Terima Kasih…*


Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin…

Sujud syukur dan puja-puji hanyalah layak tercurah kepada Allah SWT, Sang Penggenggam Segala Urusan. Sungguh tiada kekuatan selain berasal dari-Nya semata.
Pun dalam pengerjaan skripsi ini, sebuah pembelajaran akademik yang luar biasa, cukuplah Ia sebagai satu-satunya tempat memohon pertolongan.
Terima kasih Ya Allah, untuk segala yang telah Kau berikan selama ini. Betapa pengerjaan skripsi ini banyak memberikan insight kepada penulis tentang arti kebergantungan pada-Nya semata. Sungguh, hanya Dia-lah sebaik-baik tempat meminta dan berharap.
Sholawat dan salam tak lupa penulis haturkan kepada Rasulullah SAW, manusia mulia dengan segala keteladanan yang ada padanya; juga kepada sahabat dan orang-orang beriman hingga akhir jaman.

Tema skripsi ini terlintas tiba-tiba ditengah maraknya pembahasan RUU Antipornografi dan Pornoaksi. Ketika banyak orang memperdebatkan bla…bla…bla… dst.

Terima kasih sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada Drs. Gagan Hartana, M.Psi, atas bimbingannya selama pengerjaan skripsi ini. Maaf ya Pak jika saya suka lambat menangkap maksud Bapak, kadang menghilang dalam waktu yang tak sebentar, ataupun tidak nyambung dengan penjelasan Bapak. Terima kasih untuk diskusi-diskusi ‘out of topic’-nya yang menyenangkan dan begitu bermanfaat. Mohon maaf juga kalau selama ini saya sudah merepotkan dan mengganggu hari-hari sibuk Bapak. Sungguh hanya Allah yang mampu membalas kebaikan yang sudah Bapak lakukan.

Terima kasih pula kepada Airin Y. Saleh, M.Psi, sebagai pembimbing skripsi kedua saya di ujian pertama. Semoga Mbak sukses selalu. Maaf kalau saya suka mendadak menemui Mbak dan banyak salah.

Untuk Dra. Evita E. Singgih, M.Si, yang sudah menjadi pembimbing akademik selama saya kuliah, terima kasih banyak. Semoga kelulusan saya yang tidak tepat waktu ini menjadi kelegaan tersendiri bagi Ibu 🙂

Untuk Dra. Fivi Nurwiyanti, M.Si serta Dra. E. Kristi Poerwandari, M.Hum, terima kasih atas diskusi dan saran yang mencerahkan. Kapan-kapan mungkin saya akan meneliti tentang tahajud dan kesehatan psikologis, seperti yang kita diskusikan waktu itu.

Terima kasih pula kepada Dra. Julia Suleeman dan Dra. Erniza sebagai penguji di sidang pertama; saya sangat terharu dengan dukungan yang Mba-Mba berikan.

Tak lupa pula, terima kasih kepada Drs. M. Ramdhan, M.Si dan Drs. Zainoel B.Biran sebagai penguji di sidang kedua. Khusus untuk Pak Zainoel, terima kasih atas bimbingan dan konsultasi skripsi secara informal dari Bapak, juga pengetahuan dan wawasan yang sudah di-share.
Hanya Allah saja yang maha mampu membalas dengan lebih baik untuk segala kebaikan Bapak dan Ibu semuanya.

Terima kasih tak terhingga juga penulis haturkan kepada Mamah, Mamah, Mamah, kemudian Bapak, Mas Iqa dan Sina di rumah. Terbayar sudah segala jerih payah selama ini. Semoga ini bisa menjadi persembahan berarti bagi kalian. Semoga kalian ridho atas semua yang aku lakukan selama ini. Dan semoga Allah melindungi keluarga kita senantiasa.

Buat saudara-saudaraku tersayang di Psikologi : Anik, Winna, Tika, Yumna, Pandu, K’ Dany, Nuyi dan Mira ‘MMS’, terima kasih banyak untuk pembelajaran dan penemanannya.

Untuk Alga, ‘preman’ yang konkret abis dan bersedia di-sms mendadak untuk membantu mengolah data, ‘afwan dan jazaakalloh, akhi. Walau berbeda, semoga ukhuwah kita tetap terjaga.

Untuk mujahid/ah yang tak kenal henti memperbaiki diri dan umat, Nirta, Dian, Ika, Raka, Ivan ‘Ikyuvan’ Ahda, Restu, Fia, Gugun, Kiki, Dina, Mira Cimot, Emma, Dahlia, dan sobat-sobatuna lainnya, teruslah bergerak karena diam itu mematikan. Tetap semangat!!!

Terima kasih juga untuk teman-teman psikologi angkatan 2001. Keep in touch ya, guys!

Untuk Iif Mipa’02 dan Fabian yang sudah bersedia diganggu untuk mengajarkan SPSS, thanks a lot.

Untuk BPH BEM UI 2005-2006 “Sinergis & Berkontribusi” dan para BEM-ersnya, terima kasih banyak sudah memberikan contoh konkret tentang arti pengorbanan dan keikhlasan.

Buat staf keuanganku yang banyak membantu 1 tahun amanah di BEM, Fajar Gembul dan Anis ‘Bunnies’, rasanya tak cukup hanya dengan terima kasih. Kapan kita ke Taman Safari? 🙂

Buat orang-orang hebat di Cetogegana0506, jazaakumulloh khoiron untuk hari-hari yang penuh dinamika di akhir masa-masa kuliah.

Untuk Almh. Iis ‘Ucrit’ Nur ‘Aisyah, atas spiritnya yang terus menyertai, semoga ridho Allah tetap atasmu. Yusuf, Purwo dan Mr. Biggy Azman, yuk cepat lulus.
Adief, Fathur, Herika, Angga, Rubby, Victa, Oche, Nuy dan Anis ‘Bunnies’… plus Parlan, Perdana dan Ulfah, jazaakumulloh untuk airmata, tawa, canda serta pembelajarannya selama ini. Aku pasti akan merindukan kalian. Mohon maaf kalau banyak kelalaian dan kezhaliman selama kita bersama.

Terima kasih banyak juga untuk Oskar atas pinjaman laptopnya yang amat sangat berguna.

Buat teman-teman bloggers dan YM, Agah, Alfie, Awan ITS, Mas Aka, Andres, K’ Awan Diga, Jaja, K’Adi Onggo, Fadhil, Trian, Rafi, Dhani ‘Spedaman’, Mpi, Eko AdiP, M. Arifiani, Hasan, K’ Aan, K’ Hendra, Rosa, Hanifah, Mimi Mika, Mba Ratih, Mba Kosi, K’ Adi Mahmudy, Mba Diana, A’ Tatang, Rahma Syabira, Hamida, Ismail, Teh Niken, Aresto, Mba Dewdew, Uyo, Mba Ifath, dll, thanks for supports and prays, sekaligus nasihat dan cerminannya. Walau banyak yang belum bertemu muka, semoga Allah mengekalkan ikatan hati kita.

Untuk yang sudah membantu menyebarkan kuesioner, Pras, Tuning, Inka, Anin, K’ Awan Diga, Bang Yudi, Rico, Bang Zey, K’Peby, dan Pak Luthfi di BSM, jazaakumulloh.

Untuk sahabat-sahabat yang senantiasa ada meski jarak terpisah, Ina, Qiqin ‘Winky’, Imam, Ismi Malang, Ela dan Yuri IPB, terima kasih atas dukungan di masa-masa genting dalam pengerjaan skripsi ini.

Special untuk Mba Diena Trigg dan keluarga, terima kasih banyak untuk nasihat dan kehangatan yang telah diberikan.

Terima kasih pula untuk Uma dan akhwat fillah di lingkaran iman dan ukhuwah, jazaakumulloh sudah menjadi bagian dalam perjalanan panjang ini. Semoga kita dipertemukan di surga-Nya.

Tak lupa pula Tika ’97 atas pinjaman skripsinya, terima kasih banyak Mbak.
Dan juga komunitas perpustakaan psikologi (Pak Samino, Mbak Lulu, Bu Hj. Tatty, Mas Sony, Pak Mat, Pak Untung, Mas Mul, Ai, Sigit, Sita, Arista, dll), terima kasih.

Terakhir, mohon maaf untuk yang terlewat disebutkan. Dan untuk seluruh responden dan pihak-pihak yang sudah membantu, meski tidak disebut disini, niscaya itu sama sekali tidak mengurangi penghargaan dan ucapan terima kasih saya kepada kalian. Cukuplah Allah yang membalas semua kebaikan.

Akhir kata, penelitian ini bla…bla..bla… dst.
Semoga karya kecil ini bermanfaat adanya dan menjadi amal jariyah di sisi-Nya. Aamiin…


Depok, Januari 2007

Indra Fathiana, S.Psi 🙂


“Barangsiapa menempuh jalan mencari ilmu,
maka Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga,”
(Al Hadits)

nb : Guys, saya tau terima kasih saja mungkin tidak cukup membalas kebaikan kalian. tapi saya hanya bisa berharap bahwa Allah, dengan segala balasannya yang jaaaauhh lebih mencukupi, akan memberikan balasan yang lebih baik lagi. smoga tulisan di atas tidak mengurangi keikhlasan di mata-Nya ya 🙂 oya, kalo ada yang kelewatan ditulis, bukan berarti saya gak berterima kasih… khilaf aja krn gak bisa inget banyak2… 🙂 maaff…

*iniAdalahKataPengantarDiSkripsiku,denganBeberapaPenambahan

Advertisements

Selesaii! (2 – habis)


Satu-satunya jalan adalah menghubungi para penguji. minta maaf atas keterlambatan (lagi) dan memohon supaya mereka bisa memakluminya.
Terbata kuhubungi penguji kedua. Kerongkonganku tercekat, sambil tak henti memanjatkan “robbisyrohli shodri wayassirli amrii…” di dalam hati.

Pak R, penguji 2-ku, bertanya dengan sangat pengertian.
“Kamu sudah sampai mana sekarang? Saya sih tidak masalah kalau bab 5 belum jadi… Bisa nyusul. Itu kalau saya ya. Tapi ujiannya tetap besok kan?”
“Iya tetep besok. Tapi kan belum selesai, pak…”
“Oh gak masalah… Pak Z (penguji 1 –red) gimana? Yang untuk beliau sudah diserahkan?”
“Tadinya saya harus anter ke Menteng, Pak. Tapi kayanya waktunya tidak memungkinkan… Ini belum selesai… Kalau saya harus kejar ke rumahnya juga gapapa deh Pak…”
“Lah terus kamu belajar untuk ujian besok gimana? Rumah kamu dimana?
“Cipinang, Pak…”
“Pak Penguji 2 itu rumahnya di Ciputat, lho… Rumah saya juga. Kamu yakin mau kesana?”
“Mmm… ya abis gimana lagi pak…”
“Trus belajarnya kapan?”
“Yaaa… malam ini juga…”
“Hehee… *terkekeh* Gini aja. kalau mau, kamu bisa titip saya draft untuk Pak Z. rumah saya juga di Ciputat (perumahan komp. dosen UI –red). Nanti biar saya yang antar, tapi kamu hubungi beliau dulu ya, boleh atau tidak…”
“Iya, rencananya saya hubungi Bapak dulu, baru hubungi Pak Z. Bapak di kampus sampai jam berapa?
“Saya sampai maghrib disini. Kamu sudah di kampus?”
“Iya, saya di perpus, masih ngetik… bab 5-nya belum…”
“Nah, syukur kalau sudah di kampus”
“Ya sudah. Saya hubungi Pak Z dulu ya Pak. Makasih banyak”
“Yaya… saya tunggu..”
Aaah… Gak peduli deh tadi ngomong sama Pak R udah bergetar gitu suaranya.
Thanx Allah, Pak R baek banget!

Usai menghubungi Pak R, Nasrul, adik kelasku yang mengamati kepanikanku hari ini, berkomentar…
“Ya ampun, mba Indra… mellow banget sih… tenang aja ngapa…sampe nangis begitu…”
Aku tak menjawab.
Biarin. Gak empati amat sih… *sigh*
“Trus gimana, bisa ngubungin pengujinya?”
“Bisa.”

Aku menghubungi Pak Z, penguji 2-ku.
bla…bla…bla…
Alhamdulillah… boleh dititip ke Pak R!

Pak R di kampus sampai maghrib. Berarti masih ada waktu 2 jam lagi untuk selesaikan semuanya!

Aku menarik nafas panjang. Belum sholat asar.

Kulangkahkan kaki menuju musholla gedung B.
Bersyukur sekali suasananya bisa ngepas begini. Pas aku berada di puncak kepanikan, ada waktu sholat dimana aku bisa sejenak mendinginkan kepala dan beristirahat.
Dan kehambaanku serta-merta menghina diri di hadapan Yang Maha Perkasa…
Pasrah… dan hanya bisa berserah…*luber-luber deh tuh sajadah…*

“Allah…
Aku memohon kepada-Mu dengan segala kelemahanku…
Dengan segala kehinaanku, kehambaanku, ketidakberdayaanku…
Kumohon kekuatan dari-Mu, Yaa Aziiz…
Berilah aku petunjuk, ketenangan, kemudahan dan pertolongan-Mu
Jika bukan kepada-Mu, Ya Rohmaan, Ya Rohiim… kepada siapa lagi aku memohon pertolongan…
Laa hawla walaa quwwata illa billah…

Robbanaa aatina min ladunka rohmah, wa hayyi’lana min amrina rosyada… Robbisyrohli shodrii wayassirli amrii… wahlul ‘uqdatan min lisaaani yafqohu qouli…”


Selepas sholat, perasaanku lumayan tenang dan bisa berpikir sedikit lebih lancar (cuma sedikiiit, soalnya loading otakku agak2 melemot saking paniknya).
Terus… dan terus berusaha.

Begitu maghrib tiba…
Argh! Masih sampai subbab diskusi! Mana flashdisk pake kebawa temen waktu minta tolong nge-print tadi… Terpaksa minjem flashdisk temen (jzk to Rahma ’03 🙂 dan nge-print di fakultas sampe jam setengah 8 lewat. Padahal tu rental harusnya tutup dari jam 7 dan aku dengan gak enak hati minta tolong supaya jangan tutup dulu… (mas dan mba rental gedung H, makasih byk atas pengertiannya ya). dan berulang kali meng-sms Pak R, memberi kabar bahwa aku masih harus memperbanyak skripsiku sebelum diserahkan.

Setelah itu terpaksa jalan ke fotokopian depan FH karena fotokopi fakultas dah tutup semua, lalu ngetik abstraksi sebentar di rental, dan nungguin tu skripsi dibongkar-pasang sampe rapi.

Jam 8 lewat, Pak PS menelpon.
“Indra, sedang dimana sekarang? Pak R barusan menelpon saya, menanyakan skripsi kamu,”
“Iya, Pak…” *panik* “Saya masih motokopi… Tadi saya udah hubungi Pak R, Pak. terus beliau katanya masih di kampus…”
“Cepat hubungi beliau dan serahkan ya.”
“Iya, Pak… Iya…”

Fiuh!
Aku mengambil HP dan menghubungi Pak R.
Oalah… ternyata tadi Pak R menelponku tapi aku gak denger… Pantas saja beliau menghubungi Pak PS-ku. Alhamdulillah, Pak R masih bersedia menunggu.
Lantas aku beralih ke tukang fotokopian.
“Bang, udah selesai belom? Boleh cepetan dikit gak? ditungguin dosen nih!”
“Wah, kalo ngebongkar jilidan begini mah gak bisa sebentar…”
“Duh! Ya udah saya tungguin… tapi cepetan ya Bang…” *tetep mendesak*

Akhirnya tu skripsi selesai juga dijilid.
Aku berlari kecil menuju fakultas.
Bab 4 dan bab 5 yang cukup buruk sepertinya. Aku tak suka mengerjakan sesuatu dengan tidak memuaskan. Dan bab 4-5-ku sangat tidak memuaskan. Semuanya dikerjakan dalam serba kepanikan dan kemendesakkan.

Ah… Apapun yang terjadi besok, terjadilah…
Dah gak tau lagi musti gimana…
Aku tau ini tidak optimal, ya Allah… tapi aku sudah berusaha semampu yang kubisa… 😦

***
Sampai di meja Pak R…
“Bapak… mohon maaf baru selesai…”
“Yaya… tidak papa…”
“Masih sibuk, Pak?”
“Iya ini ada sedikit yang harus dibereskan..”
“Oh… yasudah. Kalo gitu saya pamit ya Pak, makasih banyak…”
“Baik. Jangan lupa istirahat ya…” Pak R tersenyum seperti menguatkan.
“Eh… iya Pak… Makasih… Assalamualaykum… :)”

Aku meninggalkan ruang Pak R dengan ringan.
Mendengar kalimat terakhirnya yang supportif tadi seperti mendapatkan kesejukan luar biasa… walau badan dah pengen remuk kayak apaan tau…
Hmhhh…. Alhamdulillah…
***

Sampai rumah, aku membuka-buka buku kepribadian untuk ujian besok. Membuat display, latihan presentasi dan merangkum poin-poin penting teori kepribadian.
Sekarang sudah jauh lebih lega dibandingkan sebelumnya.
Itu sebabnya aku bisa meminta doa kepada beberapa teman lewat sms dengan nada bercanda ria, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Padahal tadi panik setengah mati!
Kalau kata Freud, mungkin ini satu bentuk ‘reaction formation’; mengalihkan keterancaman ego pada hal lainnya. Sebenernya sih panik banget, tapi dialihkan pada keceriaan supaya egonya gak lagi terancam.
Alhamdulillah, beneran kebawa tenang…

Malam ini, persiapanku hanya bisa sampai jam 2 dinihari. Selebihnya aku tepar berat dengan migren yang kumat.

Hari H, Kamis, 28 Des 06

Jadwal sidangku hari ini sebenarnya jam 9 pagi. Tapi mulai agak telat, entah kenapa. Jadilah di luar ruangan aku membaca-baca lagi ringkasan teori kepribadianku, sambil berdiskusi dengan seorang teman seangkatan (Aniiik… jzk dah nemenin ya!).
Sebelum itu, masih menerima sms support dari abang, Anis Bunnies, K’Dany, dan sempet-sempetnya nelpon Gaga untuk minta penjelasan tentang statistik.

09.36…
Pak PS keluar dari ruangan dan menyilakan aku masuk.
Walau migrenku belum hilang, aku melangkah dengan mantap dan mengucap bismillah…

Seperti sidang-sidang skripsi pada umumnya (di fakultasku), kami lebih mirip diskusi daripada ‘pembantaian’. Pertanyaan tetep banyak, pengkritisan tetep tajam.
“Apa bedanya pria dengan pelaku pelecehan seksual?”
“Penelitian kamu, penelitian psikologi atau sosiologi?”
“Sudahkah RUU APP meng-cover isu pelecehan seksual?”
“Apa usul kamu supaya pelecehan seksual gak marak lagi? Cukupkah dengan RUU APP?”
“Apa hubungan teori Freud dengan teori behavior?”
dst… dst… dst.

Tapi aku sangat bersyukur mendapatkan penguji seperti Pak R dan Pak Z yang sangat konstruktif serta kooperatif. Dan ternyata, bab 4 dan 5 yang kukerjakan di detik2 terakhir kemarin dengan penuh kepayahan, gak terlalu banyak disinggung!
Aku lupa banget, bahwa arogansi teori di psikologi tuh cukup besar.
So, bab 1 dan bab 2 lah yang seharusnya dikuatkan, seperti kata Mba Fit, senior angkatan 98.
Itu sebabnya alur berpikir serta fokus penelitianku sangat disoroti para penguji.

Dan sidang kali ini lama banget, sodara2… sampe 3 jam! Normalnya sih 2 jam-an…
Padahal migren di kepalaku makin hebat.
Dosen lain yang menguji di ruangan yang sama pun bertanya heran…
“Kok kamu lama banget sih sidangnya?”
“Gak tau tuh Mba…”

Tapi apapun itu, yang penting aku… LULUS!
Alhamdulillaah… Alhamdulillaah… Alhamdulillaah… *tak terhingga* ^_^

Sebelum memberi selamat, Pak Z mengisi berita acara dan berkata…
“Ini saya tulis ya… sidang cukup lancar. Setuju gak kamu bahwa ujian kali ini lancar?”
“Mmmmm…. gak lancar, Pak, ngejawabnya…” jawabku polos.
Seketika ketiga dosen dihadapanku tertawa, sementara aku kebingungan walau akhirnya ikutan ketawa juga. By the way, pas kupikir-pikir, tadi tuh seems like silly statement ya ternyata -_-‘
tapi aku kan jujur…
sidangnya sih lancar… tapi aku ngejawabnya gak lancar…

Akhirnya aku keluar dari ruang ujian dengan senyum lebar.
Walau gak ada pom-pom girls yang nyambut (eh, Nuy… mana pom2 girls-nya? hehe…), aku abaikan perasaan kesendirianku.
Gak boleh depend on others, Jiwa.
Toh aku mengerjakan skripsi ini sendirian, melewatkan waktu sampai malam di kampus sama Pak PS juga sendirian, pulangnya sendirian… Gak boleh ada alasan untuk terbebani ketika mengakhiri semua sendirian. Jadi ketika ada seorang sahabat berkata, ‘kasian banget sih kamu, gak ada yang nemenin…’, aku cuma tersenyum.
Never mind… yang lain mungkin sedang sibuk juga.

Yang penting doanya sampai.
Seperti yang Viczhu –saudariku- bilang,

“Keberhasilan seseorang bukan karena kehebatan dirinya semata, tapi karena ratusan tangan tak terlihat, ribuan doa tersembunyi, dan jutaan bantuan yang ikhlas…”

Aaaaaahhhhh……
Alhamdulillaahhh….
Akhirnya bisa menghirup udara segar lagi…
bisa ketawa lepas lagi…
bisa istirahat lagi… (sebentar doank-gak boleh lama2!)
dan tunai sudah amanah akademis ini…

-end-

nb : untuk segala bantuan konkrit dan tidak konkrit (hehe…piss!), doa, celaan, dukungan, sms, komentar, dan apapun yang sudah kudapatkan dari siapapun kalian, maaf… gak bisa ngasih balasan apapun kecuali permohonan agar Allah membalas lebih dari apa yang kalian berikan. Lupa euy kalo disuruh nulis namanya satu2…(sebenernya sih pegel juga…hehe…). Makasih banyak ya… semoga kalian mendapatkan seperti apa yang kalian doakan untuk saya, bahkan lebih dari itu 🙂 aamiiin…
dan buat yang sedang menuntaskan amanah akademisnya… BPH Bem UI 0506 Plus (Azman, ucup, yuwa, dayat plus fajar gembul), mpi, awan, k’hendra, mas aka, bang depoy, hasan, agah, hanibani, alfie, hamida, dll (yg gak kesebut maap2…), GO FOR JIHAD!!! tetap semangat!!! you have my pray along…

skali lagi, makasih banyak ya…

gbr doa diambil dari sini, dgn sedikit editan.
gbr kucing ga tau darimana, udah ada di komp rumah.

Hmhhhhhhhh………


bismillah.
telat masang gambar ini sebenarnya.

dan cerita ttg detik-detik terakhir skripsi jg belum kelar.
tapi daripada keburu basi… ya udah deh, diposting.
ceritanya, leggggga banget begitu udah selesai sidang.
tapi sebenarnya sekarang udah gak “begitu” (baca: santai) lagi karena kudu ngubek2 revisian.

means… leganya cuma sebentarrrr!
lagian aku jg mengkondisikan diri supaya “be ware of pseudohappiness”… soalnya lulus dari kampus berarti kudu siap2 menyongsong “the real jungle” di depan sana… dan itu berarti kudu prepare lagi dan lagi…
namanya juga hidup… never ending jihad till we get jannah, kan?

eh, udah ah. segitu aja dulu. harus menahan diri supaya ide2nya gak tumpah semuanya sekarang , dan jadi postingan2 berikutnya ^_^

btw… kucingnya lucu banget yah… =’)
uuhhh… gemmesss, gemessss, gemmmesss =))

Selesaii! (1)


bismillah…

didokumentasikan untuk menjadi pelajaran dan kenangan di masa depan 🙂

H-7, sabtu 23 Des 06
dag-dig-dug nungguin kabar dari PS (pembimbing skripsi –red) kapan mau ketemuan di rumahnya untuk ngolah data. Dan sms datang…
“Indra, hari ini tampaknya kurang reliabel untuk bertemu. hr ini saya ke pasar minggu, trus ke republika, trus ke beji, lalu ke bla and bla…jadi kita undur pertemuannya ya. nanti saya kabari lagi.”
Waks!
Pak’e… piye iki…
yasud. mudah2an besok bisa.

H-6, hari ahad, 24 Des 06
“Pak… hari ini jadi bertemu? soalnya kan belum analisa dan bikin kesimpulan segala…” *panik*
“Iya.. iya. saya hari ini mau ke walimahan dulu. setelah itu nanti saya kabari lagi ya. Mungkin sore kita ketemunya.”

Ahad siang, masih 24 des 06.
“Pak, jadinya sore ini gimana?”
“Begini, Indra. saya agak kurang baik kondisinya. jadi saya khawatir tidak bisa konsentrasi mengolah data…”
Huaaaaa!
“Insya Allah besok kita bertemu di kampus saja ya,”
“Besok kan natal pak. Kampus bukannya tutup semua?”
“Gampang itu. kan ada satpam. ya kira-kira jam 10an lah.”
“Oke, Pak. semoga cepet sembuh ya.”
Aih… ada aja halangannya >_H-5, senin 25 Des 06, jam 10.30.
15 menit menunggu. kok si bapak belum keliatan ya? padahal aku telat datengnya. beliau sih bilang mungkin akan telat juga. tapi ini udah 45 menit dari jam 10…
mana kampus kaya kuburan mati gini… ga ada siapapun kecuali satpam.
***
aku tertidur di mushola kampus.
HAH! udah jam 12.30! si bapak belum datang!
duuh! *kesel, bingung, sedih, cemas*
aku sms si bapak.
“Posisi Bapak dimana?”
Srrt. Message delivered.
“Baru minta antar anak saya ke kampus,”
Hah? jadi dari tadi baru mau jalan??????

masya allah…
sholat… sholat… biar tenang, ujarku menenangkan diri.
Dan aer di kamar mandi ga ada, sodara2…
gedung2 lain di kampusku juga tutup semua.
terpaksa jalan ke masjid!

sampe masjid…
ternyata belum bersih2 amat. gak jadi sholat deh.
tapi pas di kamar mandi ketemu sama ibu-ibu mencurigakan.
mukanya keliatan pucat sih.
pas kutanya,
“dari Bogor, neng. iya lagi sakit… uhuk… uhuk…”
hmm…
kok firasatku buruk ya.
bergegas kutinggalkan ibu-ibu itu.
bukan apa-apa, aku pernah ketemu sama ibu-ibu yang bilangnya sih nyari sodaranya di UI untuk minta biaya anaknya yang sakit. ujung-ujungnya minta bantuan.
udah banyak modus penipuan kaya gini. gak salah donk kalau aku waspada…

aku keluar masjid segera. dan si ibu tampak mengikutiku, meski agak menjaga jarak.
ah… semoga bukan suuzhon ya Allah…

kembali ke kampus dan akhirnya bertemu si Bapak PS.
dan kami berdua –ditemani putra beliau, jadi ber3- duduk di depan komputer bagian pendidikan.

jam 5 an sore…
sms. dari Bang Z.
“Mau gak sama ikhwan UI ’97?”
Hueeeekkkk!
Astaghfirullah… apa-apaan sih nih!
Pengen ngamuk rasanya!
“Au ah! kamis sidang neh! ni masih ngolah data sama dosen!”
“Berarti kamis abis sidang bisa dipikirin donk?”
“Ogah, ogah, ogaaaahhhh!!! Abang aja sono yang nikah!”
lagian orang lagi pusing malah disodorin isu beginian!


dan kami baru selesai jam 20.30 malam, dari siang!!!

Rasa-rasanya mataku seliwer ngeliat monitor dengan tampilan SPSS… *_*
Orang gila mana yang mau datang ke kampus pas libur2 begini, di saat kampus hanya berisi tukang ojek dan satpam, serta gemerisik daun di hutan, bunyi jangkrik dan hembusan angin nan dingin… sampe jam setengah sembilan malam pula… kecuali aku!
Oh!

Selasa, 26 Des 06
Harusnya hari ini draft siap uji-ku sudah sampai di tangan penguji untuk mereka pelajari sebelum disidangkan. tapi ini belum selesai…
akhirnya aku memberanikan diri melobi pengujiku. kuceritakan bahwa kemarin-kemarin aku harus ambil data ulang, senin baru diolah, dst. alhamdulillah… dimengerti dan diijinkan untuk dikumpulkan besok.
Lalu aku bolak-balik menelepon dan menemui Pak PS untuk konsultasikan analisa data.
“Maaf ya, pak… saya gak ngerti-ngerti gimana baca angka-angka ini…”
Aku baru sadar betapa o’onnya diriku terhadap statistik.. -_-‘
Gak sempat di-drilling juga sama temen2, apalagi belajar…

Rabu, 27 Des 06

Again. Seharusnya hari ini aku harus nyamperin penguji 1 di kantor konsultannya di Menteng. tadinya berencana jam 2-an kesana dari kampus. tapi ini masih berkutat di bab 4 dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 lewat!!!
Kepanikan luar biasa menyelimuti seluruh aliran darahku.
Gimana bisa besok sidang dan H-1 masih sampe bab 4, Indraaaaaaa???
Ya Allah… beri petunjuk, please…
Huhuu… Pengen burn-out… pengen nangis… pengen udahan… 😥

Dalam keadaan panik begini aku seperti tidak bisa berpikir. pikiranku buntu dan benar-benar ga connect.
Kalimat dan angka-angka di bab 4 harus aku cerna baik-baik sampai aku benar-benar mengerti.
padahal kalau dalam kondisi normal mungkin bisa lebih cepat dipahami.
Keberadaan Gaga, teman seangkatan yang kupaksa ngajarin baca data sepertinya tidak memberi kenyamanan selain terbantu untuk menulis apa yang dia katakan.
Abis dia ngajarinnya sambil ngomel gak berenti-berenti sih =(
Yang aku dikatain akhwat bledugh-lah… lemot-lah…
‘Preman’ salafi yang satu ini emang ampun-ampunan dah kalo berhadapan ma aku. Untung masih gua anggap sodara lu, Ga!
si Panpan juga cuma liat-liat dan pergi lagi.
“Udah bisa kan? ya udah sama Gaga aja ya…”
Ah! Gak berubah juga dia!
dan Winna… “Emang kamu udah sampe mana sih, Ndra?”
Huaaa! Winnnnaaa!

Gaga pergi kemudian.
Tentu, setelah mengomel-ngomel dengan gayanya yang khas.
aku masih mencoba menelaah satu-persatu analisaku. C’mon… c’mon… sudah jam 3.

Sms datang. Pak PS!
“Indra, saya tadi dihub penguji 2. katanya draft terakhir kamu belum beliau terima. segera serahkan ya.”
Aaaaaaahhh!!!!
“Pak… maaf saya belum sampai bab 5. saya kesulitan menganalisa. saya pesimis bisa selesai sekarang, walau saya sedang berusaha keras. bisakah ujiannya diundur saja? saya bersyukur sekali kalau bisa…” *tegangan tingkat tinggi*
“Tidak mungkin, Indra. Tidak ada alasan signifikan untuk diundur. cepat serahkan hari ini.”

Kepalaku serasa mau meledak.
Cairan di mataku nyaris tak tertahankan.
Allah… laa hawla walaa quwwata illa billah…

(bersambung)