Stop Menyampahhhhh!

Bismillah.

Banjir mulai surut di Ibukota. Gak sepenuhnya selesai, karena menyisakan banyak hal : penderitaan, sakit-sakitannya para korban di pengungsian, dan tentu saja sampah.

Ngomong-ngomong soal sampah, aku jadi bingung…
Gemes sih, lebih tepatnya.
Kupikir permasalahannya bukan sekedar membuat tempat penampungan sampah yang sangat besar, atau mengolah/mendaur ulang sampah menjadi barang yang lebih berharga. Tapi sikap mental untuk tidak membuang sampah sembarangan, kurasa itu yang jauh lebih penting.

Suatu hari, aku naik mikrolet dalam perjalanan pulang.
Seorang remaja perempuan dan tantenya asyik makan jeruk. Mataku gak lepas memperhatikan mereka. Bukan apa-apa, cuma was-was aja tu kulit jeruk dibuang sembarangan. Selama itu aku cuma komat-kamit dalam hati, “jangan buang sembarangan…jangan buang sembarangan….jangan, ya Allah… Ingetin gak ya… ingetin, enggak, ingetin, enggak… “

Dan…

“Aaah!”
Aku menjerit dalam hati sambil memicingkan mata.
Dia membuang kotak minuman kemasannya ke jalan raya disaat mikrolet melaju kencang!

Secepat mungkin kubuka plastik penutup aqua gelas yang sedang kuminum.
Gak boleh terulang… gak boleh terulang…
Ketika gadis itu hendak membuang sampah makannya ke jalanan lagi, bergegas kusodorkan gelas bekas itu.
“Sampahnya buang disini aja…”, ujarku.
Dan sang gadis tersenyum malu. Tantenya malah ikutan menasehati.
“Tuh kan… Gak boleh buang ke jalanan, dek…Taruh disini aja,”

Aku menarik nafas lega. Fiuh…akhirnya.
Tak berapa lama mereka membuang sampah kulit jeruk dan gelas bekasnya ke kantong plastik hitam. Nah, gitu kan enak…
Tapi, oh my God…
setelah itu, sodara-sodara, si Tante membuang kantong plastik hitamnya ke kolong bangku mikrolet!
Oalah…. Tanteeeeeeeeeee… Tanteee….! >_<

Itu kejadian di mikrolet.
Di kereta seringnya lebih amit-amit lagi.
Segala macam sampah dari segala macam penumpangnya bertebaran di lantai kereta. Dari plastik makanan, kulit buah, kantong-kantong gak jelas, puntung rokok… Waktu itu juga ada kejadian mirip seperti peristiwa di mikrolet, tapi kali ini subyeknya makan salak. Seperti biasa, bawaanku udah cemas aja tu kulit salak bakal dibuang begitu aja di kereta. Jadilah aku mengobrak-abrik tas mencari sesuatu yang bisa menampung sampah untuk sementara.
Yes, dapet kantong kresek hitam!
Begitu si mbak mau buang sampah…
“Taruh sini aja, Mbak,” sodorku sambil tersenyum. A
lhamdulillah diterima. Aku jadi ikutan lega.
Pengennya sih bilang, “besok-besok sampahnya disimpen dulu aja ya,”, tapi gak punya cukup keberanian.

Kayak kemarin di kereta, ada bapak-bapak makan jeruk dan melempar kulitnya ke kolong bangku. Berhubung aku duduk di seberangnya, aku liatin aja tu bapak-bapak. Begitu dia membuang sampahnya ke kolong, kutatap ia dengan tajam (mo ngebilangin kejauhan soalnya). Eh, dia pura-pura gak sadar. Uuuhhhh…..! Ada juga yang ngupas jeruk trus menjatuhkan kulitnya begitu aja ke lantai kereta. Yang kayak gini-gini nih, bikin kotor dan mungkin berkontribusi menyebabkan banjir… Sampah dibuang sembarangan, numpuk di got/saluran air, trus kalo udah kebanjiran, nangis-nangis deh…

Itu baru beberapa kasus. Dan kasus membuang sampah tidak pada tempatnya semakin tak terhitung. Bahkan mungkin sudah semakin melumrah.
Awalnya, waktu liat orang buang sampah sembarangan, pengen banget mengingatkan.
Tapi aku mikir, bisa jadi mereka buang sampah sembarangan karena emang gak ada tempat sampahnya. Jadi, better sambil kukasih tempat sampahnya sekalian. Tadinya aku mikir pake plastik aja, tapi plastik juga gak ramah lingkungan. Baiknya memang kertas, tapi belum sempat bikin seperti bentuk kantong gorengan. Kalau udah jadi, bisa dibawa kemana-mana. Kalau ada orang yang mau buang sampah sembarangan, kita tinggal kasih kantong kertas itu deh. Abiis…aku selalu senewen sendiri kalo ngeliat orang buang sampah sembarangan… 😡
Sama senewennya ketika berdekatan atau melihat orang merokok di tempat umum.
Gak pada sadar apa kalau sudah menzholimi orang lain…

Gondok aja ngeliatnya. Mbok ya disimpen dulu sampahnya. Dikantongin kek, ditaruh dimana kek. Tasku aja suka penuh dengan bungkus permen, plastik bekas roti dsb karena aku suka nyimpen sampah disana. Daripada dibuang sembarangan kan?!?
Mungkin kuncinya mulai dari diri sendiri aja, dari hal (baca: sampah) yang kecil2, dan dari sekarang juga.

Hmhhhhh…
Terus, kalau kondisinya begini mulu… kapan Jakarta bebas sampah ya… 😦

gbr dr sini

Advertisements

7 thoughts on “Stop Menyampahhhhh!

  1. Kalo menurut saya sih, keadaan seperti yang kamu alami selama ini akan terus berlangsung sampai ada penegakan peraturan kebersihan dengan tegas dari pemerintah.Gak mungkin deh ngandelin kesadaran dari orang, susah banget. Dasarnya manusia kan maunya gampang aja gak mau repot atau susah. kalo bisa dan bebas buang sampah sembarangan ngapain juga susah bawa sampah di tas.Bukan cuma sampah aja masalahnya, di Indonesia semuanya bermasalah. Kapannya Indonesia bisa beres….??Jadi nanya lagi..:)ThanksFoU

  2. kalo di sini, menyampah = nyebelin. contoh: “menyampah betul kau ni!” artinya: “nyebelin banget si lo!”btw, org yg suka menyampah emang bikin sebel ye…apa sih gw ;P

  3. to yg pertama nanggapin (lagian ga ada namanya 🙂yaya..emang bener, kalo ga ada regulasi, agak2 sulit. tp kalo regulasi ga ada, bukan berarti kita boleh melakukan segala hal semau kita, bukan? spt buang sampah sembarangan itu. to dil2: iya dil, apa sih elo?? kqkqkq :p btw jg, kali aja dikau bs nulis ttg soal sampah-menyampah (harfiah bhs Indonesia, not Malay) di Malaysia. adakah yang bisa kita ambil pelajaran dari sana?

  4. Ikutan koment ya…Setuju… Bahwa faktor penting agar masyarakat tertib dalam membuang sampah, terletak pada faktor kesadaran hukumnya. Tapi faktor regulasi juga tak bisa diremehkan. Persoalannya tidak cukup hanya dibuatnya regulasi. Tapi juga pemerintah harus komitmen untuk penegakannya. Percuma juga punya banyak regulasi, tapi gak ada penegakannya.Contohnya, perda larangan merokok. Di lapangan, Perda ini hanya macan kertas belaka. Gak ada pengaruhnya.Pertanyaanya, sampai kapan kesadaran hukum masyarakat kita dapat ditingkatkan..? Seperti warga Singapura misalnya, yang kesadaran hukumnya cukup tinggi…Pasti banyak hal yg harus dilakukan. Tapi satu hal yang pasti. Kita bisa memulainya dengan apa yg sudah dilakukan oleh kawan kita, Fathiana ini.Jika orang seperti Fathiana ini banyak di Indonesia, pasti Indonesia dan Jakarta, setidaknya bisa bebas dari Banjir. Amin…hehehehe..Oya.. Maaf.. Kalau tempo hari, sy kira Fathiana mhs UIN. Dipikirnya adik kelas sy di UIN Ciputat.Ok salam kenal aja deh, dari sesama blogger.

  5. yah jangan nyalahin rakyatnya dong seharusnya pemimpin yang harus nyotohin apa perlu berani memutik sampah lalu mengolahnya kembali.so pasti dampak pada rakyatnya samgat besar.bukan hanya buat kebijakan dong tapi nagk bisa contoh.sebagian dari mereka kan ngak tau apapa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s