmahram (selain alasan aku menghormati pilihannya). Persentuhan kadang sulit dihindari kalau orang lain udah nyosor duluan, kan? Apalagi kalo berhadapan dengan orang tua (yang bener-bener sepuh, misalnya).

Itu baru soal salaman.
Apalagi kalau ngomongin jilbab menyusut, keberbauran terhadap berbagai tipikal orang, dst, dst. Duh, duh, duh… gak berani bilang apa-apa deh, apalagi sampai menilai macam-macam.
Buru-buru menjewer diri sendiri deh kalo terlintas sekelebat perasaan ‘bertanya-tanya’ :
“Hey indra, keimanan gak sekedar diliat dari jilbab doank!” dan semacamnya.

Dan satu hal lagi, (semoga ini bukan pembenaran…),
Kurasa aku tidak lagi bisa bertahan dengan sikap terlalu kaku ketika saat ini duniaku begitu berbeda dengan masa-masa kampus dulu. Tentu, dunia kerja jauh lebih heterogen dibanding ketika kuliah ketemunya 4L terus (Lu Lagi-Lu Lagi, – red). Dahulu, hidup dalam zona nyaman, setiap saat menerima nasihat, pengingatan, dikit-dikit melihat dan mendengar bacaan tilawah beberapa rekan di berbagai sudut, merasa begitu dihormati sebagai wanita dan muslimah karena mereka mengerti apa yang seharusnya layak dan tidak layak dilakukan terhadap kami…dst.
Satu-satunya tantangan signifikan paling ‘hanya’ perbedaan pendapat atau kepentingan dengan rekan lain. Lobi sana-sini atau diskusi, beres tuh urusan…


tetapi sekarang, aku tidak bisa memilih dengan siapa aku harus berinteraksi sehari-harinya. Pejabat-petinggi perusahaan X, karyawan akunting kantor yang tidak bisa menjaga jarak fisik (ya ampun! Kagak liat jilbab gua apa… *keluh*), ngisi training berdua sama rekan lain jenis (SDM di tempat kerjaku asli cuma 5 orang trainer! Kudu ganti2an dan pastinya akan terpasang sama dia juga…lagian cowok yang asyik cuma 1 diantara 2, yaitu dia… *lho?!?!?!*), ber-ramah-ramah dengan para klien dan kolega, kerjasama dengan beratus orang dari lembaga ini, itu, menerangkan bla-bla-bla pada bapak-ibu paruh baya seperti waktu ngisi diklat waktu itu, ketemu sama rekan bisnis yang punya background macam-macam, mulai dari tukang ojek, manajer, karyawan, mantan tukang nongkrong, penjudi (aku baru tau kemarin2 kalo pria bertampang polos dan kalem itu ternyata hobi berjudi! Oh my God >_<…), dan banyak hal lain yang mau gak mau, suka gak suka harus aku jalani.

Kadang merasa begitu beruntung ketika dalam forum besar dimana aku bertemu banyak tipe orang (mostly nonmoslem), aku masih bisa menunjukkan identitas sebagai muslimah. Pokoknya kalau sama cewek berjilbab kayak aku, mereka hanya mengatupkan tangan kalau ingin bersalaman. Bangga sekali bisa membuat mereka memahami kami dengan segala symbol yang melekat, disamping aku acungi jempol untuk sikap positif dan toleransi mereka yang sangat tinggi. Terkadang memang kita dihantui persepsi-persepsi tentang kemungkinan reaksi negative orang lain terhadap apa yang kita lakukan. Tapi yang lebih sering terjadi adalah segala macam pikiran negative itu benar-benar hanya kekhawatiran dan ketakutan semata. Jadi, …??LL>?

Aku bahkan menyinggung sahabatku di atas dengan kalimat,
“Mempertahankan sesuatu yang kita yakini gak selamanya mengundang hal negatif. Justru mereka akan lebih menghargai orang yang punya prinsip, dan aku sudah buktikan itu…”
Kalaupun muncul hal negatif, tidakkah kita memiliki independensi untuk tidak melulu bergantung pada pandangan orang lain?


Yah… Well…
Kuharap ini bukan suatu ‘kelunturan’ atau sesuatu yang negatif.
Selama kita masih pegang rambu-rambunya, tahu mana hal terbaik, dan berani memperjuangkan/melakukan apa yang kita yakini, selama itu pula aku merasa tak perlu terbebani dengan keharusan-keharusan menjadi sosok yang bukan diriku sesungguhnya…

~pastiAbisIniBanyakYangCommentsDeh^_^
SokDibukaForumDiskusinya…

gbr dari :
http://www.hermann-de/photoblog/autumn-leave
http://moms-er.com/2006/11/
http://images.mooseyscountrygarden.com/weather-seasons/autumn-leaves/
http://www.horizoncardsandprints.com/gallery4.htm
http://www.ksphotography.com.au/autumn_leaves.htm
http://digital-photography-school.com/blog/photographing-autumn-leaves-diy-studio/
http://www.danheller.com/images/California/Humboldt/Redwoods/Slideshow/img20.html

Ke Laut Aje…

kangen banget sama lauuuuttt…

duduk tenang bersila…
pejamkan mata…
tarik nafas panjang…
listen to murottal or music (pilihan: QS. Ar Rahman, Sozo – Kitaro, Spirit Carries On – Dream Theatre, Hero – Mariah Carey, Reach – Gloria Estefan, When U Believe – Mariah Carey & Whitney Houston, dst)…
dan berpikir tentang jiwa, hati, pikiran, mimpi, rencana…

huhuhuuuu…
aku mau laut…!!! 😥
ada yang mau ikut?

~pokonyaCepatAtauLambat,harusKesana!

gbr dr sini,sini,sini.

Ujian

bismillah…

ada yang diuji dengan melimpahnya rizqi…
ada yang diuji dengan keterjebakan pada kagum diri
ada yang diuji dengan kebanggaan akan amal
ada juga yang diuji dengan banyaknya pujian
atau pula fans yang tiba-tiba bermunculan
pun, ketidakikhlasan dalam segala perbuatan.

selalu, ujian kenikmatan jauh lebih mematikan dibanding segala penderitaan, atau rasa sakit, ketakutan, kehilangan, dan berbagai hal yang memurukkan.

jika pada setiap jatuh kita senantiasa “menggapai-gapai”,
sudahkah ketika melambung, kita juga mewaspadai potensi “mengabai”?

ya Allah…
pada-Mu kami berlindung dari segala keburukan,
serta apapun yang membuat Diri-Mu dan kami semakin berjarak lebar…

~untukJiwa2yangTengahMendapatUjian,smogaTerusKuat&Diselamatkan.

gbr dr sini

Maltreatment


bismillah…

seseorang menjadikan saya bulan-bulanan dalam “eksperimennya”.
dan hasil eksperimen itu menyatakan bahwa saya begini, begini dan begitu.

analisa seorang dokter seharusnya menunjukkan bagaimana kondisi sang pasien, lalu memberikannya obat yang tepat untuk penyakitnya.
sayang sekali, profesor yang satu ini menganalisa saya melalui teknik yang kurang tepat, dan sama sekali tidak memberikan obat setelah penyakit saya justru malah terkuak akibat experimennya yang salah teknik tadi.

saya jadi ingat suatu kisah.
dalam suatu kuliah, dosen saya bercerita bahwa mereka pernah berangkat dalam satu tim untuk mendampingi korban2 trauma perang di Ambon pada awal tahun 2000 dulu.
unfortunately, ada korban salah penanganan yang membuat kondisinya tidak membaik, tetapi malah semakin buruk.
kabarnya, si tenaga konselor ini salah menerapkan teknik terapi yang mengakibatkan trauma sang klien bukannya hilang, tapi malah semakin mencuat dan membuat dirinya depresi berat!
beruntung kalau itu orang bunuh diri sekalian.
kenapa?
karena tenggelam dalam depresi dan stres akut hanya akan membuat dia tersakiti seumur hidupnya! dan itu jauh lebih menderita…

saya rasa saya sedang mengalami al yang agak mirip sekarang.
ada suatu hal yang saya rasa mengganjal dalam diri saya, ketika bersinggungan dengan isu tertentu, katakanlah pernikahan.
saya tahu, bahwa saya memiliki kekurangan dalam diri yang… itu saja sudah membuat saya berpikir panjang untuk menapaki masa depan.
saya tenggelam dalam insecurity, dan mungkin inferiority complex, sejak lama.

berhari-hari saya enyahkan perasaan ini.
berwaktu-waktu saya obati diri saya.
bertahun-tahun saya mencoba menjadi tegar seperti yang orang lain mungkin bayangkan.

tapi kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam sini.
perhatikan kalimat barusan: kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam.

seorang dokter bisa saja membedah organ tubuh untuk kemudian mengobati bagian yang rusak. tetapi bagaimana dengan jiwa? bagaimana dengan hati dan rasa?

ya.
seseorang mencoba mentreatment saya kali ini.
tetapi sayang, beliau salah cara.
maka yang terjadi adalah terkuaknya sebagian pribadi mendasar saya, sebagian kelemahan saya, sisi negatif saya, dan sesuatu yang semakin mengukuhkan kesadaran saya bahwa: “Ya, Indra Fathiana, interaksi kita dan analisa saya membuktikan bahwa KAMU MEMANG BURUK, BURUK SEKALI dalam hal itu!”

dan kalian akan segera tahu bahwa saya terhempas di jurang keterpurukkan.
inferiority complex saya tersulut, situasi under depression saya terpancing, dan saya terjebak (lagi) dalam pikiran-perasaan-sikap negatif terhadap diri saya sendiri! kabar baiknya, saya belum tahu bagaimana menangani hal ini sejak lama…
Luar biasa.

Selamat, tuan profesor.
Ada lagi yang bisa saya bantu untuk Anda?

-percayaAtauEnggak,kynyaCumaAnakPsikoYgBisaDiajak”Ngertiin”Ini…

gbr dari sini dan sini

Nothing to Loose

Bismillah…

Baru2 aja denger berita gembira.
Seseorang akan menikah, euy.
Yang jadi bahasan menariknya adalah karena dia adalah orang yang ‘nyaris’ menginginkan aku menjadi bagian dari hidupnya.
Wuaa….
Are you sure, girl?!?!?!?
Huehehehe…
GR amat gua… 😀

Gak tau siih…
Tapi sepertinya begitu.
Tapi sumpah aku gak ngorek-ngorek info apapun!
Tiba-tiba suatu hari di tengah rusuhnya masa skripsi-sidang-revisi, uma bilang bahwa seseorang datang padanya untuk mencoba mengenali aku lebih dalam.
Dan pemberitahuan via sms itu kutanggapi dengan panik :
“AAAAAAHHH…MBAAA! NOT NOW, PLEASE!!!!”

Yang bener ajalah…
Sidang skripsi tinggal hitungan hari waktu itu. Mikirin 1 hal ini aja udah bikin hidupku gak jelas juntrungannya. Eh, nambah isu yang satu itu pulak…

Berhubung di tengah suasana seperti itu aku tidak mau memikirkan hal-hal lain diluar skripsi, permohonan kuabaikan. Pokoknya pending sampai tanggal sekian. Kalo gak mau ya udah.

Sayang, pihak ‘mereka’ tidak cukup bersabar menunggu waktu yang aku inginkan.
Masya allah deh…
Udah ribet sama proses pengerjaan skripsi yang tidak mulus, revisi dikejar deadline juga, pihak pembuat perkara ini (uma dan ‘mereka’) malah mendesak supaya aku menerima data-data awal sebagai bekal panduan sebelum memulai perkenalan.
Ampuuuunnn… >_<
Jadilah malam itu aku bersitegang dengan uma di telepon, antara bergetar menahan kegemasan, lelah karena merasa tidak sedikitpun dimengerti, bergumpal-gumpal prasangka, dan tentu saja, ego yang memuncak dengan serta-merta.
“Yang butuh siapa? Yang akan menjalani siapa? Kenapa dipaksa? Kenapa harus terburu-buru? Kenapa pertimbanganku gak diberitahukan ke ‘mereka’? Masa gak ngerti ngerjain skripsi itu gimana? Kenapa begini, kenapa begitu?”
“Ya kita gak bisa terus-menerus meminta orang lain mengerti keadaan kita, tanpa kita juga mau mengerti mereka. Ikhwan itu kebanyakan gak mau bertele-tele, sementara aku paham bahwa mungkin akhwat lebih banyak pertimbangan. Tapi cobalah untuk melihat dari sisi mereka…”
“Tapi kan bla..bla…bla….bla….”
“aku bingung ya, Nda. Selama aku memfasilitasi sekian orang, kayaknya sama kamu yang paling susah…”
“ya emang belum saatnya aku begini kali…mungkin aku bukan orang yang tepat buat dia.”

Fuh. Campur aduk rasanya waktu itu.
Benakku cuma menyimpan pertanyaan: why, why, why.
Mana malam itu aku baru aja ngerusakin laptop orang. Gimana mau berpikir jernih 😦

Agak menyesal sebenarnya, sampai bernada tinggi kepada beliau ketika itu.
Habis bagaimana lagi… gak suka aja menghadapi situasi demikian. Tau sendiri berurusan sama aku, makin dipaksa makin meronta.
Walau belum tahu siapa ‘mereka’, aku sama sekali tidak respek terhadap apa yang tengah berjalan. Merasa gak dihormati aja karena segala macam konsideranku yang kuharap bisa disampaikan ke ‘mereka’ ternyata tidak disampaikan sama sekali, dengan alasan yang menurutku gak masuk akal. Sekali lagi, siapa yang akan menjalani sebenarnya???

Hening sejenak.
2 hari untuk memutuskan mau atau tidak.
Akhirnya, sebelum kupikir aku melangkah terlalu jauh dengan perasaan sama sekali tak nyaman, kuputuskan menolak bahkan sebelum mengetahui siapa ‘mereka’ sebenarnya.
Ya, karena menolak setelah melihat data akan membuat subyektivitasku makin kuat.
Berhubung sekarang belum tahu apa-apa, mending kubatalkan daripada ambil resiko lebih berat.

Sedikit banyak penasaran juga…
Memang, mengetahui ‘mereka’ kusadari tidak akan memberi keuntungan apapun, selain bikin penyakit hati dan seterusnya.
Tapi entah bagaimana ceritanya, beberapa clues muncul tanpa aku minta.
Begitu mengira-ngira dan menganalisa siapa dibalik ini semua, aku ternganga…
Kalau beneran dia, betapa malunya aku ketika menyadari kemungkinan dia mengamati aku selama ini tanpa aku mengetahuinya!

Tapi itu baru perkiraanlah…
Bisa jadi bukan dia. Bisa jadi orang lain entah siapa.
Dan kalaupun benar dia adalah yang beritanya sudah akan menikah dalam waktu dekat, pada akhirnya aku mengucap hamdalah.
Bersyukuuur…sekali. Ikut bahagia aja.
Merasa rugi juga enggak…
Patah hati atau menyesal apalagi… (kayak gak ada yang lain aja. Hehe…)
Simple ajalah… berarti emang jodohnya bukan sama indra fathiana, dan berarti dia sudah bertemu sang belahan jiwa ^_^

Hmmm… ya sudah.
Barokalloh aja deh, akhina.
Semoga terwujud keluarga samara yang menjadi bagian dari batu bata penjayaan diin kita. Aamiiin…