Pokoknya Terima Kasih…

Bismillah.

Pekan lalu aku “berpetualang” ke “negeri orang”. berhubung ini tidak pernah direncanakan sama sekali, aku merasa beruntung bahwa sahabat-sahabatku dengan siap-sedia menjadi tujuan petualanganku. Dan petualangan ini menjadi “kado terhebat” yang pernah aku dapatkan selama aku melewati Mei di tanggal 14 dalam 24 tahun masa hidupku.

Dalam “petualangan” itu, aku main ke rumah si A dan B. Pertama kali datang ke rumah A, hmm… lumayan. Daripada gak ada tempat tinggal. Kamar ada, toilet ok, akses angkot lancar, dan, ini yang lebih untung lagi, sampai hari kelima belum ada tanda-tanda penolakan.

What lucky i am, kan?

Tapi yah… seenak-enaknya di negeri orang, katanya, selalu lebih nyaman di negeri sendiri. Ya iyalah. Makan tinggal makan, tidur ada kamar, tivi tinggal nyetel, setrikaan, kamar mandi, komputer, motor, mobil, dan berbagai fasilitas lainnya.
Kalau mau dicari-cari apa yang hilang, mungkin salah satu jawabannya adalah penerimaan. Tapi sudahlah, bahasan tentang itu baiknya dihindari aja.
Sekarang aku sedang mencoba bersimpati terhadap teman-teman yang ngekos: nyuci sendiri, makan kudu nyari, duit apalagi.

Baru deh bener-bener ngerasain hidup yang serba “single fighter”. Dulu sih pernah, pas kuliah aku ngekos selama beberapa bulan. Tapi itu masih dapet duit dari orangtua. Kalo kali ini aku bener2 berdiri di atas kaki sendiri.
Tapi kalo dipikir-pikir keren juga. Setidaknya membuktikan bahwa aku bisa hidup dari, untuk, oleh diriku sendiri. Dan bagiku, survive dalam kondisi “berpetualang” seperti kemarin adalah capaian yang cukup membanggakan.

Sebenarnya aku bersyukur sekali ketika bisa tinggal beberapa hari di tempat si A. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku bahwa… sorry to say, the place is cukup berantakan. bukannya gak bersyukur ya dapet penginapan gratis, tapi suasananya gak enak aja dipandang.
Mengingat aku orang yang cukup jengah melihat
ketidakrapihan, jadilah aku agak beberes disana. Tapi karena statusku tengah bertamu, hari-hari pertama terpaksa ga banyak komentar deh. Cuma berusaha bersikap wajar dan menerima apa adanya.

Hari kedua, sama. Tapi mulai keluarin kalimat, “Eh, beresin kamar yuk! Berantakan nih…”, sambil ngebas-ngebas kasur yang bikin badanku gatal malam itu dan lantas melakukan aktivitas sapu-menyapu.
Yang bikin aku terkejut, si pemilik kamar bertanya dengan sangat innocent-nya,
“Emang kayak gini berantakan ya? Kata aku enggak lho…biasa aja.”
Ya ampun! Coba ya aku deskripsikan. Baju menggantung sekian tumpukan dalam gantungan sekenanya (itu gak 1-2 biji lho, tapi 10!), trus baju kotor berbelas-belas menumpuk di keranjang di bawahnya, trus di lantai berserakan berbagai macam barang, seprei kasur berlekuk-lekuk dan terlihat sangat kusam, ranjangnya bikin badan gatal-gatal, debu, sarang laba-laba…
Perasaan kamar gua yang lebih rapi dari ini aja masih dibilang berantakan sama si mamah…
Aih…aih… -_-‘

Hari keempat, demi melihat kamar yang bahkan lebih parah dari kapal pecah kayaknya, aku bergerak. Tentu, dibantu oleh si empunya (harusnya ada juga gua yang bantuin dia ya?!?!)
“Eh, ada seprei lagi gak? Kayanya udah kotor nih. Biar aku sekalian cuciin, mumpung pas mau nyuci…”
Kertas-kertas dan buku yang berserakan dibereskan, plastik-plastik gak guna dibuang,
seprei alas ranjang dilempar ke ember penuh deterjen, dan nyapuin debu-sarang laba-laba-rambut rontok yang setia bertebaran di lantai.
Abis itu nyariin lap buat ngepel.
Wah, gak ada yang kecil ternyata.
Terpaksalah kurobek lap di ruang tamu, lantas mengepel kamar dan ruang tengah yang cukup berdebu itu.

Jadi inget waktu nginep di kost-an seseorang yang –ketika itu (dgn penekanan. Mudah2an skarang mah udah berubah…)- cukup berantakan juga :D.
Disana pun akhirnya berbenah2 juga. Yang parah ini nih, pas tu lantai kamar bisa-bisanya ketumpahan minyak sayur. Hahaha… parah bener dah… =)) (Aku tau kamu baca, bu 😀 piss ya! *hihihii….*)

(Aku gak bilang bahwa aku gak pernah berantakan sama sekali. Pernah! Sering malah… Tapi sense untuk beres2 aku kayanya cukup besar deh…terbukti aku bersedia merapikan kamar orang lain yang kutinggali n_n)

Next,
setelah memasuki hari ke-6 dan aku sudah menangkap indikasi akan dicomplain oleh salah seorang penghuni perumahan disitu, berganti rumahlah aku. Kali ini di rumah seorang teman yang cukup banyak penghuninya, sebut aja si B. Sampe sana, disambut sama celotehan ponakannya yang gembil dan ceriwis. (Ya ampun, tuh anak pengen makan mulu gak kenyang-kenyang! Kayanya ribet juga ya kalo punya anak gendut yang doyan makan… )
Si B sendiri masih masak malam-malam. Begitu aku tanya ngapain ber-ribet-ribet ria di dapur jam 9an malam, dia cuma jawab sambil nyengir lebar, “Ya kan kamu mau kesini. Jarang makan makanan bergizi selama ini kan?”
Dasar…
Tapi surprise juga sih. Soalnya begitu tau aku bakalan nginep di tempat dia, jam 7 malam itu dia bela-belain belanja ke supermarket, beli kangkung dan ayam untuk makan malam, lalu langsung memasakkannya buat aku!
Ah B, cinta banget dah gua sama elu……Mmmuah! ^_^

But anyway…
Apapun kondisi tempat teman yang pernah kuhinggapi saat itu, aku harus banyak-banyak berterima kasih sama mereka.
Hutang budi nih..
Mana dateng ke tempat si A malem-malem buta, diijinin stay begitu lama, pindah lagi ke tempat B dan di-welcome-in banget juga… belom lagi ‘shoulder to cry on’, telinga yang siap mendengar, lisan yang tidak berkomen negatif, becanda-becanda gak jelas, supports, sharing visi dan dreams for the future, fighting spirit yang aku gak dapatkan dari tempat lain… yah, so many things i’ve got lah selama itu.
Speechless deh… soalnya “terima kasih” aja pasti gak akan cukup.
Semoga aja Allah berikan balasan terbaik buat kalian ya A, B, juga buat Dildil dan mas Aka, atas segalanya. Pokoknya terima kasih sudah mau terlibat dalam “petualangan” kemarin 😉
I do believe, ada harga yang memang harus dibayar dalam menjalani ini semua.
Dan kalian, buatku, tak pernah bisa ditukar oleh apapun yang ada.



“kita berbagi untuk sahabat…
kita bernyanyi untuk sahabat…
Kita bisa jika bersama…”

(Untuk Sahabat – Audy & … lupa

~yaAllah,berkahi&kekalkanlahIkatannya…

ini sumbernya gbr 1, ini gbr 2&3, gbr4, dan gbr5

Advertisements

Prasangka

bismillah..

maksud hati mengklarifikasi, apa daya jadi berprasangka macam-macam sebelumnya…
sebal.
bukan sebal sama orangnya.
tapi sama pikiran ini.
kenapa juga bisa mikir macem-macem. padahal udah tau kalo pikiran itu bisa berpengaruh ke sikap, sikap ke perilaku, perilaku ke habit, habit ke karakter, dst, dst.
dan tetap saja kali ini daku gagal mengendalikan pikiran2 negatif!
(no! bukan gagal, tapi belum berhasil!)
ah ya. kira2 spt itulah…
tapi judulnya tetep sama : negative thinking alias suuzhon alias berprasangka buruk.

keccewa gua jaddinya… 😦

aku ga ngertilah kemarin itu…
ada yang cerita ke aku kalo seseorang berperilaku begini dan begitu.
ga tau sih gimana persoalan sebenarnya, tapi aku menangkap indikasi kemungkinan munculnya hubungan yang tidak harmonis di antara mereka.
dan aku tersangkut paut disana, sepertinya.
so, demi mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai (dan mendamaikan perasaanku sendiri yang kacau balau), aku pada akhirnya bertanya.

pertanyaan terjawab.
dan jawaban orang itu membuat aku jadi menyebali diriku sendiri (bahasa apa pula ini, menyebali… -_-‘)
Maksudnya, menjadi kesal thdp diriku sendiri…
spt melakukan hal bodoh yang… aduh, unspokenable-lah…

bukan apa-apa sih…
kalo sudah menyangkut isu “beginian” dimana aku secara tidak sengaja jadi terlibat, aku bisa sangat sedih 😥
jadi pengen menghilang dan ga usah dikenal aja.

ah…
ga tau ah…
ga enak tergencet di tengah-tengah. apalagi jadi korban salah paham.
cuma pengen minta ampun sama Allah dan minta maaf sama orang-orang bersangkutan.
-astaghfirullah al ‘azhiiimmm… maafin saya ya udah berprasangka macam2 😦 –
dan pastinya juga menegaskan satu hal: saya gak ngerti sama kalian. selesaikan sendiri ya?

~gakngertiiiiiiiiiiiiiiii-_-‘

gbr dr sini nih.

Rabu, 9 Mei 07, 23.35 wib

Terjebak dalam ruang sempit nurani dan jiwa, saat ini, begitu melelahkan.
Aku tak jua mampu memahami, mengapa superego selalu membuatku tersudut, sementara jiwa ini menggelepar meminta ruang sedikit saja untuk melepas sesaknya. Sungguh, hanya ingin dianggap sebagai apa adanya ia, tidak lebih!
Tapi selalu, begitu ia mencari tempat dimana harapnya terbangun, hanya 5 huruf yang ia dapat : norma.
Dan seperti biasa, semakin banyak ia mengungkap kata, ribuan “seharusnya” mendorong balik dirinya yang baru saja bersimpuh, membuatnya terbentur dan terus terbentur dengan berbagai macam benteng kukuh yang tertuang dalam sekian banyak kemestian. Aturan mana yang hanya berlaku untuk satu pihak saja, sementara pihak lainnya terus mengintimidasi sambil berlindung di balik justifikasi kalimat-kalimat Pemiliknya?

Aku mundur sejenak malam itu.
Membiarkan semua berpikir, siapa membutuhkan apa. Berkonfrontasi sama dengan membunuh diri sendiri. Jalan terbaik –setidaknya saat ini- adalah menutup mulut rapat-rapat, menyimpan segala perkara dan meleburnya menjadi harap yang menguap.

Bukan hendak melawan. Hanya tak tahu lagi bagaimana jiwa harus bertahan.
Bukan mundur dari medan peperangan. Hanya tak ingin menerjang dan malah terpojok sebagai korban.

Aku pergi tanpa beban.
Berharap label pecundang segera luruh begitu aku keluar.
Diamku sudah cukup rasanya. Dan aku hanya menurut begitu usiran terlontar.
Tetap dalam diam.
Masihkah ada yang kurang?
Cuma berharap segalanya menjadi lebih baik setelah aku hengkang, menjadi damai dan lebih tenang.
Meski gemuruh itu semakin menumpuk, masih jua kutata ia agar tak perlu meledak dikala jenuhnya semakin teraduk-aduk.

Berlari dalam diam, sekarang.
Mengumbarnya dalam kisah mungkin akan membuatnya kembali terbentur pada sekian banyak keharusan.
Dan terpojok dalam kondisi tenggelam sama sekali bukan konsekuensi menyenangkan.
Beruntung, di hampir tengah malam masih ada pintu terbuka.
Dan doa, masih ada yang terlantunkan.
Dan penguatan, masih ada yang mempedulikan.
Sebagaimana penghakiman masih terus berdatangan,
Dan label masih saja disematkan,
Setidaknya aku semakin mengerti siapa sesungguhnya teman.

Aku keluar sekarang.
Berlari menyapa angin, tersapu badai dan nyaris terasing sendirian.
Tapi aku percaya,
Kuatku kan selalu bertahan
Hingga setiap tanya kan mengatup rapat ketika suatu saat,
Pembuktian, pasti,
pasti menjadi kenyataan.

“…i’m gonna be..STRONGER!!!”
(Reach – Gloria Estefan)


-very big thanks to my great community: Fit,Bu Mimi,Ncep & Pak Heri: saya tau kalian selalu ada:)

gbr dari sini

Nulis Karya Ilmiah

Bismillah…


Beberapa waktu lalu, Yumna, sahabatku di kampus dulu, memberi kabar bahwa karya tulis kami (aku dan dia) masuk jurnal API (Asosiasi Psikologi Islam) edisi Desember 2006. Aku bahkan udah hampir lupa kalau pernah menulis sebuah karya tulis psikologi, apalagi yang islami! Kalau bukan barengan sama Yumna, mungkin gak ada sejarahnya seorang Indra Fathiana bikin karya akademis psikologi islami yang diikutsertakan dalam temu ilmiah di Yogyakarta tahun 2005 lalu. Bukan apa-apa, untuk membuat karya tulis biasa pun aku tak mahir. Makanya, pas aku coba-coba ikutan LKTI Korupsi dengan mengusung tema “Korupsi di Indonesia : Analisis Kondisi, Sebab, Akibat dan Solusinya dalam Perspektif Psikologi”, temenku yang anak kriminologi dan terbiasa bikin karya tulis, berkomentar saat membaca makalahku itu. Ujarnya, “Belum pernah bikin karya ilmiah ya sebelum ini?”
Hmmh… dilarang ketawa! *sigh*

Jadi inget peristiwa bikin makalah psikologi islami itu.
Waktu itu Yumna ngasih tau aku bahwa akan ada Temu Ilmiah Psikologi Islam di Jogja. Dan dia ngajak aku untuk ikutan. Naasnya, saking banyaknya yang mau ikutan, kami masuk waiting list, alias belum tentu bisa ikut kecuali ada peserta yang ngundurin diri. Berbekal nekat (waktu pengerjaannya cuma 2 pekan, man…) akhirnya berjibakulah kami membuat makalah itu di tengah-tengah aktivitas kuliah dan organisasi yang cukup padat. Finally, jadi juga makalah berjudul “Pacaran versus Ta’aruf : Telaah Proses Menuju Pernikahan dalam Perspektif Psikologi dan Islam” .

Ok, ini sedikit ulasannya…
Istilah pacaran diartikan sebagai proses dimana seseorang bertemu dengan seseorang lainnya dalam konteks social yang bertujuan untuk menjajaki kemungkinan sesuai atau tidaknya orang tersebut untuk dijadikan pasangan hidup (Benokraitis, dalam Adiningtyas, 2004). Berdasarkan hasil penelitian Sarwono, diperoleh data bahwa pada remaja di Jakarta, aktivitas yang dilakukan saat berpacaran adalah berkunjung ke rumah pacar, berjalan berduaan, berpegangan tangan, mencium pipi, mencium bibir, memegang buah dada dst sampai akhirnya sebagian di antaranya melakukan senggama. Hal ini menunjukkan bahwa pacaran mengarahkan pasangan pada perilaku seks bebas yang membahayakan bagi kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan penyakit kelamin. Selain itu, tidak jarang pada saat pacaran terjadi pelecehan seksual sehingga perempuan sangat dirugikan dalam hal ini.

As a solution, Islam datang memberi jalan alternatif : ta’aruf. Ta’aruf meminimalisir semua hal di atas. Ta’aruf (berkenalan) dalam konteks ini diartikan sebagai berkenalan dengan lawan jenis untuk memilih pasangan hidup, yang dimediasi oleh seorang mediator yang dapat dipercaya. Keberadaan mediator ini sesuai dengan alasan yang dikemukakan Nabi Muhammad saw dalam haditsnya, “Janganlah seorang laki-laki bertemu sendirian (bersepi-sepian) dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya, karena yang ketiganya adalah setan,” (HR. Imam Ahmad dari Amir bin Robi’ah ra.).

Ta’aruf biasanya dimulai dengan saling bertukar biodata dan foto. Jika masing2 individu merasa cocok, bisa berlanjut ke tahap selanjutnya yaitu mengadakan pertemuan yang dihadiri kedua belah pihak disertai mediator masing-masing. Hal-hal yang dibahas dalam pertemuan ini biasanya seputar pandangan hidup, kepribadian, kelebihan, kekurangan, latar belakang keluarga, aktivitas dan seterusnya. Kuantitas pertemuan disesuaikan dengan kebutuhan kedua belah pihak. Jika dari hasil pertemuan ini ditemui kecocokan, bisa dilanjutkan ke tahap pernikahan. Kalau merasa tidak cocok, proses bisa dihentikan sesuai kesepakatan. Dalam praktiknya ta’aruf memiliki banyak variasi, tentu tetap berjalan sesuai aturan Islam. Aktivitas kedua calon pasangan dibatasi, tidak ada kontak fisik ketika bertemu dan jika bertemu harus ditemani orang ketiga.

Ada beberapa penelitian tentang ta’aruf sebagai proses menuju pernikahan.
Penelitian Rubby (2005) yang berjudul “Gambaran Psychologycal Well-Being Mahasiswi yang Menikah tanpa Pacaran” menunjukkan bahwa masing-masing responden mempunyai kesejahteraan psikologis yang baik. Kesejahteraan psikologis (psychological well-being) merupakan pengungkapan perasaan2 pribadi atas apa yang dirasakan individu sebagai hasil dari pengalaman hidupnya.

Sementara itu, penelitian lain yang berjudul “Gambaran Cinta pada Pasangan yang Menikah Tanpa Pacaran” menunjukka hasil bahwa masing-masing pasangan mempunyai komitmen yag terlihat jelas untuk membentuk dan mempertahankan rumah tangganya (Adiningtyas, 2004). Hal ini menunjukkan bahwa cinta yang berkembang setelah pernikahan dengan proses ta’aruf tidak mengalami hambatan.

Penelitian lain mengenai penyesuaian perkawinan pada pasangan yang menikah tanpa pacaran menunjukkan hasil bahwa pasangan tidak mengalami kesulitan dalam melakukan kesepakatan-kesepakatan kehidupan rumah tangga. Artinya, penyesuaian yang dialami berjalan lancar wlaupun ada pasangan yang belum mengenal sama sekali sebelum mereka menikah (Hendrawan, 2004).

Sebagai simpulannya, aku dan Yumna menulis bahwa metode ta’aruf merupakan metode yang mampu menghindarkan calon pasangan dari perilaku seks bebas dan penyakit menular seksual. Selain itu, metode ta’aruf sesuai dengan ajaran Islam yakni larangan mendekati zina ( QS. Al Israa’ 17 : 32). Dari sudut pandang psikologi sendiri, telah dinyatakan dalam beberapa penelitian bahwa tidak ada masalah dalam hal berkembangnya rasa cinta, penyesuaian perkawinan dan kesejahteraan psikologis setelah menikah pada pasangan yang menggunakan metode ta’aruf dalam memilih pasangan hidupnya.

Giiitu deh, garis besarnya.

Ngomong-ngomong soal menulis karya ilmiah, aku jadi rindu berkutat dalam nuansa akademis. Menyenangkan sekali (umh..sometimes deng) bisa tau banyak hal dari membaca diktat yg lebih mirip bantal daripada buku saking tebelnya, atau nguprek-nguprek skripsi-tesis-TA orang di perpustakaan, nyari teori, menyatukannya dalam tulisan, menyusunnya sedemikian rupa dengan sistematika berpikir yang runut dst dst.

Walau terkadang mumet juga, ditambah aku merasa punya kelemahan dengan pikiranku yang suka loncat-loncat dan tertuang dalam rangkaian paragraf yang tidak sistematis, tapi tetap saja nuansa akademis itu ‘ngangeni’, kalo orang jawa bilang.

Hmm… Kapan ya… bisa menikmatinya lagi?

-menguburInsecure,Berangsur-angsur…

gambar dari sini