Meditasi

bismillah…

yuhuu… i’m coming…
hehe… setelah sekian lama…
akhirnya mosting lagi.
jangan pada kangen gitu donk…
huehehehehe… :))

banyak banget sebenarnya yang mau ditulis. tapi kalo udah kelamaan ga dituangin, emosinya jadi ilang. dan amat tidak ber-ruh-nya tulisan yang dituang tanpa emosi. sehingga aku malah jadi bingung kalo nulis tanpa emosi.
jadi panjang kan, pembahasannya? 🙂

yaudah, simak yang ini aja dulu ya…

***


Aku baru aja belajar meditasi sama bunda Diena dan Mas Tiko, rekannya.
Jadi inget…
Dulu sempat ngobrol sama Pak Hanna Djumhana –dosenku sekaligus pakar psikologi Islam- tentang hal ini pas abis kuliah agama (di semester 1 atau 2). Dan hasilnya, aku malah diomelin….hehe….

Jadi begini ceritanya.
Pas ngebawain kuliah, Pak Hanna sharing bahwa beliau pernah mengalami suatu peristiwa yang mengubah kesadarannya ketika ia tengah berdzikir sendirian (Pak Hanna punya kebiasaan bangun malam untuk berdzikir). Dalam peristiwa itu, beliau seperti melihat sekian banyak kesalahan/dosanya terbeberkan di depan mata (mungkin kaya slide gitu kali ya). Hal yang traumatis ini membuat beliau mengalami apa yang disebut sebagai perubahan makna hidup (kalo ngomongin makna hidup, emang beliau jagonya deh. Kalo dari barat, tokohnya bernama Victor Frankl. Buku Pak Hanna tentang hal satu ini denger2 udah habis di pasaran dan sangat dicari2 oleh mahasiswa2 yang bikin penelitian tentang makna hidup).

Then,
Pas kuliah udah selesai, aku nyamperin beliau. Sekedar pengen ngobrol lebih jauh tentang pengalaman itu dan penasaran banget pengen tahu bedanya yoga sama dzikir dalam pandangan beliau. Maklum, waktu itu (tahun 2001an) yoga, meditasi dan sejenisnya sedang booming diberitakan.
Dan dengan antusias beliau memarahi aku.
Wehh… kaget aku!
Hehe…. gak dimarahin sih. Cuma ucapan beliau agak keras aja.
Katanya,
“Ngapain kamu meditasi segala…. udah, di Islam tuh lengkap semuanya. Dzikir aja cukup!”
Dan aku manggut-manggut aja.
“Saya cuma pengen tahu, Pak, perbedaan efek yoga dan dzikir…”

Obrolan selanjutnya aku udah lupa. Tapi sepertinya Pak Hanna bilang, keduanya punya efek sama menenangkan. Bahkan, kalau aku tidak salah ingat, efek yoga/meditasi bisa lebih tinggi, kata beliau. Ini subyektif dari individunya banget kali ya. Lha kalo dzikirnya komat-kamit tapi gak diresapi, gimana mau bikin tenang…
Tapi aku berani menjelaskan lebih jauh sih. Disamping gak punya landasan ilmiah yang kuat, aku juga gak punya bukti empiris yang bisa membuktikan.
Yang jelas, hal ini menginspirasi aku untuk bikin penelitian tentang perbedaan efek dzikir/tahajud dan yoga/meditasi, dan kemudian berkembang ke sholat tahajud. Gimana kelanjutannya, sok buka disini aja yah.

Kesini-sini, perhatianku terhadap meditasi, yoga dan semacamnya gak terlalu kuperdalam. Tapi setelah membaca buku Pelatihan Sholat Khusyu, Sholat sebagai Meditasi Tertinggi dalam Islam karya Abu Sangkan (gila man…pelatihannya jutaan rupiah!!!), aku semakin faham dan meyakini betapa sempurna, lengkap dan integralnya agama ini. Mungkin dangkal, karena baru sebatas eksploratif dan bukan komparatif. Ya namanya juga berbekal keyakinan, segala yang datang dari Allah pasti baik dan gak mungkin tanpa manfaat. Perbandingan objektif atau sunnah kauniyahnya kupikir bisa ngikut aja.

Dan baru-baru ini aku diberi kesempatan berinteraksi dengan orang-orang yang biasa bermeditasi. Ya bunda Diena dan Mas Tiko itu. Kalo bunda Diena, emang udah sering latihan. Kalo Mas Tiko, aku sendiri baru kenal dan segera mengetahui bahwa beliau sangat menguasai ilmu tentang brain, mind, pikiran, dan semacamnya.

Seperti biasa, begitu dapet sesuatu yang baru, aku dengan bersemangat memperhatikannya J
Sebenarnya belajar teknik meditasi kemarin itu juga gak sengaja. Mas Tiko menyela sebentar di tengah-tengah pelatihan yang bunda Dien bawakan, dan aku –sebagai observer- ikutan memperhatikan. Alhamdulillah… jadi dapet ilmu baru deh…

Sejujurnya aku cuma tau bahwa meditasi dapat membantu menenangkan pikiran. Dulu, pas masa2 awal sampe pertengahan kuliah, aku sering banget ‘nongkrong’ deket danau masjid UI, sekedar menikmati semilir angin dan memperhatikan riak air danau dengan suasananya yang damai. Kadang sendirian, kadang minta ditemenin sama Ana, temanku (waaa…. Anabana…kangen!)
Sesekali pernah juga di pantai.
Tapi berhubung pantai di Jakarta jauh (dan bayar pula! Hehe….), danau UI menjadi tempat coping stress alternative yang amat sangat lumayan (buatku. Gak tau buat yang lain mah…).
Waktu dulu, aku cuma duduk diam, pejamkan mata, merasakan suasana sekeliling yang tenang, menghirup nafas dalam-dalam, terus hembuskan perlahan.

Nah, pas kemarin diajarin sama Mas Tiko, ternyata begini nih…
Ambil posisi duduk yang nyaman (bisa bersila, bersimpuh, dsb), badan tidak kaku tetapi rileks.
Pejamkan mata,
Sedikit tersenyum,
Ambil nafas dalam-dalam sampai habis (rasakan tarikannya dari ujung kaki sampai “mentok” gitu dah… apalah namanya)
lalu hembuskan perlahan
Ambil nafas lagi, hembuskan perlahan lagi.
Dengarkan baik-baik bunyi nafas kita tadi.
Begitu aja seterusnya.
Ini yang diajarin Mas Tiko. Beliau cuma ngejelasin itu doang, gak nerangin gimana posisi jari-jemari dan lain-lainnya.

Sebelumnya aku pernah diajarin temenku semacam ini juga, tapi telapak tangan kita dalam posisi terbuka, lalu pautkan ibu jari dengan salah satu dari 4 jari lainnya. Selanjutnya pejamkan mata, tarik nafas dalam2, dan coba rasakan detak jantung kita di jari-jari tadi.
Atau kalau Mira, temanku yang lain, bilang bahwa sebaiknya tangan kita dalam posisi telungkup, lalu rapatkan ibu jari ke telapak, lalu rapatkan lagi 4 jari lainnya ke ibu jari tadi. Mira bilang, itu supaya energi tubuh kita gak tersebar kemana-mana.
Intinya sama2 juga, olah pernafasan. Menurut Mas Tiko, nafas yang ditarik sampai habis kemudian dihembuskan perlahan itu, akan membuat oksigen terserap ke otak dengan maksimal. Itu sebabnya, sehabis melakukan meditasi tadi, kita akan merasa segar.
Lumayan kan? 🙂

Oiya. Catatan penting nih, menurut aku.
Aku gak menangkap adanya petunjuk untuk mengosongkan pikiran. Soalnya sebenarnya kita sedang berkonsentrasi pada satu hal, yaitu mendengarkan bunyi nafas kita atau merasakan detak jantung di jari tadi. Atau bisa juga dipadukan dengan berdzikir.
Ada juga orang-orang yang menggunakan musik untuk membantu menstimulasi ketenangan yang diinginkan. Dalam meditasi itu, kita bisa menghayati arti dzikir yang kita ucapkan atau makna lirik lagu yang kita dengarkan. Hal ini memberikan efek sugesti yang bagus untuk pikiran kita. Atau bisa juga bikin sugesti sendiri (mengucapkan kata-kata positif terhadap diri sendiri). Misalnya, “Aku pasti bisa… Aku baik-baik saja… Aku gembira….Laa tahzan, innalloha ma’ana (jangan bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita)… dll”.

Kebetulan beberapa waktu lalu ketika aku jalan-jalan ke pantai, aku coba melakukan teknik commonsense-ku sambil mendengarkan instrumental Kenny G, Theme From Dying Young.
Ayo, imagine sama-sama.
Ceritanya waktu itu aku duduk relaks di pinggir pantai, diiringi suara ombak bergemuruh, angin yang berhembus segar, memejamkan mata dan merasakan ketenangan yang sangat….
Hmhhhhhh……
Luar biasa.

Oya, Loving You-nya Kenny G menurutku lumayan pas tuh 🙂
Everyday I Love You-nya Boyzone, Bila Waktu Tlah Berakhir-nya Opick, juga bisa… (ini subyektif aku ya).
Atau ada juga instrumental Koi dari Kitaro. Naaah… yang ini menurutku jaaaaauh lebih pas lagi 🙂
Atau ada usul lainnya?
Yaaa…masalah kegemaran aja siih.
Aku pribadi merasa bisa menghayati lagu (soalnya ada tipe orang yang gak ngaruh).
Tapi sekarang-sekarang juga lagi nyari murottal yang nadanya halus. Kan macem-macem juga tuh, ada yang ngajinya melengking tinggi, ada yang datar, ada yang berirama halus, ada Syaikh Hudzaifi, Syaikh Sudais, Syaikh Almathrud, dll. So far aku belum nemuin yang bener-bener pas nih. Bukannya meremehkan bacaan Qur’an ya. Ini masalah selera terhadap suara aja kupikir. Sekali lagi, suara, bukan isi.
Bagaimanapun Allah udah bilang bahwa Al Qur’an dan dzikir adalah obat, penenang hati, penentram jiwa dst. Tinggal irama pembacaannya aja yang beda-beda.

Nah, begitulah sekelumit teknik meditasi sederhana.
Ada yang mau nambahin?

oya, artikel ttg meditasi, bisa dibaca disini .

gbr dari sini
Advertisements

4 thoughts on “Meditasi

  1. Tunaikan semua tugas duniawimuTetapi pusatkan iman dan kasihmu Kepada kaki padma Tuhan,Karena jumlah tarikan nafas dan Suapan nasi kita Telah terhitung.Kerja duniawi memberi kita nafkah,Meditasi memberi kita keselamatan.Lakukan kedua-duanya.Selain itu, Jangan menyerah kepada pikiran Jangan lalai Melakukan meditasi Meskipun sibuk melakukan Tugas sehari-hari,Jangan sampai engkau melupakan Nama Tuhan,Di saat senggang, Engkau tentu harus Melakukan pengulangan namaNya;Bahkan sambil hilir mudik Engkau tak boleh melupaknnyaKarena jumlah tarikan nafasmuTelah terhitung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s